
KRIIIING... KRIIIING....
Yah, anggap saja itu bel masuk kelas. Semua murid bergegas menuju ke kelasnya masing-masing. Kalian tahu, kan? Di sekolah itu tidak boleh terlambat, walau hanya satu menit saja.
Tapi untungnya, Dennis dan Rei sudah sampai di kelas mereka. Bahkan mereka sampai lebih awal dari yang lainnya.
Hari ini, hari remedial. Remedial soal yang kemarin. Dennis takut dengan yang namanya remedial itu. Karena pada awalnya, dia sudah susah payah mengerjakan soal, tapi kenapa harus dikerjakan lagi?
"Biasanya, tujuan dari remedial itu untuk menambah nilai kita yang turun." Kata Rei pada Dennis yang ada di sampingnya.
"Nambah nilai apanya? Nilai di rapotku tetap saja jelek. Huuu..." Akihiro bergumam kesal.
"Sama sih aku juga. Jadi gunanya kita ikutan remedial itu apa?" Dennis juga ikutan bergumam.
"Hei, kalian berdua! Kalian tahu kan? Kalau kita berusaha, pasti bisa, kok!" tegas Rei. "Kalian seharusnya mencontoh Mizuki! Dan jangan hanya mengeluh saja." Lanjutnya. Lalu setelah perkataannya itu, Rei kembali membaca bukunya.
Akihiro mendekat ke Dennis. Ia berbisik dan tangan kanannya itu menutupi setengah wajahnya dari Rei. "Hei? Kenapa ujung-ujungnya ada si Mizuki juga, sih?"
Dennis tertawa kecil. "Hehe... aku tidak tahu."
"Ahh... sudahlah. Rei! Kau bilang kalau usaha pasti bakalan bisa, kan? Aku pegang kata-katamu. Tapi kalau aku masih mendapat nilai jelek, ku pukul kau, ya?" Celoteh Akihiro.
"Huh, itu yang kau sebut ancaman?" Rei bergumam sambil menutup bukunya. Lalu, setelah itu ia beranjak dari kursinya. Berjalan mendekati rak buku untuk menaruh buku yang ia ambil dari rak di kelas itu.
"Ayo, Dennis! Bekerja sama denganku. Kalau memang dengan cara berusaha itu bisa dapat nilai bagus, maka kita harus membuktikannya. Tapi kalau tetap saja dapat jelek, kita hajar si Rei itu, oke?" Akihiro berbisik lagi pada Dennis.
Dennis tersentak. "Eh? Menghajarnya?"
"Iya. Biar dia gak sok pintar lagi di depan kita. Dan kita bisa jadi yang berkuasa di kelompok, haha...."
"Emm... bagaimana, ya?"
"Tinggal bilang 'iya' aja susah banget, sih. Oke, ya?"
"Kalian membicarakan aku lagi, ya?"
Dennis dan Rei terkejut. Tiba-tiba mereka mendengar suara Rei dengan nada menyeramkan yang muncul di belakang mereka. Akihiro langsung merasa merinding mendengarnya. Lalu dengan cepat, ia menjauh dari Dennis dan berniat akan lari ke tempatnya sendiri.
Tapi tak sengaja, tiba-tiba kakinya tersandung kaki meja dan terjatuh. Semua anak yang ada di dekatnya terkejut. Tapi mereka tidak menertawakan Akihiro.
Dengan cepat, Akihiro pun kembali bangun. Dan langsung berjalan sempoyongan ke tempat duduknya. Akihiro tidak mengeluarkan ekspresi malunya. Tapi ia malah tertawa.
"Karma muncul cepat sekali." Gumam Rei. Sementara Dennis hanya bengong saja dengan tampang yang masih terlihat kaget. Lalu setelah itu semuanya pun kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Begitu juga dengan dirinya (Dennis).
Tak lama kemudian, guru yang mengajar masuk ke dalam kelas. Pastinya, lagi-lagi guru yang datang itu adalah Bu Mia–Wali kelas 3-C.
"Selamat pagi, anak-anak!" seru Bu Mia pada semua murid di kelasnya.
Semuanya menyahut. "Pagi, Bu!"
Bu Mia tersenyum pada semuanya sambil memejamkan matanya. Lalu ia berkata, "Anak-anak, hari ini remedial, ya?"
Pada awalnya, semua murid akan komplain lagi. Tapi ternyata semuanya telah pasrah dengan nasibnya masing-masing. Seketika mood hancur karena remedial.
"Sudahlah... dijamin aku akan mendapat nilai jelek lagi, huh!" Dennis menggerutu lagi di dalam hatinya.
****
"Hahaha... sudah kuduga! Pasti nilaiku jelek lagi walau sudah ikut remedial." Bukannya kesal seperti Dennis saat mendapat nilai jelek, melainkan Akihiro malah terlihat senang. Entah apa yang merasuki anak wibu yang satu itu....
"Huwaaa! Aku dapet jelek lagi. Ah kesel! Kesel!" Dennis marah-marah sendiri. Dia terus menghentakkan kakinya ke lantai dengan keras berkali-kali. Tadinya, ia juga ingin merobek hasil remedial-nya itu, tapi tidak jadi. Karena dia merasa kasihan pada kertas itu.
"Nah, hehe... sekarang waktunya." Akihiro bergumam dan tertawa sendiri. Dennis merasa aneh melihat tingkahnya.
Akihiro berbalik badan menghadap ke Dennis. Ia bilang, "Eh, hei! Kita kan dapat nilai jelek lagi. Sekarang ayo! Sesuai perjanjian."
"Itu loh! Kalau nilai kita jelek lagi, kan kita mau...."
"Kalian mau memukulku?"
"Nah! Kau benar." Dengan cepat Akihiro kembali membalikan badannya. Matanya terpejam sambil tersenyum. Ia tidak melihat orang yang ada di hadapannya saat ini. "Aku dan Dennis ingin memukul Rei, loh! Mau ikut... an... gak? Eh?!"
Akihiro kembali membuka matanya dan terkejut. Karena di hadapannya itu telah berdiri sosok Rei yang sangat dekat dengannya. "Re, Reiii?!"
"Kenapa diam saja? Tadi katanya mau pukul aku? Ayo sini. Aku ladeni." Rei kembali berbicara pada Akihiro.
"E, eh! Bukan aku saja, kok. Den, Denis juga kan mau..." Akihiro berbalik badan. Tadinya ia ingin menarik tangan Dennis yang ada di belakangnya. Tapi ternyata... Dennis sudah menghilang. Entah dia pergi ke mana?
"Di, dia pergi ke mana?! A, aduuuhh..." Ekspresi Akihiro mulai ketakutan. Matanya melirik ke belakang, tapi tidak menengok. Di belakangnya benar-benar sudah ada Rei yang berdiri sambil memandangnya dengan mata tajam yang dimiliki Rei itu.
"Dian... aku ingin bicara sebentar saja dengan...."
"Maafkan aku Rei! Yang tadi itu aku hanya bercanda saja, kok! Ah! Sekali lagi... gomennasai!" tanpa menengok ke belakang, Akihiro langsung berlari secepat yang ia bisa untuk menjauh dari Rei.
(Gomennasai\= Maaf/Maafkan aku!)
"E, eh, tunggu! Lah, kok dia malah lari, sih? Haduuh... padahal aku ingin bilang kalau nanti setelah istirahat kita pergi ke tempat biasa. Ada yang mau aku omongin dengan mereka-mereka itu!" Rei menggerutu. Lalu tanpa sadar, tiba-tiba saja tangan kanannya mengangkat lalu memegang bagian belakang lehernya. Ia merasa merinding.
"Eh? Ada apa ini? Ada sesuatu yang lewat barusan. Apa itu?" Rei menggeleng cepat, lalu ia menurunkan kembali tangan kanannya itu. Berusaha untuk tidak mempedulikan 'sesuatu' yang ia lihat tadi.
"Eh, ngomong-ngomong di mana Dennis, ya? Ohh... tadi aku lihat dia berlari ke arah ke kamarnya. Ke tangga menuju lantai dua. Mungkin saja, saat ini dia sedang ada di dalam kamarnya." Rei bergumam lagi. "Hah, sekarang aku harus mengajak Dennis. Pergi ke kamar. Aku tuh sebenarnya malas. Belum aku juga harus mengejar Akihiro. Belum lagi mencari Yuni dan Adel. Haduuh... sekarang yang paling utama, menemui Dennis terlebih dahulu!"
Rei kembali melangkah. Ia berjalan santai saja menuju ke kamarnya untuk menemui Dennis di sana. Ia pikir Dennis ada di kamarnya.
****
Ternyata memang benar, sih. Dennis sudah berlari sampai ke tangga menuju lantai dua dekat dengan kamarnya itu. Saat ini, ia sedang berdiri di tengah tangga sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah karena habis berlari.
"Haduh... Rei menyeramkan juga kalau sedang marah, ya?" Dennis bergumam. Lalu kakinya ia gunakan kembali untuk melangkah maju menaiki beberapa anak tangga di depannya.
Akhirnya sampai di dekat kamar. Hanya beberapa langkah lagi. Dan... akhirnya sampai. Dia berhasil menyentuh kenop pintu kamarnya.
"Huh, tidur sebentar tidak apa, kan? Lagi pula istirahat baru saja dimulai. Mungkin tinggal 5 menit lagi. Sungguh, aku capek sekali."
Dennis membuka pintunya. Lalu menyalakan lampu kamarnya. Untuk kali ini, dia tidak akan membuka gorden jendelanya untuk mendapat cahaya matahari. Karena terlalu merepotkan menurutnya. Jadi, ia hanya tinggal menekan saklar yang ada di samping pintu kamarnya untuk menyalakan lampu.
Dennis akan membuka sepatunya. Soalnya ia kan ingin tidur di atas ranjangnya hanya untuk sebentar saja. Tapi sebelum itu, tiba-tiba saja dari belakang ada yang menyentuh pundaknya.
Dennis tersentak, lalu secepatnya ia langsung menengok ke belakangnya. Matanya membesar. Ekspresi kaget yang ia keluarkan saat melihat orang yang ada di belakangnya. Ternyata orang itu adalah si Diana.
Gadis itu tiba-tiba saja muncul di belakang Dennis. Dennis kembali berdiri, lalu ia pun mundur ke belakang secara perlahan untuk menjaga jarak dari gadis itu.
"A, apa yang kau lakukan di sini?!" tanya Dennis dengan nada membentak.
Diana sedikit menelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ia menjawab, "Aku tidak mau ngapain-ngapain, kok! Aku ke sini hanya lewat saja. Ya... sekalian ingin melihat 'dia'."
"Dia siapa? E, Eh?!"
Tiba-tiba saja Dennis dibuat terkejut akan sesuatu. Karena, saat ia melihat ke pupil mata Diana yang hitam itu, Dennis bisa melihat bayangan dirinya yang terpantul dari pupil mata Diana. Tapi bukan itu yang membuatnya terkejut.
Yang membuatnya terkejut adalah, sosok bayangan hitam yang muncul di belakangnya!
*
*
*
To be Continued-