Terjerat Cinta Berondong Kaya

Terjerat Cinta Berondong Kaya
Kepercayaan Seorang Ibu


“Jika aku tidak boleh turun, maka kau turunlah suamiku, aku yang membinasakan mereka yang berani melakukan anak kita!” tegas Mommy Qiana.


“Baiklah! ayo kita turun!” ajak Deddy Taksa ke pada sodara-sodaranya.


Semua pria grup inti keluarga WU-XU-QI turun dan tinggallah para wanita datar tanpa ekspresi.


Dorrr.... dorrr.... Dorrr.... Bunyi tembakan bergemuruh memekik telinga. Kali ini sang ratu mafia telah murka, wajahnya datar dengan amarah berletup-letup, di tangan kanannya samurai mengkilap membias cahaya hingga memunculkan siluet cahaya putih yang mengkilap di atas langit, seperti kaca yang di letakkan di bawah sinar matahari. Sedangkan tangan kirinya tengah memegang pistol yang siap menebak musuh.


teriknya Matari, serta kucuran air di Langit membahasi tubuhnya.


“Kau tak boleh meninggalkanku kak!" kata seorang wanita berpakaian putih bersih, dua tangannya memegang belati.


“Kau juga jangan melupakan kami kakak," kata para wanita yang berjalan meningkuti tuanya dari belakang.


Para wanita itu tak gentar melawan arus peluru yang terbang seperti hujan, bunyi pedang Mommy Qiana yang menghalau peluru yang menuju ke arah mereka.


“Berpencar!" teriak Mommy Qiana layaknya Kodam, para wanita melompat ke kanan dan kekiri mengambil posisi. Saat ini tinggalan Mommy Qiana dan Zia si pedang kesayangan Mommy Qiana.


Ketika kedua wanita itu berdiri siluet masa lalu dimana Zia menjadi kaki tangan Qiana muncul. Zia tak gentar akan luka ia adalah guru bela diri para generasi Dinasti WuQUXI saat ini.


“Puaskan dahagamu Zia!” kata Mommy Qiana.


“Dengan senang hati Nona!" ujar Zia, tidak ada sebutan adik ipar terlontar dari bibir Zia, kali ini Zia kembali menjadi tangan berdarah nonanya.


“Hiaatt....” Zia melepar sepuluh jarum di jaringan ke arah musuh.


Set...


Set...


Set...


Set...


“Ahhhhhh!” jerit musuh yang lehernya tertancap jarum beracun di tangan Zia, ternyata di balik pisau yang di tempel di punggung tangan Zia ada puluhan jarum siap melayangkan orang dengan mudah.


“Wah racun keluarga Suli emang top!” kata Mommy Qiana puas melihat tubuh musuh kejang-kejang macem ayam di gorok lehernya, menderita dulu baru ko'id


Srettt .. Srettt... Sreeett...


Ahhhh ...


koraaakkk...


Dorr...


Dorr...


Sreeet.... samurai Mommy Qiana menusuk jantung musuh hingga tembus ke belakang.


“Kenapa Kakak habisi musuhnya hingga tak tersisa?” tanya mama Divya.


“Karena mereka hanya robot dan aku yakin musuh kali ini tau kempuanku yaitu membaca pikiran orang!” kata Mommy Qiana.


Wanita itu menggunakan serangan dekat karena ingin membaca pikiran semua orang ini, tapi nyatanya pikiran orang-orang ini hanya uang dan semua ini melakukan segalanya dari misi yang sangat mengiurkan dari tangan ke dua yang membuat promosi di pasar gelap.


Sedangkan si tangan nomer dua tidak ada di tempat ini. Mommy Qiana menegakkan tubuhnya seketika ia melihat pemandangan mayat berserakan yang tanah ia sedikit mengingat Medan perang masa lampau.


“Urus disini!” ujar Mommy Qiana.


Greeepppp... Mommy Qiana melompat ke bawah, padahal para pria turun ke bawah lembah menggunakan tali. Maka dari itu Deddy Taksa melarang Mommy Qiana turun.


Greeepppp ... kaki wanita itu mendaratkan kakinya.


“Mereka belum sampai ke bawah, malah duluan aku!” gerutu Mommy Qiana.


Wanita itu menyusuri tempat yang sudah kacau. asap di mana-mana.


”Kennnnn!” jerit Mommy Qiana..


mommy Qiana menotok hidung dan dadanya agar tak penghirup asap hitam.


Wanita itu memejamkan matanya, menghirup Qi dan matanya langsung melihat ke seluruh arah.


“Beby kenapa kau ada disini?” tanya Deddy Taksa ketika sampai di bawah.


“Baru lompat dari suami!" kata Mommy santai.


‘Oh ia istrimu kan manusia super. Sampek lupa aku!’ kata hati Deddy Taksa.


‘Aku dengar loh, Ded?’ jawab kata hari Mommy Qiana.


Mereka mencari keberadaan Ken hidup ataupun mati. Sedangkan mama Qiana menajamkan Qi di Indra penglihatannya.


“Putraku tidak ada disini!” kata Mommy Qiana datar dan sedikit menyunggingkan senyumnya, bibirnya bergetar serta meneteskan Aira mata.


“Benarkah Beby?” tanya Deddy Taksa.


“Benar!” mommy mendekati Deddy, bibirnya yang seksi itu membisikan sesuatu di telinga suaminya.


“Ayo kita ikut memastikan apa yang aku katakan Honey! Seorang putra Qian tak mungkin mudah mati, ia terlahir di bawah restu alam dan di mampu melawan kejamnya musuh untuk melindungi calon istrinya ketika usianya baru 5 tahun!” kata Mommy Qiana datar.


“Ketika kaki ini menginjakkan kaki di jurang ini, tiada perasaan kehilangan dan aku ibu yang melahirkan yakin putraku masih hidup. Dengan kepercayaan seorang ibu aku yakin putraku ada di suatu tempat untuk mencari bidadari surganya.”


“Kita di rumah akan mengadakan duka dan menutup media agar tak tercium siapapun!” kata Mommy Qiana.


Waktu demi waktu terlah berlarian ini sudah hari ke 7 pencarian itu di lakukan, musuh di sebrang sana bahagia menikmati ke jayanya.


“Skat! Aku menang!” sayup-sayup suara manusia di dalam sebuah kuburan masal di pertengahan kota.


“Sia.lan. Aku kalah lagi!” suara itu beberapa kali menakuti warga setempat dan sering di jadikan objek uji nyali oleh para penggila konten.


Untung saja ada bunyi viral ini sehingga dunia tak memusatkan kejadian di tutupnya kota pada saat Aya MA hilang.


Kira-kira Ken kemana ya?


Apakah ia benar sudah tiada🤣?


Atau anu...


love untuk kalian semua.


TBC....