Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut

Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut
Chapter 49 Pikiran Seorang mama.


Di suatu kamar yang bersih, dengan kasur putih polos dan lampu redup, terdapat dua orang yang baru saja bangun dari tidurnya, satunya sedang mengelus perut langsing orang yang tanpa pakaian di sampingnya.


"Munkin sebentar lagi Akira dan Lilias akan punya adik ya." Ucap dia yang mengelus.


"Sebentar apaan, baru saja kita melakukanya, mana munkin langsung jadi." Ucap yang perutnya di elus.


"Jadi, sandi, apa oleh-oleh yang akan kita bawa untuk mereka, masa cuma seorang adik." Lanjutnya.


"Hmm, mereka seumuran, jadi bawakan pakaian yang mirip saja, agar mereka terlihat seperti saudara kembar, haha." Jawabnya sambil tersenyum bebas, sandi.


"Hihi, pasti mereka akan terlihat imut, jadi kapan kita akan pulang."


"Yaudah, hari ini kita belanja saja untuk oleh-oleh, lagian perjalanan pulang cukup jauh." Sandi menarik kembali tanganya dan bangun dari tempat tidurnya.


"Mmm."


"Ayo Solaya, kita mandi dulu, biar aku basuh tubuhmu, hehe." Sandi dengan senyum nakalnya.


"Kau duluan aja." Solaya dengan wajah matangnyanya memalingkan pandangan dari sandi.


"Ayolah, jangan malu, lagian aku sudah melihat tubuhmu."


"Aku bisa sendiri, pergilah." Soalnya menarik selimut dan menutupi tubuhnya yang terlihat jelas.


"Hai haii, aku duluan."


Sandi meninggalkan Solaya yang masih di kamar, ia pergi menuju kamar mandi, sedangkan Solaya masih berbaring menatap langit kamar.


Setelah cukup berbaring, ia bangun merapikan selimut, dan mengenakan handuk untuk melilit tubuhnya.


"Mmm, pegal sekali, sudah lama aku tidak melakukanya." Solaya memegangi pinggangnya.


Seorang ibu yang sudah lama ditinggal mantan suaminya, bahkan anaknya sudah besar, karena kesibukannya dia jarang bermain, tentu saja dia bukan penggila cimpo, jadi untuk melakukanya setelah sekian lama dia merasa pegal.


Setelah cukup lama menunggu, sandi kembali dari kamar mandi, dan giliran Solaya untuk menggunakan kamar mandi.


Solaya masuk ke kamar mandi dan melepas handuk yang melilitnya, kamar mandi yang luas dan bersih, pantas untuk penginapan mahal, sepertinya sang suami baru sangat memperhatikanya.


"Uwaah, itunya masih mengalir, dia mainya hebat juga, entah berapa kali dia keluar di dalam, sampai aku tidak terpikir untuk menghitungnya." Solaya yang melihat bagian bawahnya, terdapat air putih mengalir dari rawanya.


Eghm.


Solaya memang cukup lama di kamar mandi, tapi tidak perlu ada adegan.


Setelah mandi, ia berpakaian kembali, sarapan pagi kemudian bersiap untuk pergi belanja bersama sandi.


"Ayo sayang, kita pergi." Ajak sandi.


"Sa sa sayang ?? kamu tidak terlihat seperti orang yang romantis."


Keduanya keluar dari penginapan, karena penginapan terletak di tengah kota, jadi mereka tidak perlu pergi terlalu jauh.


Keduanya jalan di kerumunan, membuat iri orang lain yang melihatnya.


Setelah sampai di suatu toko pakaian mereka pun berhenti.


"Benar ni mau beli pakaian, kan kamu seorang desainer, masa mau beli pakaian." Sandi yang sedang merangkul Solaya.


"Iya ya, mmmm, kalau begitu beli bahan yang bagus saja, aku mau membuat pakaian yang istimewa untuk mereka." Soalnya yang tersenyum membayangkan anaknya.


"Akira punya rambut merah dan Lilias punya rambut perak, jadi pakaian yang kubuat harus cocok untuk keduanya, hihi membayangkannya saja membuatku ingin segera pulang untuk memeluk mereka." Lanjut Solaya.


"Kalau aku ingin memesan pedang yang bagus untuk mereka, pedang gagang putih untuk Akira dan yang berwarna merah untuk Lilias." Lanjut sandi.


"Uwaa, haha, skuy lah." Mereka tertawa bersama.


***


Di lain tempat, di sebuah kamar asrama khusus guru akademi, terlihat seorang pria yang sedang mencukur janggut di depan cermin.


"Aku sudah cukup tua untuk menikah, apa aku bisa pulang ke bumi, apa Bella masih menungguku." Dia yang mengusap cermin di depannya.


"Tidak, munkin dia sudah mengira aku mati, pasti dia juga sudah menikah, labih baik aku juga segera menikah.......... tapi dengan siapa? di dunia ini bahkan kenalan pun aku tidak punya." Pikiran rumitnya setelah beberapa tahun berpindah dunia.


"Apa kalian pacaran." perkataan akira yang mengalir di kepala.


"Lilias??"


"Tidak tidak, tidak munkin aku denganya, dia kan mantan aji, memang kini ia seorang gadis, tapi kan dia terlihat seperti anak kecil."


"Taiga, lihat ini, loli ini imut kan." Perkataan aji yang muncul di kepala.


"Dulu kan dia suka loli, apa Sekarang Lilias suka om-om ya." Pria ini yang tak lain adalah taiga, menatap wajahnya sendiri yang terpantul di cermin.


"Dah sesat, yeh yey aku dah sesat, apa yang aku pikirkan, lebih baik aku berangkat kerja."


Taiga menyelesaikan persiapannya, dan keluar dari kamarnya, tidak lupa mengunci pintu dan pergi menuju akademi.


"Selamat pagi sensei."


"Pagi."


Sambutan hangat dengan lambaian tangan dan senyum mereka, taiga juga membalas dengan hal sama.


Taiga berjalan menuju ruang guru, tapi terhenti karena berpapasan dengan orang yang sangat ia kenal.


Seorang gadis berambut merah dengan senyuman di wajahnya yang cerah, di sampingnya seorang gadis berambut perak dengan bandana di kepalanya, ia terlihat panik dengan wajahnya yang merah.


"Selamat pagi paman." Sapa dia yang di hadapannya.


"A iya, pagi Akira, dan selamat pagi lilii.....as" Taiga hendak menyelesaikan perkataanya, namun dia yang akan disapa sudah dulu meninggalkannya.


"Lilias? heyy tunggu aku." Akira mengejar Lilias yang tiba-tiba pergi.


"Sampai jumpa lagi paman." Akira melambaikan tangannya sambil pergi.


"Mmm." Angguk taiga.


'Ada apa dengan Lilias, kenapa dia terburu-buru.' Pikir taiga melihat punggung Lilias yang semakin menjauh.


'Biarlah.'


Taiga melanjutkan jalannya menuju ruang guru.


Sesampainya di ruang guru, sudah ada beberapa guru yang sudah datang, tak lupa mereka untuk saling tukar sapa.


"Selamat pagi Taiga sensei."


"Pagi."


'Hmm, guru-guru perempuan di sini semua cantik, tapi mereka sudah bersuami, sepertinya hanya aku yang masih sendiri, sungguh menyedihkan.'


Setiap pagi, bagi seorang guru harus presensi kehadirannya, jika bolong kan potong gaji.


Setelah beres baru mereka menuju kelas masing-masing yang akan mereka tuju.


Taiga di akademi hanya menjadi guru berpedang, atau guru kesatria, tidak multi talen seperti guru SD di kehidupan di bumi.


Di akademi ini, satu hari dari pagi hingga lewat siang hanya untuk satu kelas, jadi mereka bisa memaksimalkan apa yang akan guru sampaikan atau ajarkan.


.


.


.


.


Tidak perlu untuk cerita terlalu rinci, jadi kegiatan yang membosankan saya lewati.


Jam kerja berlalu cepat, menjelang sore waktunya untuk pulang.


Taiga keluar dari kelas dan menuju ruang guru untuk meletakkan dokumen yang ia bawa, setelah itu baru ia pulang.


Entah siapa yang mengaturnya, kebetulan sekali ia berjumpa kembali dengan Lilias, kali ini ia sedang sendiri, Lilias berjalan santai cukup jauh di depan.


'Eh itu Lilias.' Taiga berjalan cepat menuju Lilias.


"Hey Lilias." Sapa taiga dari kejauhan.


Lilias yang ia panggil menoleh ke taiga, sesaat dia mengamati, tiba-tiba wajahnya terlihat panik, dan secepatnya ia pergi dari hadapan taiga.


'Eh, ada apa denganya, apa dia menghindariku.'


Taiga diam berdiri dalam kebingungan.


'Dah lah, masih ada hari esok.'


.


.


.


.


Bersambung.......


Ehehehe, mohon jangan kecewa dengan apa yang ku ceritakan, aku pengen cepetin alur sampe bagian yang menurutku menarik, karena khawatir pembaca akan hilang, tapi kalau terlalu cepet kurang mengena di hati.


Apalagi harus nunggu 300k untuk tamat, ini baru 60k


Semoga nanti bisa menggambarkan suasana yang bagus.