Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 59– Pengkhianat (?)


Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


"Ah, mungkin ada hal penting yang ingin ia bicarakan padaku. Kalau begitu aku akan pergi menemuinya!"


Dennis memasukan ponselnya kembali ke dalam kantung celana, lalu kembali pada Mizuki. Ia akan meminta izin pada Mizuki dulu kalau dirinya ingin kembali ke Villa duluan.


Dengan senang hati, Mizuki mengizinkannya. Sekarang ia ingin melanjutkan pencarian makanan yang tersisah. Ia ingin membawa sebagian makanan itu ke dalam bus. Mumpung lagi gratis. "Tapi... jangan sampai Akihiro mengetahui tempat makanan ini." Ia bergumam.


Setelah Mizuki mengizinkannya, langsung saja Dennis berlari pergi. Ia tidak sempat untuk berpamitan dengan Rei karena ia sendiri juga tidak tahu ke mana Rei setelah ia membuang potongan tangan yang Rei temukan tadi.


"Ah, pokoknya kalau ada masalah, aku akan menghubungi Rei." Batin Dennis sambil berlari menaiki tanjakan menuju ke Villa dan puncak bukit. "Yang penting Kak Zuki sudah tahu aku ingin ke mana. Mereka pasti bisa menemukanku. Lagipula, Cahya pasti tidak akan lama denganku."


Dennis tersenyum memikirkan Cahya, lalu kembali bergumam, "Saat ini dia pasti sedang menunggu. Ah, kalau begitu aku tidak akan membuatnya menunggu lama!"


****


Kembali ke warung. Di sana Mizuki masih sibuk mengacak-acak isi dari lemari kaca yang ada di tempat itu. Selain makanan, ia juga menemukan obat-obatan dan minuman keras. Ada bungkus kopi, beberapa dua dus berisi mie instan dengan berbagai rasa.


Membayangkan makan mie instan itu membuat Mizuki jadi sedikit lapar. Ia tidak bisa memasaknya sekarang karena di sana Mizuki tidak menemukan kompor.


"Hmm... Apa yang harus aku lakukan, ya?" pikir Mizuki. Ia ingin sekali memasak mie instan itu tapi ia tidak tahu caranya. Kalau tidak ada kompor, setidaknya masih ada termos air panas.


Mizuki membuka beberapa lemari kayu yang terletak di samping lemari kaca. Di lemari kedua paling bawah, kebetulan sekali. Harapan Mizuki terkabul. "Ah, akhirnya! Tak kusangka aku bisa menemukan ada termos air di sini, hehe...."


Mizuki mengeluarkan termos dengan tinggi 40 cm itu dari dalam lemari. Setelah itu, Mizuki memutar tutupnya dan membukanya. Ia mengintip ke dalam. Seketika, raut wajah Mizuki berubah drastis.


Ia sedikit kecewa karena isi dari termos air itu bukanlah air panas, melainkan sebaliknya. "Hah... mungkin sudah lama dibiarkan, jadinya tidak hangat lagi, deh!"


"Kau sedang apa di situ?"


Mizuki terkejut. Dengan cepat ia langsung berbalik badan. "Eh, Rei! Bikin kaget saja." Mizuki berdiri, dan menghadap ke Rei yang sedang berdiri di depan pintu.


"Ah, ini..." Mizuki tertawa kecil, lalu menyelipkan rambut depannya di selah telinga. "Tadinya aku ingin mencari bahan bakar untuk bis kita di sini. Sekalian... aku juga ingin mencari makanan, hehe...."


"Haduh, kau sama saja seperti si Dian itu. Disaat seperti ini, yang kau pikirkan hanyalah makanan." Gumam Rei dengan nada menyindir.


Mizuki yang mendengarnya itu langsung tersentak kaget. Pipinya sedikit memerah, lalu ia membuang muka dari Rei. "Kau ini! Jangan samakan aku dengan cowok itu!"


"Hah, aku hanya bercanda." Rei tersenyum sambil menundukkan kepalanya. Tak lama kemudian, ia menghapus senyumnya itu lalu kembali menatap Mizuki dengan pandangan biasa. Ia bertanya, "Ngomong-ngomong... tadi aku melihat Dennis berlari menaiki bukit. Sebenarnya dia mau ngapain?"


"Oh iya, Dennis. Tadi dia bilang padaku kalau dia harus kembali ke Villa. Cahya ingin membuat laporan untuknya." Jawab Mizuki.


"Ooh..." Rei mengangguk paham. "Tapi... kenapa dia tidak izin padaku, ya?"


"Eh?! Dia mau bilang padamu juga!" Mizuki membentak. "Dia ingin bilang padamu, tapi kau sulit untuk ditemukan. Sebenarnya kau ke mana saja sih dari tadi?"


"Ah, ini yang ingin aku katakan," Ujar Rei. "Aku sebenarnya sudah mengetahui kalau mobil kita akan kekurangan bensin. Maka dari itu, aku memeriksa ke mobil sebelah milik anak-anak dari sekolah lain itu. Dan ternyata, di sana aku menemukan ada satu kotak penuh bahan bakar cadangan yang mereka letakan di pojok belakang pintu!" jelas Rei.


"Wah, itu bagus sekali! Kita bisa memanfaatkannya!" Mizuki terlihat senang dan bersemangat. "Kalau begitu, kita ambil saja dan kita persiapkan mobilnya! Ayo!"


"Eh, nanti dulu!" Rei menyela Mizuki yang hendak pergi keluar dari warung. "Kita tidak boleh main ambil saja, dong! Kan itu barang milik mereka. Kita harus izin dulu."


"Oh, iya, hehe...."


"Sekarang lebih baik kita kembali ke Villa. Kita berbagi mobil bus saja untuk pergi dari daerah sini."


"Oke, ayo!"


Mizuki sudah berlari keluar duluan. Rei akan mengikuti dari belakang. Tapi saat ia menginjak teras luar depan warung, Rei merasakan getaran di saku celananya.


Ada dua notifikasi message dari Dennis. Langsung saja Rei membuka dan membaca pesannya dari Dennis itu.


Saat membaca beberapa kata di pesan pertama, Rei membesarkan matanya karena terkejut. Lalu setelah itu, ia berlari menjauhi warung dengan cepat untuk kembali ke Villa.


Sebenarnya ada apa?


****


Sebentar lagi matahari akan terbenam. Saat ini, entah apa yang sedang Dennis lakukan. Tapi ia terlihat sedang berlari menghindari sesuatu. Ia terlihat ketakutan.


Sampai tanpa sadar, dirinya telah berlari masuk ke dalam hutan yang sudah mau gelap karena tidak ada cahaya matahari.


Tapi walaupun gelap, Dennis masih bisa melihat jalan di depannya. Jalan yang ia pijak juga masih terlihat jelas. Sebelum matahari benar-benar berganti menjadi bulan, Dennis memanfaatkan kesempatan itu untuk tetap berlari dan mencari tempat bersembunyi agar dirinya terbebas dari orang yang sedang mengejarnya di belakang.


"Cahya! Aku mohon padamu jangan lakukan ini!!" Dennis berteriak ketakutan pada orang yang sedang mengejarnya itu.


"Berhenti kau, Dennis!" Cahya berteriak balik. Ia hanya membawa senjata penembak kecil dengan peluru bius di dalamnya.


Gadis itu mengarahkan senjatanya pada Dennis sambil berlari. Lalu menekan pelatuknya. Tapi karena Dennis terlalu banyak bergerak, Cahya jadi agak kesulitan untuk membibik sasarannya.


Dennis juga terkejut saat ada Peluru Bius yang terbang melewati kepalanya. Ia menghentikan langkahnya sejenak untuk menghindari peluru lainnya. Lalu setelah itu, ia kembali berlari. Padahal dirinya tidak tahu mau ke mana.


Tapi berlari semakin dalam, Dennis melihat ada cahaya kecil yang ia lihat dibalik semak dan pepohonan. Dennis menghentikan langkahnya untuk melihat cahaya di balik semak itu.


Saat Dennis membuka semak yang menghalangi, ia akhirnya tahu kalau cahaya itu berasal dari lampu minyak yang digantung di depan gubuk kecil di dalam hutan. Tak lain itu salah satu gubuk milik Keluarga kanibal dengan makanan mereka di dalamnya.


Dennis tidak bisa pergi ke sana. Karena ia tahu di sekitar gubuk itu tidak ada tempat persembunyian. Kalau begitu, ia akan menjauh dari gubuk tersebut.


Tapi saat Dennis berbalik badan, ia terkejut saat ada Cahya yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Dennis mundur ke belakang sampai tubuhnya menyentuh semak. Untuk kali ini, ia terlihat takut dengan sosok Cahya yang ada di hadapannya itu.


"Cahya! Ke–kenapa kau bisa jadi seperti ini, sih?! Hei! Kau pasti bercanda kan?"


Cahya menatap tajam pada Dennis. Tangannya mulai mengepal, lalu dengan cepat ia memberikan pukulannya pada Dennis. "Kau tidak akan bisa kabur dariku."


BUAK!


Akibat pukulan dari Cahya yang tepat di wajahnya itu, Dennis langsung terjatuh berguling ke bawah. Tapi lepas terjatuh, ia langsung kembali bangkit lalu berjalan pincang menjauh dari Cahya.


Tapi saat sedang berusaha untuk lari dari Cahya, di depannya ia melihat ada si Bapak Tertua yang sudah berdiri di depan gubuk untuk menunggu kehadirannya.


Karena terkejut. Dennis berhenti mendadak. Ia tidak tahu kalau ada Bapak Tertua di hadapannya itu. "Apakah dia sedang mengejar ku juga?!" Dennis mulai panik dalam hatinya.


Ia ingin berbalik badan dan berniat untuk berlari melewati Cahya dan menghindari serangan yang datang.


Tapi ternyata terlambat. Saat selangkah kaki Dennis kembali bergerak, tiba-tiba saja Dennis merasakan sesuatu yang membuatnya kaget. Ia menoleh ke belakang selagi bisa dan ia melihat ada peluru bius yang sudah menancap di punggungnya.


Cahya berhasil mengenai mangsanya. Ia telah menunjukkan pada ayahnya kalau ia bisa menangkap manusia. Dan sekarang waktunya. Tepat di hadapan ayahnya, ia telah menangkap Dennis.


"Cahya... kenapa kau... mengkhianati... ku..." Karena tidak kuat menahannya, Dennis terjatuh tepat di hadapan Cahya. Sementara gadis itu tidak peduli dengan omongan Dennis. Ekspresi wajahnya tetap datar seakan ia tidak melakukan apapun sekarang ini.


"Bagus, Cahya." Ayahnya bertepuk tangan sebanyak 3x dengan senangnya. Kemudian ia melangkah mendekati Dennis, lalu menginjak tubuhnya. "Kau sudah membuktikan kalau kau bisa. Sekarang, langkah selanjutnya adalah... memotong jari korban pertamamu dan berikan pada ayah hasilnya."


Cahya mengangguk pelan, lalu menjatuhkan senjatanya. "Baiklah, ayah,"


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8