
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
"Mungkin kamu salah dengar, Dennis." Ujar Rei yang masih tidak percaya dengan perkataan Dennis itu.
Dennis jadi bingung. Ia benar-benar yakin kalau dirinya itu mendengar suara teriakan seseorang yang ada di dalam hutan. Dennis benar-benar yakin. Tapi ternyata ia lebih percaya pada Rei.
"Hmm... mungkin aku salah dengar, haha..." Dennis tertawa sambil memainkan rambutnya. Rei dan Akihiro menghela nafas lega. Lalu Akihiro menepuk pundak Dennis sambil tertawa. "Dasar! Bikin kamu takut saja."
"Ah, maaf! Maaf. Akhir-akhir ini aku merasa ada sesuatu yang mengganggu. Tapi... sudahlah. Tidak usah dipikirkan."
"Yakin kau baik-baik saja?" tanya Rei cemas.
"Iya, tidak apa-apa. Sekarang... ayo kita cari tanaman nanas itu lagi!" Dennis jalan duluan meninggalkan Rei dan Akihiro. Tapi setelah Dennis mendengar suara burung hantu yang menyeramkan, Dennis langsung berteriak lalu berlari kembali mendekati Rei dan bersembunyi dibalik tubuhnya. Kalau suara burung hantu itu, Rei dan Akihiro mendengarnya.
"Aku pikir kau tadi ingin memimpin jalan?" tanya Rei dengan nada meledek. Dennis jadi malu. Lalu secara perlahan, ia berdiri di samping Rei. Tapi tangan kanannya itu tetap menggenggam pinggiran baju Rei dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Hehe..." Dennis tertawa kecil. Lalu ia menjawab Rei, "Aku tidak jadi, Kak Rei saja yang duluan, ya?"
"Haduh... kau ini. Baiklah." Rei akan jalan duluan. Dennis tetap berjalan sangat dekat dengan Rei. Kalau Akihiro berjalan santai di belakang Dennis. Lalu agar tidak merasa bosan, Akihiro akan mengeluarkan cemilannya dari tas yang ia gendong di belakang.
"Kak Dian kenapa?" tanya Dennis. Ia dengan Rei pun kembali menghentikan langkahnya dan langsung menoleh ke arah Akihiro yang sedang berjongkok sambil merogoh tasnya yang ia letakan di atas tanah.
"Tunggu sebentar." Jawab Akihiro pelan dengan tangan yang masih sibuk mengambil sesuatu di dalam tasnya.
"Apa yang kau cari?" tanya Rei heran. Akihiro tertawa, lalu ia mengeluarkan bungkusan berisi keripik kentang kesukaannya. "Ini cemilan untukku, hahaha!"
"Tinggalin aja, yuk, Dennis."
"Ah, iya kak!"
Akihiro terkejut saat Rei dan Dennis sudah pergi duluan dan meninggalkan dirinya. Ia benar-benar sendirian saat ini. Karena takut, jadi Akihiro bergegas merapihkan barang bawaannya, lalu kembali menggendong tasnya ke belakang. Setelah itu, dengan tangan kanan yang memegang ponsel dan tangan kiri yang memegang bungkusan cemilannya, Akihiro menggunakan kakinya untuk berlari mengejar Rei dan Dennis.
****
Di tempat lain, Mizuki, Adel dan Yuni sedang berjalan bersama. Di tempat itu hanya mereka bertiga saja. Tempatnya sepi sekali dan ditumbuhi oleh banyak tumbuhan hutan yang jarang mereka ketahui.
"Kak Zuki... di sini seram. Apa Kak Zuki tidak takut?" tanya Adel. Mizuki tersenyum padanya lalu menjawab, "Sebenarnya aku juga takut. Tapi kita tetap harus mencari tanaman nanas dan kotak kunang-kunang itu agar tugas kita selesai."
"Jika kita tidak bisa menemukannya, kita bisa kembali ke luar hutan." Ujar Yuni pelan. "Seharusnya kita cepat pergi dari sini."
"Eh, Yuni! Kau ini ngomong apa, sih?" Adel sedikit agak kesal dengan ucapan Yuni. Karena ia menganggap kalau Yuni telah mencoba untuk menakuti dirinya. "Yuni jangan ngomong begitu. Adel jadi semakin takut, nih."
"Memang kenyataan." Yuni membalas. "Ide permainan ini tidak baik. Aku punya firasat buruk."
"Eh? Apa yang kau rasakan, Yuni?" tanya Mizuki.
"Ada seseorang yang mengikuti kita dari belakang."
"Eh?" Mizuki sedikit terkejut mendengarnya. Tapi ia berusaha untuk tidak takut saat ini. Karena sudah menjadi tanggung jawabnya untuk menjaga Adel dan Yuni dari bahaya di hutan itu. "Kau bicara apa, sih, Yuni?" tanya Mizuki tidak percaya. Ia tertawa untuk menutupi ekspresi wajah ketakutannya.
"Entah. Hanya firasat."
"Mungkin orang itu adalah orang-orang yang dibilang Bu Mia. Itu loh... orang yang sedang mengawasi kita saat ini." Jelas Mizuki. "Kan memang harus mengawasi kita dengan cara sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan oleh kita. Kau tahu itu, kan?"
"Nah, Kak Zuki benar! Mungkin ada orang lain yang menjadi pengawas di hutan ini." Adel menimpali. "Maka dari itu, kita tidak usah khawatir karena ada banyak orang baik yang sedang menjaga kita."
"Nah, Adel benar itu." Mizuki tersenyum. Lalu ia menghadapkan kepalanya kembali ke jalan yang ada di depannya. "Sekarang ayo kita lanjut lagi."
"Aku tidak tahu siapa orang itu. Tapi firasatku mengatakan kalau kita harus segera pergi dari sini." Yuni bergumam dalam hati. Ia menyentuh dadanya dan merasa denyut jantung yang berdetak kencang. Saat ini, Yuni sedang merasakan kecemasan dan ketakutan akan satu hal. Ada apa dengannya?
Mizuki dan Adel sudah berjalan duluan di depan. Sementara Yuni masih berdiam diri di tempatnya. Mizuki tidak mendengar suara dan langkah kaki Yuni. Lalu ia menoleh ke belakang dan melihat Yuni masih belum merubah posisinya.
Mizuki pun menegur anak itu. "Yu–Yuni! Ayo kita jalan sekarang!"
Yuni sedikit tersentak, lalu secepatnya ia menengok ke arah Mizuki dan mengangguk pelan. Setelah itu, ia berlari mendekati Mizuki. Sekarang, pencarian mereka kembali dilanjut.
Sambil berjalan, mereka bertiga membicarakan sesuatu yang seru untuk saling menghibur agar tidak merasa bosan dan ketakutan. Sesekali, mereka juga mengarahkan lampu ponselnya ke segala arah untuk mencari tumbuhan nanas itu.
"Anu... Kak Zuki? Memangnya nanas merah itu ada?" tanya Adel heran.
"Nanas merah adalah buah yang katanya paling manis diantara jenis nanas lainnya. Kan biasanya, nanas kuning itu terasa asam manis. Tapi kalau nanas merah itu rasanya hanya manis saja. Itu hanya kata orang. Tapi aku tidak tahu rasanya." Jelas Yuni.
"Oh, kalau bentuknya kau tahu?" tanya Mizuki.
Yuni mengangguk pelan. "Iya."
"Oh? Kasih tahu aku dong bentuknya seperti apa, Yuni!" Adel juga jadi penasaran.
"Bentuknya sama seperti nanas biasa. Hanya saja warnanya yang berbeda. Sesuai dengan namanya. Nanas merah juga berwarna merah pastinya. Dia termasuk jenis nanas yang langka dan katanya hanya tumbuh di tempat yang tertutup seperti hutan dan tempat yang lembab. Suka tumbuh di semak yang berdekatan dengan tumbuhan lainnya." Jelas Yuni lagi.
Mizuki dan Adel mengangguk paham. Mereka akhirnya mengerti. "Oh! Jadi seperti itu!"
"Adel tahu sekarang! Adel ingin lihat langsung nanas itu, ah!" Adel melompat-lompat kegirangan. Tapi saat di lompatan ketiga, tiba-tiba saja kaki Adel tersandung sesuatu dan terjatuh.
"Aduh, sakit..." Adel mengeluh sakit di bagian dengkulnya. Saat dilihat, ternyata hanya muncul goresan sedikit saja. Lukanya tidak terlalu dalam dan mengeluarkan sedikit darah saja. Tapi walau begitu, Mizuki tidak akan membiarkannya begitu saja. Ia akan membantu Adel untuk mengobati lukanya.
"Kau baik-baik saja, Adel?" tanya Mizuki sambil membuka resleting tasnya, lalu mengambil kapas dengan obat luka. Ia menyiram dengkul Adel yang terluka dengan air untum membersihkan luka itu dari tanah yang menempel agar tidak infeksi. Lalu setelah itu, Mizuki mengelap luka yang basah dengan kapas secara lembut.
"Aduh!"
"Ah, maaf. Apakah sakit?" Mizuki tersentak. Ia menjauhkan kapas itu dari luka Adel. Adel mengerang, lalu menghela nafas pelan. "Tidak apa-apa, kak. Lanjutkan saja."
"Baiklah. Tahan, ya?" Mizuki kembali membersihkan luka Adel dengan menggunakan kapas. Digosokkan kapas itu dengan lembut ke luka agar Adel tidak merasakan sakitnya. Lalu setelah itu, Mizuki mengganti kapas lainnya dengan yang baru untuk menuangkan obat luka ke kapas yang baru.
Setelah itu, Mizuki kembali mendekatkan kapas yang sudah dituangkan sedikit obat ke luka Adel, lalu mengusapnya lagi secara perlahan sampai obat itu mengenai luka Adel. Adel kembali menggerakkan kakinya karena sakit yang ia rasakan saat obat itu menyentuh lukanya.
"Kak Zuki pelan-pelan."
"Iya, ini aku sudah pelan. Tahan, ya?"
Adel mengangguk. Mizuki kembali melanjutkan kerjanya. Lalu setelah semuanya selesai, Mizuki memperhatikan luka Adel itu. Ternyata sudah tertutup oleh obat yang ia berikan.
Mizuki senang ia bisa memanfaatkan barang bawaannya itu untuk membantu temannya. Selesai dengan Adel, Mizuki kembali memasukan obat dan kapasnya ke dalam tas kecil miliknya. Setelah itu, Mizuki membantu Adel untuk berdiri kembali.
Ternyata setelah pemberian obat dari Mizuki, Adel bisa menggerakkan kakinya lagi. Tapi tidak terlalu bebas karena masih terasa perih. "Tidak apa-apa, kan?" tanya Mizuki lirih pada Adel.
Adel mengangguk sambil tersenyum. "Iya tidak apa-apa, kak! Terima kasih, ya?"
Mizuki mengangguk lalu mengelus kepala Adel. "Lain kali jalannya pelan-pelan, ya? Nanti jatuh lagi, luh!"
"Iya, Kak. Hehe...."
"Berkat Adel. Kita bisa menang." Yuni berujar. Mizuki dan Adel menoleh ke arahnya dengan bingung. Mereka melihat Yuni sedang berjongkok sambil menatap beberapa tumbuhan yang ada di depannya itu.
"Kau sedang apa di situ, Yuni?" Secara perlahan, Adel berjalan menghampiri Yuni. Langkahnya masih dibantu oleh Mizuki karena ia tahu Adel masih merasa sakit dengan kakinya yang terluka itu.
"Lihatlah ini." Yuni berdiri, lalu menunjuk ke arah semak dan tumbuhan yang ia lihat. Mizuki dan Adel melirik ke arah objek yang ditunjuk Yuni. Lalu karena gelap, Adel menyorotkan lampu ponselnya ke arah tumbuhan itu.
Setelah kelihatan jelas, Mizuki dan Adel pun terkejut sekaligus senang dengan penemuan Yuni itu. Ternyata benar! Mereka bertiga telah berhasil menemukan si Nanas Merah itu!
"Adel tadi tersandung oleh akar dari pohon ini. Dan di samping pohon, ternyata ada Nanas merah ini." Ujar Yuni sambil mengelus batang pohon yang ia maksud itu.
"Wah! Kita beruntung bisa menemukannya!" Adel terlihat senang sekali. Tidak hanya karena ia bisa menemukan nanas itu, tapi ia juga bisa melihat langsung si nanas merah yang ingin sekali ia lihat. "Jadi seperti ini bentuknya, ya? Aw!"
Tapi setelah Adel menyentuh bagian daun nanas, tiba-tiba saja ada sesuatu yang tajam menusuk kulitnya. Refleks Adel langsung menjauhkan tangannya dari nanas itu. "Ih! Kok tajam, sih?"
"Nanas memang seperti itu. Pada bagian daun jambulnya ini memang sedikit tajam jika tidak hati-hati memegangnya. Apalagi dengan daunnya ini yang mirip seperti tumbuhan lidah buaya. Hanya saja volume daunnya lebih tipis." Jelas Yuni.
"Baiklah! Karena sekarang kita sudah menemukan nanas ini, sekarang kita cari Kotak Kunang-kunang itu! Pasti tidak jauh dari sini!" tegas Mizuki dengan penuh semangat. Ia tidak sabar ingin mendapatkan Kotak Kunang-kunang agar bisa secepatnya keluar dari dalam hutan.
"Tidak perlu dicari lagi." Yuni menunjuk ke depannya. "Karena... di depan sana sudah bisa terlihat Kotak Kunang-kunang itu."
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8