Terjerat Cinta Berondong Kaya

Terjerat Cinta Berondong Kaya
Kenak Sidak Mommy


Hay para Reader


Di manapun kalian berada semoga sehat selalu🤗


Selamat datang di TCBK.


Happy reading🥰


.....


...


..


.


“Sial Si Jeck bangun lagi,” gerutu Ken.


Ken melihat mata sembab begitu tidak tega, saat ini mereka masih dalam keadaan yang sama dan saling berhadapan.


“Kau itu gak melihat situasi Jer, geram Ken,” pria itu bergerak sedikit.


Blub... dibawah terlepas.


Wajah Ken berseri-seri, pria itu mengelus dadanya begitu lega. Ia dari tadi berusaha tenang padahal hatinya tidak tenang.


Pria itu bangun untuk mengambil sebuah baju untuk dirinya dan sang istri.


Dengan hati-hati Ken memakaikan baju untuk sang istri.


“Selamat malam my baby sweet heart,” Ken mencium kening sang istri lalu bergabung dengan sang istri untuk menuju alam mimpi.


....


....


Sinar mata hari sudah tinggi, tak ada satupun dari pasangan beda usia itu masih mencari kehangatan dalam selimut.


Colek... Mommy Qiana yang begitu khawatir memasuki kamar anak-anaknya.


Melihat pasutri itu berpelukan dalam selimut serta baik-baik saja. Mommy Qiana bernafas lega. Entah mengapa semalam Mommy Qiana begitu khawatir, semacam ikatan batin.


Wanita itu mendorong gorden jendela kamar, sehingga matahari menyinari wajah keduanya.


Aya membuka matanya lalu yang ia cek adalah keadaan di bawah sana. Melihat di bawah sudah berpisah dan ia tengah memakai baju ia begitu bahagia hingga ingin melompat ke luar.


“Hiaaatttt....” Aya melompat ke atas tubuhnya.


Ken begitu kaget sang Istri ribut di pagi hari. Apalagi di tunggangi layaknya guling oleh wanita nya.


“Sejak kapan mereka berpisah?” tanya Aya girang.


Wanita itu menarik tubuh suaminya dan saat ini mereka berdiri di atas tempat tidur.


“Semalam sayang,” Ken mengerti bahwa sang istri tengah bahagia ketika terbebas dari ketakutan.


Aya memutar tubuh suaminya seperti berdansa di atas panggung, seperti anak kecil mereka melompat-lompat merasakan kebebasan dari ketakutan semalam.


Mereka tidak tau bahwa di dalam kamar mereka ada orang lain yang melihat betapa mereka seperti anak-anak.


Brak... Brak... Brak..


“Mereka persis anak berusia 5 tahun,” Gumam Mommy Qiana.


“Hem,” Mommy Qiana memberi kode bahwa ada orang lain di kamar merek.


“Mommy...,” kata mereka serempak.


Gerabak... Ranjang itu ambruk.


Sedangkan suami istri itu tergulung di dalam Ranjang yang patah tersebut. Saat ini keduanya begitu takut melihat sang ibu negara memandang mereka secara intimidasi.


“Kalian tau apa kesalahan kalian?” tanya Mommy Qiana dingin.


Aya menyikut lengan Ken untuk memberi kode.


“Se ... Sejak kapan Momy masuk ke kamar kami?” tanya Ken menatap ibunya.


“Sejak kalian masih tidur. Ini sudah jam 9, kalian belum bangun juga, kalian itu mau bertapa di kamar apa mau gimana sih? Sekarang jawab pertanyaan Mommy, apa salah kalian?” tanya wanita itu dengan nada rendah dan sangat mengintimidasi.


Mulut kedua itu bungkam. Mommy Qiana mendekat lalu membantu kedua nya bebas dari belenggu kasur yang menggencet keduanya.


“Huh, seram, ini sudah jam sembilan sayang, dan kita belum sarapan, pasti Mommy menghawatirkan si bayi berudu,” kata Ken baru ingat jika saat ini bayinya adalah prioritas utama.


Pasangan suami istri itu buru-buru membersihkan majah dirinya, lalu turun ke dapur mereka.


Ketika melihat punggung Mommy Qiana yang tengah sibuk menata makanan di atas meja, Aya begitu malu dan merasa ia sangat konyol.


Betapa panas wajah Aya ketika berhadapan dengan sang mertua. Wanita itu berjalan lambat di belakang sang Suami.


“Sini makanlah sayang, ini sudah siang, cucu Mommy pasti sangat kelaparan,” panggil Mommy Qiana.


Aya mendekat lalu duduk dengan anggun di kursinya. Ken menarik kursi di dekat sang istri.


“Siapa yang menyuruh mu duduk di sana bocah nakal,” Mommy Qiana menjewer telinga Ken membawa sang putra di kursi sedikit jauh dari istrinya.


“Sakit, Mon," rengek Ken memegang telinganya yang memerah.


“Itu ganjarannya untuk ayah tak berbakti, ini sudah jam 09:00 Ken kau membuat perut bayimu kosong. Kalian tadi begitu seperti anak kecil, melompat-lompat tanpa ingat jika di dalam perut ada bayi, bagaimana jika bayi itu keguncangan lalu lahir belum cukup usia, apa kalian tidak pikir?” begitulah ceramah Mommy Qiana sebelum sarapan pagi.


Singkat padat dan jelas hingga menusuk ke relung hati calon emak, bapak, somplak itu.


Sedangkan kedua orang itu tak membantah, memang kali ini mereka telah keterlaluan. Aya pun mengelus perutnya yang semakin membucit seperti hampir hamil 4 bulan. Padahal usia hamil Aya baru 3 bulan.


Beruntung wanita itu telah berperan menjadi seorang wanita Cina yang menggunakan baju begitu banyak sehingga semua orang tak pernah curiga dengan perut Aya yang menggembung seperti bukit kecil.


“Maafkan kami Mommy,” kata Aya begitu sedih.


“Ayo makanlah dulu, setelah ini kita akan mengecek kondisi bayi, dan ini kali pertama kita melakukan USG pada bayi.”


Mommy Qiana duduk di samping Aya, yang tengah memakan sarapannya, wanita itu begitu perhatian dan penuh akan kasih sayang kepada menantunya.


Ibu Ken itu datang pagi-pagi sekali untuk menjenguk sang menantu. Dengan semangat Mommy menjemput sang menantu ingin segera melihat sang cucu dan mengecek kondisi Aya. Malah yang ia dapatkan Vila pribadi Ken itu begitu sepi dan orangnya masih molor.


....


....


[Ruangan Pemeriksaan]


Aya tidur di atas brangkar yang persisi berada di rumah sakit. Wanita itu begitu takjub melihat alat-alat rumah sakit berada di Vila milik sang ibu mertua. Alat rumah sakit saja tak selengkap tempat ini.


“Apakah ada keluhan semenjak hamil?” tanya dokter Diva kembaran dari istri Dokter dion, sebab kembaran Dokter Divya itu spesialis ibu hamil dan organ dalam.


“Tidak ada Tante,” jawab Aya.


“Apakah ada mual dan muntah?” tanya Tante Diva.


“Tidak, Tante, malah tak pernah muntah atau lemas,” jawab Aya.


Tante Divya mengecek tensi, lalu menyingkap koas milik Aya. Mengoleskan gel di atas perut.


Ken memegang tangan sang Istri, keringat sebesar biji jagung bercucuran di kening pria itu, sedangkan Mommy Qiana berdiri di sisi berangkakar dekat monitor.


Ketika alat USG menempel di perut Aya semua orang orang memandang monitor.


Dug... Dug... Dug... Dug... Ada suara terdengar dari komputer.


“Apakah itu detak jantung bayi kami tante?” tanya Aya antusias.


“Ia sayang,” jawab Tante Diva.


“Anak ku!” gumam Ken dengan air mata tak lagi bisa di bendung.


“Kak, apakah kau melihat nya?” tanya Tante Diva.


Mommy Qiana meraba monitor, matanya juga berair tak sanggup ia bendung.


“Apakah, ini benar Divya?” tanya Mommy Qiana sedikit tak percaya.


“Benar kak,” tangan Tante Divya bergetar berusaha mempertahankan apa yang ia pegang.


^^^~To be continued.^^^


Terimakasih atas dukungan like dan komentar nya, yuk olahraga jarinya biar emak makin semangat liat komen makin banyak setiap eps nya,


Vote, kopi dan bunganya lemparin dong buat Aya ma dan bang Ken ku yang keren 😘😂🤣


Rekomendasi Author