Terjerat Cinta Berondong Kaya

Terjerat Cinta Berondong Kaya
Siaga Empat


Hay para Reader


Di manapun kalian berada semoga sehat selalu🤗


Selamat datang di TCBK.


Happy reading🥰


......


.....


...


..


.


“Oh, sayang sebentar lagi aku sampai...,” Racau Taksa yang saat ini tengah menggagahi tubuh istrinya..


Tiut ... Tiut... Tiut... Tiut .... Alarm Siaga empat menggema di penjuru Vila sang ratu Mafia.


MOMMY, AKU MOHON DATANGLAH, SELAMATKAN ANAKKU!!


Gubrak.. Deddy Taksa langsung jatuh dari atas tubuh istrinya. Karena Dorongan kuat dari bawah. Bahkan si Jery yang berada dalam situasi On langusung pingsan seketika.


Suami istri itu kaget mendengar suara putra mereka, Cepat-cepat Mengambil pakaian untuk pergi ke tempat putranya.


Jedag... Jedug... Jedarrrr... Begitulah suara detak jantung Qiana karena mendengar jika cucunya dalam bahaya...


Ketika keluar dari dalam life pasangan itu tengah melihat keluaga nya sudah berkumpul dengan peralatan Tempur yang lengkap, mereka kira ada penyusup yang mengancam cucu pertama mereka. Serta Ada pula yang sudah menyiapkan alat medis canggih mereka...


“Kalian tanpa ku panggil sudah siap siaga!” ujar Qiana memandang para ipar dan seluruh anggota keluarga nya bahkan Kakek WU yang saat ini sudah sedikit bungkuk dan pelupa juga bersiap siap melihat ke adaan Cicitnya.


“Kakek mau kemana?” tanya Taksa.


“Aku mau lihat Kumpik Ku (anaknya Cucu)” ujar si kakek dengan semangat.


“Tidak kakek dirumah saja, biar kami yang menanganinya dulu, nantik kakek tertabrak oleh kesibukan kami bisa bisa betis kering kakek itu pindah ke atas.” tukas Taksa.


Tumben pikunnya si kakek tak kumat, jika dia ikut pas di pertengahan jalan mintak pulang karena lupa tujuan kita pergi kemana, bahaya, kerjaan kita berhambat. Batin Taksa.


“Dasar Cucu kutu kupret, sayang ku Anna, lihat suami mu ini mau mengajak ku kemana katanya, padahal kakeknya sudah tua,” adu si kakek.


Nah, kan! Baru aku puji dah kumat. Batin Taksa.


“Tidak kek, kita gak akan membawa kakek, sekarang kakek istirahat dulu ya.” ujar Qiana kepada pria tua kesayangan mereka.


Wanita itu mengambil tangan keriput sang kakek, lalu menuntunnya ke arah sofa.


Kakek hanya menjawab dengan anggukan kepala.


“Paman Desmond, bawalah kakek ke kamarnya, jangan izinkan keluar dari rumah jika hanya sendiri,” Qiana.


“Baik, Nyonya!” Akhirnya si kakek di Bawak ke dalam kamar.


.....


Di tempat Ken.


Ketika sudah sampai di kamar pria itu menggulung tubuh Telan jang istrinya dengan selimut lembut mereka.


“Diam lah, bala bantuan akan datang sebentar lagi. Jangan bergerak!” perintah Pria itu. Aya MA menurut saja, sebab perutnya masih terasa kaku.


Pria itu mengambil ponsel menghubungi ibunya...


Setelah satu menit berbicara, entah pembicaraan apa itu, Aya MA tidak tau. wanita 25 tahun itu merasakan sakit perut melilit tak menghiraukan apa yang di ucapkan suaminya serta apa yang di lakukan oleh suaminya.


Tiba-tiba, perut Aya MA terasa hangat, sebab Ken meletakkan sebotol air hangat di atas perut istri. Rasa hangat itu membuat Aya MA membuka matanya memandang suaminya yang tegah mengusap perutnya dengan berlinang air mata..


“Maafkan aku, aku selalu menyakiti mu. Jika aku tak cemburu buta mungkin kau tak akan seperti ini.”


“Sayang aku mohon jangan pernah tinggalkan aku lagi... Kau ingat tidak dulu kau meninggalkan ku dalam kesendirian!” ujar Ken sambil mencium tangan keriput istirnya.


“Aku hanya sakit perut Ken, bukan mau mati! Kau bicara apa aku tak mengerti?” tanya Aya MA yang melihat kesedihan yang mendalam di wajah suaminya.


“Luka di punggung mu kau dapat dari Sebuah tembakan kan?” tanya pria itu saat itu memeluk erat tubuh dingin istrinya.


“Bagiamana kau tau luka ini dari tembakan?” tanya Aya MA bingung, sehingga wanita itu mendongakkan kepalanya.


“Kau masing ingat pria kecil yang bersama mu waktu itu?” tanya Aya MA.


“Bagai...,” ucapan Aya MA langsung tertelan kembali ketika ia memiringkan masa lalu.


“Ia, Aku adalah pria kecil yang kau masukan ke jurang itu,” jawab Ken.


“Pria kecil yang buluk, gendut, aku kira pria kecil itu adalah seorang gembel yang di pungut untuk di jual ke luar negeri!” ceplos Aya MA.


“Sakit hatiku, masak pria ganteng ini di kira gembel! Teganya dirimu sayang!” Ken mengambek, air matanya langsung surut seketika.


Tetapi dalam hati Pria itu masih kepikiran dengan keadaan istrinya, agar sang istri tidak syok mengetahui saat ini dirinya dalam keadaan tida baik-baik saja, ia berusaha mengalihkan pembicaraan agar istrinya lupa dengan rasa sakit.


BRAK..... Pintu kamar di buka tiba-tiba, terlihat wajah khawatir sepuluh orang yang masuk ke kamar Putra Qiana itu mengagetkan pasangan yang ada di dalam kamar.


“Mom, Kau sudah datang?” Ken bangun dari acara rebahan nya, lalu turun dari tempat tidur untuk menyambut kedatangan sang ibu.


“Astaga, Ken!” Jerat Tante Rana lalu langsung memalingkan wajahnya ke lain arah, begitu pula yang lain.


Hanya pasangan suami istri memandang putranya amat menyeramkan, sedangankan Aya MA baru sadar jika suaminya tak menggunakan sehelai benang pun ingin menggali kuburannya sendiri tetapi demi kebaikan wanita 25 tahun itu loncat seperti pocong mendekati suaminya.


Bahkan Empek-empek kapal selamnya terlihat jelas di depan Deddy Taksa dan Mommy Qiana.


“Kalian kenapa?” tanya putra Qiana itu.


Plak... sebuah pukulan di bokong Ken langusung menyadarkan pria itu, Karena malu si gerandong sudah tak misterius lagi, Ken langusung memegang Ulekan nya dengan ke dua tangan, wajahnya memerah, ia berusaha melindungi asetnya agar tak terlihat lagi meski sudah telat.


Yang memikul pantat Ken adalah Aya MA, istri Pria muda itu.


“Maaf buk pak mertua, ada kesalahan teknis. silahkan kembali lagi, nantik kami bukakan pintu jika ingin memacari suami saya!” Aya MA menunjukkan kepalanya, tubuhnya tergulung selimut hanya terlihat wajahnya saja dan wajah Aya MA juga tak kalah malu.


Sialan, Pasti mereka mengira kami habis Kikuk kikuk. Batin Aya MA, wanita itu malu hingga ke tujuh turunan bahkan saat ini wajahnya panas seperti habis di setrika.


Setelah semua orang mundur, Aya MA langusung buru-buru menutup pintu kamar mereka.


BRAK....


“Sialan menantu lucnut, Jika aku tak punya kegesitan, habis Kita kenak dorongan pintu.” omel Qiana.


“Sudahlah sayang, menantu kita syok karena tertangkap basah,” ujar Taksa mengelus pinggang istirnya.


....


“Suami kenapa kau tak bilang mertua mau datang!” Ujar Aya MA penuh penekanan.


“Sayang, kenapa kau turun, bagaimana jika anak kita akhir lahir sebelum waktunya bagaimana?” Heboh Ken, pria itu mengangkat tubuh Aya MA ke atas tempat tidur.


“Anak?” tanya Aya MA bingung.


“Diam lah dan jangan bergerak, sini ku pakai dasternya! Hati-hati, agar sumur bornya tak semakin kerasa meluap. Aku akan membukakan pintu, di luar adalah para medis yang siap membantu menyelamatkan nyawa bayi kita. Maafkan aku!”Ken mencium kening Aya MA setelah memakaikan daster di tubuh Aya MA, dan ia pun sudah menggunakan baju santai.


Mendengar kata anak dan darah wajah Aya MA pucat pasi. Tangan Aya MA meraba bibir bawahnya yang masih tertutup selimut, ia melihat darah di telunjuknya bersamaan pula semua orang masuk mengelilingi ranjangnya.


Bulu kuduk Aya MA meremang, tubuh wanita itu kaku, seperti Mumi yang di awetkan.


Nah, kira kira kenapa ya Aya MA 🤣🤣🤣


^^^~To be continued.^^^


Terimakasih atas dukungan like dan komentar nya, yuk olahraga jarinya biar emak makin semangat liat komen makin banyak setiap eps nya,


Vote, kopi dan bunganya lemparin dong buat Aya ma dan bang Ken ku yang keren 😘😂🤣