
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
Saat di kantin–
GRRRKK....
Rei menggeser kursi yang ia duduki ke belakang, lalu dirinya itu berdiri dari kursi sambil membawa mangkuk kecil di tangan kanannya.
Mizuki melirik ke arah Rei dan bertanya, "Rei, kau mau ke mana?"
Rei terkejut. "Eh, aku ingin... ke toilet sebentar." Jawabnya ragu.
"Tapi kok bawa mangkuk itu lagi?" tanya Yuni cuek.
"Eh... aku...."
Akihiro melebarkan senyumnya lalu mensipitkan matanya. Melirik ke arah Rei dan berkata, "Kau pasti mau tambah lagi, ya, Rei?"
Rei tersentak, lalu ia sedikit menundukkan kepala sambil membuang muka dari hadapan teman-temannya. "Ti–tidak, kok! Emm...."
"Ah, jujur saja, Rei. Kau pasti suka dengan menu baru di kantin ini, kan?" tanya Akihiro lagi.
"Ah, diamlah!" Rei sedikit membentak, lalu ia kembali meletakan mangkuk kecil yang ia pegang itu ke atas meja. "Sudah aku bilang, aku ingin ke toilet. Itu saja!"
Setelah berkata seperti itu, Rei langsung pergi meninggalkan teman-temannya. Ia berjalan cepat mendekati pintu keluar kantin. Setelah Rei pergi, Akihiro bergumam. "Hehe... sudah kuduga, dia pasti suka dengan makanannya."
"Mungkinkah begitu? Tapi kata Rei... dia tidak terlalu menyukainya." Jawab Dennis.
"Tidak suka apanya? Buktinya saja dia dari tadi bulak-balik melulu untuk mengambil makanan itu lagi dan lagi. Mangkuknya saja sudah 4 biji yang ia kembalikan, lalu balik-balik, dia bawa makanan itu lagi."
"Tapi dia bilang tadi... katanya dia tidak suka." Gumam Dennis. "Lalu... apakah sekarang Kak Rei itu mau ke toilet?"
"Haha... mungkin saja dia kembali ke Ibu kantin untuk memesan makanan itu lagi. Kita tunggu saja, pasti nanti saat ia kembali, pasti dia membawa makanan itu lagi."
"Benarkah? Tapi... aku kok jadi khawatir, ya?" gumam Dennis lagi sambil berpikir. Sebenarnya... apa yang Dennis cemaskan?
****
"Haduh ... makanan tadi benar-benar enak. Akihiro ternyata tidak salah." Gumam Rei setelah ia keluar dan kembali menutup pintu kantin. Ia memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. Lalu setelah itu, Rei berdiri di samping pintu kantin.
"Aku mau makan itu lagi. Tapi..." Rei mengintip di jendela yang ada di samping pintu kantin. "Tapi semuanya duduk di meja yang dekat dengan Ibu kantin. Jika aku kembali ke Ibu itu untuk mengambil makanan yang sama, nanti si Dian pasti akan meledekku."
Rei mendesah berat sambil memejamkan matanya, lalu ia kembali berbalik badan. Dan setelah Rei berbalik badan, tiba-tiba saja ada dua orang anak yang telah mengejutkannya. Rei benar-benar sangat kaget karena kehadiran si kembar Rashino dan Nashira yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Kalian ini kebiasaan!" Rei membentak. "Seharusnya kalian menyapa dulu sebelum mengagetkanku."
"Heeh? Tapi kalau Rei melihat kami terlebih dahulu, nanti kami tidak berhasil membuat Rei kaget, dong!" balas Nashira.
"Haduh... kalian ini memang punya hobi mengagetkan orang." Gumam Rei.
Rashino dan Nashira tertawa kecil. Lalu setelah itu, ia memberikan sesuatu pada Rei. Rei kembali melirik ke arah si kembar dengan tampang bingung. "Apa itu?" tanya Rei. Ia melihat Rashino memberikan sebuah mangkuk kec berisi makanan semacam sup kari kepada Rei.
"Hehe... Rei menginginkan ini, kan?"
Rei terkejut dan wajahnya sedikit memerah. "E–eh?! Tidak, kok!"
"Jangan bohong. Kami tadi mendengarmu bergumam, loh! Terus tadi kamu ngintip ke dalam kantin. Saat kami mendengar gumaman kamu itu, ternyata kau mau Sup kari ayam yang sedang populer di kantin itu, kan? Makanya kami bawakan untukmu!" jelas Rashino.
"Tidak kusangka. Ternyata Rei juga suka sama menu baru itu!" kata Nashira.
"Ti–tidak juga, kok. Ah sudahlah...."
"Tidak usah malu, Rei. Kami juga menyukainya, kok!"
"Bukan begitu." Batin Rei. "Kan sebelum aku mencoba makanan itu, aku sempat bilang kalau aku pasti tidak akan menyukainya. Tapi ternyata aku salah. Ah! Makanan itu memang benar-benar enak atau aku memang lagi kelaparan?"
"Rei, kok diam? Ini loh! Aku dengan Nashira sudah susah payah ngambil makanan ini untukmu. Kan kau tahu, kantin sedang ngantri panjang sekali." Ujar Rashino.
Rei tersentak dan langsung mengambil mangkuk kecil berisi makanan kesukaannya itu dari tangan Rashino. "Te–terima kasih." Ucap Rei pelan sambil membuang muka dengan ekspresi wajah malu.
"Sama-sama." Jawab Rashino dan Nashira bersamaan.
"Oh iya, tadi saat kami selesai mengambil makanan itu, kami sempat bertemu dengan temanmu yang lainnya, loh!" ujar Nashira. Rei sedikit terkejut mendengarnya. "Eh? Benarkah?"
"Iya. Kan mereka memanggil kami. Jadi kamu samperin aja. Eh, terus si Dian bilang, 'Itu sup kari ayamnya buat aku saja, dong!'. Kami tidak mau memberikannya karena sup itu buat kamu, Rei."
"Ya... kami jawab, 'Jangan! Makanan ini untuk Rei. Karena dia suka sekali dengan makanan ini." Nashira berhenti sejenak. Ia akan melanjutkan. "Tapi setelah aku berkata seperti itu, tiba-tiba saja mereka semua tertawa. Entah ada apa dengan mereka. Jadi kami langsung tinggalin saja."
Rei terkejut mendengar ceritanya Nashira itu. "Aduh... kalian ini! Yah... mereka jadi tahu, dong, kalau aku menyukai makanan ini. Ah, payah sekali!" gerutu Rei dalam hati.
Rei terdiam, lalu tak lama ia kembali membuka mulutnya dan bertanya, "Kalian sekarang mau ngapain?"
Nashira tersentak. Mereka menjawab, "Oh iya! Tadi kebetulan kami mencarimu. Ini... kami ingin memberitahu tentang–"
PLAK!
Rashino memukul pundak Nashira pelan. Lalu ia mendekatkan kepalanya pada Nashira dan berbisik, "Nash, sebaiknya kita jangan memberitahu Rei, deh! Dia pasti tidak mau mendengar. Kan dari awal, Rei tidak akan suka jika kita membahas tentang kasus yang waktu itu."
Nashira melebarkan matanya, lalu mengangguk cepat. "Oh iya! Kalau begitu, kami akan memberitahu tentang si Adit itu saja. Aku masih kesal dengannya."
"Nah kalau yang itu boleh saja!" Rashino mensetujuinya. Lalu mereka berdua kembali melirik ke arah Rei. Ternyata Rei masih menunggu si kembar di hadapannya.
"Em... anu, Rei? Kami ingin memberitahu sesuatu. Kataya–"
"Ah, tunggu dulu. Bagaimana kalau kita mencari tempat duduk saja? Sup ini masih terasa panas dan... aku ingin memakannya." Rei menyela.
"Ya sudah. Makan sambil berdiri memang tidak enak, sih! Kalau begitu, bagaimana kalau kita duduk di dalam kantin saja?"
"Eh? Sebaiknya jangan!" Rei menolak. Lalu ia bergumam di dalam hatinya. "Kalau aku kembali ke kantin, nanti teman-teman pasti akan mengejekku."
"Baiklah. Bagaimana kalau di taman sana saja?"
"Baiklah."
****
Tap! Tap! Tap!
Saat ini, Adit sedang berjalan santai di lorong paling atas di lantai 4 di gedung 2. Tadinya ia ingin pergi ke Rooftop untuk melihat pemandangan dari atas sekalian ingin belajar juga. Karena di genggaman tangan kirinya, ia sedang memegang sebuah buku paket pelajaran matematika.
"Si Rei itu! Haduh... bagaimana cara agar aku bisa mengalahkannya. Belajar sekuat yang aku bisa pun, aku tidak bakal dapat rangking pertama." Gerutu Adit sambil berjalan cepat menuju tujuannya.
"Oh, jadi kau kenal anak yang bernama Rei itu, ya?"
Adit terkejut. Lalu dengan cepat, ia langsung berbalik badan melihat seseorang yang telah berbicara padanya. "Si–siapa kau?!"
"Kau tidak kenal aku? Tapi aku ini kenal sama kamu, loh! Kau pasti anak yang bernama Adit Maulan itu, kan? Atau aku kebalik mengucapkan namamu? Haha...."
Ternyata orang yang telah berdiri di belakang Adit tadi itu adalah orang dewasa yang memakai jas hitam. Tampangnya tidak asing. Orangnya berbadan gemuk dan rambutnya agak tipis. Berkulit agak hitam dan berotot.
"Ba–bagaimana kau bisa tahu nama aku?" tanya Adit heran sekaligus ketakutan saat melihat tampang dari orang gemuk itu.
"Karena... aku lah yang telah mengawasi kalian semua. Apa kau tahu? Kau ingin mengalahkan Rei, kan?"
Adit tersentak. Lalu ia menjawab dengan cepat dan penuh semangat. "Iya! Aku ingin sekali! Bagaimana caranya?"
Orang berbadan gemuk itu menyeringai. "Aku tahu caranya. Kau hanya harus terus memperhatikan dirinya saja dan mencaritahu apa kelemahannya!"
"Ta–tapi kan... agak sulit. Aku dekat dengan Rei saja tidak berani, bagaimana aku bisa mengawasinya?"
"Tenang saja, ikut aku. Aku akan tunjukan caranya, hehe...."
"Oh, baiklah! Demi rangking satu, aku rela melakukan apa saja."
"Baiklah kalau begitu, ayo kita bekerja sama untuk menghancurkan anak itu."
"Wah! Ternyata tidak hanya aku saja yang benci pada Rei. Ternyata kau juga, ya?"
"Ya. Mulai sekarang, kita ini adalah partner. Sekarang kau boleh memanggilku Bob."
"Oh, baiklah!"
Hmm... mereka berdua bekerja sama untuk menghancurkan Rei? Apakah akan berhasil?
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8