Terjerat Cinta Berondong Kaya

Terjerat Cinta Berondong Kaya
Perjuangan untuk pulang.


Hay para Reader


Di manapun kalian berada semoga sehat selalu🤗


Selamat datang di TCBK.


Happy reading🥰


.....


...


..


.


“Aduh Rine, tolong aku!” rintih Hendry kesakitan, keringat sebesar biji Jagung bercucuran dari keningnya.


Sialan. Jika Pria ini bangkrut, aku harus mencari pacar baru. Aku gak bisa hidup susah. Batin Margarine membebaskan kaki Hendry.


Kaki Hendry yang pincang akibat keseleo serta baju mereka penuh akan tanah akibat tanah di perkantoran itu masih gembur karena bangunan baru di bongkar.


“Pak... Pak...,” Hendry melambaikan tangannya persis joki 3 in 1 di tanah Abang.


Klinting.... Bunyi Uang receh jatuh ke depan Hendry, semua pengendara mengira mereka adalah pengemis.


“Sialan, Kalian tidak melihat wajah cantikku ini Han, aku ini Model papan atas yang kalian angung-agungkan kemarin,” teriak Margarine di pinggir jalan


Liman menit kemudian.


Bibir Margarine merekah membentuk bulan sabit ketika sebuah mobil berhenti di depannya.


Ternyata pesona ku tidak luntur meski saat aku berada di jalanan. Batin Marganie kegirangan.


“Hey Nona! Jika mau mengemis jangan disini, di lampu merah sana, dan ingat saran ku duduklah di trotoar sana. Jika menghalangi pengendara seperti ini kamu yang terganggu apalagi hingga membuat sebuah kendaraan tak sengaja menabrak mu bisa-bisa kami terkena denda kerugian yang amat besar, kau tidak tau saat ini BBM naik harga minyak selangit, saya ini orang menengah jangan macem-macem deh, minggir!” ujar si pria bermata cekung badan besar seperti sumo, sehingga membuat nyali Marganie menciut.


“Maafkan kami tuan!” Ken menundukkan kepalanya lalu menyeret Marganie ke tepian dari pada mereka kenak amukan dari warga yang tengah galau akibat mahalnya harga Minyak serta BBM.


.....


Sudah satu jam mereka mencari tumpangan. Mau berjalan kaki, saat ini kaki Hendry bengkak mirip gedebong pisang (Pohon pisang) serta keadaan si Margarine lagi mengandung.


Hingga sebuah mobil pick up yang membawa sepuluh Ekor kambing melintas di depan mereka, mobil itu berhenti di depan pasangan yang tengah frustrasi.


“Butuh tumpang pak buk?” tanya pria kurus nan kerdil.


“Ia pak, bisakah kalian mengantarkan kami kejalan Kunti?” tanya Hendry, sudah memiliki pilihan.


“Aku tidak mau naik mobil rong,!'' ucapan Margarine langsung terputus karena di bekap oleh tunangannya.


“kau di depan sayang, biar aku mengalah duduk dengan kambing-kambing itu. Mohon bantu kami tuan, kami perlu tumpangan,” pinta Hendry lemah.


“Baiklah, tapi aku mau mengantarkan kambing-kambing ini ke pasar dulu.”


“Tidak apa-apa tuan!” sanggup Hendry.


Akhirnya pasangan itu menaiki mobil sedangankan si Marganie duduk di samping pengemudi.


Mobil pick up itu Melaju meninggalkan tempat itu...


Sialan berapa tahun orang ini tidak mandi? bau keteknya sangat sumbriwing aku mual banget. Dalam hati Margarine.


Bagiamana tidak bau kambing, bahan bakar melebur menjadi satu dengan bau ketiak yang sumbriwing hingga tak sanggup terlalu lama orang menghirup udara di dalam mobil yang membuat kepala si Marganie pusing.


Sedangkan di belakang, Hendry tengah memeluk kambing meratapi nasib, matanya tak lepas dari lahan lapang tempatnya mengais rejeki. Semakin lama lahan itu semakin jauh dari pandangan.


...Bing... Kenapa nasib ku bengini amett. ujar si Hendry....


...(Embbekkk....) jawab si kambing...


...Apa selama ini aku salah? Atau malah Aya MA yang terlalu kejam terhadap ku....


...Jika aku jadi dia aku akan membalasakan semua orang yang menyakitu Bing....


...lagi lagi si kambing menjawab (Embbekkk....)...


“Kau itu sungguh keterlaluan Bing, aku curhat kau hanya mengenbek saja.” ujar si Hendry sudah mulai tak waras.


Gerabak ... gerabak .... guncangan di atas mobil karena saat ini mobil itu melewati jalan rusak dan bebatuan, sehingga membuat Marganie muntah-muntah hingga hampir pingsan, sedangkan si Hendry tak jauh mengenaskan karena guncangan tubuhnya terjukal tepat pada saat si kambing kencing.


....


....


....


Setelah satu jam lamanya pasangan itu bertamasya dengan tak lazim, akhirnya pasangan itu sampai di depan rumah dengan selamat meski keadaan sama-sama lemas.


Karma mereka tak di situ saja karena sampai di rumah rumah mereka di kelilingi garis polisi karena rumah mereka suka rusak akibat masa menghancurkan semuanya, bahkan kaca rumah mereka sudah tidak ada, dalam satu Minggu rumah mereka seperti rumah kosong setahun yang lalu terguncang gempa.


Pasangan itu syok melihat keadaan rumah mereka.


Plak... Seseorang memukul punggung Hendry dari belakang.


“Astaga! Siapa yang macem-macem,” ucapan Hendry langusung terputus ketika melihat badan kekar serta bodyguard kesayangan tuan Gil berdiri di belakang mereka.


“Uueeeekkk, kalian ini bau, mintak sekarang! Aku beri waktu lima belas menit, jangan coba-coba kabur karena lima puluh anak buah kami sudah mengepung rumah kalian.”


Yang tadi lemas seperti terong rebus, saat ini pasangan itu seperti atlet lari meninggalkan tempat itu. Mereka tau si gempal itu tak pernah main-main.


....


Lima belas menit kemudian, pasangan itu sudah ada di ruang tamu.


“Bos ingin bicara!” ujar si anak buah tuan Gil.


Tangan Hendry menerima ponsel dari anak buah tuan Gil dengan tangan gemetar, “Halo tuan?” tanya Hendry gugup.


“Hem, kau sudah bertemu dengan Gempal, Hendry!” ujar tuan Gil.


“Bisakah anda memberitahu kenapa A.P.E.S Entertainment di gusur?” tanya Hendry dengan keadaan jantungnya hampir copot.


“Kau selama tiga bulan ini ada melakukan kerja sama dengan sebuah perusahaan tidak?” tanya si tuan Gil dengan nada dingin hingga menusuk.


“Be ... Benar, tiga bulan yang lalu kita melakukan kerja sama dengan Bodong Grup dimana perusahaan itu di pimpin taun Borax,” Jelas Hendry.


“Dasar Bodoh, perusahaan itu menyinggung WU internasional dan uang yang di keluarkan oleh pihak mereka semu orang palsu. Kita di curigai bersekongkol maka dari itu pihak WU internasional meratakan perusahaan.”


“Aku tak mau tau, kau harus Menganti rugi karena disini yang ceroboh, sehingga semua yang kau miliki telah disita termasuk rumah yang saat ini kau tempati.” ujar tuan Gil, melimpahkan kesalahannya kepada Hendry.


“Tuan, Tuan... Tuan ...,” Hendy memanggil tuan Gil karena sambungan telepon itu di matikan sepihak.


Wajah Hendry mengeras, tangannya terkepal, ia menghubungi tuan Borax untuk meminta penjelasan tetapi hanya operator menjawab jika nomer itu tak bisa ia hubungi.


Wajah keduanya langsung lemas apalagi Marganie saat ini sudah mulai putus asa karena agensi tempatnya bernaung sudah tak ada lagi.


Tiuttt .. Tiuttt... Bunyi sirene mobil polisi. Hendry mau kabur tak bisa karena anak buah tuan Gil juga menjaganya. Mereka seakan berada di tengah bukit yang terjal.


“Selamat sore Tuan dan Nona, kami dari kantor polisi untuk menjemput anda tuan Hendry, sedangkan tuan nona Marganie kami ingin kesaksian anda.” ujar salah satu polisi.


Tak lama pasangan itu di giring keluar dari rumah untuk menaiki mobil polisi itu. Sebuah papan tertuliskan RUMAH INI TENGAH DI SITA sudah siap di pasang di depan pagar.


“Tunggu! Kalian tak bisa menyita rumah ku tuan!” ujar seorang wanita.


^^^~To be continued.^^^


Terimakasih atas dukungan like dan komentar nya, yuk olahraga jarinya biar emak makin semangat liat komen makin banyak setiap eps nya,


Vote, kopi dan bunganya lemparin dong buat Aya ma dan bang Ken ku yang keren 😘😂🤣