
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
Siang harinya–
Dennis dan Akihiro sedang bermain PS bersama di ruang tamu. Di televisi besar, Dennis dan Akihiro terus mengetik dan menggoyangkan stik PS mereka. Saat game berakhir atau sedang loading, itulah kesempatan Akihiro untuk mencomot dan menyantap cemilannya yang sudah tersedia di atas meja dekat sofa yang mereka duduki.
"Dennis, kau pergi ke kiri tuh. Nanti kita ketemuan. Aku mau lawan Raja Api dulu!" perintah Akihiro. Ia memainkan karakternya dengan baik. Padahal baru pertama kali ia memainkan video game seperti itu.
"Baiklah, Kak!" Dennis mengangguk. Lalu ia menggerakkan karakternya sesuai apa yang Akihiro sarankan. "Aku yang akan mengalahkan pengawal-pengawalnya. Kau jangan sampai mati. Nanti aku repot sendiri harus menyembuhkanmu."
"Tenang saja, Dennis! Aku masih baru. Tapi aku tahu cara bermain yang beginian." Tentu saja terlihat mudah. Karena mereka baru bermain sampai level 2. Dan Akihiro juga cuma bisa menekan tombol "X" untuk menyerang dan "O" untuk melompat dan jika tombol "O" dan "L1" ditekan bisa membuat karakter Akihiro melompat dan terbang. Tapi tidak dapat menyerang.
"Kak Dian! Kau sepertinya sudah terlihat terluka, deh." Ujar Dennis. Ia selalu melirik ke layar sebelah punyanya. Yaitu layar milik Akihiro dengan karakternya.
"Jangan pedulikan aku! Kau seharunya lihat musuhmu ada banyak tuh!"
"Ah, iya iya! Tapi hati-hati, kak! Darahmu tinggal sedikit loh. Kalau sudah nyampe 5%, kau tidak bisa menggerakkan karaktermu lagi."
"Oh, baiklah aku mengerti!"
"Kak? Kau tidak menggunakan Skill-nya? Dari tadi penuh terus." Ujar Dennis lagi.
"Eh? Memangnya apa gunanya?"
"Sebagai kekuatan tambahan."
"Oh, benarkah? Bagaimana caranya tuh?"
"Tekan segitiga, kak!"
Akihiro melirik ke tombol stiknya. Ternyata tombol segitiga itu ada di sebelah tombol "X". Tanpa berpikir dan melihat ke layar, Akihiro langsung menekan tombol segitiga itu. Seketika, layar di dalam dunia game itu menjadi gelap dan yang bersinar hanya karakter Akihiro saja yang sedang mengeluarkan kekuatan yang terpendam.
"Keren! Keren!" Akihiro merasa senang dengan karakternya sendiri. Mengeluarkan cahaya berwarna biru, semakin terang... lalu di sekelilingnya muncul banyak cahaya padat berbentuk panah yang diluncurkan ke langit. Lalu tak lama, panah-panah itu terjatuh di sekeliling karakternya Akihiro.
Melihat si Akihiro yang sudah menggunakan Skill-nya membuat Dennis terheran. Lalu ia bertanya, "Kak? Kakak menggunakan Skill itu di mana?"
"Di... eh?"
"Kenapa jauh sekali, kak?!" Dennis terkejut melihatnya. Begitu juga dengan Akihiro. Karena dia sudah menggunakan kekuatan tambahannya itu di tempat yang tidak tepat!
"Kak! Raja Apinya di mana? Cari! Seharusnya kakak menggunakan Skill-nya itu di dekat rajanya, dong!" Dennis malah mengkhawatirkan karakternya Akihiro daripada punyanya. Bahkan karakter milik Dennis sedang diserang oleh banyak musuh saja tidak tahu.
"Di mana? Di mana musuhnya, woy!" Akihiro berteriak ketakutan. Ia tidak mau kalah. Setelah melihat darah yang Akihiro punya, ia semakin panik karena darahnya tersisah 20% lagi. "Eh kok gak ada! Ke mana si Raja itu. Masa hilang?"
"Coba putar keliling, kak. Jangan banyak bergerak."
"O–oke, oke!"
Akihiro menggerakkan karakternya dengan berputar. Seperti yang Dennis ajarkan. Dengan cara seperti itu, Akihiro bisa melihat ke sekelilingnya. Semuanya aman-aman saja. Tapi tiba-tiba saja, secara mendadak Raja Api itu muncul dekat sekali dengan karakter Akihiro dan langsung menyerangnya.
Karena terkejut, Akihiro dan Dennis pun terkejut. Akihiro tidak bisa mengendalikan stik PS-nya. Ia menekan semua tombol, sampai karakternya jadi terlihat kacau dengan pergerakan dan serangannya yang tidak ada tujuan penyerangan.
Sekali lagi, rajanya menyerang dengan kekuatan api dan seketika darah Akihiro langsung terkuras habis. Tersisah 3% saja. Akihiro tidak bisa menggerakkan karakternya lagi. Ia menghela nafas, lalu meminta Dennis untuk menyembuhkan karakternya yang sedang sekarat itu.
Dennis mengangguk. Ia kembali menggerakkan stik PS yang ia pegang, lalu melirik ke layar karakter miliknya. Dennis terkejut. Ia melihat karakter punya dia sudah terjatuh juga seperti Akihiro.
"Ah, aku lupa. Punyaku dari tadi tidak dimainkan. Jadi aku diamkan saja dan ternyata lama-lama malah mati, haha..." Dennis tertawa sambil menggaruk kepalanya. Akihiro merasa kesal karena ia kalah dalam game itu.
"Tidak apa-apa, Kak Dian. Kita bisa mengulang lagi, kok!"
"Hah, kok rasanya malas, ya? Padahal kita sudah jauh, loh, levelnya!"
"Ya ampun, kak... baru sampai level 2 saja. Hah... ayo kita ulang." Karena Dennis adalah player 1, jadi dia yang mengendalikan gamenya. Dennis menekan tombol replay untuk mengulang permainannya.
"Sekarang yang fokus, ya?" ujar Akihiro. Dennis mengangguk. "Baiklah, Kak! Ayo mulai!"
PLAY!
****
Di lantai 2– Kamarnya Natsuki
"A–K–U–Ku.... Aku." Mizuki mengeja beberapa kata untuk mengajarkan kakaknya berbahasa Indonesia. Dengan penuh semangat, Natsuki selalu rajin membaca kamus dan menghapalnya.
"Ake." Natsuki mengikuti Mizuki. Cara mengucapkan katanya salah, jadi Mizuki akan memperbaikinya kembali. "A... ku. Aku. Aku Suka Buku."
"Aku... suka... bu–bu... ah! Nani?"
"Aku suka buku. Ah... kore wa muzukasi desu yo ne?"
(*Ini sulit, ya?)
Natsuki mengangguk pelan. Belajar bahasa Indonesia itu ternyata tidak mudah. Mizuki memahaminya. Karena dulu... dia juga pernah belajar dengan gurunya. Tapi kalau rajin menghapal, Natsuki pasti akan bisa berbahasa Indonesia. Dia juga ingin menjadi seperti adiknya yang sudah pintar bahasa asingnya.
"Ahaha..." Mizuki tertawa kecil, lalu menggeleng. "Daijoubu, daijoubu. Onii-chan wa dekiru yo!" (*Tidak apa-apa. Kakak pasti bisa, kok!)
"Hai!" Natsuki mengangguk semangat. Ia akan terus belajar dan mengikuti arahan dari adiknya.
"Baik... ayo kita mulai lagi." Mizuki bergumam. Ia meminta kakaknya untuk membaca buku kamusnya lagi. Kali ini, sebelum membahas tentang arti dari bahasa Indonesia, Mizuki akan mengajarkan kakaknya cara untuk mengucapkan kata dengan nada yang benar dalam bahasa Indonesia itu.
Tapi sebelum pelajaran dimulai kembali, tiba-tiba saja Mizuki dan Natsuki mendengar suara Akihiro dan Dennis yang berteriak. Jadi berisik dan mengganggu.
"Cih! Mereka itu lagi-lagi..." Mizuki menggerutu. Lalu setelah itu, Mizuki beranjak dari atas tempat tidur. Ia meminta Natsuki untuk hapalan dulu, sementara dirinya akan mengajarkan Dennis dan Akihiro caranya untuk diam.
Tapi untuk kali ini, Natsuki tidak ingin mendengarkan Mizuki. Ia penasaran dengan apa yang terjadi di bawah sana. Makanya, Natsuki juga ikut turun dari atas tempat tidur dan meninggalkan semua buku-buku pelajarannya. Ia mengikuti Mizuki dari belakang secara diam-diam.
Saat sampai di ruang tamu tempat Dennis dan Akihiro berisik, Mizuki langsung membentak mereka. "Kalian berdua! Apa yang kalian... eh?!" Tapi tiba-tiba saja ia terkejut setelah melihat keadaan Dennis dan Akihiro.
Mereka sepertinya habis terjatuh dari atas sofa. Posisi mereka saat ini telah membuat Mizuki jadi berpikiran yang aneh-aneh. Dennis terlentang di lantai, sementara Akihiro berada di atas tubuh Dennis. Posisi mereka dekat sekali.
"A–apa yang kalian lakukan?!" Wajah Mizuki seketika memerah setelah ia melihat baju kaus yang dipakai Dennis terangkat sampai perutnya terlihat. Dan... ternyata yang menaikan baju Dennis itu adalah Akihiro. Karena terlihat dari tangan kanannya yang terus mengangkat ke atas—Berusaha untuk melepaskan baju Dennis. Sementara tangannya yang satunya lagi masuk ke dalam dan menyentuh tubuh Dennis yang tertutup oleh bajunya. AKIHIRO SEDANG APA ITU?!
"Kita ketahuan, haduh..." Dennis dan Akihiro bergumam bersama setelah mereka melihat Mizuki berdiri di sampingnya. Mereka berdua sebenarnya sedang apa, sih?
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8