Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Extra 2: Mata Anak Kecil


Author note: Cerita ini tentu tidak nyata. Walau ada sebagian adegan diambil dari kisah nyata. Kisah ini, hanya untuk menemani malam kalian saja, jadi....


Selamat membaca!!


****


Selamat malam semuanya!


Aku Dennis Efendy kembali lagi di cerita 11Pm. Siapa yang nunggu malam ini? Siapa yang sudah stand by untuk mendengarkannya? Dan siapa... yang berani membacanya malam ini juga?


Yosh! Sekarang tidak ada banyak waktu lagi. Kebetulan aku sudah mengantuk juga, hehe....


Sekarang kita dapat cerita lainnya dari temanku. Sebuah cerita yang... sedikit menyeramkan menurutku.


Jadi... langsung saja kita mulai. Simak ceritanya baik-baik... dan... biarkan seseorang di sampingmu mendengarnya juga, xixixi....


BRAK!


Akihiro: "Dennis, Dennis! Aku lihat di kamarmu ada cemilan, boleh aku minta satu, gak?"


E–eh kak Dian ngapain masuk sih? Jadi ganggu, kan?


Rei: "Tenang saja, Dennis. Biar aku yang urus dia."


O–oh oke Kak Rei! Hehe... maaf untuk gangguannya, ya?


Sekarang langsung mulai. Aku akan membacakan cerita seram ini dari beberapa kertas yang aku pegang ini.


"Mata Anak Kecil"


Apakah ada yang tahu kalau beberapa anak kecil itu kadang memiliki kemampuan untuk melihat makhluk tak kasat mata?


Mungkin ada beberapa anak kecil yang mungkin saja anak anda atau adik kecil kalian yang suka bicara sendiri, main sendiri, ketawa sendiri dan kadang menangis tanpa sebab. Itu dikarenakan mungkin saja anak kecil tersebut melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata orang dewasa.


Nah, di sini ada sebuah cerita pendek dari pengalaman seorang lelaki muda bernama Aldo. Dia... masih pelajar SMP yang katanya gemar bermain game. Bisa disebut juga anak gamers dan no life karena tidak pernah keluar rumah.


Dia kalau di rumah selalu menguruk diri di kamar untuk bermain game. Ia juga memiliki Chanel YouTube sendiri yang suka menyiarkan acara gamers. Bahkan subscribernya sudah banyak. Dia lumayan anak yang terkenal di media sosial untuk seorang nolep.


Namun pada suatu hari, ibunya meminta Aldo untuk keluar kamar sebentar. Ibunya meminta Aldo untuk merawat adiknya yang masih berumur 4 tahun. Sementara ibunya ingin pergi ke pasar.


"Ah, aku sibuk di kamar. Kenapa tidak ibu saja yang mengajak dia?" keluhan Aldo.


"Ibu tidak bisa. Kemungkinan akan lama. Di sana juga panas, takutnya adikmu ini tidak tahan dan malah merengek di kamar. Ibu jadi tidak tenang, deh." Jawab Ibunya menjelaskan. Setelah itu, beliau mengambil satu payung dari tempatnya lalu membuka pintu depan. "Sudah, ya? Kamu jangan pergi ke kamar dulu. Jagain adikmu dengan benar. Jangan ceroboh. Ingat itu!"


"Ah... baik, baik! Tapi jangan lama-lama, ya? Nanti aku ada siaran langsung jam 2."


"Iya, ibu tidak akan lama, kok! Sudah, ya? Ibu pergi. Assalamualaikum."


Setelah ibunya kembali menutup pintu, Aldo baru menjawabnya. "Kumsalam." Setelah itu ia berjalan mendekati adiknya yang sedang bermain dengan mainannya di dekat sofa.


Sementara Aldo duduk di atas sofa sambil menatapi adiknya yang sedang bermain sendiri. Lama kelamaan dia merasa bosan jika duduk dan bengong saja.


"Ah, lebih baik aku main game sekarang." Aldo beranjak dari Sofanya. "Aku tinggalin nih anak sebentar saja gak masalah, kan?" Ia pun berjalan menaiki beberapa anak tangga untuk menuju ke kamarnya. Hanya sebentar saja. Ia ingin ke kamar mau mengambil ponselnya.


Setelah itu, Aldo kembali menuruni tangga dan kembali ke sofa. Ia masih melihat adiknya tetap di tempat yang sama. Hanya saja sekarang adiknya itu sedang menerbangkan pesawat mainannya dengan tangan kanannya yang kecil.


"Hah, dia cuma main di sini saja, kan? Mungkin tidak apa-apa aku main game sebentar sambil ngawasin nih anak juga. Asal dia gak keluar rumah, tidak akan ada hal buruk yang terjadi, kan?"


Aldo mulai membuka ponselnya. Ia memutuskan untuk mabar dengan beberapa teman-temannya di game online tersebut.


Beberapa menit kemudian, saat Aldo sedang asik dengan ponselnya, tiba-tiba saja ada yang menyentuh kakinya. Ternyata itu adiknya sendiri.


Aldo tidak mau menghentikan permainannya sekarang. Karena ia tidak mau dianggap noob dan menjadi orang yang takut kalah dalam permainan. Tentu saja Aldo itu tidak noob. Dia sudah lama bermain game sampai jadi ahli. Namun sekarang ada masalah lain di luar game yang harus ia selesaikan terlebih dahulu.


Sambil kedua jempolnya masih digerakkan, Aldo pun menyahut adiknya yang terus memanggilnya. "Ada apa, sih? Mau ngapain kamu?"


"Cucu... mo cucu...."


"Haduh, pakai haus segala lagi di anak!" Ia menggerutu. Sekarang ia benar-benar mematikan gamenya. Ia menutup ponselnya, lalu beranjak dari sofa.


"Mo cucu...."


"Iya bawel. Ini dibikinin. Sekarang tunggu di sini saja."


Adiknya itu menurut. Ia kembali bermain dengan beberapa mainannya yang berantakan di atas lantai. Ia akan menunggu, sementara Aldo pergi ke dapur untuk membuatkan sebotol susu buat adiknya.


Tak lama setelah itu, Aldo pun kembali. Ia tidak perlu memasak air panasnya lagi karena di dapur telah ada termos dengan isi air panas. Jadi sekarang semuanya selesai dengan cepat.


Tapi tentu saja Aldo tidak boleh memberikan semua air panas ke dalam susu itu, dong! Dia juga tahu suhu untuk adiknya minum. Jadi ia hanya memberikan sedikit air panas untuk melarutkan bubuk susunya, lalu menambahkan air dingin sampai penuh. Setelah itu meneteskan air susu hangat tersebut ke tangannya untuk memeriksa suhunya.


"Ah, sepertinya segini saja sudah, lah!" Ia selesai dengan botol susu tersebut. Lalu keluar dari dapur dan kembali menghampiri adiknya di dekat sofa.


Tapi saat ia sampai di sana, Aldo tidak menemukan adiknya. Di sana hanya ada beberapa mainannya saja yang masih berantakan. Sementara adik kecilnya tidak ada di sana.


Aldo menghampiri sofa lalu menaruh botol susu adiknya di atas meja. Setelah itu, ia memanggil adiknya. Tapi tidak ada sahutan. Bahkan tidak ada tanda-tanda dari kehadiran adiknya.


Aldo kehilangannya. Ia akan mencari. Tapi sebelum itu, Aldo melihat ke arah beberapa mainan adiknya. Ada satu yang hilang. Sebuah pesawat kecil milik adiknya itu tidak ada. Apa mungkin dibawa oleh adiknya?


"Dila! Dila kamu di mana?!" Aldo berteriak memanggil adiknya.


Pertama ia kembali ke kamar adiknya. Karena tidak ada, ia kembali ke dapur. Karena siapa tahu saja adiknya itu mengikutinya saat ia sedang membuat susu. Tapi ternyata tidak ada juga.


"Aih, gini deh, kalau sudah hilang bakal nyusahin." Aldo mengeluh. Ia harus segera menemukannya. Takut adiknya itu kenapa-napa.


Tapi saat ia kembali ke dekat sofa, Aldo akhirnya menemukannya. Adiknya itu berada di belakang sofa. Dia sedang melihat keluar jendela. Tepat di luar, ada sebuah pohon mangga tanpa daun yang tertanam di samping halamannya.


Daunnya telah gugur sepenuhnya karena pohon tersebut telah mati. Namun tidak pernah ditebang.


Lalu tak lama kemudian, tangan kecilnya terangkat lalu menunjuk keluar jendela. "Di... di cana... ada yang anjat pohon."


"Eh?" Karena penasaran, Aldo juga itu melihat keluar jendela. Ia melirik ke arah pohon mangga tersebut. Tapi tidak ada siapapun di dekat pohon. Hanya ada daun-daun kering yang berserakan di halaman. Setelah itu, matanya melirik kembali ke adiknya. "I–ini anak kenapa, sih?"


"Yah! Ah! Ah! Dia jatuh! Dia atuh! Huweee...."


"Eh?" Aldo kembali terkejut. Pertama adiknya tertawa kegirangan, dan sekarang dia malah menangis tanpa sebab. Aldo jadi keheranan sendiri dengan sikap adiknya itu.


Ia pun memberikan botol susu pada adiknya agar dia diam. Tapi ternyata adiknya itu tidak mau minum susunya. Benar-benar merepotkan merawat anak kecil kalau menurut Aldo. Apalagi kalau anak itu sudah menangis. Sekarang ia harus menenangkan adik kecilnya yang menangis itu.


Aldo menggendongnya, lalu menepuk-nepuk pantatnya dengan lembut. Namun adiknya tetap tidak mau diam. Walau sudah dibawa keliling ruang tamu dan diperlihatkan mainannya, tetap tidak mau diam. Aldo jadi merasa kesulitan.


"Haduh... aku harus bagaimana? Dia nangis gara-gara kenapa, sih?" Ia juga mulai kebingungan untuk mencari cara agar adiknya diam. "Apa aku kasih lihat kartun seru saja padanya, ya?"


Aldo kembali duduk di sofa. Ia masih memangku adiknya. Setelah itu ia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia akan memberikan video lucu untuk adiknya.


Tapi sebelum itu, adiknya sempat berhenti menangis secara mendadak. Ia malah tertawa sendiri dengan mata yang masih berkaca-kaca. Lalu tak lama, tangannya menunjuk ke arah atas. Ke atap rumah.


"Dia terbang, hehe... dia bisa ebang!" Sekarang adiknya kembali ceria.


Aldo tidak mengerti apa yang dia katakan. Ada yang dilihat adiknya di atas dirinya. Aldo pikir ada cicak yang menempel di langit-langit ruangan. Tapi saat Aldo melihat ke atas, ia tidak melihat apapun kecuali lampu yang menggantung.


"Dila, kamu lihatin apa, sih? Eh! Eh?" Saat Aldo kembali melirik ke wajah adiknya, ia terkejut karena tiba-tiba saja wajah adiknya berubah menjadi menyeramkan.


Matanya yang kecil itu berubah menjadi hitam sepenuhnya. Dia jadi seperti hantu anak kecil bermata hitam. Sebuah cerita hantu dari negara Eropa.


Lalu dari pantulan cermin di mata adiknya itu, ia bisa melihat ada sosok hitam besar yang melayang di atasnya. Sosok besar seperti Gunderuwo hitam dengan mata merah menyala.


Aldo mulai merinding. Tidak hanya merinding. Karena ia sudah melihat sosok menyeramkan adiknya, ditambah dengan sosok besar di atasnya, Aldo jadi merasa ketakutan.


Secara perlahan, ia kembali mendongak ke atas untuk melihat sosok yang melayang itu. Tapi dengan cepat, tiba-tiba saja sebuah cakar dari si Gunderuwo hitam menyerang wajah Aldo sampai terluka.


Ia melepaskan adik kecilnya lalu menyentuh wajahnya yang mengeluarkan banyak darah. Sambil merintih dan berteriak kesakitan, adik kecilnya yang menyeramkan itu malah menertawainya dengan suara yang seram.


"Akh!"


Eh, ternyata kejadian tadi hanya mimpi buruknya saja. Aldo ketiduran di atas sofa saat sedang bermain game.


Ia melihat langit-langit ruang tamunya baik-baik saja dan tidak ada sosok hitam yang melayang. Kemudian setelah itu, ia menoleh ke sampingnya.


Setelah itu, Aldo menghembuskan napas lega karena adiknya masih aman di tempatnya. Dia masih anteng main sama mainannya.


Aldo pun bangun terduduk, lalu mengantungkan ponselnya. Setelah itu ia beranjak dari sofa dan berjalan menghampiri adiknya. Aldo menggendong adiknya, lalu membawanya menjauh dari mainannya.


"Kamu tidur saja di kamar, ya? Biar aman." Aldo ternyata ingin membawa adiknya ke kamar untuk menidurkannya. Karena saat adiknya tidur, dia bisa merasa aman tanpa harus mengawasi adiknya itu.


Tapi saat Aldo menggendong adiknya di pundak, dari belakang dapat terlihat wajah menyeramkan adiknya yang ia gendong dapat terlihat kembali. Mata hitam dan bibirnya itu tersenyum. Pandangannya menatap ke arah jendela.


Sementara di depan jendela, dapat terlihat ada seorang anak kecil yang sama tergeletak tidak bernyawa di bawah pohon mangga dengan berlumuran darah di kepalanya.


Eh? Sudah habis? Tidak ada lembaran kertas lainnya. Hmmm... Jadi kalau menurut kesimpulanku, saat si Aldo ini tertidur, mungkin saja adiknya ini iseng-iseng malah keluar dari rumah dan menghampiri pohon mangga di samping rumah. Dia ingin menghampiri sosok yang ia lihat di dekat pohon itu.


Tapi... karena sosok tersebut ada di atas pohon, adiknya ini memutuskan untuk memanjat pohon. Ternyata untuk seorang anak kecil, dia bisa memanjat pohon karena ada sesuatu yang telah membantunya.


Tapi saat di puncak pohon, Sesuatu yang tak terlihat itu menjatuhkan si adik kecil kembali ke tanah dan melukainya.


Jadi... jika kita punya anak atau adik yang kita sayang, harus dijaga baik-baik. Kalian tahu kan anak kecil itu masih memiliki otak dan tubuh yang sensitif. Mereka ingin sekali mengetahui banyak hal yang belum mereka ketahui.


Makanya semua benda yang ia lihat, anak kecil pasti ingin menyentuhnya, merasakannya, melakukannya, dan berbuat apapun terhadap benda yang ia lihat. Walau mala petaka yang akan mengancam nyawanya.


Apalagi kalau mata anak kecil itu bisa melihat makhluk yang tak terlihat. Karena untuk seusia anak dari berumur tiga sampai enam tahun, mereka memiliki kemampuan untuk melihat hantu agar terbiasa.


Dari kecil, mereka bisa mengetahui apa itu hantu. Tapi pada umumnya, hantu yang diperlihatkan itu tidaklah menyeramkan, melainkan menyenangkan. Makanya kebanyakan anak kecil suka bermain sendiri itu ia sedang bermain sama teman hantunya.


Namun jika sudah besar, kami tidak diperlihatkan wujud hantu-hantu tersebut. Yang bisa melihatnya hanya anak-anak yang memiliki kemampuan mata batin seperti itulah.


Haha... aku kurang tahu karena aku sendiri juga sudah mulai jarang melihat hantu. Ah, coba kalian tanya saja pada Yuni. Dia kan–


Yuni: "Jangan tanya aku. Aku tidak tahu apa-apa."


O–oh oke baiklah. Hehe... jadi aku saja yang bertanya pada kalian. Bagaimana cerita malam ini? Tulis di komentar!


Selamat malam Jumat! Hati-hati saja, ya? Mitos mal Jumat itu banyak, loh~ Hi hi hi....


Rei: "UWAAA!! Dian bodoh! Dian nakal! Jauhkan kecoak itu dariku!"


Akihiro: "Hehe... ayolah, Rei! Aku akan membuat fobiamu sembuh, kok! Sekalian mau balas dendam! Kamu sudah melarang aku memakan cemilan Dennis sih!"


Mizuki: "Haduh, mereka itu. Aku sekarang yang akan mengurus mereka berdua ya, Dennis!"


Ah, oke oke!


Baiklah semuanya, sudah dulu, ya? Aku akan kembali di hari Sabtu! Tentu saja malam Minggu, dong!


Sekarang aku pergi, ya? Kalian pasti tidak ingin mendengar amukan Mizuki. Oke, bye!


Sampai jumpa lagi!


*


*


*


Extra 2, end~