Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut

Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut
Chapter 8 Menghadapi Serangan.


Ketika kami mau makan bersama, kedatangan tamu tak diundang, mereka menyerang tanpa negosiasi.


"Hati hati, meskipun dia masih kecil, tapi ada energi mengerikan yang terpendam darinya." Ucap orang serba hitam itu.


"Baik tuan." Jawab para pengikutnya.


Aku tidak tau siapa mereka, tetapi orang yang memimpin itu sepertinya orang yang kuat, melihat dari auranya, sedangkan rupanya dia terlihat tua.


Mendengar perkataan mereka, sepertinya mereka dari kerajaan ingin membunuhku, apa aku ketahuan sebagai vampir.


'Papaku bukan tipe petarung, aku harus membuat mereka lari.'


"Pa maa, sepertinya mereka hanya mengincar ku, kalian pergilah dulu, aku akan mengulur waktu." Ucapku mengingatkan mereka.


"Tidak, kamu tidak munkin bisa selamat bertarung dengan mereka." Papaku yang khawatir ikut bersiap bertarung dengan tangan kosong.


Mendengar perkataan kami, pria penyihir itu pun memandu para kesatria.


"Kalian kepung mereka, Keluarga Coksumbar sedikit memiliki berpengaruh di kerajaan ini, jangan sampai ada yang balas dendam."


Para pengikut itu pun mulai berjejer mengelilingi kami, mengingat tidak ada kesatria membantu sepertinya para penjaga juga dibunuh.


'Aduh bagaimana ini, aku belum cukup kuat untuk mengalahkan mereka, tapi kalau aku meminum darah mereka untuk jadi kuat, aku takut jika orang tuaku akan menjauhiku.' Batinku tidak karuan.


Sebelum aku banyak berpikir, mereka mulai melancarkan serangan.


Para kesatria bawahan si penyihir maju menyerang menggunakan pedang mereka.


Aku terpikir merusak kaki kursi untuk menjadikan senjata, aku membalikkan serangan mereka.


Aku meninggalkan orang tuaku dibelakangku untuk meladeni mereka.


Karena keahlianku, aku bisa mengontrol senjataku agar tidak patah terkena pedang.


Sepertinya kekuatan mereka tidak terlalu kuat, aku memukuli mereka bergiliran dengan tekhniku, membuat mereka tertegun.


Kemudian beberapa dari mereka melancarkan serangan sihir.


berbagai macam sihir dari beberapa orang menyerang ku secara bersamaan, sepertinya mereka tidak ingin bermain main.


'Sebenarnya aku juga bisa sihir, tapi dengan levelku sekarang akan cepat kehabisan mana ,bisa bisa nnati pingsang.' Batinku khawatir.


Aku menggunakan kemampuan atlitku dengan melompat dan menghindar dengan cepat, membuat beberapa seranganya tidak mengenaliku.


Melihatku yang dikeroyok banyak orang, papaku ikut membantuku, sedangkan mamaku hanya bisa berlindung diantara kami.


"Ooh, sepertinya kamu memang cukup berkemampuan, untung saja aku ikut andil dalam penyerbuan." Ucap penyihir mencibir.


"Pahlawan, kamu juga harus maju, aku ingin melihat perkembanganmu." Ucap penyihir menghadap pria full armor emas.


"Lihatlah penyihir tua." Jawabnya.


Aku mendengar dia dipanggil pahlawan, aku menyadari pasti kekuatany beda, aku berinisiatif meladeninya.


"Pa, aku yang akan mengurusnya."


Tanpa menunggu jawaban, aku mulai menyerangnya yang sedang maju.


Kami bertukar pukulan cukup hebat, sampai dia pun menggunakan sihirnya.


Sebuah bola api lumayan besar keluar dari tanganya, dan meleparkanya ke arahku.


'Sial, kaki kursi ini tidak akan kuat.'


Aku dengan terpaksa menggunakan sihirku, hanya sihir air yang munkin sekarang berguna.


Aku membuat dinding air, meskipun airku menguap, itu cukup untuk mendinginkan apinya.


Tapi dia terus melancarkan sihirnya, aku terus mengeluarkan dinding air sampai aku sedikit lelah.


Kemudian riba riba ada serangan yang cukup besar dan cepat, tapi itu tidak mengarah kepadaku, aku menoleh arah serangan itu.


'Sial tidak sempat.' Batinku sangat marah.


"Paaa !! awaaass !!" Teriakku padanya.


Ketika papa menyadarinya, api itu sudah sampai padanya.


"Duaaarrr...!!!"


"Anataaa!!!" Teriak mama yang tidak bisa apa-apa.


Ledakan besar, membuat ruangan berasap, aku tidak tau apa dia masih hidup, tapi sebelum ada serangan lanjutan aku menyerang penyihir itu dengan sangat marah.


Menyadari sulit untuk mengalahkannya, aku bertaruh pada skill dosa besarku, Aku menggunakan gluttony untuk menyerangnya.


"Gluttony!!." Teriakku mengarahkan serangan pada penyihir.


Energi penyihir langsung tersedot cukup banyak, tetapi sebelum aku memastikan membunuhnya, si pahlawan menyerangku.


Dengan sedikitnya mana dan serangan pahlawan, aku jatuh ketanah.


"Duk tak tang dang Duk tak tang."


Aku melihat sepertinya ada orang lain yang masuk menyerang pahlawan itu, tapi sebelum aku melihat mukanya, aku pingsan.


POV Pahlawan.


Taiga mengetahui ramalan dari gurunya yaitu si penyihir, bahwa kerajaan Sambac ini akan dihancurkan oleh seseorang.


Taiga sudah banyak membaca buku sejarah, bahwa di dunia ini banyak permusuhan antar ras, katanya musuh kali ini adalah iblis yang akan menyerang manusia.


Taiga mengikutinya pergi untuk memastikan apakah orang ini benar benar iblis seperti yang dilihat oleh para regu pencari.


Kami tiba di sekitar rumah orang kaya bernama Coksumbar, kami mengintai rumah itu dari kejauhan.


"Benar, aku merasa ada energi iblis disini, meskipun masih samar, berarti dia masih kecil, kita harus segera bertindak." Ucap penyihir tua itu.


Kami mengakui kekuatan orang itu, jadi kami percaya juga apa yang dikatakannya, kemudian kami mengikuti instruksi penyihir untuk menyergap rumah itu.


Ketika kami masuk kami dihadang beberapa penjaga, untuk menghindari masalah berkelanjutan, penyihir membunuh mereka dengan sekejap.


Kemudia kami masuk kerumah itu, melihat ada keluarga yang akan makan bersama.


Taiga melihat anak kecil, taiga merasakan perasaan sedikit nostalgia, tapi itu terhapus oleh auranya yang sedikit memancarkan aura iblis.


Sebenarnya taiga tidak tega membunuhnya, tapi lebih tidak tega lagi jika nanti banyak manusia yang hilang nyawa.


Kamipun mengikuti apa yang di instruksikan oleh penyihir, dan berencana untuk membunuh mereka.


Untuk sementara aku dan guru melihat kemampuan lawan.


Ketika melihat para kesatria tidak bisa menangani, guru memanggilku.


Aku pun mencoba bertarung dengannya.


Ketika kekuatan kami bertemu, benar saja, aku merasakan perasaan yang familiar, entah itu apa, tidak munkin aku mengenal orang dari dunia ini, apa lagi dia bukan manusia.


Ketika kami bertarung, guru menyerang ayah dari anak ini, membuat anak itu terlihat begitu menyedihkan.


Aku berpikir sejenak, merasa kasihan, karena meskipun auranya bukan manusia, tapi dia terlihat menyayangi keluarganya.


Karena aku kurang fokus, tiba tiba aku melihat dia menyerang guru.


"Gluttony!!" Teriak gadis kecil.


'Appa, ternyata dia punya skill dosa besar.' Batinku kaget.


Aku pun membantu guru, aku menyerang gadis kecil itu sampai dia pingsan, munkin karena dia juga kelelahan.


Aku akan melanjutkan seranganku, tetapi tiba tiba datang orang menyerangku.


Aku merasakan perbedaan kekuatan kami, dia terlihat lebih kuat dan berpengalaman daripadaku.


'Sial, sepertinya guru juga sangat kesakitan karena serangan tadi, memang pantas disebut skill salah satu 7 dosa besar."


"He taiga!!, ayo pulang saja, kamu tidak akan sanggup melawanya, bawa aku kabur dulu." Teriak penyihir setelah menilai kemampuan orang yang baru datang itu.


"Baik guru." Aku pun menjawabnya kemudian pergi membawa guru.


Kami meninggalkan pasukan, karena tidak munkin untuk melanjutkan pertempuran.


Setelah kami berlari beberapa langkah, sepertinya orang baru itu tidak mengejar kami, dia memilih untuk untuk menolong keluarga yang diserang.


"Kita akan kembali setelah kita mengumpulkan kekuatan." Ucap lelaki tua yang digendong.


"Baik guru."


.


.


.


bersambung.....