Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 32– Rei melawan Dennis, part end


"Tidak! Rei. Rei!" Mizuki berteriak ketakutan sambil menutup mulut dengan tangan kanannya. Matanya memerah dan air bening pun mulai menetes dan mengalir di pipinya.


"Ah, sudah ya~ Aku mau ke bawah dulu. Kan mereka memanggilku. Sekalian aku juga mau–"


BRUAK!


Diana terjatuh. Ia terkejut, tiba-tiba Mizuki yang ada di sampingnya itu memukul wajahnya dengan keras. Diana terduduk, menatap Mizuki yang sedang berdiri tepat dihadapannya.


"Wah~ Wah~ Ternyata kau pun–"


GREP!


Mizuki menarik kerah baju Diana dengan kuat, lalu ia membentak Diana tepat di depan wajahnya. "HILANGKAN HANTU-HANTU ITU DAN JUGA KEMBALIKAN DENNIS SEPERTI SEMULA! CEPAT!"


Diana tersenyum miring sambil mensipitkan matanya. "Huh? Kalau aku tidak mau bagaimana?"


"Aku... akan membunuhmu!"


"Coba saja bunuh aku. Karena kau tahu? Hanya aku yang bisa mengembalikan Dennis seperti semula. Jika kau membunuhku, maka aku tidak bisa mengembalikan Dennis seperti semula. Lalu Dennis akan jadi seperti itu selamanya." Diana tertawa kecil, lalu ia mulai berbisik pada Mizuki.


"Jika kau mau Dennis kembali, maka biarkan aku pergi dari sini setelah aku membunuh semua yang ada di sekolah ini. Khu~ Khu~"


"TIDAK AKAN! HENTIKAN TERTAWAAN IBLIS MU ITU! Aku... aku tidak akan membiarkan semua orang di sini mati, termasuk teman-temanku!" bentak Mizuki lagi.


"Wah~ Tapi sepertinya, kau sudah terlambat. Semua yang ada di sini sudah mati, loh!"


"TIDAK MUNGKIN! Pasti ada seseorang atau beberapa orang lagi yang masih hidup!"


"Oh, kau salah. Lihat? Sekolah ini sudah sepi dan banyak... huuh... darah di mana-mana. Pemandangan yang indah, bukan?"


Mizuki melirik ke belakang Diana dan terkejut. karena perkataan Diana benar. Mizuki baru sadar kalau sebenarnya dari tadi, tempatnya saat ini sudah penuh dengan bercak darah dan potongan daging di mana-mana.


Seketika, rasanya perut Mizuki jadi mual melihat semua itu. "Tidak mungkin, kan? Aku pikir tadi... saat aku dengan Dian lewat sini... tidak ada apapun." pikir Mizuki dalam hati.


"KAU PASTI BOHONG!" Mizuki menarik kerah Diana lebih kuat lagi dan kembali membentaknya. "PASTI ADA YANG MASIH HIDUP DI SINI! TIDAK MUNGKIN KAU MEMBUNUH SEMUANYA!"


"Heh, masih saja tidak percaya. Sudah kubilang, tidak ada yang tersisah di sekolah ini selain kalian."


"TIDAK! AKAN AKU BUAT KAU–"


BUK! BUK! BRAK! GUBRAK!


Mizuki terkejut. Ia mendengar suara gaduh dari belakangnya. Lalu secara perlahan Mizuki pikun menengok. Ia membesarkan matanya dan mengerutkan keningnya. Karena ia melihat ada Akihiro yang sudah terjatuh tepat di depan kamar di samping kamarnya Yuni dan Adel.


Tubuhnya tertimpa rak loker yang ada di sana. Dan juga dari bawah loker itu, Mizuki melihat ada darah yang mengalir dari tubuh Akihiro.


Setelah melihat temannya sudah seperti itu, Mizuki pun melepaskan Diana dan langsung pergi menghampiri Akihiro. Ia berteriak memanggil nama Akihiro. Sampai ia berada di dekat lelaki itu, Mizuki langsung mendirikan kembali loker yang telah terjatuh menimpa Akihiro itu.


"Dian! Atau Akihiro! Kau, bangun! Hei!" Mizuki terduduk, lalu mengangkat tubuh temannya lalu meletakkannya di pangkuannya. Mizuki menggoyangkan tubuh Akihiro dan sesekali menepuk pipi Akihiro untuk membangunkannya.


Saat Mizuki mengangkat kepala Akihiro, ia merasakan ada yang basah. Saat Mizuki melihat telapak tangannya, ia sedikit terkejut karena telapak tangannya itu telah dipenuhi darah. Darah itu mengalir dari kepala Akihiro yang terluka.


Di belakang Mizuki, Diana kembali berdiri. Ia sedikit membungkuk untuk mengambil pisaunya yang terjatuh. Lalu setelah itu, melangkah secara perlahan mendekati Mizuki. sambil mengangkat pisaunya.


Mizuki mendengar ada suara tapak kaki seseorang di belakangnya. Lalu dengan cepat, Mizuki menengok ke belakang dan terkejut. Karena di belakangnya sudah ada sosok Diana yang dekat sekali dengannya.


Diana mengangkat tangan yang memegang pisau itu tinggi-tinggi. Lalu sebelum ia mengayunkan pisaunya dan menusuk Mizuki, Diana sempat berkata, "Kau tidak berhasil membunuhku, kan? Sekarang biarkan aku saja yang membunuhmu! Hi hi hi...."


JLEB!


"KYAAAA!"


Adel dan Yuni terkejut. Mereka mendengar suara teriakan seseorang dari atas lantai dua. Rei juga sempat mendengarnya. Ia mengenal suara teriakan itu.


"Mi–Mizuki?!" gumam Rei dalam hati.


Ia ternyata tahu kalau orang yang berteriak di atas sana adalah Mizuki. Lalu tak lama setelah teriakan itu, Rei langsung memberontak. Berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Dennis dari lehernya itu.


"Sial! Kalau begitu, apa boleh buat. Aku langsung saja mengeluarkan makhluk ini dari dalam tubuh Dennis! Meskipun aku harus kehilangan nyawaku." Batin Rei.


Tangan kanan Rei kembali terangkat secara perlahan sampai menyentuh bagian atas kepala Dennis, lalu mencengkram nya dengan kuat. Seperti biasa, Rei akan membacakan mantra rahasianya yang biasa ia gunakan untuk mengusir makhluk jahat dari tubuh seseorang.


Rei memulainya. Ia bergumam-gumam sambil menahan rasa sakit dari cengkraman Dennis di lehernya. Asap hitam muncul dari tubuh Dennis. Lalu tak lama kemudian, makhluk yang ada di dalam tubuh Dennis merasakan ada yang tidak beres dengan tubuh yang ia gunakan itu. Makhluk itu merasa ada yang telah mendorongnya keluar dari dalam tubuh Dennis.


Makhluk itu merasa kesakitan. Lalu ia melirik ke atas. Ia tahu sebab dari rasa sakitnya itu. Ternyata semuanya berawal dari cengkraman tangan Rei di rambutnya Dennis.


Untuk membalasnya, Dennis semakin mencekik leher Rei dengan kuat. Rei berusaha untuk menahannya. Dengan tangan kirinya, ia juga berusaha untuk melepaskan tangan Dennis dari lehernya. Dan tangan sebelahnya lagi, masih dalam posisi yang sama. Yaitu di atas kepala Dennis.


Asap hitam semakin mengumpul di atas tubuh Dennis. Semakin banyak asap itu keluar, semakin besar juga teriakan yang dikeluarkan Dennis. Karena makhluk yang ada di dalam tubuh Dennis sudah merasa tubuhnya ingin terkoyak. Rasanya sakit sekali bagi makhluk itu.


"Masalahnya ada di Kak Rei. Dia... dia telah mengeluarkan semua kekuatannya untuk mengusir makhluk jahat yang ada di dalam tubuh kakakmu."


Adel tersenyum senang. "Eh? Itu bagus, kan? Kalau kakak bisa bebas dari makhluk itu, maka kita semua akan selamat."


"Seandainya bisa. Tapi, jika makhluk itu belum bisa keluar dan energi Kak Rei sudah habis duluan, maka... makhluk itu akan menang dan Kak Rei... dia bisa mati." Jelas Yuni pelan.


Seketika Adel terkejut. "Eh?!" Tak sengaja ia pun teriak. "Kaka Rei akan...?"


"Iya. Maka dari itu, kita tidak bisa apa-apa. Semoga saja, Rei bisa berhasil dan nyawanya tidak ikut terancam. Karena... kekuatan untuk mengusir makhluk jahat milik Rei itu, memerlukan energi yang banyak. Rei bisa mati kelelahan jika ternyata makhluk itu lebih kuat darinya." Jelas Yuni lagi.


"Oh tidak. Ini bisa gawat! Bagaimana kalau... eh?" Tak sengaja, Adel melirik ke arah tempatnya Sachiko berdiri di sampingnya. "Eh, tunggu dulu! Sa–Sachiko pergi ke mana? Dia menghilang!"


"Itu dia!" Yuni menemukannya dan langsung menunjuk ke arah Sachiko.


Ternyata adiknya Mizuki itu berlari menghampiri tangga menuju ke lantai dua. Lalu dengan cepat, Adel dan Yuni pun pergi bersama mengejar anak kecil itu.


"Eh? Anak-anak! Kalian mau ke mana?" teriak Ibunya Adel.


"Kami ingin mengejar Sachiko!" jawab Adel.


"Haduh... di sini benar-benar gawat. Aku harus melapor sekarang juga!" Sesegera mungkin Ibu Adel langsung mengambil ponsel miliknya di dalam tas yang ia bawa. Mengetik beberapa nomor, lalu menempelkan ponsel itu ke telinga.


"Sachiko! Awas!" Yuni berlari sangat cepat sampai akhirnya ia berhasil mengejar Sachiko dan langsung mendorong anak itu. Karena, Yuni melihat ada hantu Teke-teke yang ingin menusuk Sachiko dengan kuku ya tadi.


Beruntung, Sachiko masih bisa selamat. Lalu anak kecil itu, biar Adel yang menjaganya. Kebetulan juga, Yuni masih membawa sekantung garam di dalam tasnya. Ia mengeluarkan garam itu untuk menantang hantu Teke-teke itu.


****


"@$#(9!$+;#!... Sekarang juga... keluar kau dari dalam tubuh manusia ini! Makhluk jahat!" Rei berteriak keras. Lalu untuk mengakhirinya, Seperti biasa, ia akan membenturkan kepalanya ke kepala Dennis agar makhluk yang di dalamnya bisa terpental keluar dari dalam tubuh Dennis.


Karena sudah merasa kesakitan, Dennis melonggarkan genggaman tangannya, lalu Rei menggunakan kesempatan itu untuk segera mengangkat kepalanya dan....


BUAK!


Kepala mereka berdua saling membentur. Lalu setelah itu, Rei pun kembali terjatuh. Sedangkan Dennis hanya berdiam diri menjadi batu sampai kumpulan asap itu menghilang. Makhluk yang di dalam Dennis perlahan juga pergi dan keluar dari dalam tubuhnya. Setelah makhluk itu keluar, ia pun langsung hancur di langit menjadi abu dan menghilang tertiup angin.


Mata Dennis kembali seperti semula. Dennis akhirnya tersadar kembali. Lalu matanya yang sudah kembali normal itu melirik ke arah Rei yang ada di bawahnya. "Rei? Kau yang...."


Rei kembali membuka matanya. Tersenyum ke arah Dennis. "Tenang saja, kau akan baik-baik saja." Ucap Rei lirih pada Dennis.


Dennis tersenyum haru. Lalu matanya mengeluarkan air bening, dan dirinya itu langsung memeluk Rei. Rei pun membalas pelukan Dennis dengan posisi yang masih tidak berubah.


Sambil memeluknya, Rei mengelus-elus punggung dan kepala Dennis. Tapi tak lama setelah Dennis memeluknya, tiba-tiba saja tubuh Dennis jadi lemas dan tidak bergerak lagi. Rei membiarkannya. Membiarkan Dennis tertidur di atas tubuhnya.


Tapi... tak lama setelah Dennis, tiba-tiba saja, Rei merasakan rasa sakit di kepalanya dan ia kesulitan untuk bernafas. Lalu tak lama kemudian, Rei kembali menutup matanya, dan tangan yang ada di atas punggung Dennis tiba-tiba saja terjatuh lemas ke tanah.


*


*


*


To be Continued-