Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 20– Dennis dan Akihiro



****


Sudah hari ke 3 Dennis dan teman-temannya pergi keliling desa hanya untuk mencari Rei. Tapi di hari ke 3 ini, mereka masih belum menemukan keberadaanya.


"Kakak... bisa kita kembali ke rumah itu dulu? Aku... aku ingin buang air." Sachiko mengeluh perutnya sakit dalam bahasa Jepang.


Mizuki mengangguk pada adik kecilnya. Lalu ia pun meminta izin pada temannya yang lain, kalau dirinya ingin pulang duluan. Tapi sebelum itu, Mizuki juga tidak lupa untuk meminjam kunci rumah neneknya Dennis.


"Anu... Dennis, boleh pinjam kunci rumah nenekmu? Karena ini... Sachiko merasa perutnya sakit. Jadi kami akan pulang duluan." Pinta Mizuki.


Dennis tersenyum sambil mengangguk pelan. Lalu tangan kanannya merogoh saku celananya. Mengambil kunci yang ada di dalam saku itu, lalu kembali mengeluarkannya. Ia pun memberikan kunci itu pada Mizuki agar dia bisa masuk ke dalam rumah neneknya.


"Ini."


"Wah, terima kasih, Dennis. Oke, aku duluan, ya?" Mizuki melambai sambil membalikan badannya. Ia pun berjalan agak cepat bersama dengan adiknya.


"Kalau ada apa-apa langsung hubungi kami!" Akihiro berteriak pada Mizuki.


"Oke!" Mizuki menjawabnya.


"Huh, jadi sekarang kita mau cari Kak Rei ke mana lagi, nih?" tanya Adel dengan keluh nafasnya yang mulai kelelahan.


"Umm... coba kita ke pertengahan sawah dengan melewati jalan ini. Di sana juga banyak rumah-rumah warga yang lainnya. Siapa tahu Kak Rei ada di sana." Dennis menjawab.


"Hah...? Rei tidak mungkin ada di sana. Lagipula, mana ada orang desa yang menemukan dia. Tempat ini kan agak jauh dari sungai, bukan?" tanya Akihiro.


"Yah... kakak benar juga." Dennis berpikir sejenak. Lalu ia menggeleng pelan. "Ah, tidak. Coba kita ke sana dulu. Kan kita belum tahu. Mungkin Rei ada di sana."


"Haduh... batu amat, sih jadi anak!" Akihiro menggerutu keras. "Aku jamin, Rei pasti tidak mungkin ada di sana."


"Kita kan tidak tahu sebelum kita memeriksanya, kak!" Dennis membentak.


"Kalau misalnya tidak menemukan Rei di sana, apa yang akan kau lakukan?! Percuma jika kita ke sana, si Rei masih belum kita temukan!" Akihiro membalas.


Dennis mengerutkan keningnya, mensipitkan matanya. "Ayo kita bertaruh saja!"


Akihiro mengangguk, lalu berkacak pinggang. "Oke, siapa takut. Biar aku yang tentukan. Kita akan ke sana, tapi jika Rei tidak ditemukan, maka kau harus membiarkan aku untuk tidur di atas sofa! Dan kau harus tidur di lantai."


"Baik! Tapi kalau Rei ditemukan, Kakak yang akan tidur di lantai, ya!"


"Baiklah." Akihiro mengangguk sambil tersenyum.


"Huh, instingku tidak pernah salah. Kak Rei pasti ada di sana. Dan aku akan memenangkan pertaruhan ini!" tegas Dennis dalam hati.


"Ya... entah mau menang apa tidak, aku tidak peduli. Aku yakin Rei tidak ada di sana, dan jika di sana kami menemukan Rei, aku juga tidak akan bisa menerima kekalahan ini. Karena, setelah Rei ditemukan, kami semua pasti akan langsung kembali ke sekolah, kan? Haha... jadi tidak akan tidur di rumah Dennis lagi." Batin Akihiro.


"Haduh... kedua kakak-kakak ini sedang apa, sih?" gumam Adel dalam hati karena ia merasa jengkel dengan sifat kedua kakaknya itu.


"Huh, bodoh. Bertaruh demi menang sendiri dan mendapat keenakan." Yuni bergumam.


Dennis dan Akihiro tersentak karena mereka sempat mendengar gumaman Yuni itu. Lalu tanpa mempedulikan perkataan Yuni, Dennis dan Akihiro pun memulai permainan mereka.


Dennis, Akihiro, Adel dan Yuni melewati jalan kecil yang ada di tengah sawah itu. Dennis yang paling depan dan Yuni yang di belakang. Mereka juga harus berhati-hati melewati jalan itu karena pinggiran tanah yang ada di jalan bertanah ini sudah tercampur dengan air sawah. Jadi jika terinjak, maka mereka akan terpeleset dan tercebur ke sawah.


"Bisa kau lebih cepat jalannya?!" teriak Akihiro tepat di telinga Dennis. Dennis terkejut karena suara nyaring yang dikeluarkan Akihiro itu telah membuat telinganya jadi pengang.


Dengan cepat, Dennis pun mengusap-usap telinganya itu. Lalu menengok ke belakangnya. "Ah, jangan berteriak, dong!" Dennis membentak.


"Cepetan jalannya! Sudah tahu ini di tengah sawah. Panas tau!"


"Sabar, kak! Di sini tuh jalannya semakin sempit saja. Kita harus hati-hati."


"Tapi kakiku sudah terasa panas tau! Minggir kamu! Biar aku yang jalan di depan." Akihiro berusaha untuk menyingkirkan tubuh Dennis dari hadapannya. Ia juga mencoba untuk meletakan kakinya lebih ke depan dari kaki Dennis.


Dennis mencegah Akihiro untuk menyela jalannya. "Jangan kak! Jalan ini terlalu sempit."


"Tidak, kak! Jangan sampai aku kehilangan keseimbanganku, nih."


"Tu–tunggu kakak-kakak! Jangan main rebutan di sini. Nanti jatuh. Adel takut kalian jatuh nanti." Adel juga sudah memperingati mereka.


"Minggir Dennis!"


"Tidak Kak Dian! Jangan seperti ini, nanti aku bisa–"


CRAT!


Dennis terkejut. Tiba-tiba saja kaki kirinya menginjak sesuatu yang licin dan basah. Dirinya telah menginjak lumpur yang ada di pinggiran jalan itu. Lalu karena lumpur itu terinjak Dennis, Dennis pun langsung kehilangan keseimbangannya. Ia terpeleset dan akan terjatuh ke sawah yang kotor.


Tapi untuk menahan keseimbangannya, Dennis malah menarik tangan Akihiro. Akihiro juga kaget karena tiba-tiba tangan kirinya terasa berat sebelah. Karena tidak bisa menahan berat Dennis yang ingin terjatuh itu, Akihiro pun juga ikut hilang keseimbangannya dan akhirnya....


Mereka berdua terjatuh ke lumpur yang ada di sawah itu. Dennis terjatuh duduk dan Akihiro terjatuh dalam posisi seperti sedang memeluk Dennis.


Tubuh mereka berdua jadi kotor karena lumpur yang menjijikan itu. Tidak lupa juga dengan wajah mereka yang terkena cipratan air kotornya. Tak lama setelah mereka terjatuh, tiba-tiba saja ada katak kecil yang melompat dari dalam air. Katak itu mendarat di atas kepala Dennis.


Karena merasa jijik, Dennis pun mengelus-elus kepalanya dengan kasar sampai rambutnya acak-acakan. Lalu karena merasa terusik, katak itu melompat ke atas tubuh Akihiro.


Akihiro terkejut karena ia merasa ada yang menempel di tubuhnya. Lalu dengan cepat, ia pun langsung bangun dan menepuk-nepuk badannya. Seketika katak kecil itu pun melompat dari tubuh Akihiro dan kembali masuk ke dalam air sawah, lalu berenang menjauh.


"Kak Dennis, Kak Dian! Kalian baik-baik saja?" tanya Adel cemas.


"Iya. Ah... menjijikan. Ini semua gara-gara Kak Dian, sih!" Dennis membentak Akihiro.


"Kok aku yang disalahin?! Kan kamu juga kenapa kgk memberikan aku jalan. Bukannya minggir, kek!"


"Ah, bagaimana mau minggir? Kan jalannya kecil. Aku tidak bisa."


"Suruh siapa kita lewat sini, tadi?!"


"Suruh aku. Memangnya kenapa?! Kan Kak Dian juga menyetujuinya."


"Ah, akhirnya kita tidak bisa menemukan Rei sekarang!"


"Ish! Kita bisa kena masalah karena telah menghancurkan lahan orang lain."


"Iya kan gara-gara kamu, Dennis!"


"Tolong jangan salahkan aku! Kan kakak duluan yang mulai."


"Apa?! Memangnya aku–"


"Ish! Bisakah kalian menghentikan pertengkaran yang kekanak-kanakan ini?! Adel tidak suka, tahu!" Adel akhirnya membuka mulutnya. Ia membentak kedua kakak-kakaknya itu. "Ini salah kalian berdua."


"Tapi...."


"Sudah! Tidak usah menyangkal. Sekarang kita pulang saja dan bersihkan diri kalian!" Adel mengomel.


"Ta–tapi kita masih belum menemukan Rei! Kan kita sudah janji akan menemukan dia sekarang juga."


"Eh? Kalian mencari Rei? Ada perlu apa kalian dengan anak saya?"


Serontak semuanya terkejut dan langsung menengok ke samping. Karena di depan jalan kecil itu, tiba-tiba saja muncul seorang Bapak Tua yang membawa cangkul dan memakai topi jerami.


Tak salah lagi, itu Ayahnya Rei!


*


*


*


To be Continued-