Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 91– Pulang


Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


Pukul 9 malam–


TOK! TOK!


Ibu membukakan pintu. Setelah ibu membuka pintu, tiba-tiba saja Dennis menerobos masuk ke dalam rumah tanpa membuka sepatunya dan salam dengan ibunya. Tapi setelah ia masuk dan merasa aman, Dennis baru mencium tangan ibunya. "Aku pulang, Bu!"


"Kami juga!" Semuanya berujar, lalu tanpa tanda, mereka semua langsung masuk ke dalam rumah Dennis. Lalu setelah itu, Rei yang masuk paling belakang pun menutup pintu. Semuanya memberi salam pada ibunya Dennis dengan cara mencium tangan kanannya untuk menghormatinya sebagai orang tua.


Lalu setelah itu, Ibu Dennis bertanya, "Kalian kenapa baru pulang sekarang? Sudah jam berapa ini? Kalian kan dari tadi pagi, loh!" Omel Ibunya Dennis yang merasa cemas.


"Maaf, Bu! Kami keenakan bermain di sana tadi, haha..." Jawab Dennis sambil melepas tali sepatunya. Lalu semuanya juga membungkuk dan duduk untuk membuka alas kaki sebelum menyentuh lantai. Lalu setelah itu, mereka menaruh sepatunya di rak yang sudah tersedia di pinggir pintu. Untuk di dalam rumah, mereka hanya menggunakan kaos kaki saja sebagai penghangat kaki. Karena... di rumah Dennis terasa sangat dingin karena AC.


"Huuuh! Sudah AC dari Mall, terus AC di mobil, dan sekarang di rumah juga ada sesuatu yang dingin menusuk kulitku." Ujar Akihiro sambil memeluk dirinya sendiri, lalu mengelus kedua pundaknya agar merasa hangat. Sepertinya Akihiro itu manusia tropis, makanya dia tidak tahan dengan udara dingin.


"Oh? Kau mau mandi air hangat?" tanya Ibunya Dennis pada Akihiro. Akihiro terlihat senang. Ia mau sekali. Tapi sebelum ia menjawab untuk mengiyakan, tiba-tiba saja Mizuki menyela. "Ada pemandian air hangat di sini, kah?"


Ibu Dennis mengangguk. "Iya. Nanti ibu siapkan di bathtub, ya? Ingin mandi, kah?"


"Iya, aku mau!"


"Baiklah kalau begitu, ayo ikut ibu. Apa kau mau memakai shower?"


"Ah, tidak usah. Aku ingin merendam saja."


"Oh tentu saja boleh."


Setelah Ibunya Dennis dan Mizuki pergi ke kamar mandi yang letaknya tidak jauh dari dapur, Adel dan Yuni juga mengikuti Mizuki. Karena mereka berdua juga ingin mandi bersama.


Seketika setelah mendengar kalau ketiga teman perempuannya itu ingin mandi bersama, tiba-tiba saja pikiran kotor muncul di benaknya. "Kalau mereka mandi bersama, nanti apa yang akan mereka lakukan, ya?" Akihiro bergumam.


Mendengar gumaman Akihiro telah membuat Rei jadi jijik. Lalu untuk menghentikan pikiran Akihiro itu, dengan cepat Rei memukul kepala belakang Akihiro. "Pikiranmu dijaga." Bisik Rei.


Sambil memegang kepalanya yang terasa sakit, Akihiro mengangguk sambil tertawa. "Haha... iya, iya! Apa kau mau mandi bersama denganku nanti?"


"Eh! Enggak lah!" Sekali lagi Rei memukul kepala Akihiro karena merasa kesal, lalu pergi meninggalkannya. Ia pergi menaiki tangga untuk menemui Dennis yang sudah ada di dalam kamarnya.


****


Tok! Tok!


Ketukan halus terdengar dari depan pintu kamar Dennis. Dennis tahu ada yang datang ke kamarnya, jadi ia berteriak untuk membiarkan orang yang di depan sana masuk. "Pintu tidak dikunci!"


RIEEEETT....


Pintu terbuka. Rei memasukan kepalanya ke celah pintu, lalu ia membuka lebar pintu kamar Dennis. Setelah ia masuk, Rei kembali menutup pintu kamar, lalu berjalan pelan menghampiri Dennis. "Apa yang kau lakukan?"


"Oh? Ini aku sedang menghitung jumlah kartu yang kita dapatkan tadi saat bermain." Jawab Dennis.


"Oh iya, kartunya. Katanya kalau ditukar bisa dapat hadiah."


"Iya memang bisa."


"Lalu kenapa tidak kita tukarkan saja, ya?" gumam Rei. Dennis tertawa mendengarnya, lalu ia menunjukan semua kartu yang baru saja ia hitung itu.


"Kak Rei, unik mendapatkan hadiah yang bagus, kita harus mengumpulkan kartu ini yang banyak. Tapi setelah ku hitung, ternyata jumlah yang kita dapat hanya 224 kartu saja."


"Bukankah itu jumlah yang banyak? Memangnya belum bisa ditukar, ya?" tanya Rei.


"Bisa, kak. Tapi hadiahnya kecil-kecil. Kan kita mau yang besar! Nanti lagi saja. Kita kumpulin ini aja, lalu kita balik lagi ke Mall dan bermain, lalu kumpulkan kartu sebanyak-banyaknya!" Dennis terlihat bersemangat. Membuat Rei jadi semakin senang dengan sikap Dennis yang suka tersenyum itu.


Rei akan membiarkan Dennis bermain dengan kartu itu. Lalu untuk menunggu sampai dirinya mengantuk, Rei akan bermain dengan ponselnya. Tapi sebelum ia mengeluarkan ponsel, Rei sempat teringat dengan buku misteri yang dibelikan Dennis tadi.


"Oh iya, Dennis! Buku punyaku mana, ya? Yang tadi kau beli untukku itu?" tanya Rei sambil melirik ke sekitar untuk mencari bungkusan plastik yang suka ia tenteng saat di Mall tadi.


Dennis menggeleng. "Tidak ada di sini, kak. Plastik dan belanjaan kita itu ada di bawah semua. Dekat sofa." Jawab Dennis. "Mau aku hantar?"


Rei menggeleng. "Tidak usah. Aku saja." Rei turun dari tempat tidur, lalu beranjak mendekati pintu kamar Dennis dan membukanya.


****


Saat Rei mengintip lewat pintu dapur, ia terkejut karena... dari depan pintu dapur, bisa terlihat pintu kamar mandinya. Dan di depan kamar mandi itu, tiba-tiba saja ada Mizuki yang keluar dari dalam. Ia membungkus tubuhnya dengan handuk.


Dengan cepat, Rei langsung pergi dari dapur itu. Untung saja Rei baru melihat wajah mulus Mizuki saja. Kalau melirik sedikit saja ke bawah, maka matanya bisa ternodai. "Tidak, Rei! Kau tidak melihat itu! Tidak! Lupakan saja." Rei bergumam-gumam sambil sesekali menepuk pipinya untuk melupakan tubuh Mizuki yang ia lihat tadi.


"Ah, sudahlah. Ngomong-ngomong... buku itu ada di sofa, ya?" Rei bergumam lagi. Lalu setelah beranjak dari dapur, melangkah beberapa kali, akhirnya ia bisa menemukan sofa yang ia cari berada di ruang tamu. Rei juga menemukan beberapa bungkusan plastik yang berisi barang-barang yang didapat dari Mall tergeletak di atas meja kaca depan sofa.


Rei membuka beberapa plastik untuk mencari buku miliknya. Dan akhirnya ketemu. Rei akan kembali ke kamar Dennis. Tapi setelah ia merasa kalau keadaan ruang tamu lebih sepi dan sunyi, maka Rei akan membaca di ruang itu saja sambil duduk di sofa. Karena... membaca di tempat yang tenang itu lebih menyenangkan menurutnya.


Rei duduk di sofa tiga bantalan empuk, sambil membaca, ia juga menyandarkan kepalanya pada sofa itu. Rasanya nyaman sekali. Ditambah dengan hawa sejuk dari AC di ruangan tersebut. Karena hawa ruangannya, telah membuat Rei jadi mengantuk. Tapi ia berusaha untuk menahannya dan terus membaca bagian prolog buku cerita yang ia pilih itu.


****


Setelah Mizuki memakai bajunya kembali dengan rapih, Mizuki mendengar nada dering ponselnya berbunyi. Ponsel itu terletak di atas meja makan. Mizuki mengambil ponselnya, membukanya, lalu mengangkat telepon yang ternyata dari kakaknya itu.


"Moshi-moshi!" Mizuki menyahut telepon kakaknya dengan awalan "halo" dalam bahasa Jepang.


[ Doko ni imasuka? ] Kakaknya menanyakan tentang keberadaan Mizuki. Mizuki menjawab kalau dirinya sedang berada di rumah temannya. Kakaknya bergumam, lalu ia meminta Mizuki untuk menjemputnya.


Mizuki terheran dengan perkataan kakaknya itu. "Doushite? Doko ni imasuka?" Sekarang Mizuki yang bertanya keberadaan kakaknya.


[ Kuukou, ] Jawaban kakaknya telah membuat Mizuki terbelalak kaget. Ia tidak percaya kalau kakaknya saat ini sudah berada di bandara Indonesia yang ternyata letaknya tidak jauh dari pusat kota. Yaitu bandara di mana ia mengantar adiknya untuk pulang ke Jepang.


Sekali lagi kakaknya meminta Mizuki untuk segera menjemputnya. Karena ia tidak mau menunggu lama di bandara yang nyaris sepi itu. Mizuki mengangguk cepat, lalu dengan ponsel yang masih tertempel di telinga, Mizuki berlari ke ruang tamu untuk mencari Dennis. Karena ia meminta Dennis untuk mengantarnya ke bandara dengan menggunakan mobil.


Saat di ruang tamu, Mizuki mematikan teleponnya lalu melirik ke sekeliling ruangan. Ia tidak menemukan Dennis. Tapi... di ruang tamu itu, Mizuki melihat Rei yang sedang tidur menyandar di sofa dan wajahnya itu tertutup dengan buku yang ia baca.


"Re–Rei sedang tidur di sini? Ta–tapi kenapa?!" Mizuki sedikit terkejut setelah ia melihat ada Rei di sofa itu. Rei penasaran. Tangannya ingin mengangkat buku yang menutupi wajah Rei itu. Dalam hatinya Mizuki bergumam, "Rei yang sedang tidur itu manis sekali, tahu! Ah, kenapa kau menutupi wajahmu itu, siiih?" Lebih tepatnya ia menggerutu.


Mizuki melangkahkan kakinya. Ia mendekat secara perlahan ke arah Rei. Setelah Mizuki berhasil berdiri di hadapan Rei, seketika wajah Mizuki langsung memerah. Padahal dia belum mengangkat buku yang menutupi wajah Rei itu.


Tangannya mulai terangkat. Ia ingin sekali melihat wajah Rei. Kesempatan untuknya agar bisa melihat ekspresi imut Rei saat sedang tidur. Apalagi, sekarang ini dia pasti ketiduran di sofa itu saat sedang membaca buku. Karena kedua tangannya terjatuh di samping tubuhnya dan buku itu masih berada di atas kepala Rei.


"Kak Mizuki sedang apa itu?"


Mizuki tersentak. Karena terkejut, secara tidak sengaja kakinya bergerak dan menginjak kaki Rei dengan kuat. Refleks Rei langsung terbangun dan memegang kakinya yang kesakitan karena terinjak oleh Mizuki itu.


"De–Dennis?" Mizuki menoleh ke belakang. Ia tahu kalau orang yang menegurnya tadi itu adalah Dennis yang sudah berdiri di pembatas tangga.


"Aduh..." Mizuki kembali tersentak. Ia mendengar suara erangan pelan dari Rei yang ada di sampingnya. "Ah, Rei, Rei! Aku minta maaf. Aku tidak sengaja tadi. Maaf, ya?"


Rei terdiam, lalu secara perlahan, ia menoleh ke arah Mizuki dengan tampang bingung. "Eh? Memangnya kau kenapa?"


"Aku tadi yang menginjak kakimu! Ah, maaf, ya?"


"Loh? Aku tidak merasa sakit. Tenang saja. Tadi aku hanya kaget saja, kok!"


"Oh, syukurlah." Mizuki menghembuskan nafas lega, lalu setelah itu matanya melirik ke arah Dennis yang masih berdiri di tangga. "Oh iya, Dennis! Kebetulan sekali kau datang. Aku ingin meminta bantuanmu!"


"Eh? Kenapa Kak Zuki?" Dennis menuruni tangga dengan cepat, lalu setelah itu ia menghampiri Mizuki.


"Kakakku akan datang. Jadi maukah kau mengantarku sampai ke bandara untuk menjemput dia?" pinta Mizuki. Ia tidak terlalu memohon.


"Malam ini juga?"


"Iya."


"Oke, ayo kita ke mobil. Kebetulan aku belum memasukan mobilnya dalam garasi." Dennis berbalik badan, lalu berjalan mendekati pintu depan yang ada di ruang tamu. Mizuki mengucapkan "Terima kasih," lalu berjalan mengikuti Dennis.


Setelah pintu kembali tertutup. Rei mengambil bukunya dari sofa, lalu berjalan menaiki tangga untuk menuju ke kamar Dennis.


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8