Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 10– Adiknya Mizuki


"Aku takut. Karena di kamarku ada sesuatu yang menyerangku."


Dennis terkejut saat mendengar perkataan Akihiro itu. "Hah? Siapa yang menyerang kakak?"


"Aku tidak tahu! Saat aku kembali ke kamarku setelah dari kamar mandi, tiba-tiba saja aku dikejutkan oleh bayangan hitam yang tiba-tiba muncul di depan pintuku." Akihiro menjelaskan.


"Ah, bagaimana bentuknya?" tanya Dennis lagi.


"Hei, hei, ada apa ribut-ribut di sini?" tanya Rei yang tiba-tiba muncul di samping Dennis. Dennis terkejut dengan kehadirannya.


"Ka, Kak Rei? Begini... itu Kak Dian...."


"Kau kenapa, Dian?" pandangan Rei beralih ke Akihiro. Ia sedikit mensipitkan matanya. Eh, tapi dari awal matanya memang sudah sipit, sih....


"A, aku takut tidur di kamarku. Ada makhluk aneh di sana. Jadi, bolehkah aku tidur di kamarmu untuk satu hari saja. Kumohon!" pinta Akihiro.


"Apa kau membawa kasurmu mendiri?" tanya Rei dingin.


"Tidak. Kau lihat sendiri? Aku hanya membawa Dakimakura saja ke sini. Tadi aku panik sekali. Tidak sempat membawa kasurku." Jelas Akihiro.


"Lalu nanti kakak mau tidur di mana? Kamar kami terlalu kecil dan kamar kami hanya punya dua kasur dan itu tidak cukup untuk bertiga. Kasurnya terlalu kecil." Dennis menjelaskan tentang keadaan kamarnya.


"Yah... kalau begitu, tidak apa, deh... aku menumpang di yang lainnya...."


"Aku akan tidur di kamarmu." Rei berujar. Dennis dan Akihiro terkejut mendengarnya.


"Apa? Apa kau berani, Rei?!" tanya Akihiro tidak percaya.


"Tidak apa. Sekarang kau masuk saja. Aku akan pergi ke kamarmu." Jawab Rei. Lalu setelah itu, Rei mengambil sepatu dari tempatnya dan langsung memakainya.


"Kak Rei? Apa tidak apa-apa? Kan kata Kak Dian, di kamarnya ada hantu." Kata Dennis. Ekspresinya terlihat cemas.


"Tidak apa-apa. Hantu itu tidak ada." Jawab Rei pelan sambil memejamkan matanya. Lalu, setelah ikatan tali sepatunya yang terakhir, Rei pun kembali berdiri. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia pun pergi ke luar kamarnya. Lalu berjalan pelan menuju tangga. Karena kamar Akihiro berada di lantai bawah.


Dennis dan Akihiro masih memandangi Rei dari belakang. Lalu setelah Rei menuruni tangga dan menghilang dari pandangan mereka, Dennis dan Akihiro kembali bertatap muka.


Seketika wajah Akihiro jadi berubah. Ia terlihat cemas sama seperti Dennis. "Aku jadi tidak enak sama Rei." Gumamnya.


"Ah, tidak apa-apa, kak! Emm... karena itu kemauan Kak Rei sendiri, jadi kita tidak perlu mengkhawatirkannya, kan? Dia bisa jaga dirinya sendiri." Kata Dennis berusaha untuk menghibur Akihiro. Padahal dirinya sendiri juga mencemaskan Rei.


"Oh iya! Kenapa aku malah diam saja? Haha... ayo Kak Dian, silahkan masuk!"


"Ah, iya!" Akihiro mengangguk. Lalu ia berjalan memasuki kamar Dennis. Setelah itu, Dennis pun kembali menutup pintu kamarnya rapat-rapat, lalu menguncinya.


****


"Kalau tidak salah, ini kamarnya Dian, kan?" gumam Rei saat ia sampai di depan pintu kamar seseorang. Matanya menatap ke arah nomor urutan kamar yang tertempel di pintu.


"Sepertinya ini memang benar kamar Dian. Hmm..." Tanpa berpikir panjang, Rei pun memutar kenop pintu, lalu membuka pintunya. Di dalam, kamar itu terlihat gelap dan kosong. "Ini memang benar kamar Dian."


Rei maju satu langkah. Memasuki kamar itu, lalu melirik ke sekitar. Memperhatikan seluruh isi kamar itu.


"Oh ternyata di sini." Ternyata dari tadi Rei sedang mencari saklar lampu kamar itu. Setelah ia menemukannya, Rei pun langsung menekan saklar, dan seketika lampu di kamar itu pun menyala.


Sekali lagi, sebelum ia masuk ke kamar itu, Rei melirik ke segala arah untuk memeriksa kamar Akihiro itu. Sekalian juga dirinya sedang mencari hantu yang menyerang Akihiro.


"Mana? Tidak ada apa-apa di sini. Dian pasti bergurau lagi padaku. Hah...."


BUK!


"A, aduh! Hei?"


"Ah! Gomennasai!"


Tiba-tiba dari belakang, ada yang menabrak tubuh Rei. Rei pun terkejut dan langsung berbalik badan. Di belakangnya, ia hanya melihat seorang anak kecil yang sedang berlari di lorong itu.


Seorang anak perempuan berambut pendek dengan daster berwarna pink yang ia pakai. Dilihat dari ukuran tubuhnya, sepertinya anak kecil itu masih berumur 11 tahun. Rei menelengkan kepalanya. "Siapa anak itu? Eh? Tunggu! Kenapa ada anak kecil di sini?!"


Rei baru menyadarinya. Lalu sebelum anak itu menghilang dari pandangannya, Rei pun berteriak memanggil anak itu. "Hei, kamu!"


Untung anak kecil itu masih mendengarnya. Ia pun menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan. "N, n, nani?"


*(Nani\= Apa?)


"Eh, kamu tunggu sebentar di sana." Rei berlari menghampiri anak itu. Saat berada di dekatnya, Rei bertanya, "Kamu siapa?"


*( Nani itteru no?\= Apa yang kau katakan?)


"Eh? Kok bahasamu... tunggu! Dari mana kamu berasal?" tanya Rei.


"Go, gomen... watashi... watashi wa...." Anak kecil itu terlihat ketakutan. Ia melangkahkan kakinya ke belakang secara perlahan. berusaha untuk menjauhi Rei.


Rei tersentak. Ia tidak ingin anak itu berlari lagi. Karena tempat ini bukanlah tempat untuknya bermain. "Sepertinya anak ini tersesat, ya?" batin Rei dalam hati.


Rei kembali melirik ke arah anak kecil itu. Ia memejamkan matanya sambil berusaha untuk tersenyum manis pada anak kecil itu. "Ah, tenang saja. Jangan takut. Aku akan membantumu...."


"Nani?! Wakarimasen!!"


*(Wakarimasen\= Aku tidak mengerti!)


Rei terkejut. Tiba-tiba anak itu malah membentaknya. "Haduh... dia ini kenapa, sih? Hah, malah aku tidak mengerti dengan bahasanya...." Rei bergumam. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang pada anak kecil itu.


"Sachikooo...! Sachiko? Anata wa soko ni imashita?"


*(Sachiko kamu di mana?)


Rei menengok ke belakang anak itu. Ternyata dari lorong lain, muncul Mizuki di sana. Rei pun kembali berdiri. Dan anak kecil itu... dia berbalik badan.


"Onee-chan? A... Onee-chaaann!" Anak kecil itu berlari kegirangan saat melihat Mizuki. Dia berlari ke arah gadis berambut hitam yang berdiri di belakangnya tadi.


*(Onee-chan\= Kakak (perempuan))


"Ouh... Sachiko-chan? Koko de nani o shite iru no? " tanya Mizuki lirih pada anak kecil itu.


*(Sachiko? Sedang apa di sini?)


Anak kecil itu menjelaskan pada Mizuki (dengan bahasa Jepang) kalau dirinya telah bertemu dengan manusia bermata kuning yang menyeramkan. Dia menyebutnya dengan nama Oni. Atau dalam bahasa Jepang artinya Setan.


"Eh? Oni?" Mizuki mendongak. Ia melihat ke arah Rei yang sedang berdiri di depannya itu.


"Ah, Rei? Maaf! Aku...."


"Mizuki, itu siapa? Kenapa kau membawa anak kecil ke sini?" tanya Rei dingin.


"Ah, dia ini adik kecilku." Jawab Mizuki dengan tertawa kecilnya.


"Oh adik. Tapi kenapa kau membawanya ke sekolah?"


"Bukan aku yang membawanya. Dia sendiri yang mengikuti aku."


"Eh, kau jangan bercanda. Bagaimana anak sekecil dia bisa berangkat sendiri? Dia asli dari tempat asalmu, kan? Itu jauh sekali, loh!" Rei menggerutu.


"Eh ini sungguhan! Aku tidak tahu dia bisa mengikutiku caranya gimana. Aku sungguh tidak tahu. Kami baru saja bertemu tadi sore. Dia tiba-tiba muncul di depan gerbang. Lalu saat mau diajak ke kamar mandi untuk bersih-bersih, dia malah berlari ke arah lain." Jelas Mizuki.


"Haduh... kalau ketahuan guru bisa gawat, nih! Begini saja, kamu jaga adikmu. Jangan sampai dia dia berkeliaran ke mana-mana. Besok kita urus dia, oke?"


Mizuki mengangguk paham. "Baiklah, Rei!"


"Ya, kalau begitu, kamu boleh kembali ke kamarmu. Ajak adikmu itu. Jangan sampai dia pecicilan seperti tadi, ya?"


"Iya Rei!" Mizuki tidak mengangguk. Tapi ia hanya membungkuk seperti hormatnya orang Jepang. "Maaf untuk yang tadi, Rei. Sachiko sa!"


"Haaiik..."


Mizuki dan adiknya yang selalu ia panggil dengan nama Sachiko itu pun mulai berjalan menjauh dari Rei. Mereka berdua kembali ke kamarnya. Begitu juga dengan Rei.


Tapi sebelum Rei berbalik badan, tiba-tiba saja ia mendengar suara pintu yang tertutup sendiri. Lalu dengan cepat, Rei pun berbalik badan. Ia melirik ke arah kamar Akihiro yang akan ia tempati untuk malam ini.


Ada yang membuat Rei terkejut. Ternyata pintu kamar Akihiro yang tadinya terbuka tiba-tiba saja terlihat sudah tertutup rapat.


Rei pun mensipitkan matanya, lalu bergumam, "Jadi itu dia. Ternyata benar kata Akihiro kalau kamarnya itu memang ada penghuninya."


*


*


*


To be Continued-