Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 50– Ujian IPA, part 3


Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


"Ka–kau?! Lepaskan aku!!" Dennis memberontak agar si gadis yang ada di belakangnya itu mau melepaskan pergelangan tangannya.


"Jangan pergi." Gadis itu berbisik dengan nada dingin dan ia masih tidak mau melepaskan tangannya Dennis. "Aku akan menolongmu."


"A–apa yang kau bicarakan?! Aku tidak ingin menyelematkan diriku. Tapi aku ingin menyelamatkan temanku itu! Lepas! Ikh!" Dennis semakin memberontak. Tapi si gadis itu tetap tidak mau membiarkan Dennis pergi. Tenaganya kuat sekali hanya untuk seorang gadis berumur 14 tahun (mungkin).


Gadis itu tidak menjawab. Lalu dengan cepat, ia menarik paksa tubuh Dennis sampai terjatuh ke belakang. Dennis mengeluh sakit di bagian belakang tubuhnya. Tapi saat setelah ia terjatuh, tiba-tiba saja ada sesuatu yang terjatuh di tempat Dennis berdiri tadi.


Sebuah tongkat kayu besar dan juga beberapa batu-batu kerikil yang ada di hadapan Dennis. "Eh? Apa gadis tadi menarikku karena dia ingin menyelamatkanku dari reruntuhan batu-batu ini atau karena kenapa, sih?"


"Kuncinya adalah, Fotosintesis."


Dennis melebarkan mata karena terkejut. Ia mendengar bisikan si gadis itu lagi di belakangnya. "Fotosintesis adalah cara untuk keluar dari tempat ini? Tapi... bagaimana caranya dan apa maksudnya?" pikir Dennis dalam hati.


"Tu–tunggu! Kau... eh?" Dennis menengok ke belakang. Ia ingin mengatakan sesuatu pada si gadis yang ada di belakangnya. Tapi setelah Dennis menengok, ia sudah tidak melihat gadis itu lagi. Dia sudah menghilang entah ke mana.


Dan sekarang... giliran Dennis lah yang harus menyelamatkan teman-temannya dan keluar dari dalam terowongan maut ini!


Dennis kembali berdiri. Ia mengambil tongkat kayu besar yang ada di hadapannya itu, lalu kembali berpikir. "Kuncinya adalah Fotosintesis? Tumbuhan, kah? Tanaman... tapi... di tempat ini hanya ada tanaman pemakan daging. Biasanya, mereka tidak mendapatkan energi dari cahaya matahari untuk mendapatkan nutrisi. Hmm... lalu...."


"Dennis!"


Seseorang berteriak menegur dirinya. Dennis tersentak dan langsung membalikan tubuhnya dengan masih memasang ekspresi wajah kaget. Saat dilihat, ternyata yang telah memanggil dirinya itu adalah si Rashino.


Rashino sedang berlari sambil membantu adik kembarnya juga. Karena Nashira bergerak agak lambat, jadi Rashino memutuskan untuk menggendong adiknya itu di atas punggungnya.


Dennis tersenyum senang. Ia pikir, mereka sudah bisa bebas dari monster yang menyerang mereka. Tapi ternyata... masih ada beberapa akar lainnya yang terus mengejar si kembar dari belakang.


"De–Dennis! Lari! Lariiii!" Rashino berteriak sambil bergerak cepat menghampiri Dennis. Dennis hanya terdiam sambil menggeleng. Ia tidak ingin pergi meninggalkan teman-temannya yang masih terjebak. Apalagi... dengan keadaan Rei yang ada di sampingnya itu.


"Aku tidak akan pergi!" Dennis membantah.


"Pergi Dennis! Monster itu bisa membunuhmu!"


"Tidak akan!"


Dennis memikirkan sesuatu di dalam benaknya. Ia harus mencari cara untuk membebaskan teman-temannya dan juga menyelamatkan dirinya dari bahaya akar yang berterbangan itu.


"Ayo pikirkan, Dennis! Kau harus apa? Harus apa? Dennis! Lakukan sesuatu!" Dennis menggerutu di dalam hatinya. Ia bingung ingin berbuat apa untuk menyelamatkan dirinya dan juga membantu teman-temannya.


"Eh... tunggu dulu!" Dennis teringat sesuatu. Ia mengingat perkataan Rei tentang kelemahan si monster akar itu.


"Ka–kak Rei tahu kelemahan monster itu?"


"*Iya. Mereka membenci cahaya."


"Cahaya...."


"Cahaya*...."


Dennis menyentakan matanya. Ia sekarang tahu apa yang harus dia lakukan sekarang! "Aku tahu! Dengan cahaya, aku bisa menakuti monster itu."


Dengan cepat, Dennis mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam saku celananya. Lalu ia menyalakan lampu flash di ponselnya itu. Setelah menyala, Dennis kembali memungut ponsel milik Rei yang ada di bawah kakinya. Ponsel Rei juga masih menyala di bagian lampunya. Jadi sekarang... Dennis memiliki dua lampu terang untuk menakuti monster itu dan menyelamatkan Rashino dan Nashira.


Ia menodongkan kedua ponsel yang ada di tangannya itu ke depan. Lalu setelah itu, Dennis bergerak cepat menghampiri Rashino dan Nashira. "Kalian berdua!" Dennis berteriak. "Aku... aku akan melindungi kalian berdua dan juga teman-temanku!"


"Dennis bodoh! Apa yang kau lakukan?!" bentak Nashira. "Dennis! Kau harus lari sekarang juga!" Rashino juga ikut membentak dengan kakinya yang masih melangkah lebar dan cepat.


"Aku tahu cara untuk mengalahkan monster itu! Percayalah padaku!" Dennis menjawab. Lalu ia menghentikan langkahnya untuk sementara sampai Rashino dan Nashira berdiri di dekatnya.


"Tidak! Lihatlah aku dulu!" Dennis menodongkan kedua ponsel yang ia pegang itu ke depan. Ia akan menunggu sampai beberapa akar-akar itu mendekat ke arahnya. Sorotan cahaya itu akan mengenai si akar terbang. Tapi sebelum si akar terkena sorotan cahaya , akar-akar itu menghentikan pergerakan mereka.


Dennis menghembuskan nafas lega. "Hah, aku berhasil." Ia bergumam.


Akar-akar itu tidak berani mendekat karena Dennis memiliki cahaya yang ia pegang. Lalu setelah akar-akar itu pergi, Dennis menengok ke belakang dan berkata, "Rashino dan Nashira. Kelemahan monster itu adalah cahaya! Cepat keluarkan ponsel kalian dan sorotkan cahaya dari ponsel kalian itu ke arah si monster. Sementara, aku akan menolong yang lainnya!"


Rashino meneleng. "Eh? Benarkah?" tanyanya bingung. Dennis mengangguk. Rashino pun mempercayai Dennis. Lalu ia menurunkan tubuh adiknya, setelah itu Rashino merogoh kantung celananya untuk mengambil ponselnya. Begitu juga dengan Nashira.


Mereka berdua menyalakan lampu flash di ponsel mereka. Mereka berdua mengangguk paham. "Aku pikir kau benar! Sekarang apa rencanamu?" tanya Rashino.


"Kalian berdua, cobalah untuk membantu yang lainnya agar mereka bisa terbebas dari tanaman yang telah menjebak mereka. Cepatlah sebelum monster itu memakan mereka! Sementara aku... akan mengalihkan perhatian si monster utama sambil membantu Kak Dian dan adikku!" jelas Dennis. Lalu tanpa mengulur waktu lagi, ia langsung pergi menghampiri si monster terbesar yang ada di ujung terowongan.


Tak lupa juga Dennis memberitahu satu hal lagi pada si kembar. Tapi untuk rencana kali ini, ia tugaskan pada Nashira. "Nashira! Ini tugas untukmu. Jika kau mampu, tolong beritahu semua orang yang masih selamat di sini untuk segera membuka ponsel mereka dan juga menyalakan lampu seterang yang mereka bisa. Beritahu juga tentang kelemahan para tumbuhan ini!" teriak Dennis sambil berlari.


Nashira mengangguk paham. Lalu ia melirik ke segala arah untuk mencari sesuatu.


"Nashira, apa kau yakin bisa melakukannya?" tanya Rashino cemas. "Kan tongkat berjalanmu ada di sana. Kau bisa berjalan menghampiri teman kita yang lainnya?"


Nashira mengangguk. "Tenang saja, No!" Ia memungut sesuatu yang ada di bawahnya itu. Sebuah tongkat tebal dan panjang yang akan ia gunakan untuk berjalan. "Aku sekarang sudah punya tongkat baru. Ah! Ini bisa aku gunakan untuk berjalan. Tenang saja."


"Oke. Tapi... apa kau yakin akan pergi menyusul yang lainnya?"


"Iya tenang saja! Jika ada monster yang menyerangku, kan aku masih punya senjata baru di ponselku! Aku... akan memberitahu pesan yang diberikan dari Dennis. Agar kita semua juga bisa keluar dari sini bersama-sama!" Nashira berbalik badan. Ia pergi secara perlahan dengan bantuan dari tongkat yang baru ia gunakan.


"Hati-hati, Nashira!"


Setelah Nashira pergi, sekarang saatnya Rashino menjalankan tugasnya. Ia dengan ponselnya itu akan membantu membebaskan teman-temannya yang lain dari jeratan tumbuhan yang sudah menjebak mereka itu.


Yang pertama, Rashino akan menyelamatkan Rei terlebih dahulu. Letak Rei berada tak jauh darinya. Dan langsung saja, Rashino menghampiri Rei. "Eh? Tanaman merambat ini benar-benar menyebalkan! Jika aku menyentuhnya, maka tanaman ini akan tumbuh dengan cepat dan merambat ke tubuhku juga." Pikir Rashino untuk bisa menyelamatkan Rei dari tanaman yang telah menjebak temannya itu.


"Bagaimana kalau aku memberikan cahaya pada tanaman ini. Siapa tahu saja dia akan pergi dan melepaskan Rei." Rashino mengarahkan cahayanya tepat ke arah Rei dan juga tanaman itu. Tapi ternyata tidak ada perubahan sama sekali. Tidak ada yang bergerak pada tumbuhan itu. Tapi... tak lama kemudian, kepala Rei bergerak. Ia kembali membuka matanya dan mendongak. Melirik ke arah Rashino tanpa menggerakkan tubuhnya.


"Re–Rei?! Ternyata kau masih bisa bertahan!" Rashino agak sedikit terkejut melihat Rei tersadar kembali. Tapi ia juga merasa senang karena melihat Rei masih bisa selamat karena... jika terlalu lama terjebak oleh tanaman itu, maka akan mati secara perlahan.


Rei menjawab dengan menganggukkan kepalanya saja. "Kenapa... kau masih ada di sini?" tanya Rei pelan.


"Apa maksudmu?! Tentu saja aku di sini karena ingin menolongmu! Kita... harus keluar dari sini bersama-sama dengan semuanya."


"Semuanya? Tapi... di mana mereka saat ini?" tanya Rei lagi.


"Ugh! Mereka semua terjebak sama seperti dirimu. Dan... Dennis... dia sedang berusaha untuk melawan monster tumbuhan itu sendirian."


Rei melebarkan matanya karena terkejut. Lalu secara tidak sengaja ia pun menggerakkan tubuhnya, dan seketika tanaman yang mengikat dirinya itu semakin melilit tubuhnya dengan kuat. Rei mengeluarkan darah dari mulutnya karena... tanaman itu sudah sampai melilit lehernya dan mencekiknya.


"Re–Rei! Jangan banyak bergerak. Aku akan segera membebaskanmu!" tegas Rashino. Ia akan mencari cara lain untuk menyelamatkan temannya itu dengan cepat.


"Ka–kau tidak bisa. Rashino... pergi selamatkan yang lain." Ujar Rei lemah. Ia benar-benar sudah tidak bisa bertahan di sana. "Sial. Tanaman ini... menyerap energi ku semakin banyak." Rei bergumam. Nafasnya mulai terengah-engah dan semakin lama... suaranya resak dan menghilang.


"Tidak bisa! Aku... akan membantumu terlebih dahulu! Akan aku pikirkan caranya!" Rashino melirik ke sekitarnya. Ia celingak-celinguk mencari kelemahan dari si tanaman baru yang suka menghisap energi orang yang dililitnya itu.


"Selamatkan yang lain... saja... karena... aku tidak mungkin bisa bertahan lebih lama lagi. Tanaman aneh ini telah menghisap energi ku sampai ke intinya."


"Eh?" Rashino tersentak. Lalu dengan cepat, ia melirik ke arah kaki Rei. Di sana terdapat gumpalan besar berwarna hijau gelap yang ternyata adalah....


"Itu dia. Inti dari tumbuhan ini pasti adalah kelemahannya!" Rashino tersenyum samar. Ia sudah menemukan kelemahan dari tumbuhan merambat itu? Dan bagaimana caranya agar dia bisa menyelamatkan Rei?


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8