
Hay para reader kesayangan emak emak apa kabar ini, maaf akhir akhir ini jarang menyapa soalnya emak lagi full RL. Macem buk presiden aja ane. Emak di eps ini hanya menyapa ya bukan eps.
Emak mau ajak pada Reader ngintip karya sahabat emak nih, judulnya Penyesalan Zenaya.
Blurb:
Kehidupan Zenaya berubah menyenangkan saat Reagen, teman satu kelas yang disukainya sejak dulu, tiba-tiba meminta gadis itu untuk menjadi kekasihnya.
Dia pikir, Reagen adalah pria terbaik yang datang mengisi hidupnya. Namun, ternyata tidak demikian.
Bagi Reagen, perasaan Zenaya tak lebih dari seonggok sampah tak berarti. Dia dengan tega mempermainkan hati Zenaya dan menginjak-injak harga dirinya dalam sebuah pertaruhan konyol.
Luka yang diberikan Reagen membuat Zenaya berbalik membencinya. Trauma yang diberikan pria itu membuat Zenaya bersumpah untuk tak pernah lagi membuka hatinya pada seorang pria mana pun.
Lalu, apa jadinya bila Zenaya tiba-tiba dipertemukan kembali dengan Reagen setelah 10 tahun berpisah? Terlebih, sebuah peristiwa pahit membuat dirinya terpaksa harus menerima pinangan pria itu, demi menjaga nama baik keluarga.
Nih cover nya 😘
Contoh Bab:
Reagen dan Zenaya baru sampai di rumah pukul delapan malam. Pria itu mengajak sang istri untuk menikmati makan malam terlebih dahulu di restoran favoritnya.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Zenaya memilih duduk di sofa sembari menonton televisi. Sementara Reagen bergantian memasuki kamar mandi.
Satu jam kemudian pria itu ikut menyusul Zenaya menonton televisi sembari membawa laptopnya untuk melanjutkan pekerjaan.
Melihat sang suami masih saja berkutat dengan laptop, wajah Zenaya berubah masam. Wanita yang sedang bersandar itu melirik laptop yang berada di atas pangkuan Reagen. Pria itu benar-benar sedang mengerjakan pekerjaan kantornya.
"Tiga hari pergi keluar kota untuk bekerja, dan pulang masih saja mengutamakan pekerjaan dibanding aku!"
Zenaya tiba-tiba tersentak saat sebuah pemikiran konyol terlintas dalam benaknya barusan. Wanita itu menggelengkan-gelengkan kepalanya lalu bangkit dari sofa.
"Mau ke mana?" tanya Reagen begitu melihat sang istri pergi.
"Akan kubuatkan teh hangat supaya kau bisa semakin konsentrasi bekerja!" sahut Zenaya ketus.
Mendengar jawaban istrinya, entah mengapa, Reagen merasa tengah disindir.
Pria itu tersenyum. "Baiklah, aku minta yang manis agar bisa fokus mengerjakan ini," ucap Reagen sembari menunjuk laptopnya.
Reagen sebenarnya bukan ingin mengabaikan Zenaya. Namun, ada beberapa berkas yang memang harus dia kirimkan pada koleganya secepat mungkin. Dengan begitu bebannya bisa benar-benar terlepas dan dapat menikmati waktu bersama sang istri.
Lima menit kemudian Zenaya kembali dari dapur sembari membawa dua cangkir teh hangat. Dia meletakkan cangkir satunya tepat di hadapan Reagen, sementara cangkir lainnya tetap dipegang.
"Terima kasih," ucap Reagen tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
Suasana di antara mereka hening seketika. Hanya ada suara televisi yang sama sekali tidak didengar Zenaya karena sibuk melirik pria di sebelahnya.
Entah mengapa, sejak mereka memutuskan untuk menjalani biduk rumah tangga secara normal, Zenaya menjadi lebih sering merindukan Reagen. Namun untuk mengatakan hal tersebut, wanita itu tentu tidak mau.
"Jadi begini rasanya diabaikan?" ucap Zenaya dalam hati. Baru sekali diabaikan saja Zenaya sudah merasa galau, bagaimana dengan Reagen yang selama ini selalu dia abaikan?
Perasaan bersalah menghantui hati Zenaya seketika. Tak ingin berlarut-larut, wanita itu pun memutuskan untuk pergi meninggalkan sang suami dan tidur.
Namun, baru saja dia berdiri dari sofa, Reagen tiba-tiba berkata, "tehnya kurang manis!" Sembari menyesap minuman tersebut.
Zenaya mengenyit heran. Pasalnya dia sudah memasukkan dua setengah sendok teh gula ke dalam teh itu.
"Kalau tidak percaya, coba saja." Pria itu mempersilakan sang istri untuk ikut mencicipi teh miliknya.
Zenaya yang penasaran kembali duduk di sofa. Dia mengambil teh milik Reagen dan meminumnya sedikit. "Manis," ungkap wanita itu kemudian.
"Tidak manis. Coba lagi," titah Reagen.
Meski heran akan sikap sang suami, Zenaya tetap menuruti perintah pria itu.
"Jangan mengada-ada, teh ini sangat manis!" seru Zenaya kesal.
Reagen mengerutkan keningnya. "Baiklah, coba kucicipi sekali lagi." Pria itu menutup laptop dan meletakkannya di meja, lalu beringsut mendekati Zenaya.
Zenaya memberikan cangkir tersebut.
Reagen menerima cangkir dari tangan Zenaya. Namun, bukannya diminum, pria itu malah meletakkannya tepat di sebelah laptop.
Pria itu ternyata tak berniat menyicipi teh itu dari cangkir, melainkan dari b*bir istrinya.
Zenaya terkesiap.
"Kau benar, tehnya manis," ucap Reagen sembari memasang wajah sumringah setelah melepas p*gutannya.
Wajah Zenaya merah padam. Dia sontak tertunduk untuk menyembunyikan ekspresinya.
Reagen tersenyum simpul. Matanya kemudian menatap lurus-lurus Zenaya tanpa suara. Dengan gerakan perlahan Reagen mengangkat dagu sang istri, hingga membuat wanita itu membalas tatapannya.
"Terima kasih untuk teh manisnya, dan terima kasih untuk usahamu membuka hati padaku.".
.
.
Bagi yang berminat mampir di karya keren kakak satu ini, emak titip salam manis ya buat kakak 😘.