Terjerat Cinta Berondong Kaya

Terjerat Cinta Berondong Kaya
Kematian Hendry & Marganie


Hay para Reader


Di manapun kalian berada semoga sehat selalu🤗


Selamat datang di TCBK.


Happy reading🥰


.....


...


..


.


“Sayang kau kenapa?” Ken menyentuh tubuh kaku istrinya. Wanita itu kaku Seperti terkena sawan alias step mendadak. Sehingga membuat suami Aya khawatirkan hingga tingkat Negara.


Aya menghela nafas sesaat. Ia berusaha menormalkan tekanan darah serta merefresh otaknya agar bekerja kembali untuk mencerna kejadian aneh yang saat ini ia alami.


Mohon di maklumi, tadi ia begitu syok atas mimpi serta kenyataan yang baru ia ketahui. Sehingga membuat semua bulu di tubuh wanita itu berdiri hingga tahap tak bisa di ukur.


“Sayang, apakah Hendry begitu berarti dalam hidup mu? Sehingga ketika mendapatkan kabar kematian pria itu, kau begitu sedih hingga seperti ini!” tak Ken dengan nada begitu rendah, pria itu begitu sedih dan kecewa sebab ia tak bisa menghapus nama si salmon dalam hati wanitanya.


Hah.... Aya menarik nafas panjang.


“Lihat aku!” Aya menarik wajah Ken lalu dua pasang mata itu saling bertatapan.


“Aku tidak mencintainya, aku hanya


kaget saja mendengar kedua orang itu meninggal bersamaan. Bukanya sedikit aneh ya suami, tiba-tiba mati begitu saja!” kata Aya.


Bener ya kata Aya, kenapa dua orang ini mati mendadak bersamaan. Bukan nya racun yang mommy berikan tak menimbulkan kematian dadakan, berbeda jika Mommy menyuntikkan injeksi yang terlahir, maka mereka pasti tewas bersamaan. Batin Ken.


Ken mengirim pesan kepada sang Mommy menanyakan apakah semua itu ulah sang ibu akan tetapi sang ibu juga baru tahu kematian dua orang tersebut.


Pria itu memasang earphone di telinganya. Wajah pria itu tenang datar setenang air danau.


“Hem!” jawab Ken. Entah apa yang pria itu dengar sebab tidak ada ekspresi bahkan cenayang pun tak bisa menebak apa yang ada di otak suami Aya MA itu.


“Katakan!” hanya itu yang Ken ucapkan.


Pria itu mengambil ponselnya, menekan angka dan sebuah suara komputer terdengar dari dalam ponsel benda pilih itu. Tepatnya suara tersebut seperti suara google.


“Dari segala informasi yang saya dapatkan. Hendry Salamone tewas akibat terjatuh di kamar mandi tahanan Sepuluh jam lalu. Karena tubuh pria itu terlambat di temukan maka nyawanya tak bisa di selamat kan akibat pembekuan di dalam otak.”


“Sedangkan Marganie demita tewas akibat tertabrak sebuah mobil.”


“Menurut cerita setempat, Malam itu Marganie berteriak mengeluh jika perutnya kram serta begitu sakit. Serta keluarnya darah yang mengalir dari paha wanita itu membuat pihak rutan mempercayai kesakitan yang di derita wanita hamil tersebut. Dengan sigap pihak sipir membuat surat ijin untuk membawa Marganie ke rumah sakit setempat, akan tetapi di sebuah jalan tiba-tiba mobil yang membawa Marganie mengalami ban bocor.”


“Entah kekuatan dari mana Marganie kabur dari mobil polisi. Sehingga terjadilah kejar kejaran antara tahanan dan polisi, hingga di sebuah pengkolan ada sebuah truk dari berlawanan arah melaju tanpa di duga. Akhirnya sebuah kejadian naas tak bisa terelakkan.Tubuh Marganie tertabrak mobil tersebut hingga terjadilah tabrakan yang menewaskan Marganie.”


“Sekian laporan dari ku Boy, sumber informasi ini aku dapatkan dari CCTV di berbagai tempat dan anak buah yang mengintrogasi pihak Rutan.”


....


Membunuh orang seperti meniup debu itu sudah hal biasa. Bahkan melenyapkan jejak di jaman ini begitu mudah, seperti kedipan mata maka jejak kejahatan tak lagi terdeteksi. Ken menghela nafas. Kejadian ini begitu tiba-tiba sebab dua orang itu kunci untuk melindungi sang istri.


Bahkan ada niat sehabis mengantarkan Aya pulang, Ken ingin mengintrogasi dua orang itu agar memberitahu petunjuk untuk menyusun rancana perlindungan atas keselamatan Aya nya.


“Sayang, mari kita bersiap untuk menghadiri acara pemakaman dua orang itu. Meski bagaimana pun kau pernah mengenal mereka, agar di kehidupan selanjutnya dua orang itu terlahir menjadi lebih baik.”


“Baiklah...,” jawab Aya.


.....


.....


Hari telah menjelang Sore, suhu udara terasa dingin karena langit begitu mendung, seakan hujan sebentar lagi menerpa bumi Pertiwi di musim kemarau itu.


Baju hitam membalut tubuh Pasutri itu. Kaca mata hitam terpasang apik, serta dua buah buket di tangan Aya menandakan wanita itu siap berziarah.


Dua telapak tangan saling bertautan untuk memberikan kehangatan untuk satu sama lain. Dari dalam mobil Aya bisa melihat dua orang wanita yang sangat ia di kenali. Dua orang itu adalah kakak Hendry dan adik perempuan Hendry.


Kesedihan begitu tersirat dari dua orang yang tegah berduka atas kepergian Hendry. Sedangkan gundukan tanah di sebelah pria itu sangat sepi bahkan tak satu pun orang datang meski sekedar memberikan sebuket bunga untuk wanita ketiga dalam hubungan Hendry dengan Aya.


Bisa di lihat oleh pasangan itu kakak Hendry seperti orang gila memaki kuburan Marganie hingga menendang batu nisan yang terbuat dari batu marmer. Setelah itu terdengar jeritan kesakitan dari kakak perempuan Hendry yang tengah meringkuk di tanah sambil memegang kakinya yang sakit itu, kalian bisa bayangkan kaki kosong menendang batu marmer (Sakit dan nyut-nyutan).


Tak lama kemudian kakak Hendry di papah oleh gadis kecil bertubuh kurus meninggal LP Kusus tahanan yang tewas dalam masa tahanan.


~15 Menit kemudian


“Mari, sayang!” Ken mengulurkan tangannya dari luar.


Aya menerima uluran tangan itu sehingga pasturi tersebut berjalan beriringan memasuki pemakaman tersebut.


Aya memandang batu nisa yang terbuat dari marmer itu dengan tatapan sulit di artikan. Ia memberikan buket bunga satu persatu di atas dua pusaran tanah tersebut.


“Pergilah dengan tenang Hendry, aku memaafkan segala kesalahanmu. Aku anggap semua kebaikan mu meski pura-pura sudah menebus rasa sakit yang aku rasakan selama ini. Aku akan bahagia seperti apa yang kau minta. Aku mohon jangan deh sapa aku seperti tadi, membuat ku merinding saja.” kata pelan.


~Ken berkata dalam Hati.


Hendry, bisakah aku menonjok mu saat ini juga? Kau pasti tau bukan waktu itu semakin dekat. Delapan bulan lagi usia Aya genap 26 tahun. Dimana mereka akan menjemput Aya ku membedah tubuh istriku, mengambil nyawa istriku begitu saja hanya untuk eksperimen.


Aku tau. Sebenarnya kau tau. Bahkan kau terlibat bukan dengan mereka yang menginginkan seluruh organ dalam tubuh istriku. Kenapa takdir ini begitu rumit?


Baru tadi aku memilik niat mengintrogasi mu hingga mengaku tapi kau malah memilih pergi dengan instan seperti ini.


Sejenak Ken mengingat pembicaraannya dengan kakek Aya MA. Mengenai asal usul spesial istrinya sehingga sang kakek begitu kerasa demi melindungi wanita itu.


~To be continued.


Terimakasih atas dukungan like dan komentar nya, yuk olahraga jarinya biar emak makin semangat liat komen makin banyak setiap eps nya,


Vote, kopi dan bunganya lemparin dong buat Aya ma dan bang Ken ku yang keren 😘😂🤣