
"Tidak ada pilihan lain Kapten, kita akan menembus awan tebal ini. Seluruh Planet ini di tutup awan." Prajurit Miura melapor kepada Kapten Joseph dan di dengar juga oleh semua penghuni Huna 67X.
"Satu menit menuju permukaan Planet dan 23 detik lagi kita akan menerobos awan." Prajurit Miura melanjutkan laporannya dengan terus melihat monitor.
"Sekarang giliranku," ucap Kie Jordi setelah melihat apa yang akan mereka hadapi. Merasa dapat membantu, Kie Jordi beranjak dari tempat duduk nya menuju ke arah Husgar Vize berdiri.
Kie Jordi mengangkat tangan ke depan, sama seperti yang di lakukan Husgar Vize. Karena khawatir dengan apa yang akan mereka lewati, Kie Jordi membuat 15 lingkaran hitam di depan pesawat Huna 67X.
"Meski lingkaran ku tidak bisa menutup seluruh badan pesawat Huna 67X dan juga hanya dapat menutup dari arah depan, tapi hal itu akan mengurangi dampak ledakan jika suatu hal terjadi." Kie Jordi berbicara dengan pelan tapi dapat di dengar jelas oleh semuanya.
Benar saja, baru memasuki awan tebal yang menyelimuti Planet. Ledakan terjadi hampir di seluruh bagian depan pesawat Huna 67X. Dengan adanya kabut awan yang menghalangi pandangan, mereka semua yang berada di dalam Huna 67X tidak mengetahui dengan jelas apa yang menimbulkan ledakan.
Tapi dengan suara ledakan seperti itu, dapat di pastikan yang Huna 67X tabrak adalah sebuah rudal. Dengan tetap berada di mode tempur, kaca depan Huna 67X tetap menampilkan beberapa detik di depan jalur yang mereka lalui.
Kecepatan Pie Jiru yang mencapai kecepatan cahaya juga di dukung dengan tingkat kualitas penglihatan yang cepat pula. Terjangan Huna 67X yang akan menembus awan tebal dengan kecepatan 20 tahun cahaya dan di perlambat oleh kaca depan Huna 67X dan dengan penglihatan Pie Jiru, Pie Jiru dapat melihat jelas apa yang ada di depannya karena semua terlihat bergerak lambat di mata Pie Jiru.
"Di dalam awan terdapat Ribuan rudal," ucap Pie Jiru.
Satu detik setelah Pie Jiru berbicara, Huna 67X mulai memasuki atmosfer planet. Dengan keistimewaan yang di miliki Huna 67X yang tidak akan terbakar ketika melewati atmosfer planet manapun.
Huna 67X mulai memasuki awan yang menyelimuti planet. Karena mendapatkan peringatan dari Pie Jiru, Kapten Joseph dan lainnya lebih mempersiapkan diri. Saat sampai pada tengah-tengah awan, sesekali terlihat rongga awan. Dengan Sesekali menampakkan ratusan ribu bahkan jutaan rudal melayang tetapi dengan kondisi pasif.
Meski rudal-rudal dalam kondisi pasif, tetap meledak ketika bertabrakan dengan Huna 67X yang melaju dengan kecepatan 20 tahun cahaya.
Setelah 30 detik menembus awan tebal, terlihat hamparan lautan rudal yang melayang memenuhi langit planet dengan tersusun rapi dan hanya menyisakan celah 1 meter antara rudal satu dengan yang lainnya.
Kapten Joseph sangat terkejut melihat pemandangan yang berada di depannya dan dengan seketika menarik kemudi untuk memperlambat Huna 67X hingga yang awalnya tenaga untuk mendorong turun ke permukaan planet, berubah dengan tenaga mendorong mundur naik kembali.
Tapi menghentikan benda dengan kecepatan 20 kecepatan cahaya sebelumnya bergerak tidaklah mudah. Awal Kapten Joseph memundurkan tenaga mesin ada pada jarak 9.000.000 KM, baru dapat benar benar berhenti dan mundur naik perlahan setelah berjarak 2.100.000 KM dari permukaan planet.
Tabrakan dengan ribuan rudal sebelum Huna 67X benar benar mundur naik sebelumnya tidak dapat di hindarkan dan benar-benar memberi efek kerusakan pada Huna 67X.
"Ini...!!" Kapten Joseph kaget dengan apa yang dia lihat.
"Kita belum memasuki atmosfer Planet, tadi adalah atmosfer palsu!!" Sangat terkejut Kapten Joseph berbicara untuk memberi tahu kepada yang lain.
"Aku sudah curiga sebelumnya, tidak mungkin ada planet dengan atmosfer setebal ini." Kapten Joseph berbicara pada pikirannya sendiri.
Sedangkan rudal yang hanya berjarak beberapa meter dari Huna 67X langsung meledak yang totalnya hingga ratusan, Huna67X yang tanpa bergerak mendapat serangan sedemikian rupa, menjadikan armor Huna 67X terkikis dengan ekstrem.
Alarem di setiap sudut Huna 67X bersahut-sahutan yang menandakan armor Huna 67X sudah sangat tipis dan sewaktu waktu dapat meledak dengan serangan berikutnya. Husgar Vize yang mengetahui hal itu, langsung berkonsentrasi.
"Aaaaaaaaaaa...." Teriakan Husgar Vize, yang ternyata Husgar Vize menciptakan puluhan bola-bola besi di luar Huna 67X dan berputar mengelilingi Huna 67X dengan sangat cepat menjadi perisai yang menggantikan armor Huna 67X.
**Di Tempat terpisah**
"Hentikan serangan..." Teriak pemimpin pasukan tersebut dan dengan seketika rudal yang sebelumnya aktif, menjadi pasif kembali dan seperti berbaris seperti semula, yaitu berjarak satu meter di antara rudal satu dengan rudal lainnya.
**Di dalam Huna 67X**
"Rudal-rudal itu pasif kembali," ucap Kapten Joseph yang mengisyaratkan dengan suara penuh emosional yang melegakan. Mendengar hal itu, Husgar Vize tersenyum tipis.
Bruuuk... Suara Husgar Vize terjatuh pingsan, karena kelelahan. Dengan pingsannya Husgar Vize, bola-bola besi yang sebelumnya menjadi perisai dengan cara mengitari Huna 67X. Secara otomatis juga berhenti berputar.
Saat perhatian semua tertuju pada Husgar Vize, di luar Huna 67X bergerak sebuah Bola berukuran besar hingga dua kali ukuran Huna 67X. Bola besi berukuran besar dengan kaca melingkar di tengahnya mendekat ke arah Huna 67X.
Saat Bola tersebut bergerak, rudal-rudal seolah-olah menghindar dan menjauh dengan sendirinya. Bola tersebut kini benar benar berada di depan Huna 67X lalu bergerak perlahan menuju ke arah planet yang di ikuti Huna 67X di belakangnya.
"Kapten," teriak Miura dan menunjuk ke arah kaca depan dan stik kendali Huna 67X yang bergerak sendiri.
Sontak, teriakan Prajurit Miura mengalihkan pandangan mereka terhadap yang di tunjuk oleh Prajurit Miura.
"Apa itu?" tanya Kie Jordi yang mendahului yang lain untuk bertanya.
Semua tidak mengerti dengan apa yang berada di depan Huna 67X, tetapi Kapten Joseph dengan segera duduk lagi di kursi kendali utama dan memegang stik kendali yang bergerak sendiri. dengan maksud mengendalikan Huna 67X kembali, tetapi tidak berhasil.
Kapten Joseph yang tidak ingin kehilangan kendali atas pesawatnya, menekan tombol tembakan peluru jarak dekat yang berada pada stik kemudi. Tetapi peluru tidak keluar untuk menembak, hanya terdengar suara peluru berbenturan dengan besi, hingga senjata tidak dapat lagi menembak karena macet.
Hal itu benar benar membingungkan dan membuat Kapten Joseph frustasi. Pie Jiru yang melihat Kapten Joseph telah kehabisan akal karena juga tidak berani untuk menggunakan rudal karena nanti ledakan akan berdampak juga pada Huna 67X dengan anmor tipis.
ππ mohon dukungannya ya, dengan cara LIKE, COMMENT, BERI HADIAH dan VOTE jangan lupa jadikan Favoritππ ππ