Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 24~ Perasaan Akihiro


Keesokannya-


"ngh...,"


Dennis terbangun. Ia membuka matanya karena mendengar suara alarm yang berbunyi sangat keras. Dennis pun langsung mematikannya. Lalu, ia melihat angka di jam itu.


Waktu telah menunjukkan pukul 04:39. Dennis harus cepat bangun dan pergi ke kamar mandi seperti biasanya. Ia harus mandi sebelum toilet jadi ramai karena banyak murid lain yang mengantri juga.


Dennis pun duduk di pinggir tempat tidurnya. Ia menucek-ucek matanya. Lalu, perlahan Dennis kembali membuka matanya dan terkejut. Ia melihat Rei masih tertidur di atas tempat tidurnya.


"Eh? Rei masih terlelap? Tidak biasanya! Aku harus cepat membangunkannya." Batin Dennis.


Dennis pun berjalan ke arah tempat tidur Rei. Ia menggoyangkan tubuh Rei. Rei masih belum terbangun. Lalu, Dennis pun menepuk pipinya Rei sambil meneriakkinya dengan lembut. Tetap saja Rei belum bangun juga.


Lalu, Dennis menarik bantal Rei dengan paksa. Tapi, Dennis masih belum berhasil membangunkan Rei. Karena merasa geram, Dennis pun memukul kepala Rei dengan bantal. Mata Rei mulai mengerut. Sepertinya Dennis berhasil. Ia pun terus melakukan hal itu pada Rei berkali-kali.


"Cish! Anak iniii...!" Rei sudah merasa geram. Lalu, secara mendadak, ia pun bangun dan mengejutkan Dennis.


"RIBET BANGET SIH!" Rei membentak Dennis. Lalu, ia pun merebut bantalnya dari Dennis.


"BANGUN, KAK REI!" Dennis membentak Rei balik.


BUK!


Rei memukul Dennis dengan bantalnya. Lalu, Rei memasang wajah datarnya. "Tidak sopan." ujarnya.


Dennis membesarkan matanya. Lalu, dia pun mengambil bantal miliknya sendiri dari atas tempat tidurnya.


BUK!


Dennis membalas serangan Rei tadi. Ia juga kembali memukul Rei dengan bantal. Seketika, rambut Rei jadi acak-acakan. "Makanya bangun." Kata Dennis.


Rei hanya diam saja dengan eskpresi menjengkelkannya itu. Lalu, ia juga membalas Dennis. Dan kembali Dennis juga memukul Rei. Pada akhirnya, mereka saling adu bantal dan berisik di kamar. Tapi, mereka berdua menganggapnya kalau itu hanya sebuah candaan saja. Karena mereka melakukannya dengan tawa dan senyuman.


BRAK!


"Ooouhh! Kakak berisik sekali!" Tiba-tiba saja, Adel membanting pintu kamar Dennis dan Rei. Mereka yang sedang perang bantal pun terkejut.


Tak lama setelah Adel, ada beberapa anak lain yang datang ke kamar mereka dengan ekspresi kesal. Lalu serontak, semua yang ada di depan pintu itu melempari Dennis dan Rei dengan bantal.


"Berisik!"


"Diamlah!"


"Aku masih ngantuk, tau!"


Setelah itu, semuanya pun kembali ke kamarnya masing-masing. Dennis dan Rei hanya terdiam saja. Lalu, yang terakhir, Adel melempar sebuah boneka beruang pada Dennis. "Kalau mau perang bantal tuh seharusnya kemarin malam!" Lalu setelah itu, ia pun kembali ke kamarnya.


Dennis dan Rei saling menatap. Lalu, Dennis pun tertawa kecil. Rei hanya tersenyum. Lalu setelah itu, mereka pun keluar dari tumpukkan bantal di lantai dan berjalan kembali ke tempat tidur mereka masing-masing.


"Eh, kenapa semuanya sangat marah?" tanya Dennis.


Rei pun menggeleng. "Haduh Dennis, tentu saja mereka marah. Karena kita telah membangunkan mereka."


"Loh? Kok marah. Seharusnya mereka berterima kasih karena sudah kita bangunkan. Kalau telat ke kelas kan bisa bahaya."


"Tapi Dennis, mana ada anak yang ingin ke kelas di hari Minggu!" bentak Rei.


Dennis tersentak. "Eh?! Ini hari minggu?" Dennis memeriksa ponselnya. Di layar, tertera waktu dan tanggal pada hari ini.


"Eh? Ternyata hari ini hari Minggu?! Tidak. Pantas saja Kak Rei tidak bangun cepat." Dennis tertawa malu. Pipinya memerah.


****


Saat hari sudah menjelang siang, Dennis berjalan di lorong-lorong untuk menghibur dirinya. Ia sendirian saat ini.


Dennis memutuskan untuk berjalan-jalan di lingkungan sekolah, karena ia merasa bosan dan tidak ada teman. Entah Rei ke mana saat ini.


Dennis terus melirik ke jam tangannya. Karena pada jam 12 siang, Dennis ingin ke kamar Mizuki. Semuanya akan ada di sana untuk menemui Mizuki. Karena, hari ini Mizuki akan keluar dari asrama itu. Ia ingin pulang ke kampung halamannya di Jepang. Makanya, Dennis tidak boleh terlambat.


Lalu, saat Dennis ingin menaiki tangga menuju ke lantai 3, ia melihat ada Akihiro yang sedang berdiri di pinggir tangga. Ia juga ternyata ingin menaiki tangga itu.


"Kak Hiro!" Dennis menyapanya.


Akihiro menengok ke belakang. Ia tersenyum pada Dennis. Dennis pun berlari mendekati Akihiro dan berdiri di sampingnya.


"Hanya ingin menikmati angin sejuk dari atas atap sekolah." Jawab Akihiro.


"Hmm, kalau begitu, aku juga ikut, deh!"


Akihiro hanya mengangguk.


"Padahal, aku hanya ingin menyendiri di atap. Tapi karena ada Dennis, sepertinya aku tidak akan bisa tenang. Tapi, setidaknya, aku bisa dapat teman mengobrol." Batinnya Akihiro berujar sedikit kesal.


****


Atap sekolah adalah tempat paling luas dan nyaman yang ada di Beautiful. D. High School itu.


Dennis dan Akihiro berjalan ke pinggiran tembok dengan pagar pembatas di pojokan sana. Mereka melihat pemandangan desa dari atas. Dennis sepertinya kagum dengan pemandangan itu.


"Waah! Jadi, seperti ini kenampakkan Desa kalau dilihat dari atas!" ujar Dennis senang.


"Iya." Jawab Akihiro singkat.


"Eh? Tapi, kenapa banyak pepohonan yang mengelilingi sekolah ini. Layaknya seperti hutan saja."


"Sekolah ini kan memang terpencil tempatnya. Jarang ada orang lain yang berkunjung ke sini." Jawab Akihiro.


"Eh? Apa maksudmu? Aku pikir, sekolah ini sangat luas loh!"


"Sekolah ini terletak di pedalaman hutan. Pastinya tidak ada yang mengetahui sekolah ini."


Dennis hanya terdiam. Di dalam hatinya, ia hanya bergumam-gumam sendiri. "Pantas saja semuanya jadi terlihat menyeramkan kalau malam hari."


"Haaah, tapi setidaknya, kau menyukai sekolah ini, kan?" tanya Akihiro.


"Iya. Aku menyukainya. Aku memiliki banyak pengalaman saat masuk ke sekolah ini." Jawab Dennis. Lalu, ia pun menopang dagu di pembatas tembok.


Akihiro duduk di bawah. Ia menyandarkan badannya pada tembok. Ia menghembuskan nafas panjang. "Hah, di sini anginnya sangat menyegarkan. Eh, kalau mau kau boleh ke atas atap ini kapan saja." Kata Akihiro.


Dennis menengok ke Akihiro yang ada di bawahnya. "Eh? Tapi sejujurnya, aku masih sedikit bingung. Jarang sekali sekolah di negeri ini yang memiliki atap luas yang bisa kita tempati seperti ini. Memangnya, apa gunanya?" tanya Dennis.


"Yaah, hanya untuk bersantai saja. Makan bekal bersama teman, untuk menyendiri jika sedang depresi juga enak. Tapi, aku paling sering menggunakannya untuk membolos!" jawab Akihiro.


Author note: *'Membolos' itu jangan ditiru!


"Eh? Benarkah? Sepertinya menyenangkan! Kapan-kapan kita ke sini dengan yang lainnya yuk!"


"Hm, boleh saja."


Dennis menelengkan kepalanya. Ia merasa ada yang janggal dengan sikap Akihiro sekarang ini. Ia merasa ada yang beda dari diri senior di hadapannya itu.


Akihiro jadi bersifat lebih dingin dan jarang berbicara. Sekarang saja, dia sedang berwajah masam, datar dan bahkan, kalau dilihat tidak berekspresi sama sekali.


Dennis mengira kalau Akihiro pasti masih menduga soal Rei dan Mizuki yang sedang jatuh cinta. Akihiro pasti cemburu.


"Ini saatnya aku ceritakan kejadian yang sebenarnya pada Akihiro!"


Dennis sedikit membungkuk. Dia memanggil Akihiro. Lalu, Akihiro pun mendongak dan menatap Dennis. Dennis tertawa kecil, lalu ia duduk di samping Akihiro.


"Ada apa?" tanya Akihiro.


"Ada yang ingin kuberitahu padamu."


"Apa?"


Dennis mulai menceritakan semuanya. Ia memberitahu soal kesalahpahaman yang Akihiro lihat saat di depan kamar Mizuki kemarin. Sebenarnya, hal yang telah Akihiro anggap sebagai ciuman itu, ternyata adalah posisi Rei dan Mizuki yang akan berbisik. Lalu, soal surat yang dipegang Mizuki itu sebenarnya adalah amplop berisi uang tabungan Rei yang diberikan dari Rei untuk tambahan Mizuki pulang ke kampung halamannya.


Setelah menceritakan semua itu, Akihiro hanya mengangguk paham. Sepertinya, perasaanya sudah mulai membaik. Dia kembali tersenyum dengan tenang. Lalu, Dennis kembali tertawa lagi. Ia ingin bertanya satu hal lagi pada Akihiro.


Dennis duduk di hadapan Akihiro. Dia bertanya, "Kak Hiro menyukai Kak Mizuki, ya?"


Seketika wajah Akihrio pun memerah dengan ekspresi wajah malu. Ia pun menundukkan kepalanya.


"Aku...."


To be Continued- Eps 25 >>>>