
"Pertempuran besar tersebut yang membuat Planet tersebut keluar dari Tata Suryanya dan menjadi Planet Mati. Semakin lama, Planet mati semakin menjauh dari Galaksi api kembar. Semoga saja saat ini Planet mati belum terlalu jauh dari Galaksi api kembar. Jika dulu terakhir kali aku ke Planet mati dan menuju Galaksi api kembar hanya membutuhkan 3 minggu perjalanan." Mustofa berbicara kepada Husgar Vize.
**Tiga hari kemudian**
Husgar Vize dan Mustofa sudah memasuki atmosfer Planet mati. Atmosfer yang sangat tebal dan berada di luar Tata Surya, bahkan di luar Galaksi membuat Planet mati memiliki suhu yang sangat ekstrim. Suhu di permukaan Planet mati mencapai -3400Β°C. Dengan suhu yang sangat dingin, Husgar Vize dan Mustofa harus menyelimuti diri dengan bara api di sekujur tubuhnya.
Lapisan es sangat tebal menyelimuti dataran Planet mati. Saat Husgar Vize dan Mustofa menginjakkan kaki mereka di permukaan Planet yang di selimuti es, permukaan yang terbuat dari es mencair secara perlahan mencair dan menguap. Saking ekstrimnya suhu di planet mati, es yang mencair lalu menguap hanya berradius 1 meter dari bara api Husgar Vize dan Mustofa. Uap air yang bergerak ke atas juga demikian, hanya berjarak 2 meter dari bara api Hushar Vize dan Mustofa, ucapan tersebut dengan cepat menjadi es kembali.
Husgar Vize dan Mustofa saat ini seakan tenggelam dalam dinding es yang sangat tebal. Mereka berdua terus bergerak kebawah terbawa oleh gravitasi Planet mati dengan terus melelehkan es yang menutupi permukaan Planet mati. 2 jam telah berlalu, tetapi mereka berdua belum juga sampai pada permukaan Planet mati yang sesungguhnya. Mereka memang bergerak hanya mengikuti gravitasi Planet mati, sehingga memang tidak bergerak dengan cepat.
Ketika sudah hampir 3 jam, mereka berdua akhirnya dapat menembus dinding es tebal yang menutupi Planet mati. Saat mereka telah berada di bawah dinding es, tetapi tetap di atas permukaan daratan Planet mati. Terlihat pemandangan yang sangat berbeda, masih sangat terlihat jelas sisa-sisa bekas pertempuran. Permukaan Planet mati masih terus berkobar seakan masih belum menunjukkan akan padam. 80% permukaan Planet mati telah hancur dan terbakar.
Terlihat rongga-rongga di permukaan Planet mati mengeluarkan lahar yang langsung terhubung dengan inti Planet. Pemandangan yang sangat mengerikan, masih dapat terlihat jelas pada daratan-daratan yang masih belum berubah menjadi lahar, sisa-sisa elemen tubuh makhluk roh yang menumpuk di daratan yang tersisa. Sedangkan daratan yang masih tinggi menjadi penopang-penopang terbentuknya es yang sangat tebal di permukaan Planet mati.
Es di permukaan Planet tidak mencair di sebabkan suhu Planet yang terlalu dingin dan lahar Planet mati tidak mampu menghangatkan Planet mati yang berada di luar Tata Surya bahkan di luar Galaksi.
"Telekinesis, ini adalah tempat yang sangat cocok bagi kita untuk memulihkan tenaga kita. Panas di permukaan lahar ini, tidak jauh beda dengan panas di permukaan bintang." Mustofa berbicara sambil merebahkan tubuhnya di daratan yang sudah sangat dekat dengan lahar. Tanpa berpikir panjang lagi, Husgar Vize mengikuti tindakan Mustofa yang berbaring di daratan yang sangat dekat dengan lahar Planet mati.
"Kita beristirahat sejenak di sini. Baru kita melanjutkan perjalanan menuju Galaksi api kembar setelah kita benar-benar berada di puncak stamina." Mustofa kembali berbicara saat Husgar Vize telah merebahkan tubuhnya.
**Planet Porta**
Setelah Udirdagch memberi kabar yang sangat baik dan mengejutkan. Sebab kabar tersebut adalah tentang Husgar Vize yang dapat menguasai puncak pengendali api tidak lebih dari dua hari dari awal Husgar Vize meninggalkan Planet Porta. Memang ketika Husgar Vize melakukan perjalanan ke salah satu bintang terdekat dengan Planet Porta tidak sampai 1 menit, tetapi pertempuran yang berlangsung dengan Mustofa lebih dari 1 hari. Saat Husgar Vize dalam akhir-akhir pertempuran dengan Mustofa, Husgar Vize dapat menguasai puncak pengendalian logam.
Berita yang sangat menggemparkan di kalangan pengendali logam yang kini berada di Planet Porta. Bahkan Pie Emie, Pie Jiru, dan Jordi juga terkejut dengan berita tersebut. Tetapi kesenangan itu tidak berlangsung lama. Sebab saat Husgar Vize memasuki Dimensi Semesta, Udirdagch dan seluruh pengendali logam yang sedang sibuk menyiapkan pesta kesuksesan Husgar Vize yang telah menguasai puncak pengendali logam, bahkan dengan waktu yang sangat cepat. Tercepat dari sejarah semua pemuncak pengendali logam, saat ingin menguasai puncak pengendalian logam.
Belum 1 jam dari kabar yang menggembirakan tersebut, tiba-tiba Udirdagch duduk dengan lemas. Pie Emie dan Jendral Ganzorig yang bersama Udirdagch langsung membantu Udirdagch dan juga menanyakan perihal Udirdagch duduk lunglai seakan tidak memiliki tenaga.
Perkataan Udirdagch tersebut benar-benar mengejutkan Jendral Ganzorig dan Pie Emie. Bahkan beberapa pengendali logam yang berada di sekitar yang tanpa sengaja mendengar ucapan Udirdagch.
"Apakah Husgar Vize tewas?" Pie Emie yang terkejut, secara sepontan menanyakan hal tersebut kepada Udirdagch.
"Entahlah...!! Aku hanya tidak merasakan keberadaan Husgar Vize yang dari tadi belum berpindah jauh dari tempatnya saat mencapai puncak pengendali logam. Sebaiknya kalian mencari Pie Jiru, sebab jika Husgar Vize tewas maka tidak akan lama Pie yang terhubung dengan Husgar Vize juga akan tewas karena lemas.
Tanpa menunggu Udirdagch berbicara 2 kali. Pie Emie dengan segera menuju tempat Pie Jiru berada dengan kemampuan teleportasinya. Dengan sekejap Pie Emie berada di samping Pie Jiru. Dengan tanpa aba-aba, Pie Emie meraih tangan Pie Jiru tanpa berkata sepatah katapun dan tanpa menjawab sapaan Pie Jiru yang sedikit terkejut dengan kedatangan Pie Emie di sebelahnya.
Setelah Pie Emie meraih tangan Pie Jiru, dengan sekejap Pie Emie memindahkan mereka berdua di tempat keberadaan Udirdagch. Jordi yang melihat hal tersebut, segera menyusul bersama dengan Jendral Baatar.
Sesampainya Pie Jiru di dekat Udirdagch yang masih duduk lemas, Pie Jiru meminta penjelasan tentang apa yang dia lihat. Tanpa ingin membuang waktu yang Udirdagch sendiri tidak tau seberapa lama Pie Jiru akan tetap hidup jika seorang Husgarnya telah tewas. Udirdagch menjelaskan perihal apa yang sudah dia rasakan kepada Pie Jiru.
Mendapati ucapan Udirdagch, Pie Jiru kini paham mengapa Pie Emie membawanya tanpa sepatah katapun. Bahkan Pie Jiru melihat raut wajah kesedihan di wajah Pie Emie. Pie Jiru pun menyiapkan mentalnya serta menahan emosi kesedihannya untuk menghadapi ini semua. Kini semua mata tertuju pada Pie Jiru dengan tatapan kesedihan dan penantian kematian yang akan mereka saksikan.
Mendapati tatapan kesedihan dari setiap sahabat dan saudaranya yang terus menatapnya, tanpa terasa Pie Jiru meneteskan air mata. Pie Jiru yang sedang menyiapkan mentalnya karena kematian sudah menantinya karena ikatan antara Husgar dan Pie.
Pie Jiru mengucapkan kata-kata perpisahan kepada semua orang yang berada di tempat tersebut. Pie Emie yang sudah tidak dapat menahan air matanya, kini memeluk Pie Jiru dengan sangat kencang dan menangis sekencang-kencangnya.
"Menunggu atau penantian adalah hal yang paling menyakitkan. Tetapi jika yang di tunggu adalah kematian yang akan mendatangi, bukan hanya menyakitkan yang di rasakan. Tetapi juga ketakutan. Ketakutan yang terasa tidak jelas apa yang aku takutkan." Pie Jiru berkata dengan air mata yang menetes tanpa dapat dia tahan lagi. Sedangkan semua yang mendengar perkataan Pie Jiru, tidak dapat lagi menahan air matanya.
Tangisan pecah pada setiap orang. Bahkan Udirdagch yang sudah sangat lama, bahkan ratusan tahun tidak pernah menangis meski telah banyak melihat kematian dari saudara dan sahabatnya di depan mata. Hal itu di sebabkan oleh kematian yang jelas-jelas karena pertempuran atau memang karena usia yang sudah tua. Tetapi yang akan di hadapi Pie Jiru berbeda. Menunggu kematiannya sendiri tanpa sebab yang jelas.
ππ mohon dukungannya ya, dengan cara LIKE, COMMENT, BERI HADIAH dan VOTE jangan lupa jadikan Favoritππ ππ