
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
****
"Kalian mungkin tidak kenal denganku, tapi kalian pasti kenal dengan si Dennis anak baru yang culun itu, kan?"
Seketika Rashino dan Nashira tersentak. "Eh, kau kenal Dennis?"
"I–iya pastinya lah! Dia anak baru. Aku tidak terlalu akrab dengannya, sih... tapi aku hanya ingin tahu tentangnya saja." Pemuda yang bernama Adit itu menurunkan tangannya, lalu memasukan kedua tangan ke dalam saku celananya.
Ia kembali bicara. "Nah, aku lihat kalian berdua sepertinya dekat sekali dengan si Dennis. Jadi, aku ingin kalian beritahu aku dong tentang dia."
Nashira mensipitkan matanya. "Tunggu! Kenapa kau ingin sekali tahu tentang Dennis?"
"Yahh... hanya ingin tahu saja. Kan dia juga teman sekelas ku."
"Hmm... menurutku, Dennis itu–"
"Hei, kalian berdua ayo naik!" ajak Pak Polisi. Pandangannya mengarah pada si kembar, tapi tak lama, ia melirik ke arah si Adit yang ada dihadapan Rashino dan Nashira.
Dengan cepat, Pak Polisi itu pun menghampiri mereka bertiga. "Eh? Kalian berdua sudah kenal dengan anak saya?" tanya Pak Polisi itu pada Rashino dan Nashira.
"Eh, anak?" Rashino dan Nashira tersentak saat Pak Polisi mengatakan itu.
Pak Polisi mengangguk. Lalu ia merangkul tubuhnya Adit. "Iya. Dia anak saya. Usianya sudah mau 18 tahun. Bahkan sekarang, anak bapak ini terlihat lebih tinggi daripada orang tuanya, haha..." Jelas Pak Polisi dengan tertawaannya. Entah apa yang membuatnya jadi tertawa.
"Ah, iya... kalian kaget, ya?" Adit mensipitkan matanya. Menatap sinis pada Rashino dan Nashira.
Rashino mengangguk pelan, lalu menjawab, "Ah, ternyata Pak Polisi ini ayahmu, Adit?"
"Iya begitulah."
"Hah, ayolah naik ke mobil! Kita harus berangkat sekarang. Ayah juga masih ada jam kerja lagi nanti di kantor. Ayolah cepat! Kita bicarakan ini di lain waktu saja." Ajak Pak Polisi. Lalu ia dengan anaknya itu berjalan kembali mendekati mobil. Diikuti oleh Rashino dan Nashira juga di belakang mereka.
****
Saat di perjalanan–
"Hah, Adit ini seharusnya sudah kelas 3 sekarang. Tapi karena tidak naik kelas tahun kemarin, ia jadi terus menetap di kelas 2. Dia memang anaknya nakal dan keterlaluan." Pak Polisi yang merupakan Ayahnya Adit itu sedang menceritakan tentang anaknya pada Rashino dan Nashira.
"Apaan, sih, Ayah?! Kan sudah aku bilang, aku sudah mendapatkan nilai yang terbaik di kelas, loh!" Adit tiba-tiba saja membentak ayahnya.
"Nilai saja masih belum cukup, Dit! Di sekolah itu, seharusnya kamu juga diajarkan cara bersikap yang baik. Sopan santun juga harus dijaga. Kedisiplinan juga." Walau Adit sudah membentak ayahnya, tetap saja ayahnya itu selalu berbicara lembut pada anaknya.
"Baik, baik! Aku akan rubah sikapku!" Adit menjawab. Lalu setelah itu, ia melipat tangannya ke depan dan langsung membuang muka dari ayahnya. Mengeluarkan ekspresi kesal. Pandangannya menghadap ke jendela kaca mobil.
Ia duduk di bangku depan bersama dengan ayahnya. Sementara Rashino dan Nashira duduk di bangku belakang.
"Huf, kalau aku bicarakan soal Dennis di sini, ayah pasti akan ikut-ikutan. Hah, apa boleh buat, aku akan menunggu. Mungkin nanti, disaat Ayah sedang tidak ada di dekatku, aku bisa langsung bertanya pada mereka." Kata Adit di dalam hatinya. "Habisnya... perkataan adiknya itu telah membuatku menjadi penasaran."
Flashback–
Saat masih jam pelajaran berlangsung, Adit yang sedang berjalan di lorong menuju kamar mandi, ia sempat bertemu dengan Adel di sana. Adel habis dari kamar mandi, sementara Adit ingin pergi ke kamar mandi itu.
Setelah Adel semakin berjalan mendekat dengan Adit, tiba-tiba saja tangan Adit menghentikan langkahnya. Adel pun terkejut dan langsung menengok ke arah Adit.
"Ka–kakak ini siapa?!" tanya Adel gugup sekaligus ketakutan dengan tampang Adit yang terlihat menyeramkan di matanya.
"Waduh... kalau dilihat dari dekat imut juga, nih anak!" gumam Adit dalam hati.
"Kakak mau ngapain?!" Adit tersentak. Tiba-tiba saja Adel mengibaskan tangannya dan langsung menjauh dari Adit.
"Eh, tidak, kok! Aku kebetulan hanya lewat sini dan ketemu sama kamu. Eh, kalau boleh tau, kamu ini adiknya si Dennis, kan?" tanya Adit dengan nada suara yang agak diimutkan.
Adel mengangguk sambil tersenyum. "Iya! Aku ini adiknya Kak Dennis yang paling uchu, tau!"
Setelah melihat senyuman dan ekspresi wajah Adel tadi, seketika langsung membuat wajah Adit sedikit memerah. "Ya ampun! Sumpah, deh! Nih anak kelas berapa? Kok tampangnya seperti... bidadari kecil yang imut." Katanya dalam hati.
"Umm... siapa namamu dan kamu ini kelas berapa?" tanya Adit.
"Aku Adelia Pertiwi! Aku kelas 1, kak!" jawab Adel.
"Ternyata hanya beda 1 tahun saja dengan kakaknya." Pikir Adit dalam hati lagi. "Tapi anak kelas 1 seperti dia kok bisa seimut ini, sih?"
Adit menggeleng cepat, lalu kembali bertanya, "Umm... kalau boleh tau, Dennis itu anaknya seperti apa, ya?"
Adel melebarkan matanya dan memonyongkan bibirnya. "Oh? Kenapa kakak mau tau tentang Kak Dennis?"
Adit tersentak. Lalu ia pun tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya. "Ah, tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu saja karena aku juga ingin berteman dengan kakakmu itu. Kan dia anak baru di kelasku."
"Adel juga anak baru, kak! Kenapa kakak tidak nanya tentang Adel saja?" tanya Adel dengan wajah polosnya.
"Eh, bukan begitu. Nanti saja ya setelah si Dennis. Sekarang kasih tau kakak, si Dennis itu anaknya kayak gimana menurut kamu?" tanya Adit lagi.
Adel berpikir sejenak. Lalu tak lama kemudian, ia kembali melirik ke arah Adit dan tersenyum. Ia menjawab, "Kak Dennis itu orang yang menyenangkan, baik hati, perhatian, suka menolong dan yang paling penting... Kak Dennis itu anaknya pintar, loh!"
"Oh dia pintar dalam bidang apa?" tanya Adit.
"Semuanya dia pintar, kak! Saat di sekolahnya yang lama, Kak Dennis selalu masuk 3 besar dalam rangking! Tidak hanya satu kelas, tapi satu sekolah. Dia murid terpintar." Jelas Adel dengan bangga karena ia sudah memberitahu kelebihan kakaknya itu pada orang lain.
"Ah, dia paling pintar? Kau pasti bercanda, kan? Saat tes ujian bahasa Indonesia, Matematika dengan IPA itu saja dia dapat 50 ke bawah. Tidak mungkin! Dia pasti tidak pintar, kan?" tanya Adit lagi.
"Eh, kakak turun, ya, nilainya? Aku kok tidak tahu. Tapi intinya, kakak itu selalu juara satu di sekolah lamanya, loh!"
"Cish! Tidak mungkin anak seperti dia itu bisa pintar dalam setiap mata pelajaran!" gerutu Adit dalam hati. "Jika dia bisa mengalahkan aku di Ujian Akhir Semester nanti, bisa gawat, nih!"
BACK–
"Dennis..., apakah dia anak yang benar-benar pintar seperti yang dikatakan oleh adiknya itu?" pikir Adit dalam hati.
"Tapi jika benar begitu, maka aku tidak boleh kalah darinya! Nilai nomor satu itu harus aku yang dapat! Rangking satu tahun ini juga harus aku yang dapat! Anak baru itu tidak boleh mendapatkan dan merebut kedudukan ku sebagai anak terpintar di kelas! Tidak akan!"
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @Pipit_otosaka8