Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 20–Rumah Rei


Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


Pada pukul 10, Dennis dan teman-temannya akhirnya sampai di rumah Rei. Sekarang ini mereka sedang berdiri tepat di teras rumah, menghadap ke pintu depan.


Pada awalnya, Rei agak ragu ingin mengetuk pintu rumah orang tuanya itu. Tapi pada akhirnya, ia pun memberanikan diri untuk mengetuk.


TOK! TOK! TOK!


Setelah mengetuk sebanyak 3x, Rei pun menurunkan tangannya. Semuanya akan menunggu sahutan dari dalam. Tapi ternyata... tidak ada suara sama sekali dari dalam sana.


"Eh? Tidak ada orang di rumah, kah?" tanya Akihiro yang sedang duduk di kursi kayu di depan jendela rumah.


"Entahlah. Mungkin biasanya orang tuaku pergi ke ladang. Tapi kan... suka ada adikku juga di rumah." Jawab Rei. Lalu ia mengintip lewat jendela untuk melihat ada seseorang atau tidak di dalam rumahnya itu.


"Mungkin saja adikmu itu sedang bermain di luar." Ujar Dennis. "Apakah pintunya dikunci? Coba saja dibuka dulu."


"Hmm... biasanya sih dikun–"


CKLEK! KRIEEETT....


"Eh?" Rei sedikit terkejut. Saat ia menyentuh kenop pintu rumahnya, tiba-tiba saja dari dalam ada seseorang yang telah membuka pintunya.


Saat pintu terbuka lebar, terlihat ada seorang anak laki-laki imut dengan mainan robot di tangannya menatap dengan mata besarnya itu ke arah Rei.


Anak laki-laki itu tersentak setelah ia melihat sosok Rei yang ada di depannya. Lalu secara perlahan, anak laki-laki itu mengeluarkan senyum manisnya yang lebar, lalu dengan cepat langsung memeluk Rei.


"Kakak! Ini kakak, kan?" teriak anak laki-laki itu kegirangan.


"Eh, Lino, kan?" Rei melepas pelukan adiknya itu secara perlahan. Lalu berjongkok sehingga tinggi tubuhnya sama dengan tinggi adik kecilnya itu.


"Iya, kakak! Ini Nino. Aaah... aku kangen banget sama Kakak. Kakak ke mana saja dari kemarin?" tanya adiknya Rei yang bernama Linoino itu.


Rei kembali berdiri, lalu menjawab, "Kakak selama ini bersama dengan teman-teman kakak. Mereka semua yang selalu menemani kakak bermain, loh!" Rei mengeluarkan senyumnya pada adiknya itu saat ia sedang memperkenalkan teman-temannya pada Lino.


"Woah! Kakak ternyata sudah punya banyak teman. Tapi kalau Lino tidak. Lino selalu sendirian di rumah. Kan jadi sepi." Lino memasang ekspresi wajah sedih. Ia menundukkan kepala sambil memainkan robot mainan yang ia pegang itu.


"Memangnya Lino tidak main di luar sama teman-teman lainnya?" tanya Adel. "Kalau Adel dulu suka gitu. Nyari teman aja di depan rumah!"


Lino melirik ke arah Adel, lalu menggeleng. "Um... tidak, ah! Lino takut ke luar. Nanti diculik orang jahat!"


"Loh? Kenapa bilang begitu?" tanya Adel lagi.


"Kan Ibu yang bilang. Kalau aku keluar, nanti diculik gitu. Terus nanti aku dibunuh. Kan aku tidak mau!"


"Oh iya, ngomong-ngomong... di mana Ibu dengan Ayah, Lino?" tanya Rei pada adik kecilnya itu.


"Ayah sama Ibu sedang keluar untuk menanam padi lagi. Sekarang ayo masuk saja! Lino lagi main. Rumahnya jadi berantakan, hehe..." Lino menarik telunjuk Rei, lalu membawa kakaknya itu masuk ke dalam rumah.


Rei juga mengajak temannya yang lain untuk masuk. Jangan lupa juga untuk membawa masuk barang bawaan mereka juga.


"Rumahmu lumayan luas juga, Kak Rei!" ujar Dennis sambil memperhatikan seluruh isi ruangan pertama di rumah itu. Yaitu ruang tamu. Lalu ia pun mendekat ke arah tembok dan melihat beberapa foto yang tertempel di sana.


"Ah, tidak juga. Mau luas atau tidak, yang penting rumah ini masih bisa ditempati." Jawab Rei sambil membuka jaketnya, lalu meletakkannya di sofa, lalu ia duduk di sofa itu.


Baru saja duduk, tiba-tiba ia teringat dengan satu hal. Jika ada tamu yang berkunjung ke rumahnya itu, Rei harus memberikan jamuan untuk merek. Ia hampir lupa memberikannya.


Rei berdiri dari sofa dan berkata, "Nah, untuk kalian semua duduk dulu, ya? Aku... akan membuatkan minuman dulu."


Semuanya mengangguk. Setelah itu, Rei pun beranjak dari Sofanya dan melangkah mendekati dapur rumahnya. Nino mengikuti kakaknya ke dapur juga.


Saat di dapur, Lino menarik-narik baju kakaknya dan berkata, "Kakak... aku lapar. Buatkan aku sesuatu."


"Eh? Memangnya kau belum makan dari tadi?"


Nino menggeleng pelan. "Belum. Tadi pagi hanya makan roti saja. Dan itu masih belum membuatku kenyang."


"Ibu tidak masak, kah, hari ini?" tanya Rei lagi sambil membuka beberapa pintu lemari yang tertempel di tembok.


"Tidak. Ibu belum sempat. Bahkan, Ibu dengan Ayah hanya membawa bekal roti saja ke sawah." Jawab Lino.


Apa Rei akan memasak?


"Ya... tentu saja aku akan memasakan sesuatu untuk adikku." Batinnya. "Sekalian juga... aku buat makanan untuk teman-temanku. Aku akan membalas kebaikan mereka sekarang juga! Akan aku buatkan makanan yang enak!"


****


Di Ruang Tamu–


Semuanya sedang duduk untuk beristirahat sejenak. Karena mereka semua kelelahan. Tapi padahal, jarak dari rumah Dennis ke rumah Rei itu tidak terlalu jauh.


"Haduh... kok aku lapar lagi, ya?" gumam Dennis sambil memainkan resleting tasnya. Karena sedari tadi, Dennis merasa bosan. Jadi ia malah membuka tutup kan resleting tasnya itu.


"Makanya... jadi orang tuh kayak aku, dong! Harus ada makanan Everything, Everytime!" balas Akihiro sambil mengunyah. Ia sedang memakan sesuatu.


Dennis melirik ke arah Akihiro dan terkejut. "E–eh? Dari mana kak Dian dapat makanan itu?" tanya Dennis saat melihat Akihiro yang ada di sampingnya itu sibuk memakan sesuatu. Sebuah cemilan yang tersedia di dalam sebuah toples.


"Dari meja, lah! Memangnya kau tidak melihatnya? Tuh! Di meja itu." Akihiro menunjuk ke arah meja yang ada di depan sofa. "Ternyata rumah Rei penuh dengan cemilan juga, ya?"


"Eh... eh... memangnya kakak sudah bilang pada pemiliknya? Itu kan makanan orang, kak! Tidak sopan loh kalau belum minta izin." Dennis memperingati temannya yang doyan makan itu.


Akihiro berhenti mengunyah, lalu ia berteriak, "Reeeiii... aku minta cemilanmu, ya? Terima kasih!" Setelah itu matanya kembali melirik ke arah Dennis. "Sudah izin, kan? Sudahlah... makan saja!"


Dennis memasang wajah melas-nya, lalu setelah itu, ia kembali mengeluh perutnya lapar. "Ahh... coba saja aku membawa cemilan dari rumah, tadi!"


"Itu ada cemilan. Kenapa tidak kau ambil saja? Kan sudah ada yang mudah, kenapa dibikin sulit?" ujar Akihiro pada Dennis.


Dennis membuang muka. Berusaha untuk tidak melihat ke arah cemilan dalam toples yang tersedia di atas meja di depannya itu. "Ah, tidak mau. Kan belum izin pada pemiliknya, hah..." Gumam Dennis.


"Haduh... ngapain malu-malu, sih? Kan kadang kalau kita sedang berkunjung ke rumah seseorang, yang punya rumah itu selalu bilang, 'anggap saja rumah sendiri'. Nah, kalau sudah begitu, kau boleh melakukan apapun sesuka hatimu di dalam rumah orang, dong! Jadi santai dan makan saja semua makanan yang sudah tersedia di sini." Jelas Akihiro yang berusaha untuk membujuk Dennis agar dia mau memakan cemilan-cemilan itu.


"Tapi... Rei tidak bilang begitu dari tadi. Jadi kita tidak boleh berbuat seenaknya di rumahnya." Bisik Dennis. "Kau tahu? Dia kan anaknya misterius banget. Kan bisa bahaya kalau kita berbuat seenaknya. Apalagi sekarang ini kita sedang ada di rumahnya." Lanjut Dennis.


"Ah, tenang saja! Aku sudah lama berteman dengan Rei dan ia tidak pernah berbuat yang aneh-aneh, kok! Haha..." Jawab Akihiro dan kembali memakan cemilan itu.


"Haduh... tapi tetap saja–"


"Eh, Dennis! Kau mencium sesuatu?" Akihiro tiba-tiba saja menyela. Lalu ia menaruh toples berisi cemilan yang ia makan itu kembali ke atas meja. Setelah itu, Akihiro berdiri dari kursi dan kembali mengendus. "Ada sesuatu yang enak." Gumamnya.


Dennis juga mencium sesuatu. Aroma yang sangat enak dan menggoda. Seketika, perut Dennis langsung berbunyi dan rasa laparnya itu meningkat. "Aah... baunya enak sekali. Ini dari mana, ya?"


"Eh, kalian! Kakak-kakak dari kakakku!" Lino menegur. Anak laki-laki itu membawakan sesuatu ke atas meja. Ia membawa sebuah mangkuk yang ternyata berisi makanan.


Setelah mangkuk itu diletakan di atas meja, seketika Dennis dan Akihiro pun langsung mendekati makanan itu. "Waah! Ini makanan yang enak pastinya! Eh? Ini kan Mie instan." Ujar Dennis dan Akihiro bersamaan.


Tak lama setelah Lino, Rei pun datang membawa mangkuk lainnya ke atas meja. Penampilannya agak berbeda. Rei masih mengenakan kemeja putihnya. Tapi saat ia memasak mie instan itu untuk teman-temannya, Rei memakai celemek milik Ibunya.


Tapi yang membuat Rei semakin imut itu adalah, celemek yang ia pakai berwarna pink dengan pita berukuran sedang di belakangnya. Motif bunga-bunga di bagian depan celemek itu. Dia sudah terlihat seperti ibu rumah tangga saja!


"Eh, Kak Rei? Kau yang memasak ini semua?" tanya Dennis tidak percaya.


Rei mengangguk sambil berkacak pinggang. "Iya tentu saja! Sebentar, ya? Masih ada mangkuk lainnya di dapur." Setelah mengatakan itu, Rei kembali ke dapur untuk membawakan makanan lainnya.


"Hah, ini mangkuk terakhir." Rei kembali lagi. Ia membawa dua mangkuk lainnya. Dibantu oleh nampan berukuran sedang yang cukup untuk membawa dua mangkuk berisi makanan.


"Maaf, ya? Aku hanya bisa memasak ini saja. Tadinya aku ingin membuat nasi goreng, kalau tidak mungkin aku bisa memasak ikan dan ayam atau daging lainnya. Tapi sayang, bumbu dapurnya ada yang kurang. Jadi ku buatkan Mie biasa saja untuk kalian." Jelas Rei setelah ia menaruh dua mangkuk terakhir itu di atas meja.


"Oh, tidak apa-apa! Tidak masalah. Begini saja sudah bisa membuat perut kami jadi bengkak, kok! Haha..." Ujar Akihiro sambil tertawa. Ia benar-benar sangat senang karena sudah dibuatkan makanan dari Rei untuk dirinya. Walau hanya Mie instan. Tapi segitu saja sudah cukup untuk mengisi perut yang kosong.


"Yah... baguslah kalau kalian menyukainya. Oh! Sebentar, ya? Ada satu lagi yang lupa aku bawa. Minumannya. Sudah aku siapkan, kok!" Rei akan kembali ke dapur. Tapi sebelum itu, tiba-tiba ia melihat ada bayangan seseorang yang mendekat ke arah pintu.


Tak lama, pintu depan pun terbuka. Ada seseorang yang datang dan berdiri di depan pintu itu. Seketika, mata Rei membesar setelah ia melihat orang di depan pintu itu.


"I–Ibu?"


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @Pioit_otosaka8