Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut

Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut
Chapter 65 Akira mode gila.


Di depan mansion yang sudah berantakan, orang-orang yang berkumpul terkejut melihat perubahan dari seorang gadis.


Ia yang awalnya gadis biasa, kini terlihat sangat berbeda, rambut merahnya yang lembut menjadi kaku, di kepalanya tumbuh sepasang tanduk, di tanganya muncul sisik besar, dan tubuhnya diselimuti aura merah, ya, itu Akira.


"Hey, ada apa denganya, apa dia juga seorang iblis, kenapa dia memiliki tanduk." Ucap kesatria berbaju hijau.


"Bukan, daripada iblis, dia lebih mirip beastman, tidak ada aura iblis darinya, munkin dia manusia banteng." Ucap kesatria berbaju kuning.


"Kamu lapar ya mas, nih bakso." Ucap kesatria berbaju merah.


"Nggak mas, terimakasih." Lanjut kesatria berbaju kuning dengan keringat dingin.


"Apanya yang banteng, lihat matanya, matanya seperti kucing, sepertinya dia nephi phelia, cuma kurang kaca mata aja." Lanjut kesatria merah.


"Anda wibu ya mas." Ucap kesatria berbaju biru dengan emot batu.


Ketika para kesatria sedang berdebat, tiba-tiba Akira dengan murasame di tanganya menyerang para kesatria, pergerakannya tidak bisa diikuti oleh lawan, dan dengan mudahnya kesatria tumbang.


"Aaaaa!!" Teriak Akira.


"Akira, apa kamu sehat?" Taiga yang sudah terpuruk setelah kehilangan kekasihnya, merasa tidak lagi terkejut dengan hal baru.


Akira terus menyerang para kesatria, bukan hanya goresan, kini Akira dapat memotong musuh dengan mudahnya.


"Ayo, kita harus menangkapnya." Ucap Zhi Zhou si pengguna ketekunan.


"Ayo." Para pahlawan menyetujuinya.


Para pahlawan kembali pada posisinya.


Ketika Akira sedang sibuk menebas kesatria, datang rantai putih yang mengganggunya, seketika Akira menghindar dengan cepat.


"Kamu menjadi lebih cepat ya." Pahlawan dengan pedangnya dengan cepat menuju Akira, dan mengayunkan pedangnya.


"Ting!!" Akira menangkis dengan murasame.


"Kamu, kamu yang membunuh mereka." Ucap Akira dengan suara dalam dan wajah gelap.


Akira memasukkan banyak tenaga ke tanganya, kemudian menyerang balik pahlawan di depannya, namun seranganya dapat dihindari.


Tidak hanya tangan kanan dengan pedangnya, namun Akira juga menyerang menggunakan cakar yang ada pada tangan kirinya.


"Srek." Cakar Akira mengenai dada pahlawan.


"Sial, dia tumbuh cepat." Ucapnya sambil memegangi dadanya yang berdarah.


Pahlawan yang terluka akan mengambil jarak, namun Akira langsung mengejarnya, Akira terus melompat kesana kesini sambil menyerang musuh dengan cakar dan pedangnya.


"Hati-hati dengan pedangnya, jika tergores sedikit saja akan terbunuh." Teriak kesatria dari jauh.


Adu kekuatan terus berlanjut, Banyaknya serangan sihir dari para pahlawan membuat tempat pertempuran semakin berantakan.


Serangan pedang dan sihir banyak Akira terima, Akira yang hanya ingin membunuh, tidak lagi memperdulikan serangan yang ia terima dari lawan.


"Kita harus cepat-cepat menangkapnya sebelum dia bertranformasi penuh." Teriak Zhi Zhou.


Datang serangan bola api yang semakin besar, pola api ditembakkan kepada Akira, namun dengan mudah Akira membalikkan serangan Api hingga meledak.


"Duar!!"


Ledakan terdengar sangat keras, tempat pertempuran menjadi semakin kacau, mansion yang tadinya retak kini roboh, dan tanah lapang hampir menyerupai Sawahan.


"Jangan taburkan pertalite pada api, bodoh." Zhi Zhou kesal dengan datangnya api entah dari mana.


"Sepertinya dia masih takut dengan rantaiku."


"Slereek."


Rantai dengan cahaya putih kembali menyerang Akira, Akira dengan instingnya terus menghindar.


Pertempuran dari kedua belah pihak, tanpa didasari strategi yang bagus, membuat orang lain yang melihatnya akan pusing.


Mereka semua termasuk Akira hanya menyerang dengan kekuatan banyak, mereka berlomba-lomba menghabiskan mana.


pertempuran yang tidak karuan membuat para kesatria dan penyihir di lokasi mengambil jarak, sedangkan orang luar semakin penasaran dengan sumber kekacauan.


"He Petapa mesum, keluarkan es yang banyak untuk membekukannya, setelah itu kamu bocil serang dia dengan rantaimu." Teriak Zhi Zhou.


gou ji dan Lian min mensuport para penyerang, sang pertapa dan pengguna rantai bersiap mengambil tindakan, dan tiga lainya menyerangi Akira dengan pedang dan sihir untuk membuat Akira sibuk.


Sedangkan pahlawan yang tanpa skill ruller, mereka bertiga menyerang Taiga, membuat taiga tidak bisa membantu Akira.


"Ting, Dum, duar." Suara yang dibuat semakin tidak karuan.


"Oy oy oy, apa mereka mengabaikan mayat temanya yang tergeletak." Ucap para kesatria dan penyihir yang hanya menonton dari kejauhan.


Akira masih terus berjuang dengan pedangnya, ketika sedang kesusahan tiba-tiba tubuh Akira kembali bersinar merah, setelah itu tumbuh ekor besar berwarna merah dari bawah roknya.


"Cepatlah, Petapa mesum." Teriak Zhi Zhou.


Zhi Zhou dan dua lainnya dengan pedangnya masih membuat Akira sibuk.


"Minggir!" Teriak Petapa.


Setelah para penyerang mengambil jarak dari Akira, Petapa menembakkan bola air menuju Akira, meskipun tidak menyakitkan namun membuat Akira basah, setelah basah kuyup, Petapa membekukan airnya.


"Aaaa!!"


Sihir es yang kuat membuat Akira susah bergerak, Akira terus berontak membuat es retak, namun sebelum hancur, rantai cahaya lebih dulu melilit Akira.


"Aaaa!!" Akira terus berteriak namun dia tidak bisa lepas dari rantai cahaya.


"Apa kita semua akan berakhir."


Taiga yang hanya manusia biasa, tidak mampu untuk melawan tiga orang yang kekuatanya setara denganya, taiga semakin putus asa.


"Aaaa!!" Teriakan Akira semakin kencang, cahaya merah kembali keluar dari tubuh Akira, tidak seperti sebelumnya, sekarang cahayanya sangat menyilaukan hingga orang lain tidak berani melihatnya.


***


Di suatu tempat yang gelap dan hampa, terdapat sorang gadis yang imut, dia memiliki rambut perak yang terurai, gadis imut dan cantik ini membuka matanya yang indah, siapa dia, ya, itu aku, Lilias.


'Ah bukan, aku bukan gadis lagi.'


"Di mana ini?" Setelah aku membuka mata, yang kulihat hanya ada kegelapan, tidak ada bedanya dengan orang buta.


"Ah iya, jadi aku mati lagi ya, padahal belum menikah." Ucapku.


.


.


"Mama, hiks."


Aku kembali teringat kejadian sebelumnya, sebelum aku mati, aku diperlihatkan mamaku yang dipenggal oleh musuh, bahkan aku mati sebelum menyentuh kepalanya.


Memikirkanya kembali membuatku semakin bersedih, air mata tidak dapat kubendung.


Ketika aku sedang menangis, tiba-tiba tempat yang gelap ini menjadi terang, seketika aku menutup mata karena silau.


"Apa lagi ini."


Aku perlahan membuka mata, tempat yang tadinya gelap, kini menjadi terang, namun terasa hampa, karena yang kulihat hanya sebuah kursi yang membelakangiku.


"Ini? Aqua?, apa aku akan di reinkrnasikan lagi?" Ucapku yang merasa nostalgia.


"Hey, jika aku akan di reinkrnasikan kembali, tolong jadikan aku kucing saja oke." Lanjutku.


"Xixixi, hahahaha." Tawa dia di balik kursi.


"Hey, apa yang kamu tertawakan." Lanjutku yang sedikit kesal.


"Haha, aku tidak berani melihat wajahmu, atau perutku akan sakit, xixixi, kepalamu, kepalamu terpenggal ya, hahaha." Lanjutnya yang tertawa puas.


Aku yang tadinya merasa sedih, kini menjadi kesal, sambil membuat emot batu.


"Yaah, oke, terimakasih sudah menghiburku, aku jadi ingin menghajarmu."


"Baiklah, cukup sudah bercandanya." Kursi yang tadinya membelakangiku kini menghadapku, dan terlihat seorang gadis yang sedang memakan cemilan.


"Mmm."