
Hay para Reader
Di manapun kalian berada semoga sehat selalu🤗
Selamat datang di TCBK.
Happy reading🥰
.....
...
..
.
“Paman tidak usah menangkap ku, bawalah aku!” kata bocah kecil itu.
“Waduh kepala balita ini sepertinya miring nih bos! Dia tau ini Penculikan malah minta di culik!” kata penculik B.
“Yakinlah jika kalian menculik ku, lalu meminta tebusan kepada kedua orang tua ku, maka kalian akan mendapatkan uang banyak!” Ken mempromosikan dirinya agar di culik.
“Seberapa kaya kah orang tua mu wahai balita!” kata si bos penculik.
“Aku kaya banget om, lihat ini!” Ken membuka tasnya lalu di bukalah sebuah kotak makan yang berisikan Mas batangan.
Perampok itu mengambil emas itu lalu menggigitnya sedikit. “Asli bos!” lapor si perampok.
“Wow, sikat aja, ayo tutup kepala balita ini dengan karung goni!” penculikan itu berjalan dengan mulus.
Sialan, bekas apa yang berada di dalam karung ini, kenapa baunya seperti kaos kaki yang tidak di cuci setahun. Batin Ken, karena bau yang menyengat serta pengap pria kecil itu pengsan.
....
....
“Hey bocah kecil...,” panggil Aya mengguncang tubuh Ken yang kotor serta bau kaos kaki, sehingga pria kecil itu persis seperti gembel di gorong-gorong air.
“Uhhh, dimana aku?” gumam Ken, pria kecil itu mengerjapkan matanya melihat sekitar bahwa ia berada di sebuah gudang jerami, dan mata pria kecil itu memandang Aya di depan matanya.
“Syukurlah kau tidak apa-apa, ku kira kau mati!” Aya MA khawatir.
Ketika Aya bangun yang ia lihat hanyalah bocah kecil itu, tidak ada siapapun di tempat itu.
“Dimana kita?” pria kecil itu berdiri.
“Sepertinya kita di hutan! Kau di culik berapa lama?” bisik Aya prihatin, sebab ada langkah kaki mendekati ruangan dimana mereka di sekap.
“Kenapa menanyakan seperti itu?” tanya Ken bingung.
Jika ku bilang badannya bau apakah adek ini menangis? Tapi kasian sekali bocah ini. Dari yang kulihat hanya pria kecil ini yang menjadi tawanan, apakah pengsan karena tak di beri makan oleh Mereka, sungguh kasian. Batin Aya MA prihatin.
Pasti gara-gara karung bau itu membuat aku pengsan hingga lupa memberikan sinyal. Kata Ken dalam hati ia menggerutu atas kecerobohannya.
“Tumben dalam seminggu buruan kita sangat sepi, hanya dua bocah ini yang mampu kita setor ke pusat karena anak-anak sekarang selalu di dampingi oleh orang tuanya,” kata si bos Penculik itu.
”Ia bos, jika tidak aja yang menjual gadis kecil itu dengan harga miring yaitu sepuluh ribu rupiah saja dan syukur kita dapet bonus anak kecil ini jika tidak bos marah lagi.” jawab si penculik B.
Mendengar kata orang di luar Aya sekarang faham jika anak yang duduk dengan nya adalah tahanan baru sama seperti dirinya.
“Kau benar, bos tidak akan marah asal kita punya tangkapan, ayo kita makan, aku lapar.” kata si bos.
“Memohon lah kepadamu maka aku akan membawamu keluar dari tempat ini,” kata Ken arogan.
Plak... Sebuah pukulan kecil di lengan Ken kecil.
Dasar balita gendeng, sepertinya kepalanya kebentuk atau malah kerasukan demit di hutan ini. Omel Aya dalam hati.
Sialan gadis kecil ini, ngatai pangeran berkuda putih ini gendeng. Batin Ken marah hingga giginya menggertak, jika bisa membaca pikiran adalah rahasia sudah ia jitak wanita ini.
“Kenapa kau memukulku?” protes Ken.
“Sebab kau begitu arogan adik kecil, kita sekarang di culik bukan main peta umpet! Baru pertama kali aku melihat bocah seperti mu ini,” kata Aya.
“Kau tak ingat dengan wajah tampan ku ini?” tanya Ken.
“Perasaan aku tak pernah melihat wajahmu ini!” kata Aya, seba pria kecil di hadapannya seperti gembel dengan tanah mencoreng wajahnya.
Ken kecil langsung murung seketika. Aya yang ia rindukan ternyata melupakannya.
Karena kau melupakan ku, maka akan ku hukum kau menginap disini dengan ku dua hari dua malam. Berhubung semua yang aku pakai aku non aktifkan, dan parahnya lagi itu para penjahat ngambil semua benda milik ku. Ada cara lain sih biar Mommy mengetahui keberadaan ku. Tapi aku masih ingin bersenang-senang kencan sama si Aya ini. Batin Ken.
....
Teprak... Teprak ... Suara langkah kaki berapa orang melangkah mendekati tempat penyekapan dua anak kecil itu.
“Kalian sudah bangun?” kata penjahat A menyeramkan.
“Tolong Om, lepaskan kami!” Aya memohon, sebab ia mulai ketakutan melihat para penjahat itu berdiri, penampakan menyeramkan Penculik itu terlihat jelas di pintu ruangan. Sebab penyekapan mereka seperti sel tahanan hotel Prodeo.
Sedangkan si Ken melihat si penjahat dengan tatapan intimidasi hingga sangat menakutkan.
Kenapa aura anak ini menakutkan ya, padahal hanya bocah. Batin penjahat.
“Yang rukun di dalam, ini makanan untuk kalian.” kata ketua perampok.Sekeresek roti di masukan dari lubang pintu.
Dengan teganya penjahat itu meletakkan ular sanca sepanjang 4,5 CM di depan sel tahanan dua bocah itu, beruntung jarak besi di pintu sel amatlah kecil hingga si ular tak bisa masuk keruangan sempit itu.
“Om, aku tak mau makan, aku mau pulang!” kata Aya dengan deraian air mata.
“Sudah jangan nangis, nanti kita cari cara agar bisa kabur dari tempat ini!” kata Ken.?
“Dek, apakah kepala mu di pukul sama orang-orang itu sehingga kau tak menangis lagi?” tanya Aya memegang tubuh pria kecil itu, Aya tidak tau kejadian Ken di tangkap di tempat yang sama dengannya sebab ia tadi sudah dalam keadaan pingsan duluan, ketika bocah balita itu keluar dari persembunyiannya.
....
....
Geluduk... Geluduk.. Bunyi petir menyambar. Angin kencang seakan menerbangkan atap tempat Aya dan Ken di sekap.
Tak lama kemudian hujan deras membasahi bumi sore menjelang malam. Dinginnya udara membuat sepasang anak kecil itu kedinginan. Apalagi seorang tuan muda Ken yang terlahir menjadi putra mahkota itu badannya mulai meriang.
“Dingin!” rintih Ken dengan memeluk tubuh kecilnya.
“Dek, kau demam!” kata Aya melihat wajah pucat pasi milik Ken.
“Sebentar aku akan meminta pertolongan!” ujar Aya hendak berdiri.
“Jangan, mereka sepertinya sudah pulang dari disini, karena tidak ada suara langkah kaki atau bunyi seseorang! Peluk saja aku, aku butuh kehangatan” pinta Ken.
Aya membongkar jerami agar ada lubang untuk melindungi tubuhnya serta balita arogan itu. Malam itu Aya dan Ken tidur berpelukan hingga pagi.
....
....
Tak... Tuk... Tak... Tuk... Langkah kaki cepat mendekati tempat sepasang anak itu.
“Cepat, kita bawa anak itu dari sini, sebelum keluarga WU mengetahui perwaris mereka mereka berada di tempat ini. Ini perintah Bos!” Suara Bos di menggelar.
Ceklek... Pintu di buka.
“Kalian mau apa!” teriak Ken melihat tiga orang berbadan tegap menjulang tinggi di depannya, karena satu penculik tengah menyiapkan penerbangan mereka.
“Oh adik kecil, ayo ikut Om,” Penculik B menarik tangan Ken.
“Aaaahhhhhhhhh!” jerit penculik B sebab Aya mengigit pria itu hingga menjerit.
Ketua Penculik marah, ia menarik rambut panjang Aya lalu. Bukkkk... Si ketua itu melemparkan tubuh Aya Kedinding, sehingga cairan merah kental mengalir dari kening wanita itu.
Mata Ken memerah, kemarahan pria balita itu memuncak. Bukkk. Ken mendorong orang yang menyentuh tubuhnya.
“Bang•sat!” teriak orang itu bangun dari keterpurukannya. Penculik B begitu syok melihat kekuatan balita itu
Buk... Buk... Tubuh Ken di tendang oleh dua orang karena bocah itu melawan dan susah di tangkap.
Aya melihat sebuah balok kayu, gadis kecil itu langsung memukuli dua orang yang memukuli Ken tanpa ampun.
“Rupanya tawanan kita adalah semut rangrang yang berbisa! Cepat sergap dua cecunguk kecil ini, kita akan berangkat ke saat ini juga.” teriak si bos.
Keadaan dua anak itu luka-luka karena para Penculik memukuli mereka sangat parah, bahkan satu gigi Ken terlepas akibat injakan dari kedua orang, bahkan salah satu tulang kakinya patah.
“Cepat naikan mereka!” kata si bos yang terlebih dulu masuk kedalam helikopter.
....
....
Sedangkan di keluarga WU saat ini gempar karena ulah putra pertama yang menghilang tanpa jejak, kemampuan anak itu amatlah mengerikan sebab ia mewarisi kemampuan kedua orang tuanya yang jenius dan berbahaya.
Untuk pertama kalinya Mommy Qiana menangis dan Deddy Taksa mengeluarkan amarah dengan menyiksa para penjaga putranya yang lengah menjaga putranya.
Tiutttt.... Tiuuuttt... Bunyi alarm siaga empat berbunyi, itu tandanya titik keberadaan Ken terseksi, alarm itu sekaligus memberi tahukan kepada semua orang jika Ken tidak baik-baik saja jika anak itu hanya terluka kecil maka bunyinya hanya seperti alarm ponsel sekali bergetar tetapi jika bunyinya sudah persis mobil ambulan maka Ken dalam keadaan kritis.
“Dimana putraku berada!” tanya Qiana pada Aruna dan Daffin.
“Di pegunungan A kak, jaraknya lima jam dari sini, cuaca amatlah buruk, karena petir menyambar, Kita akan menggunakan apa untuk ke sana?” tanya Alana khawatir.
“Gunakan pesawat tempur, aku mau tiga puluh menit kita sampai di lokasi!” Mommy Qiana mengambil samurai yang sudah empat tahun tak ia sentuh, wajahnya datar mengambil pistol ia sematkan di pinggangnya, Deddy Taksa tak jauh berbeda dengan Mommy Qiana.
“Sepertinya ada yang bermain-main dengan kita, mari kita pergi sekarang!” teriak Mommy Qiana yang darahnya tengah mendidih.
Pesawat tempur mengudara, Deddy Taksa memegang tangan Mommy Qiana untuk menangkan hati wanita nya. Meski hatinya juga mendidih. Bumi Utara kota I itu tenga di guyur hujan akan tetapi tak gentar bagi pesawat tempur ciptaan amerika itu menempuh cakrawala.
Tiga puluh menit kemudian, pesawat tempur itu sampai di lokasi. Titik merah sinyal dari tubuh putra Qiana yang terluka terlihat jelas berada di tengah-tengah rimbunnya pepohonan.
Satu persatu semua orang turun dengan persenjataan yang amat besar. Seandainya pria kecil itu tak menghapus keberadaannya ibunya akan cepat menemukan pria kecil itu.
“Ken!” Jerit mommy Qiana ketika melihat putranya berlumuran darah.
^^^~To be continued.^^^
Terimakasih atas dukungan like dan komentar nya, yuk olahraga jarinya biar emak makin semangat liat komen makin banyak setiap eps nya,
Vote, kopi dan bunganya lemparin dong buat Aya ma dan bang Ken ku yang keren 😘
Rekomendasi Novel dari emak thatya 0316.