Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 22–Hantu Anak Kecil (?)


[ Zagagag... Zuki! Semuanya ada orang di sini?! Ah, Reeeii! Rei aku di– kyaaaaa! ]


TUT!


Dennis terkejut. Sebelum ia menekan ketikan merah untuk mematikan ponselnya itu, tiba-tiba saja layar di ponselnya itu mati dengan sendirinya dan telepon dengan Mizuki pun terputus.


"Dennis? Apa yang terjadi?" tanya Akihiro yang ada di belakang Dennis. Ia mengintipi ponsel Dennis yang sudah mati lewat pundak temannya itu.


"Mizuki... rumahku... ah! Kita harus kembali ke rumah Nenekku sekarang juga! Karena ada sesuatu di sana!" tegas Dennis. Lalu tanpa mengatakan apa-apa lagi, Dennis langsung berlari menyusuri jalan kecil itu. Disusul juga dengan orang-orang yang ada di belakangnya.


Setelah mereka berhasil melewati jalan kecil di tengah sawah, mereka akhirnya kembali ke jalan beraspal yang di sebrang sana ada beberapa rumah warga desa lainnya yang tersusun rapih.


"Kak Dian, ayo cepat kita kembali ke rumah Nenekku." Dennis menarik tangan Akihiro. Dia terlihat cemas sekali. Entah ia mencemaskan rumah Neneknya itu atau karena ia mencemaskan Mizuki.


"Dennis, sebenarnya ada apa? Dari tadi kau panik melulu?"


"Itu, di rumahku! Mizuki sedang dalam bahaya. Katanya ada makhluk tak terlihat berada di rumahku. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Rei juga ada di sana!" jelas Dennis.


"Hah? Jadi anak kami ada di rumahmu, Nak?" tanya Ibunya Rei.


"Bagaimana kamu bisa tahu itu?" Ayahnya Rei juga ikut bertanya.


"Ah, tadi saya dapat telepon dari teman saya yang satunya lagi. Aduh... tidak ada waktu untuk cerita sekarang, pokoknya ayo kita langsung saja ke rumah Nenekku!"


"Ayo!"


****


Saat sampai di depan rumah Neneknya Dennis-


"Mizuki!" Akihiro berteriak. Lalu ia pun langsung berlari masuk ke dalam halaman rumah Neneknya Dennis. Diikuti oleh Dennis juga di belakangnya. Mereka berdua langsung memasuki halaman itu tanpa berpikir panjang.


Karena saat sampai tadi, mereka dibuat kaget karena halaman rumah Neneknya Dennis itu sudah berantakan. Kursi ada di depan teras dan pecahan beling pun juga berserakan di rumput halaman. Intinya, rumah itu menjadi kacau balau. Entah apa yang sudah terjadi di sana.


"Mizuki!" Akihiro kembali berteriak memanggil nama teman perempuannya. Lalu saat sampai di depan pintu utama, Akihiro pun langsung menendang pintu itu sampai terbuka lebar.


"Kak Mizuki!" Kali ini Dennis yang memasuki rumahnya terlebih dahulu. Ia sangat terkejut karena seisi rumahnya benar-benar berantakan. Lebih berantakan dibanding yang kemarin itu.


Kursi tergeletak di mana-mana. Tapi, tidak ada barang yang rusak. Hanya saja, bingkai foto yang terjatuh dan kacanya pecah. Karpetnya juga tidak berada di tempatnya. Karpet lebar yang tadinya ada di tengah ruang tamu itu sudah berada di sudut rumah saja. Lalu... pecahan kaca ada di mana-mana. Mungkin pecahan kacanya dari jendela yang rusak dan bingkai foto juga cermin di lemari yang juga ikut hancur.


Siapa yang sudah melakukan kekacauan sampai separah itu? Tidak mungkin Mizuki dengan adiknya, kan?


"Hei, Dennis! Di mana Mizuki?" tanya Akihiro.


"E–entahlah! Aku tidak tahu. Dia menghilang ke mana? Tempat ini kok jadi kosong?"


"Huuu... penghuni rumah yang tidak terlihat itu tidak mau tanggung jawab apa? Kita kan sudah membersihkan rumah ini kemarin, tapi kenapa diberantakin lagi?!" Akihiro menggerutu.


"Hmm... sepertinya bukan penghuni sini saja yang melakukan semua ini." Ujar Dennis.


"Lalu siapa lagi?"


"Jawabannya itu dia." Semuanya menengok. Menengok ke arah Yuni yang sedang menunjuk ke arah lain. Tangan kanannya itu menunjuk ke... belakang Dennis?!


"Dia yang telah memberantaki rumah ini." Kata Yuni lagi. Dennis terkejut. Lalu ia pun langsung berbalik badan dan mundur ke belakang secara perlahan sampai mendekat ke tempat Akihiro berdiri.


Lalu tak lama kemudian, tunjukan jari Yuni berubah arah. Ia menggeserkan tangannya. Mengarah sampai ke....


Pintu coklat yang tertutup itu. Pintu yang berada di sudut ruangan juga. Di balik pintu itu ada sebuah ruangan. Di samping ruangan itu terdapat jalan menuju ke dapur rumah.


"Dia pindah ke sana." Kata Yuni pelan. 'Dia' yang dimaksud Yuni itu siapa?!


"Tunggu... pintu itu kan..." Dennis melirikan matanya ke arah Adel.


"Eh, itu pintu kamar Adel yang banyak bonekanya." Adel melanjutkan.


Yuni mengangguk. "Oh begitu." Lalu setelah itu, ia melangkahkan kakinya. Secara perlahan dan santai, ia mendekati pintu kamar Adel. Semuanya mengikuti Yuni dari belakang dengan hati-hati.


Mereka semua terlihat tegang. Tapi tidak dengan Yuni. Karena mungkin dia sudah terbiasa. Terbiasa dalam hal-hal ghaib seperti yang ia lihat sekarang. Katanya, dia melihat ada sosok anak kecil yang melayang memasuki kamar Adel dengan cara menembus pintu kamarnya.


Di dalam pandangannya, Yuni melihat ada sosok anak kecil tanpa kaki kanan yang sedang memainkan salah satu boneka di kamar itu. Setelah melihat sosok itu, Yuni pun kembali menutup pintunya. Lalu ia mengibaskan tangannya kepada Dennis. Dennis melirik, lalu menyahut dengan menaikan alis sebelahnya.


"Itu... dia ada di sini." Kata Yuni pelan. "Mendekatkan ke arahku."


"A–apa?" Karena penasaran, Dennis pun sedikit membungkuk karena Yuni sepertinya ingin membisikan sesuatu.


Yuni memiringkan kepalanya sampai sejajar dengan Dennis. Lalu ia mulai berbisik, "Itu... si dia ada di sini ternyata. Teman adikmu itu."


Seketika Dennis terkejut. Tapi ia berusaha untuk tidak teriak. Ia kembali membalas perkataan Yuni dengan berbisik juga. "Maksudmu si Chika itu? Bukan Chika yang di sekolah. Tapi yang itu."


Yuni mengangguk pelan. Dennis paham. Lalu secara perlahan mereka berdua menengok ke belakang. Di belakang mereka sudah mulai terlihat raut wajah yang tegang. Padahal mereka semua hanya memperhatikan Dennis dan Yuni berbisik sedari tadi.


Dennis kembali berdiri tegak, lalu ia menarik tangan adiknya secara perlahan. Adel pun diajak berbisik juga di depan pintu itu. Sedangkan yang lainnya hanya bisa menunggu karena mereka tidak terlalu penasaran dengan apa yang Dennis, Yuni dan Adel bisikan itu.


"Adel... dengar kakak, ya? Itu... em... di dalam kamarmu ada...." Dennis mulai berbisik. Tapi nada bicaranya agak kaku dan ragu-ragu.


Yuni menghembuskan nafas pelan. Ia saja yang akan mengatakannya. "Jadi Adel, di dalam kamarmu itu ada teman lamamu, loh!"


"Ah? Benarkah? Si Chika?"


"Iya. Coba kau samperin dia."


"Umm... tapi Adel takut. Adel tidak berani."


"Jangan takut. Aku tahu, dia ke datang ke sini ingin mencari dirimu, loh. Coba kamu lihat dulu. Kamu bisa lihat dia, kan?"


"Entahlah kalau sekarang. Soalnya Adel sudah lama tidak bertemu dengannya."


"Hmm... tapi coba kamu lihat dulu. Dia ke sini juga tidak ada maksud jahat. Aku tau dia sosok yang baik."


Adel tidak mengeluarkan suaranya lagi. Tapi ia membalas perkataan Yuni dengan mengangguk. Lalu setelah itu, semuanya kembali berdiri tegak.


Akihiro berkacak pinggang dan mulai berbicara keras. "Huh! Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan, sih? Aku jadi kepo, tau!"


Ternyata Akihiro juga ingin tahu.


Tapi setelah ia berkata seperti itu dengan suara keras, tiba-tiba saja Adel dan Dennis menegurnya untuk jangan berisik. Akihiro akan diam kali ini dan membiarkan ketiga temannya itu melakukan apa yang mereka mau.


Setelah itu, secara perlahan, Adel pun mendorong pintu kamarnya. Setelah pintu terbuka sedikit, Adel memasukan kepalanya ke dalam celah pintu yang sudah terbuka.


Di dalam kamarnya itu gelap sekali. Yang ia lihat hanya cahaya jendela yang sedikit redup karena tertutupi gorden yang terbuat dari katun.


Dengan matanya itu, Adel berusaha untuk mencari 'teman tak terlihatnya' itu. Tapi setelah ia melirik ke seluruh kamarnya, dari sudut ke sudut, ia tidak melihat apapun selain boneka dan juga barang tua yang ada di kamarnya.


Karena tidak menemukan seseorang yang Adel cari, ia pun kembali mengeluarkan kepalanya. Lalu melirik ke semua orang yang ada di sekitarnya.


"Bagaimana Adel? Kamu menemukan dia? Eh? Kenapa keluar lagi?" tanya Kakaknya bingung.


"Emm... Adel tidak melihat dia."


Yuni sedikit terkejut mendengarnya. Lalu untuk memastikan perkataan Adel itu, Yuni pun kembali memasukan kepalanya ke celah pintu yang masih terbuka. Ia melebarkan matanya sedikit. Karena dirinya juga tidak melihat sosok anak perempuan itu juga di dalam kamar Adel.


"Dia sudah pergi ternyata." Yuni bergumam sambil kembali mengeluarkan kepalanya.


"Eh? Eh! I–itu dia..." Adel tiba-tiba menunjuk ke arah kedua orang tuanya Rei yang berdiri di hadapannya. Adel melihat sesuatu.


"Ternyata dia di situ." Ternyata Yuni juga melihatnya.


Sosok hantu anak kecil yang bisa dilihat Yuni dan Adel itu tiba-tiba saja muncul di belakang kedua orang tuanya Rei berdiri....


*


*


*


To be Continued-