Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 71– Ujian IPS (Resolusi 2)


Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


Dennis dan teman-temannya berlari bersama dengan kelompoknya yang lain. Mereka yang masih selamat hanya tersisah 28 orang. Mereka menganggap kalau di ujian ketiga ini, yang meninggal ada banyak sekali. Kelas 1 A–C sudah meninggal semua anak-anak muridnya. Dan dari kelas 1-B, yang tersisah dan masih bisa bertahan hidup hanya Adel dan Yuni saja.


Langsung saja semuanya pergi ke tempat kapal itu berada, yaitu dibalik batu-batu karang besar di pinggir pantai. Para anak kelas 3 masing-masing memegang satu tongkat bambu untuk melindungi diri. Dan sekarang ini, mereka memberanikan diri untuk menghadapi hantu itu secara langsung karena mereka telah memiliki rencana!


"Lanjut ke kata kunci lainnya. Yaitu, Mata, hati, kepala. Dorong, ceburkan, air laut dan Pintu Biru." Batin Dennis sambil mengulang kembali pemikirannya tentang rencana yang ia buat untuk membantu teman-temannya itu.


"Dari mata, hari dan kepala. Ketiga anggota tubuh itu... adalah kelemahan dari si hantu! Jika kita menyerang pada bagian anggota tubuh tersebut, mungkin bisa langsung membunuh si hantu."


"Lalu... Dorong, ceburkan, air laut dan Pintu Biru adalah kata kunci lainnya. Bagian itu adalah bagian akhir dari rencana. Berarti, setelah kita berhasil membunuh hantu itu, langkah kita selanjutnya adalah mendorong hantu itu masuk ke dalam lautan dan langsung saja kita semua pergi ke pintu biru dan kembali ke kelas dengan selamat!"


"Semoga kami semua bisa menjalankan rencana ini sesuai dengan harapan. Semuanya sudah mengerti dengan tugas-tugas mereka dan sekarang... saatnya kita semua untuk beraksi!"


Setelah berlari cukup lama untuk mengitari pantai di pulau itu, mereka akhirnya menemukan karang raksasa yang mereka cari. "Di sana! Dibalik karang itu ada dua kapal yang terparkir di pinggir pantai!" Rasya menunjuk. Kali ini dia yang memimpin karena ia yang mengetahui tempat kapalnya berada.


"Kerja bagus, Rasya!" Ethan tersenyum senang. Lalu ia menengok ke belakang dan berkata dengan nada tegas. "Semua bersiaplah! Kalian sudah mengerti dengan tugas-tugas kalian masing-masing, kan?"


"Iyaaa!!"


"Bagus!" Ethan mengangguk. Ia ingin mengacungkan jempol, tapi karena kedua tangannya sedang menggendong Davin di punggungnya, maka ia tidak bisa menggerakkan tangannya sedikitpun. Matanya melirik ke arah Dennis. Ia ingin Dennis yang memimpin untuk rencana kali ini. Karena hanya dialah anak yang selalu bisa diandalkan untuk bagian akhir.


Dennis mengangguk. "Baiklah, semuanya! Ingat tugas kalian. Para kelompok Tongkat Bambu, ingat! Harus selalu waspada. Dan ingat, musuh kita hanya ada satu, yaitu si kuntilanak berambut Rapunzel itu. Jadi fokus ke hantu itu saja!"


"Baik!!"


"Untuk sekarang... kita periksa dulu ke tempat hantu itu menetap. Karena kita tidak boleh langsung menyerang. Kita harus menghemat energi kita." Dennis berjalan ke depan. Semuanya mengikuti dirinya dari belakang. Untuk pertama kali, mereka berjalan mendekati baru karang raksasa dan mengumpat dibaliknya. Lalu Dennis, Rei dan Mizuki mengintip lewat batu karang untuk memeriksa keadaan. Sementara yang lainnya tetap berjongkok.


"Itu dia kapalnya." Rei menemukannya. Ia melihat kapal itu dengan mata tajamnya. Kalau kapalnya sudah terlihat akan menjadi mudah. Setengah persen, mereka bisa keluar dari Ujian ketiga dengan selamat.


"Tapi... di mana hantu itu?" bisik Dennis.


"Katanya tanda kemunculan hantu itu dapat dilihat dari munculnya beberapa rambut yang rontok. Tapi... di dekat kapal itu tidak ada sehelai rambut pun." Jelas Mizuki setelah ia mengamati kapal yang ia lihat secara detail.


"Eh, hantu itu tidak ada?" Rasya terkejut mendengarnya. "Perasaan tadi dia ada di sana. Benar, kok! Aku melihatnya di sana muncul dan berniat ingin menyerang kami."


"Tenang, Rasya. Kami semua mempercayaimu, kok!" ujar Ethan lirih. Kebetulan Ia berada di samping Rasya juga.


"Iya, semuanya ini berita bagus. Mungkin hantu itu sedang pergi untuk mencari mangsa." Kata Rei. Lalu setelah itu, dengan beraninya ia keluar dari tempat persembunyiannya untuk memeriksa kedua kapal yang ada di pinggir pantai.


"Ka–Kak Rei!" Dennis menegur. Rei tiba-tiba saja berjalan mendekati kapal itu. Ia takut kalau hantu itu tiba-tiba saja menyerang Rei.


Rei menengok ke belakang dan menggeleng pelan. "Tenang saja. Aku akan memeriksanya sebentar lalu kembali." Setelah ia berkata seperti itu, Rei kembali berjalan secara perlahan sambil menodongkan senjata Tongkat Bambunya ke depan untuk berjaga-jaga.


"Kak Rei... hati-hati." Dennis bergumam dan berharap Rei akan baik-baik saja dan menemukan kabar baik untuk semuanya.


Rei mendekati kapal. Sesekali ia menghentikan langkah untuk memeriksa pergerakan yang keluar dari kapal itu. Lalu karena ia tidak merasakan dan melihat sesuatu yang mencurigakan, maka ia akan tetap maju ke depan.


Saat dekat dengan kapal, Rei menghentikan langkahnya lagi. Ia akan bersiap kalau hantu itu akan muncul dengan tiba-tiba. Rei masih belum merasakan apapun di dalam kapal itu. Ia sedikit menelan ludah, lalu langkahnya kembali maju.


"Tidak ada apa-apa di sini." Gumam Rei setelah ia berhasil menyentuh kapal yang ada di depannya. "Semuanya kosong. Apa hantu itu sedang tidak patroli di sini, ya?"


Rei menghela nafas, lalu ia berbalik badan. Ia mengangkat tangan dan melambai pada Dennis untuk isyarat kalau semuanya yang ia periksa itu aman-aman saja. Dennis mengangguk untuk menyahutnya. Lalu setelah itu, ia menengok ke arah semua teman-temannya untuk segera keluar dari tempat persembunyiannya.


"Rei bilang di depan sana aman-aman saja, kok! Sekarang ayo kita cepat ambil kapal itu sebelum hantunya datang." Ujar Dennis. Semuanya mengangguk. Lalu tanpa membuang waktu lagi, mereka semua langsung pergi menghampiri Rei yang sudah menyiapkan kapalnya.


"Rei! Apa semuanya sudah kau periksa?" tanya Ethan. Rei hanya mengangguk. Tangannya masih sibuk membuka ikatan yang menahan kapalnya. Batu besar yang menjadi penyangga kapal itu pun Rei angkat untuk melepaskan talinya. Setelah itu, Rei memberikan tali yang masih terhubung pada kapalnya pada Dennis. Dennis menerimanya. Rei berpesan, Dennis jangan melepakan tali itu, kalau tidak maka Kapalnya akan hanyut terbawa ombak. Dennis mengangguk, lalu Adel juga ikut memegangi tali itu untuk membantu kakaknya.


"Kak Rei? Apa kapal kedua itu aman?" tanya Dennis ragu.


Tanpa menengok, Rei hanya mengangguk untuk mengiyakan. Lalu langsung saja ia mendekati kapal yang satunya dan melepaskan ikatan lainnya yang menahan kapalnya. Lalu setelah semuanya terlepas, Rei kembali berdiri dan berbalik badan.


"Kita sudah mendapatkan kapalnya! Sekarang ayo kita langsung saja pergi dari sini." Ajak Rei sambil menarik tali dan kapalnya, sementara kakinya terus melangkah mendekati teman-temannya yang lain. "Kita tidak punya banyak waktu."


"Ta–tapi bagaimana kita bisa mengendalikan arah kapalnya bergerak tanpa dayung?" tanya Mizuki.


"Tentu saja bisa. Kalian masih memegang Tongkat Bambu itu, kan?" tanya Rei balik. Mizuki mengangguk. Ia menggenggam Tongkat panjang yang ia pegang itu sedikit lebih kuat. "Nah! Tongkat itu bisa digunakan sebagai dayung. Dan... berita baik lainnya, lihatlah ini!"


Semuanya terkejut sekaligus senang. Karena pada kapal kedua itu, Rei menemukan 4 buat batang dayung asli yang sangat berguna untuk menggerakkan kapal kecilnya.


"Kau emang yang terbaik, Rei!" Mizuki terlihat senang sekali. Dia mengacungkan jempol pada Rei. Dan Rei menanggapinya dengan mengeluarkan sedikit senyum di wajahnya. "Baik, baik. Sekarang ayo! Kita harus cepat!"


"Ya!!"


Semua anak laki-laki mendorong kapal kecil itu sampai mengapung di atas air laut. Lalu setelah itu, mereka semua menaiki perahunya. Tapi sebelum itu, semua anak laki-laki yang sudah naik di perahu, mereka langsung mengulurkan tangan ke belakang untuk membantu menarik anak perempuan masuk ke atas perahu.


Setelah itu, yang duduk di depan ada dua orang. Di perahu pertama ditempati oleh Rei dengan semua kelompoknya dan ia mengajak sebagian dari kelompok Rasya untuk ikut bergabung. Yang mengayunkan dayungnya adalah Rei dan Adit. Adit sedari tadi jarang bicara, entah ada apa dengan dirinya. Tapi di dalam perahu, ia bisa banyak membantu.


Di perahu kedua, ditempati oleh anak-anak yang tersisah. Pengendali perahu kedua itu adalah Ethan dan Revi. Tadinya, tugas Revi akan ditangani oleh Zainal. Tapi karena Zainal sudah banyak bekerja dari tadi, maka digantikan oleh Revi saja tugasnya untuk mendayung. Sementara anak-anak lainnya juga tetap mengawasi.


Semua anak laki-laki duduk di bagian pinggir perahunya. Tidak mudah. Mereka juga harus terus menyeimbangi perahu dan tubuh mereka yang duduk di paling pinggir agar tidak terjatuh. Sementara anak-anak perempuan duduk di bagian tengah perahu. Untung saja muat. Semuanya kebagian tempat yang menurut mereka aman.


Tapi... Dennis masih sempat memikirkan sesuatu. "28 anak saja sudah membuat kapal ini menjadi sempit. Bagaimana kalau... beberapa anak lainnya yang masih hidup? Apakah kita bisa berbagi perahu ini?" Ia hanya bergumam dan tidak memikirkan hal itu di dalam hati.


Rei sempat mendengar gumaman Dennis tadi. Ia membalasnya, "Tentu saja bisa, Dennis! Anak yang paling suka menolong akan kembali untuk menjemput temannya yang masih terdampar di pulau. Anak itu tidak akan membiarkan temannya tertinggal di belakang. Bahkan ia mempunyai motto sendiri."


"Motto?"


"Iya. Anak penolong selalu berkata, 'Jika aku selamat, maka teman-temanku juga harus selamat. Dan jika mereka mati, maka aku juga harus tetap berusaha untuk bertahan hidup. Jangan bersikap bodoh. Jika temanmu mati, masa kau juga mau ikut mati seperti mereka juga, sih?'"


Mendengar perkataan Rei membuat Dennis jadi ingin tertawa. Tapi ia berusaha untuk menahannya. Dennis hanya tersenyum lebar pada Rei dan berkata, "Kak Rei... itu pasti bukan motto anak penolong, ya? Kata-kata itu pasti kau yang merangkainya sendiri, kan?"


"Hah... terserah saja, deh! Intinya kau harus banyak belajar dari si anak penolong itu." Ujar Rei. Lalu kepalanya kembali menoleh ke depan untuk melihat arah di mana pintu biru itu berada.


"Pintu Biru itu dekat lagi, teman-teman! Kita akan segera sampai!" teriak Ethan dengan bangganya setelah ia berhasil menemukan jalan keluarnya. Semuanya terlihat senang. Mereka tidak sabar ingin segera keluar dan menyelesaikan Ujian ketiga mereka.


"Hmm... anak penolong itu seperti... Dian." Dennis tersenyum, lalu tertawa kecil. Tapi tiba-tiba saja secara perlahan, senyumannya memudar dan seketika Dennis memasang wajah murung.


"Apakah benar yang dikatakan gadis itu? Kak Dian sedang dalam bahaya? Tapi... kenapa dia bisa keluar dari dunia ini tanpa kami ketahui?" pikir Dennis dalam hati. "Aku benar-benar mencemaskan dirinya. Aku harap setelah kami keluar dari dunia ini, aku bisa bertemu dengan Kak Dian dalam keadaan yang baik-baik saja!"


"E–eh, Rei! Rei!" Mizuki tiba-tiba saja berteriak. Ia terlihat ketakutan dan sikapnya jadi panik. Tangannya selalu menunjuk ke air laut yang ada di belakang perahu.


"Ada apa Kak Zuki?" tanya Dennis.


"I–itu di sana! Di dalam laut, tadi aku melihat ada sosok hitam yang sedang berenang di dalam laut!"


"Eh?! Apakah itu hantunya? Di–dia bisa mengejar kita?!"


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8