
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
"Hei, boleh aku masuk ke dalam kelompok kalian?" tanya Adit yang tiba-tiba muncul di belakang Dennis.
Karena Dennis merasa takut dengan teman sekelasnya yang satu itu, maka dengan cepat Dennis pun langsung menjauh dari Adit dan bersembunyi di belakang Rei.
Rei mengerutkan keningnya dan menatap tajam ke arah Adit. "Mau apa, kau?!"
"Ah, tidak ada waktu lagi. Aku masuk sini, ya? Aku tidak ingin mati terlalu cepat. Begitu juga dengan kalian, kan?" Adit bergerak mendekati Rei. Ia berdiri di samping Dennis. Sekarang tepat waktu! Kelompok Dennis sudah komplit. Sudah beranggota 10 orang dan semuanya selamat!
Setelah hitungan mundur berakhir, tiba-tiba saja terdengar suara beberapa teriakan kesakitan dari anak-anak lainnya. Semuanya terkejut sekaligus ketakutan. Karena... ada satu kelompok utuh yang mati karena kekurangan 3 anggota dan... ada 2 anak lainnya yang tidak dapat kelompok juga ikut mati secara mengenaskan.
Mereka semua mati karena tubuh mereka dicengkeram oleh seekor burung raksasa yang tiba-tiba saja datang untuk mengincar murid-murid yang telah gugur itu. Entah burung itu berasal dari mana. Semua menduga kalau burung-burung itu adalah penghuni asli dari dunia ini, dan ada juga yang menganggap kalau burung itu adalah kiriman dari Bob yang ditugaskan untuk membunuh anak yang kalah.
Setelah burung-burung itu pergi, sekarang yang tersisah hanya tinggal tetesan darah yang tersebar, potongan daging manusia yang sudah tercabik-cabik, baju-baju mereka dan tulang belulang. Sungguh kematian yang mengerikan.
"Cih! Baru mulai saja sudah ada yang meninggal. Sungguh! Aku kesal sekali pada orang yang telah membuat permainan bodoh ini!" gerutu Akihiro. Ia bersumpah, setelah ia berhasil keluar dari ujian IPS yang sekarang, maka dirinya ingin segera mencari orang jahat itu dan membunuhnya.
"Aku juga kesal." Adit berbicara. Sontak semua kelompok Dennis langsung menengok ke arahnya. "Dia... sudah mengkhianatiku!"
"Eh, kau kenal orang itu?" tanya Akihiro.
"Iya! Dan aku tahu dia itu siapa!" tegas Adit.
"Dia yang kau maksud itu siapa? Dan... kau tahu apa saja tentang dia?!" tanya Rei. Semuanya penasaran dengan jawaban dari Adit itu.
Adit akan menjelaskan dan menjawabnya. Tapi sebelum itu, tiba-tiba saja terdengar suara Bob lagi yang sedang memberikan pengumuman.
[ Sekarang, apakah semuanya telah menemukan kelompok? Kalau begitu, mari kita mulai saja Ujian hari ini! ]
"Itulah dia. Musuh kita." Ucap Adit. "Namanya adalah Bob! Dan dia... orang yang sangat berbahaya."
[ Peraturannya akan aku beritahu. Sekarang... kalian sedang berada di dalam sebuah pulau kecil. Tempat kalian berada saat ini ada di bagian tengah pulau ini. Sebuah hutan, kan? Nah, yang harus kalian lakukan hanya pergi mencari pintu keluarnya. Seperti yang aku bilang, pintu itu berwarna biru. ]
[ Tapi... tidak semudah itu, ya? Pastinya akan ada halangannya. Jika kalian tidak berhati-hati, maka nyawa lah taruhannya. ]
Semuanya jadi tegang dan ekspresi mereka terlihat ketakutan. Mereka sangat mengkhawatirkan bahaya yang akan mengancam hidup mereka. Apalagi, saat ini mereka tidak tahu bahaya apa yang dimaksud oleh Bob itu.
[ Semuanya tenang saja, dong. Jangan terlalu takut seperti itu. Aku... akan memberikan kalian sedikit kemudahan. ]
[ Letak pintu biru itu ada di tengah laut. Nah? Kalian bingung, kan? Oke deh... satu kemudahan lagi. Kalian hanya cukup menemukan pantai saja. Lalu di pinggir pantai, terdapat beberapa perahu kecil yang akan kalian naikin untuk sampai ke pintu biru tersebut. ]
[ Oh iya, dan satu lagi, dalam 20 menit lagi, bahaya itu akan menghampiri kalian. Jadi dari sekarang, temukan tempat persembunyian terlebih dahulu jika kalian tidak ingin mengambil resikonya. ]
[ Dan jangan lupa juga. Setelah kalian membentuk kelompok, kalian harus saling bekerja sama, ya? Satu lagi. Kalian bisa mendapatkan beberapa senjata yang bisa kalian temukan. Tapi tidak semudah itu. Tentu kalian harus membuatnya sendiri, haha~ ]
[ Sudah, ya? Aku tidak akan memberikan kalian petunjuk lagi. Dah~ Aku pergi sekarang. ]
"...."
Suara Bob sudah tidak terdengar lagi. Seperti pesan Bob yang terakhir, mereka harus mencari tempat perlindungan untuk pertama kali memulai Ujian ini. Mereka masih belum tahu bahaya apa itu. Tapi yang penting, sekarang mereka harus sembunyi terlebih dahulu.
"20 menit lagi, ya?" Dennis melirik ke arah jam tangannya. "Masih ada 18 menit tersisah."
"Sekarang ayo pergi. Kita cari tempat perlindungan itu." Ajak Rei. Semuanya menurut dan mengikuti Rei dari belakang.
Kelompok lain juga melakukan hal yang sama. Masing-masing kelompok saling berpencar. Tapi... ada satu kelompok yang terbentuk dari kelas 3-A yang malah berjalan mengikuti kelompoknya Dennis.
Sepertinya, kelompok kelas 3-A itu dipimpin oleh ketua kelas mereka, yaitu Davin. Entah apa rencana mereka kali ini. Rei takut mereka memiliki rencana buruk untuk menjatuhkan kelompok dan teman-temannya. Tapi untuk kali ini, Rei akan membiarkan kelompok kelas 3-A itu mengikutinya.
"Mereka boleh ikut. Tapi jangan harap mereka bisa berlindung bersama kami." Gumam Rei sambil sesekali melirik ke belakangnya. Lirikan matanya mengarah ke Davin yang selalu memasang wajah sinisnya.
"Terakhir kali, si Davin itu berusaha untuk menjatuhkan Dennis. Dan kali ini, jika dia berbuat yang aneh-aneh lagi pada temanku, tidak akan aku maafkan! Awas saja kau." Lanjut Rei.
Dennis melajukan langkanya. Ia berjalan di samping Rei dan berbisik. "Ka–Kak Rei... ada kelompok lain yang mengikuti kita. Aku takut kalau–"
"Dalam kelompok ini, yang menjadi pertahanannya adalah Kak Rei sendiri. Karena dia yang paling ahli dalam berkelahi. Tapi... Kak Dian juga lumayan. Mereka berdua bisa saja melindungi kelompok ini. Tapi saat ini... kelompok kami sedang dalam keadaan yang tidak aman." Dennis berpikir di dalam hatinya.
"Selain kami harus menghadapi bahaya yang akan datang di Ujian ini, kami juga harus waspada dengan kelompok lain yang sedang mengikuti kita. Kelompoknya Kak Davin itu sangat mencurigakan. Dan satu lagi, dalam kelompok kami juga ada si Adit. Dia anak yang paling aku takuti. Aku belum tahu tujuannya ingin masuk ke kelompok ini karena apa."
"Sebenarnya aku tidak ingin memasukan dia dalam kelompokku. Tapi karena waktunya hampir habis, jadi terpaksa. Adit akhirnya ikut dengan kelompokku. Hah, aku harap dia tidak berbahaya dan dapat membantu kami yang sedang kesulitan dalam kelompok ini."
Setelah berpikir panjang, Dennis menghembuskan nafas berat, lalu mengangkat tangannya. Ia kembali melirik ke arah jam tangannya untuk memeriksa waktu bahaya yang akan datang itu. Saat dilihat, ternyata masih ada waktu 13 menit lagi untuk mereka mencari tempat perlindungan.
"Di mana kita akan menemukan tempat yang aman, ya?" Akihiro mulai mengeluh. Baru sebentar saja, ia sudah terlihat tidak bertenaga. Tentu saja. Soalnya dari awal juga, Akihiro memang sudah terlihat lemas dengan kondisi tubuhnya. Tapi karena dia memaksakan dirinya untuk ikut dalam Ujian IPS ini, ya... apa boleh buat.
"Dian... kau terlihat tidak sehat." Mizuki menengok ke arah Akihiro yang berjalan di sampingnya. Semakin lama, tubuh Akihiro semakin membungkuk dan langkahnya semakin pelan.
"Ah, aku tidak apa-apa. Jangan khawatir." Akihiro menggeleng pelan, lalu mengelap keringatnya yang akan menetes dari dagu. Lalu setelah itu, Akihiro mendongak menatap Mizuki sambil tersenyum untuk menutupi wajah kelelahannya agar tidak membuat teman-temannya merasa cemas.
"Tapi..." Mizuki mencoba untuk memeriksa keadaan Akihiro. Ia menyentuh kepala Akihiro dan terkejut. "Dian! Kepalamu terasa panas, loh. Kau demam, kah?"
Akihiro tersentak dan menghentikan langkahnya. Setelah mendengar perkataan dari Mizuki, seketika semuanya langsung berhenti dan berbalik badan untuk melihat Akihiro dan Mizuki.
"Sudah kubilang. Kau tidak akan bertahan lama, Dian!" ujar Rei dengan nada tegas. "Dari awal kau memang sudah sakit."
"Ah, tapi... aku baik-baik saja."
"Jangan berkata seperti itu. Kau memang sakit. Sekarang juga, ayolah. Aku akan menggendongmu." Rei berjalan menghampiri Akihiro sambil mengulurkan tangannya. Akihiro tidak menerima bantuan dari Rei. Karena ia ingin berusaha sendiri. Dengan tenaganya sendiri.
"Aku tidak mau." Akihiro menolak. Ia tidak ini. digendong sama Rei. "Sudah aku bilang, aku ini baik-baik saja! Mungkin kita hanya harus beristirahat... sebentar saja."
Nada bicara Akihiro semakin pelan. Tak lama tiba-tiba saja Akihiro jatuh duduk ke tanah. Seketika semua orang langsung menyebut namanya. Akihiro sudah tidak kuat untuk berdiri lagi.
Saat Mizuki ingin membantunya berdiri kembali Akihiro malah menolaknya. Ia terus menggenggam kepalanya. Dan saat pandangannya jadi buram, Akihiro berusaha untuk menahannya agar tetap terjaga.
"Kau sudah parah, Dian." Ujar Rei lirih. Lalu ia kembali mengulurkan tangannya untuk membantu Akihiro berdiri kembali. "Ayolah. Biarkan aku membantumu. Aku akan merangkulmu saja dan kita berjalan bersama-sama."
Akihiro tidak ingin menyusahkan teman-temannya lagi. Dan sekali lagi, Akihiro menolak pertolongan dari Rei. Ia menghempaskan tangan Rei dan membentaknya. "Sudah aku bilang, aku tidak memerlukan bantuanmu! Biarkan aku usaha dengan tenagaku sendiri!"
Semuanya terkejut saat mendengar Akihiro membentak Rei seperti itu. Rei sendiri berusaha untuk menahan emosinya. Tadinya ia ingin memukul Akihiro karena kekesalannya. Tapi karena Akihiro sedang sakit, Rei tidak ingin menambahkan rasa sakit pada temannya itu. Jadi ia memutuskan untuk diam saja dan membiarkan Akihiro bertindak dengan kemauannya sendiri.
"Baiklah kalau itu yang kau mau." Ujar Rei dengan nada dingin. Ia menatap tajam ke Akihiro. "Aku akan membiarkanmu begitu saja. Lakukanlah sesuka hatimu."
Setelah itu, Rei berbalik badan dan kembali berjalan dengan sendirinya. Tak lupa juga, ia mengajak temannya untuk berjalan kembali. "Ayo semuanya! Biarkan saja si Dian itu. Dia yang mau. Setidaknya kita sudah usaha untuk membujuknya."
"Ta–tapi Kak Rei..." Dennis tidak tega ingin meninggalkan Akihiro sendirian. Ia sedikit ragu dan bingung. Dirinya ingin pergi mengikuti Rei apa tetap tinggal bersama Akihiro untuk menjaganya?
Kelompok kelas 3-A telah mendahului kelompok Dennis. Mereka tidak mempedulikan apapun yang terjadi pada kelompoknya Dennis. Jadi mereka jalan duluan saja.
Sekarang, yang paling tertinggal adalah Akihiro sendiri yang masih terduduk di tanah. Ia tidak bisa berdiri karena tidak memiliki tenaga yang tersisah. Apalagi pagi tadi, Akihiro belum sempat sarapan. Jadi... tidak ada energi sama sekali di dalam tubuhnya.
"Aku harus bagaimana? Tinggal di sini sama Kak Dian, apa ikut sama Kak Rei? Haduhhh...."
BUK! BUK! BUK!
"Eh?" Dennis dan Akihiro terkejut. Mereka tiba-tiba merasakan getaran di tanah yang mereka injak. Tidak hanya Dennis dan Akihiro. Tapi ternyata semuanya juga merasakan getaran itu.
BUK! BUK!
Getaran dan suara benda jatuh itu semakin mendekat. Lalu tiba-tiba saja, si gadis yang ada di kelompok Dennis berteriak dan menunjuk ke sesuatu yang ia lihat. Sontak semuanya langsung melirik ke arah objek yang ditunjuk sama si gadis itu.
"Spi–spi–Spino!" Gadis itu berujar pelan. "Itu... Spinosaurus!!"
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8