Terjerat Cinta Berondong Kaya

Terjerat Cinta Berondong Kaya
Studio Foto milik Ken


“Aku yang akan menjelaskan tentang apa yang berkaitan dengan diriku dan dirimu. Sayang aku mohon setelah kau harus janji kepadaku jika kau tak akan meninggalkan ku meski kau marah serta kecewa kepadaku,” kata Ken menegakkan posisi duduknya.


Aya semakin penasaran dengan cerita yang akan di jelaskan oleh suaminya itu.


“Asal kesalahan mu tidak membuatku cacat serta membunuh keluarga ku maka aku tidak akan meninggalkan mu, kita lihat saja seberapa fatal kesalahan mu, aku akan memberikan hukuman yang setimpal yang membuatmu tak akan berbuat kesalahan lagi.”


Ken mengelus dadanya, baginya di hukum istri tidaklah masalah akan tetapi di tinggal istri adalah petaka serta mimpi buruk bagi pria itu, bagaimanapun Aya adalah hidupnya, awalnya ia begitu menyukai memandang wajah cantik wanita itu, kejadian tiga belas tahun silam membuatnya berjanji bahwa Aya adalah hidupnya serta istrinya di masa depan bahkan pria itu belum mengerti apa itu mencintai.


“Sebelum cerita di mulai, aku ingin mengajak mu ke suatu tempat!” ajak Ken.


“Ayok!” kata Aya, akan tetapi wanita itu tidak bangun dari duduknya.


Sepertinya aku harus punya stok sabar nih karena Istriku sangat menguji iman si Jeck, jika bukan masalah genting aku bawak wanita ini ke kamar saja.


Ken mengangkat tubuh Aya MA spontan, “Rupanya istriku ini ingin aku gendong ya!” kata pria itu dengan wajah sedikit menyunggingkan senyumannya yang langka.


“Mumpung kau masih muda dan masih kuat mengangkat tubuh ku ini, siapa tau di masa depan tubuh ku ini berubah menjadi sebesar gerobak sayur serta tubuh atletis mu berubah menjadi orang bunting sembilan bulan,” wanita itu mengalungkan tangannya di leher sang suami, meski didalam lift pun wanita itu enggan untuk turun.


Ceting... Pintu lift terbuka.


Sebuah pintu kamar otomatis terbuka sendiri, ketika si pemilik berdiri di pintu itu.


“Sayang ini kan kamarmu! Turunkan aku,” kata Aya ketika melihat kamar yang luas, wanita itu berdiri memandang detail kamar itu. Ia memang belum pernah menginap di Vila keluar WU ini, akan tetapi tadi ketika membersihkan diri ia di antara ke kamar yang begitu mewah serta ada foto nya dan foto Ken pada saat bulan madu di dekat danau shanghai beberapa bulan lalu, foto itu memang sengaja mereka cetak untuk menghiasi kamar mereka. Maka dari itu Ken mencetak foto yang sama untuk mereka tempelkan di tiga rumah mereka, berharap jika pasangan itu tidak ada dirumah foto itu lah yang menjadi penunggu kamar itu 🤣.



“Sabar sayang! Bukan tempat ini yang ingin ku tunjukkan,” kata Ken menarik tangan istrinya.


Ceklek... sebuah rak buku membelah menjadi dua, sehingga terlihat lah sebuah ruangan sempit seperti ruangan itu adalah tangga.


“Selamat datang di rumah boy!” kata seorang wanita, Aya yang mendengar suara wanita itu menoleh ke ke kanan dan ke kiri.


“Hem, bagaimana keamanan rumah Sera?” tanya Ken.


“Aman, silahkan nikmati waktumu Boy, udara di dalam sudah ku atur dan jadwal mu sudah ku susun rapi di meja kerja mu!” kata wanita itu.


“Aya sayang, ayo kita ke atas!” kata Ken.


“Kau harus menjelaskan kepadaku sayang, wanita mana yang ku simpan di ruangan pribadi mu ini?” tanya Aya.


“Oh sory, dia bukan wanita melainkan Asisten Virtual ku, yang menata seluruh kegiatan ku, ia bekerja dua puluh empat jam, Keluar ku semua memiliki sistem robot sendiri dan berbeda, sehingga kami tak membutuhkan asisten manusia. Sean ataupun paman Toni akan mengerjakan apa yang sistem mereka miliki masing-masing,” terang Ken menunjuk guci berbentuk seperti botol jin Aladin,.


“Sera adalah asisten milikku sendiri serta pusat Sera ada di guci ini, aku bisa berkomunikasi dengannya dengan cara menempelkan sidik jari ku ke jam atau laptop ku yang sudah tersambung dengan benda ini!” Ken menerangkan kegunaan benda itu pada sang Istri, Benda itu hasil ciptaannya pada saat usianya sepuluh tahun.


Mulut wanita itu hanya mampu membulat, meski dia adalah salah satu peretas yang namanya di takuti, ia belum begitu takjub dengan ciptaan manusia didepan, sebab wanita itu bukan pencipta hal-hal seperti itu. Jika wanita itu tau bahwa suaminya lah yang menciptakan benda itu pada saat usianya sepuluh tahun mungkin wanita itu akan pengsan.


“Ako kita naik!” ajak Ken pada istrinya.


Pasangan itu menaiki tangga satu persatu hingga sampailah di ruangan atas yang gelap tertutup seperti ruangan bawah tanah.


Prok.. Ken menepuk tangannya seketika, lampu menyala, dan gorden di kamar itu terbuka, jendela pun terbuka serta pintu besar pembatas balkon juga ikut terbuka, sehingga pemandangan danau serta balkon kamar yang memiliki sebuah kolam renang serta taman indah mencuci mata Aya. Tempat itu seperti rumah kecil di dalam Vila mewah.


“Selamat datang di rumah pria Penyendiri sayang!” bisik Ken memeluk tubuh istrinya dari belakang.


Bangunan itu berada di sisi barat vila tepat nya di ruangan paling atas vila mewah yang bentuknya seperti kastil.


Keluarga WU memiliki begitu banyak Mansion serta rumah akan tetapi semua keluarga inti tinggal di Vila ini, di rumah rumah mereka yang lain di huni oleh pembantu yang mengabdi pada keluarga WU termasuk Mansion tua WU serta Mansion sang Deddy yang sempat mereka inapi dulu. Rumah itu juga di huni semua orang yang tengah mengabdi kepada keluarga itu, dulu Ken lebih suka tinggal di Mansion sang Deddy sebab jarak rumah Aya dan Mansion amatlah dekat.


“Ken, apa maksudnya?” tanya Aya gugup, kaki sedikit gemetar ketika menyentuh lembaran foto di depan matanya, bahkan foto sedang berkencan dengan Hendry juga ada di depan mata wanita itu, ia semua foto itu adalah foto Aya, dan tempat itu adalah tempat pencatatan foto alami dan ruangan itu sudah di atur akan semua foto di dalamnya awet dan terjaga hingga bertahun-tahun.


“Foto ini di ambil selama empat tahun silam.” kata Ken melihat foto yang masih dari atas hingga ke bawah, sebab ada tanggal hari dan bulan lengkap dengan tahunnya.


“Meraka adalah teman hidupku ketika kau tak ada di sisiku!" bisik Ken di telinga istrinya.


“Kau menguntit ku?” tanya Aya memandang wajah suaminya yang bersandar di bahunya, tangan pria itu tak lepas memeluk perut ratanya.


“Paman Toni lah yang memberikan gambar ini kepadaku!” kata Ken jujur.


“Kenapa harus menguntit Ken, kenapa kau tak menemui ku?” tanya Aya bingung.


“Sayang ingatkan dirimu kepada bocah yang kau berikan permen di sebuah jembatan tempat dimana kita berjumpa lagi?”Ken mengalihkan pertanyaan istrinya ke sebuah lemari kaca, pria itu ngambil sebuah kotak di depannya, lalu membuka tutupnya hingga sebuah gambar serta sebuah permen asam yang isinya sudah kadaluarsa tertata rapi.


Aya melihat foto bocah kecil dan seorang gadis berusia dua belas tahun bicara di jembatan keramat itu, Aya tau gadis itu adalah dirinya.


“Semua orang dulu menganggap ku aneh karena aku suka menyendiri tak mau berteman karena aku tidak mau dekat dengan semua orang yang baik di bungkus tapi hatinya tidak menyukai dengan tulus. Hari itu aku frustasi kenapa aku berbeda dengan semua orang normal. Aku bisa membaca pikiran orang sehingga aku cenderung suka sendiri. Karena bagiku orang-orang yang benar benar tulus berteman dengan ku hanyalah saudara ku serta keluarga ku.”


“Sayangnya aku tak ingat kejadian itu, karena begitu banyak anak kecil yang sering aku berikan permen. Akan tetapi waktu kita di culik aku tak pernah melupakanmu, wajahmu yang memang tampan dari kecil masih terkenang di pikiran ku!” kata Aya jujur, sebab daya ingatnya dulu begitu lemah.


“Aku berdiri di tempat itu untuk menangkan hati serta tempat itu adalah tempat ibuku dulu jatuh ke dalam sungai di jembatan itu akan tetapi beliau masih hidup. Tempat ini memiliki ketenangan sendiri untuk menghibur segala kepenatan hidupku, melihat plang misterius yang begitu konyol, jika orang yang membangun plang itu bagaimana caranya meletakkan plang itu hingga ke dasar jurang yang curam.” Ken bercerita sambil memandang foto yang sangat berarti dalam hidupnya.


Aya begitu kaget mendengar ibu mertuanya selamat dari maut ketika jatuh ke jurang itu, “Dapet duit 100 juta dong Mommy, Karana tak mati ketika jatuh dari tempat itu?” kata Aya.


“Gak dapet sayang, karena penunggu jembatan tak pernah muncul di peradaban, siapa yang kita tagih coba, orang yang buat peraturan itu adalah para penunggang jembatan.” kata Ken.


“Oh ia ya, mungkin penunggunya sudah mati yang ke dua kali Ken!” kata Aya membenarkan ucapan suaminya.


“Bentar dulu, jika kau putra sang ratu mafia dan tuan muda pertama kenapa kamu bisa di tangkap penjahat itu?” tanya Aya bingung, ini adalah pertanyaan yang paling Aya ingin ketahui sedari dulu.


“Sebenarnya!” Ken menarik nafas.


Ada yang nungguin kagak nih🤣🤣🤣🤣.


^^^~To be continued.^^^


Terimakasih atas dukungan like dan komentar nya, yuk olahraga jarinya biar emak makin semangat liat komen makin banyak setiap eps nya,


Vote, kopi dan bunganya lemparin dong buat Aya ma dan bang Ken ku yang keren 😘😂🤣.


Sambil menunggu dedek Ken up, yuk mampir di karya kawan emak nih.



Ketiganya memiliki nasib yang sama.tidak tau asal usulnya, tak tau dimana keluarga berada. apa mereka anak haram yang tak di inginkan?


Mereka gadis yang memiliki inisial yang sama TRIPLE'K, mereka bertemu saat kecil, sampai sekarang ketiganya menjadi sepasang sahabat yang tak bisa di pisahkan.


Hanya tinggal di sebuah kontrak petak kecil? Mereka tidak pernah mengeluh. Mereka menjalaninya dengan suka cita. ketiganya banting tulang bekerja sana sini untuk melanjutkannya pendidikan ke universitas yang mereka inginkan.


Tetapi di suatu kejadian, mereka bertemu dengan Pria kaya yang angkuh dengan kepribadian yang berbeda beda. mereka terikat dalam suatu perjanjian.


Bagaimana nasib mereka kedepannya?


Apa TRIPLE'K bisa bersabar dengan kepribadian menyebalkan mereka yang membuatnya naik darah?