Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut

Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut
Chapter 43 Onee-chan yang baik (2)


Jendela rumah terbuka lebar, matahari sore semakin menghilang, di rumah hanya ada gadis yang sendirian duduk di kursi, dia mengepang kakinya, memangku sebuah gitar akustik dengan cangklongan bergambar kelelawar.


Sebelum memainkan lagu, ia meminum darah kemudian meletakkan gelasnya di meja.


Gitar di petik dengan intro sederhana.


C F G C (2x)


Kemudian suara indahnya keluar sesuai nada.


Ai wo hitotsu mata ne mata ne


Yoru ni saku ondo to tomoru made


Kokyuu hitotsu ikiru ikiru


Yasashii hibi no yoko de nakanu you ni aa.


Sekian tanda koe hitotsu dari rokudenashi.


Baru selesai ia memainkan lagu, datanglah seorang yang ia tunggu sejak tadi, ia masuk ke rumah dengan wajahnya yang menjengkelkan.


"Aku pulang...... Lilias, sedang apa kamu." Dia yang baru masuk melihatku memegang gitar.


"Aku nungguin kamu dari tadi, kemana saja kamu, ini hampir gelap lho." Ucapku menatap Akira dengan mata sipit.


"Ituuu......hehe aku tadi ada urusan penting." Ucap Akira sambil menggaruk kepala dan senyum terpaksanya.


"..."


"Hari ini kamu yang masak sendiri, cepat aku tunggu."


"Mmm oke." Angguk Akira, kemudia dia langsung menuju dapur untuk menyiapkan makanan.


Sambil menunggu Akira, aku kembali menuangkan darah ke gelasku, kemudian meminumnya.


'Mmm, aku mulai bosan meminum darah dari kantong, meminum dari sumbernya lebih enak.' Pikirku.


'Ayy sistem.'


<...>


'Apa kamu di situ.'


<...>


Aku terdiam menghadap langit-langit rumah, melamun cukup lama.


.


.


Lamunan cukup sudah, sampai akhirnya Akira selesai dengan masakanya, dia membawa masakanya ke meja makan.


"Beres, ayo kita makan." Akira menarik kursi kemudian duduk bersebelahan denganku.


"Mmm." Aku mengambil makanan di meja.


"Apa yang sedang kamu pikirkan." Akira yang duduk di sebelahku mengajak bicara.


"Tidak ada, yok lah makan."


Kami makan bersama, tidak seperti biasanya, karena kami hanya berdua jadi suasana lebih sepi, tanpa banyak perbincangan.


Makanan satu persatu masuk ke mulut dengan nyaman, kunyah demi kunyahan kami nikmati bersama, asin pedas gurih terasa jelas di lidah.


"Prupuut prupuut prupuut." Suara memecah suasana.


"Wek, kamu kentut ya Akira, sopan sekali anda kentut didepan kakamu ketika makan." Aku terkejut dengan kesalnya.


"Ti tidak, maaf ini aneh sekali, itu.......aduh." Akira memegangi perutnya.


"Oek, asem, ini?......amis." Aku memperhatikan Akira dengan seksama, aku melihat Akira seperti kebingungan.


"Jangan diam saja, pergilah ke kamar mandi, ambil pembalut punyaku di kamar."


"Lilias, apa maksudmu." Akira melihatku dengan bingung.


"Haah, kamu ke kamar mandi dulu, dan tunggulah aku."


"Mmm."


Akira pun pergi ke kamar mandi, sedangkan aku pergi ke kamar mengambil pembalutku yang masih tersisa.


.


.


Akira duduk di kamar mandi, dia merasakan sesuatu yang aneh di bawah, jadi dia membukanya.


"Da da darah." Kejut Akira yang seorang anak polos, dia jarang teman dan juga ditinggal ibunya waktu kecil, apalagi akademi tidak mengajari pelajaran biologi.


Tidak sampai lama menunggu, aku datang ke kamar mandi dengan cepat.


"Lilias, Lilias onee-chan, darah , ada darah." Ucap Akira dengan mata berkaca.


'Hmm, kalau lagi susah baru memanggil kakaknya.'


"Akira chaaan, kamu setelah ini jangan terlalu dekat dengan seorang pria oke, kamu bisa hamil, terus ini pakailah, apa kamu tau cara memakainya." Aku memberikan sebuah pembalut kepada Akira.


"Aku tidak tau apa yang kamu bicarakan, tapi terimakasih, apa yang harus kulakukan dengan ini." Akira memegang benda pemberianku.


"Sini aku bantu."


Aku membantu Akira seperti dulu ketika mama membantuku, aku mencoba menjadi kakak yang baik bagi Akira, meskipun biasanya kami satu sama lain hanya menganggap teman.


"Oke, dengar, mulai saat ini kamu akan mengalami ini setiap bulan, dan ini berlangsung sampai beberapa hari, jadi kamu harus bisa memakai sendiri oke, dan kamu harus menggantinya saat sudah terlalu basah atau sudah merasa risih." Jelasku.


"Ooo, mengerikan, apa aku harus terus merasa sakit ini."


"Belum tentu setiap saat merasa sakit, tapi ketika merasa sakit pintar-pintarlah kamu, haha."


"Aku mau tidur dulu." Akira pergi meninggalkanku di kamar mandi.


Setelah Akira pergi, aku lupa untuk mandi jadi aku mandi sendiri dengan nyaman, tidak lupa misi harian kulakukan sampai kelar, setelah mandi aku bersiap untuk menemani Akira tidur.


***


Pagi datang, hari baru semangat baru, aku membuka mata kemudian membentangkan kedua tanganku dengan kuat.


"Oaaah, nyenyak sekali."


Baru bangun, aku melihat sebelah, Akira yang masih berbaring ternyata juga sudah bangun, namun ada kantung di bawah matanya.


"Apa kamu baik-baik saja, apa tidurmu nyenyak." Ucapku melihat mata Akira seperti ikan mati.


"Pusing, hari ini aku tidak mau berangkat ke akademi."


"Hmm." Mataku melebar.


"Baiklah, tunggu ya."


Aku beranjak pergi dari kamar menuju dapur, mengambil air bening hangat, memasakkan makanan yang nyaman, menyiapkan obat pusing, obat peredam perih, obat penambah darah, aku mengumpulkan semua di bentang, dan membawanya ke kamar.


"Aku haru meminta ijin untukmu, jadi kamu kutinggal tidak apa kan."


"Mmm."


"Ini nanti makanlah, aku berangkat ya."


"Mmm."


'Waa, kondisinya menghawatirkan, aku sebenarnya tidak ingin meninggalkannya sendirian di rumah.' Pikirku melihat Akira masih berbaring dengan lesu.


Karena waktu hampir menunjukkan jam masuk kelas, aku secepatnya membuka portal menuju sekitaran akademi, tempat yang biasanya kugunakan untuk berpindah.


Aku segera masuk ke kelas.


Ketika guru memeriksa daftar hadir, aku meminta ijin untuk Akira.


Hari ini adalah pelajaran ekonomi, yang di bicarakan adalah banyaknya mengenai bisnis dan berhitung.


Di dalam kelas aku tidak terlalu fokus karena masih khawatir dengan keadaan Akira di rumah, meskipun hari sebelumnya aku sempat kesal denganya, namun entah kenapa modku mudah sekali berubah.


Ketika pelajaran, aku hanya duduk melamun, ketika jam istirahat aku tidur di kelas, dan ketika pulang, aku pulang dengan cepat.


Keluar dari kelas dengan cepat, ketika aku hampir sampai di gerbang, aku berpapasan dengan taiga, dia berhenti dari jalanya.


'Si taiga ini, ketika mengingat dia kemarin, rasanya aku ingin menghajarnya.' Aku dengan wajah seperti melihat musuh bebuyutan, menatap taiga dengan wajah gelap.


"Lilias, sudah mau pulang y, di mana Akira, kenapa kamu sendirian." Ucap taiga tanpa banyak pikir.


'Akira Akira, Akira! Akira!'


"Hmph." Aku membuang muka dengan pipi yang mengembung.


"Lilias?" Bingung taiga.


"Selamat pagi sensei, dan juga sampai jumpa." Aku meninggalkan taiga yang masih bingung berdiri.


"A.....malam."


.


.


"Huuuuh." Mengubah mod setelah keluar dari akademi.


'Munkin aku akan membelikan jajan untuk akira, sekalian membeli kantong darah.' Aku lari cepat menuju pasar kota sebelum pulang.


.


.


.


.


.


Bersambung......


Jam menunjukkan pukul 9 pagi, waktunya untuk pelajaran novel bersama Solaya sensei.


"Selamat sore teman-teman, hari ini kita ujian, silahkan dijawab soal ini." Sensei memberikan sebuah kertas soal.


Apa yang membuat kalian tertarik untuk membaca cerita ini?


A. Genre Reinkarnasi


B. MC menjadi vampir


C. Menjadi gadis


D. Covernya cantik


E. Gabud


Harap jawaban dikumpulkan segera, yang tidak mengumpulkan harus remidi.