Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut

Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut
Chapter 30 Paman taiga meresahkan.


Dalam guild terlihat beberapa orang yang sedang berdebat dengan dirinya sendiri, mereka terlihat bingung dengan apa yang mereka bicarakan.


"Terimakasih waktu itu PAMAN telah menyelamatkan adik saya." Ucapku.


"Aah iya, memang seharusnya aku melakukan itu." Ucap tiga.


'Kenapa aji selalu menekankan pada kata paman, itu mengangguku.' Pikir taiga.


"Kalau begitu selamat beraktifitas PAMAN, kami akan melakukan misi." Aku yang segera menarik tangan Akira.


"Ayo." Ajakku.


"A iya, sampai nanti paman." Ucap Akira.


"..." Taiga emot batu.


Kami berdua meninggalkan taiga yang berdiri melamun, aku membantu akira mengambil misi rank B agar Akira cepat naik rank.


Menyerahkan kertas misi kepada responsis Yuli untuk pemberitahuan.


"Yuli san, sebenarnya apa yang terjadi, tumben jam segini masih banyak orang ngobrol." Tanyaku pada Yuli.


"Aah itu, katanya ada Intel dari kerajaan Sambac yang menyusup tertangkap di sini, membuat hubungan kedua kerajaan semakin memanas." Jelas Yuli.


"Intel?"


"Iya, mereka beralasan diam-diam masuk kesini karena mencari pemberontak dari kerajaannya, tentu pihak kami tidak percaya begitu saja, mengingat hubungan kedua kerajaan yang sejak dulu tidak baik." Lanjut jelas Yuli.


'Eh, apa aku akan menyebabkan peperangan.' Batinku suka cita.


Taiga di belakang kami yang juga mendengarnya tidak banyak bereaksi, entah sedang memikirkan terlalu dalam atau sebenarnya tidak peduli.


.


Setelah sedikit berbincang dengan Yuli, kami berenjak pergi untuk misi, tentu lokasinya seperti Akira biasanya kerjakan, hutan bisma.


Kami berjalan santai ketika keluar wilayah kerajaan, namun ada yang sedikit menganggu perasaanku.


Sesampainya di luar gerbang, aku hendak bersiap menggunakan portal, tetapi yang menganggu semakin mengganggu.


"Nee PAMAN taiga, kenapa anda mengikuti kami, apa anda seorang pedo?" Ucapku dengan mata sinis.


"A tidak, kebetulan arah misi kita sama jadi..." Ucap taiga.


"Ciiii."


Aku segera membuka portal dimensi, untuk meninggalkan taiga, Akira yang sudah mengetahuinya tidak terkejut, tapi si paman taiga ini berbeda.


'Hah, jadi dia pergi dengan pintu kemana saja, pantas saja dia bisa tiba-tiba menghilang.' Pikir taiga.


"Tu tunggu aku, aku ikut." Ucap taiga tidak tau malu.


"Tentu paman, kita bisa pergi bersama." Jawab Akira dengan bahagia.


"Apanya yang ikut, masa mau ikut sama anak kecil?" Ucapku dengan mata sinis.


"Kenapa begitu Lilias, biarkan paman ikut juga."


"..."


'Sebenarnya aku bukan seorang pendendam, tapi entah kenapa aku ingin menolaknya.' Pikirku.


"Yasudah." Dengan pasrah aku menutup percakapan.


'Lagian aku sudah habis alasan untuk bertarung dengannya.'


Tanpa debat berkelanjutan, kami bertiga masuk portal dimensi yang kubuka, dan tepat keluar di dalam hutan.


"Woow ternyata ada skill seperti ini ya." Takjub taiga.


"Iya, Lilias punya banyak skill yang menakjubkan." Ucap Akira dengan bangganya.


"Banyak? bukanya skill tipe khusus itu bawaan dari lahir." Taiga yang teringat penjelasan gurunya.


"Munkin Lilias istimewa." Ucap Akira.


"Apa yang kamu bicarakan, jangan diam saja, ini misimu." Desakku pada Akira.


"A iya."


Mendengar apa yang tadi dikatakan taiga, aku sedikit memikirkanya, sebagai pemegang sistem aku terlihat istimewa, tapi aku pikir sebenarnya kalau sistem itu sendiri adalah skill khususku, sedangkan skill umumku munkin elment air, kegelapan, skill pedang dan regenerasi.


'Munkin aku memang membutuhkan akademi untuk mengetahui lebih lanjut.'


Kami melanjutkan perjalanan masuk lebih dalam ke hutan, tentunya Akira yang memimpinya, karena ini sebagai ajang latihan bagi Akira, sedangkan aku cuma mengawasi dan membantu jika diperlukan.


Kami terus berjalan mengikuti Akira, sebenarnya aku tau lokasi monster dengan skill deteksi, tapi kali ini biar Akira untuk menunjukkan kemampuan hidungnya.


Ketika akira berjalan mendahului aku dan taiga, taiga memiliki waktu yang dia tunggu.


"Eghm, aji, aku mau minta maaf karena sudah menyakitimu." Ucap taiga dengan bimbang.


"..." Aku yang masih berjalan santai.


"Kamu tidak perlu minta maaf, sampai kematiannya aji selalu menganggapmu sabagai sahabat sejatinya, terimakasih untuk itu...... dan namaku Lilias, LILIAS." Ucapku tanpa ekspresi.


"Ah iya maaf, Lilias Chan, apa yang harus kulakukan untuk membayar kesalahanku." Lanjut taiga.


'C c c c CHAN!! apa dia sadar dengan perkataanya." Pipiku merah ketika memikirkanya.


"Lilias c...." Ucap taiga yang terpotong olehku.


"Iya iya iya, tidak perlu minta maaf, aku sudah melupakannya, lagian yang membunuh pa..ayahku bukan kamu." Ucap dengan pipiku yang masih merah.


"Benarkah, sukurlah, kalau begitu apa kamu masih ingin berteman denganku?" Ajak taiga dengan senyuman.


"..." Wajahku kembali normal.


"Oe PAMAN, kamu terlalu tua untuk bermain dengan anak kecil sepertiku." Ejekku melihat si tua.


Taiga yang masih merasa ganjal dengan panggilan paman dariku, dia tidak berpikir untuk menerimanya.


"Hee~, kau tau, dulu aku kenal sama orang yang terobsesi dengan anak kecil, katanya dia ingin menikahi anak SD, padahal dia hampir lulus SMA." Sindir taiga.


Aku masih mengingat jelas kehidupanku dulu, ketika SMA aku memang pernah berkata demikian pada taiga.


"Hoo~, jadi setelah kamu memakluminya, sekarang kamu mau menikahuiku." Serangan balikku.


"Blussh." Taiga kena jebakan yang dia pasang sendiri.


"K k kenapa sampai kesitu, sudah kubilang aku mau berteman." Ucap taiga.


"Iya iya." Anggukku.


Bagaimanapun aku saat ini merupakan gadis yang cantik dan imut, apalagi dengan skill pasif pesona, siapapun akan melupakan hal lain ketika bersamaku.


Kami banyak berbincang sambil berjalan mengikuti Akira lumayan juauh di belakang, percakapan singkat bisa membuat kami akrab kembali, karena memang dari awal kami hanya salah paham.


.


.


.


Akira bereaksi, dia tau keberadaan monster, dan ketika kami mengikutinya, benar Akira bertemu dengan monster yang bentuknya antara mirip monyet dan serigala, monster itu namanya Sigit rendang, monster hampir mencapai rank B.


"Apa kamu sanggup." Tanyaku melihat Akira.


"Aku akan berusaha." Angguk Akira dengan kemantapan hatinya.


Akira mengurus monster itu, sedangkan aku diam menonton, dan tidak lupa taiga yang juga paham maksudku.


Serangan andalan Akira adalah sihir api dan skill berpedang, kadang dia memasukkan apinya kedalam pedang agar menambah kerusakan pada monster.


Sedangkan monster Sigit rendang bertarung dengan fisiknya, bentuk dan kelincahan mirip monyet, sedangkan postur tubuh dan kuda-kudanya mirip srigala.


Aku menonton Akira bertarung cukup lama, Akira semakin mahir dalam bertarung, dia menggunakan teknik gerilya, mundur ketika diserang dan maju dengan mengejutkan, meskipun sedikit lama tapi Akira bisa mengalahkanya tanpa luka, hanya kelelahan.


"Bagus Akira, kamu semakin kuat, ini air minummu." Ucapku dengan senyum manis.


"Terimakasih." Akira menerima botol air minum dengan senyuman pula.


'Indahnya senyuman, aku senang karena kamu masih seorang yang baik.' Pikir taiga dengan tersenyum.


Karena akira terlihat kelelahan, kami istirahat sebentar, agar stamina Akira terisi kembali.


Ketika aku hendak mengambil barang bukti dari monster yang telah dibunuh Akira, tiba-tiba muncul monster menyebalkan yang paling akrab denganku.


"Lendir sialan." Ucapku ketika melihat monster bola lendir besar berwarna biru, slime.


Secepatnya aku mengeluarkan sabit gutemalaku yang kusayang, aku menghampiri slime itu dengan cepat, dan dengan sabit besarku aku mencabik-cabik slime berkali kali dengan brutal.


Dua orang yang sedang istirahat hanya bisa melihatku dengan heran.


"..."


"Apa dia selalu galak seperti ini?" Ucap taiga.


"Ahaha, tidak, biasanya dia lemah lembut, entah kenapa setelah beberapa hari lalu dia sakit perut, sikapnya jadi berbeda, dia sering marah-marah tidak jelas, bahkan kadang marah dengan apa yang ia lakukan sendiri." Jelas Akira.


'Aku sudah mati jika dia menginginkannya.'


"Gluk." Taiga menelan ludah.


.


.


.


.


.


Bersambung........