
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
Pada sore harinya, Bu Mia meminta murid-muridnya untuk segera berkumpul di Villa karena akan diadakan pengumuman baru. Tapi sebelum itu, Dennis dan Rei akan kembali ke kamar mereka untuk mengganti pakaian.
Begitu juga dengan anak-anak yang baru berenang tadi. Sebelum dimulai, Bu Mia akan menunggu anak-anak yang sedang ganti baju di dalam Villa. Sementara anak lainnya yang sudah berkumpul di dalam, akan dibiarkan mengobrol dan jam bebas. Asal jangan keluar dari Villa.
Di kamar, Dennis sudah memilih pakaiannya. Ia mengambil bajunya dari dalam tas dan langsung memakainya. Sedangkan Rei masih duduk santai di pinggir tempat tidur sambil mengetik ponselnya. Ia masih belum memakai baju dan handuk miliknya ia kalungkan di lehernya.
"Kak Rei, ayo cepat. Kita harus pergi sekarang." Ajak Dennis setelah ia selesai dengan penampilan barunya. Dennis terus mengeringkan rambutnya dengan handuk sampai acak-acakan dan setelah itu ia tidak menyisir rambutnya. Dennis memang suka dengan rambut yang acak-acakan seperti itu. Bukan berarti Dennis tidak pernah merapihkan rambutnya.
"Iya. Sebentar lagi. Kalau mau, kau duluan saja." Ujar Rei yang masih fokus dengan ponselnya.
Dennis sebenarnya ingin pergi bersama dengan Rei. Tapi karena ia juga tidak ingin terlambat, maka terpaksa Dennis akan pergi duluan. "Baiklah, aku duluan, ya?" Setelah selesai dengan rambutnya, Dennis pun berlari keluar dari kamarnya.
Rei hanya mengangguk. Tak lama setelah Dennis pergi tanpa menutup pintu kamar, tiba-tiba saja....
BRAK!
Pintu kamar itu tertutup dan terbanting dengan sendirinya. Rei terkejut saat mendengar suara hantaman keras dari pintu yang menutup cepat itu. Ia menoleh ke belakang, lalu setelah itu berdiri dari kasurnya. Ia meletakan ponselnya di atas meja, lalu bergegas mengambil bajunya dari dalam tas.
Setelah memilih baju dan memakainya, Rei mengambil kembali ponselnya, lalu ia pergi dari kamarnya. Rei membuka pintunya yang telah tertutup dengan sendirinya. Tapi sebelum ia pergi, Rei menoleh ke belakang. Ia melihat ada orang lain di dalam kamarnya itu sedang berdiri di samping tempat tidurnya.
"Jika mau di sini, tolong jangan acak-acak kamar kami." Rei berujar sendiri pada kamarnya. Ah, tidak! Ia sedang berbicara pada sosok putih berambut panjang yang hanya bisa dilihat oleh matanya saja.
Setelah mengatakan itu, Rei pun menutup pintunya, lalu melangkah meninggalkan kamarnya. Setelah beberapa langkah, ada Akihiro juga yang baru keluar dari kamarnya. Ia sendirian.
"Aku kira kau sudah ada di Villa itu." Ujar Rei pada Akihiro tanpa melirik ke lawan bicaranya. Ia masih fokus dengan ponselnya. Entah apa yang Rei baca di dalam ponselnya itu.
"Ta–tadi aku tidak ingin pergi berkumpul di Villa. Ta–tapi... tapi...."
"Eh? Kau kenapa?" Kali ini Rei melirik ke arah Akihiro. Ia sedikit terkejut dengan ekspresi Akihiro. Temannya itu terlihat ketakutan dan tubuhnya gemetar. "Apa telah terjadi sesuatu?" Rei bertanya lagi. Ia jadi cemas.
"Aku takut sendirian. Intinya sangat mengerikan. Ka–kalau aku ceritakan, kau pasti tidak akan percaya." Itulah jawaban Akihiro. Sebenarnya ada apa? Apakah ia ingin memberitahu sesuatu? Rei jadi penasaran.
"Tidak apa-apa. Kasih tahu saja. Siapa tahu aku bisa membantu." Ujar Rei sedikit memaksa agar Akihiro ingin menceritakan pengalaman yang ia anggap mengerikan itu.
"Hah..." Akihiro menghela nafas panjang. Ia sebenarnya agak takut untuk menceritakannya. Tapi kalau untuk Rei saja, maka ia akan memberitahu.
"Tadi..." Akihiro mulai membuka mulutnya. Rei menyahut bingung, "Ya?"
"Tadi saat aku sedang tiduran di kasur, tiba-tiba saja lemari meja yang ada di samping tempat tidurku terbuka sendiri. Pada awalnya aku menganggap kalau itu hanya angin saja yang telah menggerakkannya. Tapi... bukan hanya itu," Akihiro berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya agar ia bisa bercerita lagi.
"Aku tidak peduli dengan lemari yang terbuka itu. Tapi... tak lama setelah lemari, tiba-tiba saja gorden jendela yang ada di dekat pintu kamar itu bergeser dengan sendirinya. Sontak aku langsung terkejut melihatnya. Kalau gorden yang bergeser, tidak mungkin angin yang melakukannya. Dari situ, aku baru tersadar kalau di kamarku pasti ada sesuatu yang tidak beres. Dan entah kenapa aku jadi merasa merinding." Akihiro mengakhiri ceritanya. Pengalaman yang mengerikan baginya. Melihat sesuatu yang janggal tepat di depan matanya sendiri.
"Kau pasti tidak akan percaya denganku, kan, Rei?" tanya Akihiro ragu. Lalu dengan cepat, ia tiba-tiba saja melajukan langkahnya karena ia merasa ada yang sedang mengikutinya dari belakang. "Ah, tunggu, Rei! Aduh!"
"Hei? Kau kenapa, sih?" Rei yang sedang berpikir tentang cerita Akihiro itu terkejut saat Akihiro tiba-tiba saja maju dengan langkah yang besar.
Sebelum menjawab, Akihiro melihat ke belakangnya dulu, lalu setelah itu ia memberitahu Rei kalau ada sesuatu yang telah menyentuh punggungnya. Dan Akihiro juga masih merasa kalau ada yang mengikuti dirinya.
Rei terheran, lalu karena penasaran, ia juga menoleh ke belakangnya. Rei sedikit melebarkan matanya karena terkejut dengan apa yang ia lihat. Ada sosok seorang wanita muda dengan wajah yang penuh dengan luka dan darah, sedang berdiri tepat di belakang Akihiro sambil memegang pundak Akihiro dengan kedua tangannya yang kotor.
Karena tidak ingin membuat temannya jadi semakin ketakutan, Rei pun menggeleng lalu menjawab, "Ah, tidak ada apa-apa, kok! Ayo kita langsung pergi ke Villa lagi saja!"
"Tapi Rei... aku merasa ada yang berat di belakangku."
"Tahan saja. Mungkin kau sedang kecapekan dan butuh istirahat." Ujar Rei lirih. Ia benar-benar tidak ingin membuat Akihiro mengetahui sosok yang menempel di belakangnya itu. "Saat di dalam Villa kau bisa duduk. Ayolah!"
Akihiro tersenyum sambil memejamkan matanya karena merasa nyaman dan ia merasa bebannya yang berat itu telah hilang. "Iya, Rei... tanganmu memang ajaib. Haha... enak banget."
"Ya sudah... sekarang ayo kita pergi. Aku akan memijit punggungmu lagi saat kita sudah berada di dalam Villa, ya?"
"Baiklah, Rei."
"Apakah yang tadi itu adalah hantu penunggu Villa ini? Dia datang untuk menakuti kita atau meminta bantuan? Kok aku ada firasat buruk, ya?" batin Rei cemas dengan lingkungan sekitarnya dan kemunculan sosok menyeramkan yang baru saja ia lihat tadi.
****
Saat sampai di dalam Villa, Bu Mia langsung meminta Rei dan Akihiro yang baru datang untuk segera duduk dan berkumpul bersama teman-temannya yang lain.
Rei dan Akihiro duduk di paling belakang dekat dengan Dennis. Lalu setelah Rei duduk, Dennis pun berbisik, "Kak Rei kenapa lama sekali?"
"Ah tidak apa-apa. Tadi si Dian ini minta ditungguin." Jawab Rei.
"Eh, tidak tuh!" Akihiro menyangkal perkataan Rei. Lalu dengan cepat, Rei pun menepuk pundak Akihiro dengan cepat. "Berisik kau!"
"Hehe..." Akihiro tertawa kecil, lalu setelah itu ia menoleh dan menatap Bu Mia yang sedang berdiri di atas panggung kecil-kecilan di dekat jendela besar. Semuanya juga sedang memperhatikan Bu Mia yang akan memberikan satu pengumuman untuk murid-muridnya.
"Anak-anak, dengarkan dulu, ya?"
"Iya, Bu!"
"Nih! Coba lihat ponsel kalian dan buka daftar kegiatan hari ini." Semuanya menurut. Mereka yang membawa ponsel langsung membuka ponsel mereka masing-masing. "Nanti setelah matahari terbenam, kita harus membereskan kamar kita, ya?"
"Iya, Bu!"
"Nah, setelah itu waktu bebas lagi sampai pukul 7 malam. Setelah jam 7, kalian kembali lagi ke Villa untuk makan bersama, ya? Lalu setelah makan, jam 8 kita akan mengadakan stand up komedi di panggung ini dan membuka hiburan sejenak sampai jam setengah sepuluh. Setelah acara... kita ke kamar tidur untuk mengistirahatkan mata sejenak, lalu pada pukul 12 malam, kalian baru bangun lagi."
"Loh, Bu? Bangun malamnya kan jam 11." Ujar Ethan terheran dengan jadwal yang tiba-tiba diubah waktunya.
"Iya. Tapi kalau jam 11 itu terlalu dini. Makanya ibu tambahkan lagi waktunya. Jadi... pada pukul 12 malam itu, kalian semua berkumpul di depan Villa. Karena kita akan bersenang-senang lagi. Tapi sedikit agak menantang, ya?"
"Uji Nyali! Yeayy!" Satu orang berteriak dan seketika semuanya juga ikut berteriak senang. Mereka suka sekali dengan yang namanya keluar pada jam tengah malam. "Kita akan ke mana, Bu?"
"Tempat seram, dong, Bu!"
"Eh! Tapi jangan yang seram banget tahu! Nanti ada hantu."
"Bodo, yang penting kita harus berkelompok dan membuat permainan!"
Bu Mia tertawa kecil, lalu menenangkan murid-muridnya yang sedang berbicara dengan teman sebelah mereka. Yang tadinya agak berisik, seketika langsung sepi kembali.
"Iya. Tempatnya akan menegangkan dan permainannya juga akan seru, kok!" Itulah yang dikatakan Bu Mia. Seketika semuanya jadi senang dan mereka tidak sabar untuk menunggu jarum jam yang pendek menunjuk ke angka 12.
"Tapi, Bu!" Rei mengacungkan tangan. "Dalam acara seperti ini, bukankah seharusnya ada orang yang mengawasi kita? Agar lebih aman dan tidak ada teman kita yang menghilang."
"Ah, kalau masalah itu, Rei tenang saja. Ada orang dewasa lainnya, termasuk Natsuki juga akan menjadi pengawas kalian. Tapi secara sembunyi-sembunyi. Kalian tidak akan tahu tempat penjaga yang mengawasi kalian. Intinya yang penting, kalian bisa aman jika ada pengawasnya. Tenang saja." Jelas Bu Mia.
Semuanya mengangguk paham, lalu mereka kembali berbicara dan berbisik dengan teman dekatnya. Kalau Rei... hanya bergumam di dalam hatinya. "Semoga kita semua akan baik-baik saja nanti. Jangan ada masalah yang muncul."
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8