Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut

Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut
Chapter 15 Rank C.


Hari pagi telah datang, meskipun aku adalah vampir yang tanpa masalah untuk tanpa tidur, tapi aku selalu tidur dengan nyenyak, aku membuka mataku dan sudah ada mamaku yang berdiri di sampingku.


"Ayo gerak." Dia yang menarik slimutku.


"Mmm." Mengusap mulutku yang bocor.


Aku pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan, karena sudah terbiasa, aku tidak membiarkan seorang istri memasak untuk orang lain setelah ditinggal suaminya.


Aku menyiapkan makanan untuk empat orang di pagi dan malam, untuk siang biasanya makan di tempat kerja masing masing, kecuali aku dan Akira yang dulu cuma bermain di rumah.


Makanan yang membosankan, entah kenapa masakan yang biasa kumakan terasa sangat membosankan.


Saat makan aku berdiam melihat lihat shop, munkin ada yang perlu kubeli untuk farming kali ini.


'Coba kulihat, apa yang sudah ada.'


'Siatem.'


___________________________________


Nama : Lilias Coksumbar.


Ras : vampir.


Level : 26.


HP : 2400/2400 [90%]


MP : 4800/4800 [90%]


SP : 4800/4800 [90%]


Skill :


-kesucian (sharity) [90%]


-kemalasan (sloth) [90%]


-kerakusan (gluttony) [90%]


-nafsu (lust) [90%]


-Manipulasi darah. [90%]


-Manipulasi elmen. [90%]


-Atlit bumi. [90%]


-Pencak Silat. [90%]


-Deteksi. [90%]


Element:


air,kegelapan.


koin : 53.600


[Status] [Quest] [Shop] [Inventori]


___________________________________


'53 ribu kah, terlalu sedikit, tapi aku bisa membeli skillnua vampir jadi takpalah.'


Setalah melihat lihat banyak skill aku akhirnya mutuskan untuk membeli skill yang bagus namun terjangkau.


[Mendapatkan skill, langkah bayangan, kondisi bisa bergerak senyap].


[Mendapatkan skill, kelelawar, kondisi bisa menjadi kelelawar dengan kemampuanya dan bisa memerintah monster tipe kelelawar].


'Oke dah, dengan 20.000 aku membeli keduanya, pasti tidak sia sia.'


Setelah semua barsiap siap di rumah pun, semua pergi untuk urusan masing masing.


"Ayo kita berangkat Lilias Chan." Ajak Akira.


"Ayo." Ucapku malas, entah dari mana perasaan ini.


Kami keluar rumah dan berjalan seperti biasa menuju ke guild.


'Lama, aku ingin berlari, tapi nanti pasti mencolok jika kulikukan di kota.'


Dengan banyak kesabaran, kami sampai guild, Kami masuk guild dan terlihat guild sepi, sepertinya orang orang sudah pergi bekerja.


Kami melihat lihat papan misi, terlihat misi yang bisa kami lakukan sangat sederhana, seperti mencari tanaman obat obatan, karena kami tidak ditemani oleh paman yang rank B.


"Sepertinya kita tidak punya banyak pilihan ya." Ucapku memandangi papan.


"Iya, kan kita masih rank D."


'Ini pasti lama untuk naik rank B, tapi jika aku tiba tiba naik rank, pasti akan menarik banyak perhatian, dan munkin banyak yang mencari identitasku.'


Setelah banyak berpikir, akhirnya aku mutiskan untuk naik rank v selama 3 hari, dan naik ke rank B juga 3 hari, sisanya untuk ke dungeon.


Kami mengambil misi untuk mencari obat obatan, jika Akira melakukan sendiri munkin sangat lama, tapi aku mengaturnya agar rank naik dalam 3 hari.


Persyaratan kali ini untuk naik Rank C adalah dengan menyelesaikan 1000 misi, jadi hari ini aku akan mencari 333 tanaman obat.


Kami keluar dari guild dan berenjak menuju hutan, karena aku tidak sabar, setelah keluar dari wilayah kerajaan, aku berniat ngebut.


"Kuatkan mentalmu Akira Chan." Ucapku yang tiba tiba menggendong Akira.


"Eh ada apa Lilias Chan." Kagetnya olehku.


Aku mengaktifkan langkah bayangan dan lari cepat, wis wis seperti ninja, aku juga menyelimuti Akira dengan aura bayangan agar ia beradaptasi dengan kecepatan.


"Liliaaas, ini terlalu cepat." Ucapnya dengan wajah pucat.


"Tahan, dikit lagi nyampe."


Tanpa banyak mempedulikan Akira, akhirnya kami nyampe juga di pinggiran hutan, dan berhenti sejenak menurunkan Akira.


"Ghoeeeeeg." Suara Akira memuntahkan makanan dari mulutnya.


"Aah, maaf sepertinya kamu mabuk, hehe." Ucapku bingung.


'Seperrinya aku butuh skill hilling, sistem pakah ada di toko.'


'Ada, tapi anda harus memiliki elmen cahaya atau api.'


'Yaah, koinku kurang, eh aku kan punya banyak barang di Inventori, munkin aja ada obat.'


Akhirnya menemukan apa yang kucari, aku segera memberikan obat mual kepada Akira.


"Ini obat, makanlah." Aku memberikan sebuah pil dan air minum.


Tanpa bisa berkata, Akira menurutinya dan memakan obat yang kuberikan dan menelannya dengan minuman.


Setelah kondisi Akira mendingan, kami melanjutkan pencarian kami, aku menggunakan mengaktifkan deteksi untuk melihat keadaan sekitar.


Melihat dari gambaran peta dikepalaku, aku bisa melihat berbagai macam tumbuhan dan beberapa monster, setelah memilih beberapa tumbuhan tang seperti tergambar dalam kertas misi guild, aku memandu Akira untuk pergi mengambilnya.


Kulakukan berulang kali sampai tercapai targetku dan hampir sore.


Kami memasukkan tanaman obat pada sebuah kantong, karena terlalu mencolok jika menggunakan penyimpanan sistem, kemudia kami berenjak pulang.


'Tumbuhan ini lumayan langka ternyata.'


"Kamu hebat sekali Lilias Chan, jarang ada yang punya skill deteksi, apalagi memiliki banyak skill sekaligus."


"Benarkah, munkin aku hanya beruntung."


'Lilias terlalu kuat, apa nanti aku bisa terus bersamanya.' Batin Akira sedih.


"Jangan terlalu dipikirkan." Aku merangkul pundak Akira untuk menenangkannya.


Setelah berjalan cukup lama, kami pun sampai guild, dan menyerahkan hasil pencarian kami.


Aku mengeluarkan berbagai macam tanaman dari kantong dan memberikannya pada Yuli.


"Eeeeh sebanyak ini, baru kali ini aku melihat ada yang bisa mencari tanaman obat dengan sangat banyak."


Aku melihat sekeliling ruang guild, dan sepertinya masih banyak orang yang belum pulang dari misinya.


"Aah ,apakah itu tidak normal, aku harap jangan sampai ada orang yang tau."


"Ba baiklah, ini bayaran untuk kalian." Ucap Yuli menyerahkan 3 emas.


'Eh cuma segini, maklumlah ini cuma bahan obat.' Batinku cemberut.


'Kenapa dia terlihat kecewa, entahlah.' Batin Yuli melihat arahku.


Seperti biasa kami langsung menggunakan uang itu untuk jalan jalan, karena cuma untuk makanan jadi masih banyak yang tersisa, dan kami menabungnya.


Kami melakukan pencarian obat selama 3 hari, segerang naik rank c yang membuat Yuli terheran, tapi aku memintanya untuk menutup mulut.


{Banyak kejadian tidak tertulis, bosan menulis scene slice of life,hehe}.


3 Hari setelahnya, setelah kami memenuhi prosedur yang dibutuhkan untuk naik rank, kami pergi untuk misi rank C pertama kami.


Syarat yang diperlukan untuk naik ke rank B adalah membunuh 1000 monster rank C atau D.


'Mmm ini baru asik, bisa dapat Exp juga.' Batinku melihat papan misi yang terdiri dari membunuh monster rank D atau C.


"Ayo Akira Chan." Ucapku dengan mengepalkan tangan erat.


"Oke." Angguknya.


Aku tak sabar untuk segera menyelesaikan misi, jadi aku menuntun Akira berjalan cepat keluar dari kerajaan.


'Lilias sangat bersemangat, aku tidak ingin menjadi bebanya.' Telkat Akira.


"Lilias Chan, dari pada lama, aku siap jika kamu membawaku berlalu seperti yang lalu." Ucap Akira mengepalkan kedua tangannya.


"Benarkah, hehe maaf ya." Ucapku tanpa dosa.


"Ghoeeeek."


"Ah ha ha, kamu muntah lagi, ni obatnya." Aku tersenyum melihatnya.


"Terimakasih." Akira menerima obat, 'aku harus kuat, agar bisa terus bersama lilias.'


Aku menggunakan skill deteksi, sejauh 1km telah melihat berbagai monster, meskipun belum mencangkul seluruh hutan tapi sudah ada banyak monster lemah untukku farming.


Setelah kondisi Akira mendingan, kami memasuki hutan dan aku mengeluarkan sabit gutemalaku, bersama Akira, kami membantai monster lemah itu, setidaknya lemah bagiku, tidak bagi Akira yang manusia biasa.


'Uhh, kondisiku kenapa begini.' Aku yang merasa seperti orang lelah mental, seperti pemabuk berat yang tidak lagi memiliki air untuk diminum.


Pandangan seperti kabur, berjalan tiba tiba sempoyongan.


"Lilias Chan, kamu terlihat lelah, istirahat dulu kuyy." Ajak Akira melihatku tidak seperti biasa.


"Iya."


Kami duduk di bawah pohon rimbun untuk istirahat, tetapi lelahku tidak kunjung hilang padahal mpku terlihat masih banyak.


Tanpa sadar aku ngos ngosan seperti habis maraton, sambil menundukkan kepala aku memegangi kepalaku, air liur menetes dari taringku.


"Apa kamu baik baik saja Lilias, sepertinya kamu terlihat kacau." Ucap Akira di sebelahku.


"Haaa." Aku menoleh ke Akira, aku menatap Akira agak berbeda, melihat lehernya seperti sebuah kue yang lezat.


"Haha haab." 'Kenapa ini, kenapa aku melihat Akira seperti ini, sadarlah lilias.' Batinku kacau.


"Lilias !!." Teriak Akira ketakutan.


"Haha, maaf." Aku tersadar dengan teriakanya, dan menoleh ke arah lain.


'Bagaimana ini, sebagai seorang vampir aku sudah lama tidak meminum darah.'


"Maaf Akira, boleh aku meminta darahmu sedikit, aku tidak akan menggigit mu kok jadi kamu tidak akan jadi vampir." Ucapku yang kacau.


POV Akira.


Kami melakukan misi dengan sangat cepat, karena dengan kemampuan Akira yang luar biasa.


'Apa aku boleh seperti ini, meskipun aku ikut naik rank tapi yang kulakukan cuma sedikit membantu lilias.'


Akira yang melihat dari belakang Lilias merasa tidak ada guna.


Lilias terlihat begitu kuat, meskipun hari ini dia terlihat tidak begitu semangat seperti biasa, meskipun begitu setiap tebasan sabitnya yang mengerikan bisa membunuh monster monster seperti tahu, karena Lilias tidak begitu memperhatikan ya jadi aku yang mengambil bukti jarahan kami.


Ini akan terlalu mencolok jika ada yang mengetahuinya.


Setelah monster di sekitar kami terlihat sepi, aku melihat Lilias sepertinya sangat lelah, dia terlihat seperti habis kerja lembur tanpa istirahat, dan terlihat begitu mengerikan.


Matanya menyala, keringatnya mengalir, dan taring panjangnya terlihat jelas, air mengalir dari mulutnya.


"Lilias Chan, kamu terlihat lelah, istirahat dulu kuy." Ajaku melihat lilias terlihat aneh.


Lilias menoleh ke arahku, aku melihat dia menatapku dengan mata lebar.


'Kenapa aku merasa ketakutan, dia kan sudah kuanggak saudara sendiri."


Akira melihat lilias seperti akan dimangsa.


"Lilias !!"


Setelah Akira berteriak, Lilias mengalihkan pandanganya, dan Akira merasa mendingan.


"Maaf Akira, boleh aku meminta darahmu sedikit, aku tidak akan menggigit mu kok jadi kamu tidak akan jadi vampir." Ucap Lilias.


'Darah??, iya Lilias adalah vampir yang katanya adalah ras peminum darah manusia.'


'Setidaknya aku berguna untuk Lilias, jangan sampai dia memangsa orang lain.'


POV aku, Lilias.


"Iya tidak apa, jadi apa yang harus kulakukan." Ucap Akira.


Aku sedikit terkejut dengan perkataannya, dia dengan mudah memberikan darahnya padaku .


Sebelum meminum darahnya aku mencari obat si penyimpanan sistemku, karena aku seperti melihat obat penambah darah.


'Ketemu." Aku segera mengeluarkanya.


"Kamu tidak perlu melakukan apapun, maaf aku akan sedikit melukaimu." Ucapku terpaksa.


"Tak apa kok." Akira yang tersenyum.


"Terimakasih."


Aku mendekati Akira, mengambil pedang dari tanganya dan menggunakan pedang Akira untuk menusuk tangan Akira di sebelah tanganku.


Aku berbaring danengenggam tangan Akira yang kulukai di atas mulutku.


"Suuur." Darah mengalir dari tangan Akira.


Akira terlihat kesakitan, giginya menderit.


"Aaah, Akira darahmu enak sekali, ucapku dengan pipi merah."


Setelah terasa cukup, aku mengobati tangan Akira, dan memberinya plester, kemudian memberikannya obat penambah darah.


"Sukurlah kalau kamu sudah mendingan."


.


Setelah kami terasa cukup istirahat, kami melanjutkan perburuan kami.


Aku melakukan apa yang telah kulakukan, dan membunuh banyak monster, sampai tercapai target hari ini, sebenarnya bisa lebih lama, tapi akan kulakukan besok.


.


.


.


Besoknya.


Kami telah sarapan, mama dan paman juga sudah berangkat kerja, aku bersiap siap seperti biasa, tapi aku melihat Akira sepertinya dia tidak enak badan.


"Akira apa kamu sakit."


"Ah Lilias Chan, maaf sepertinya aku belum siap untuk naik rank, jadi aku tidak bisa menemanimu." Ucap Akira lesu.


"Maaf Akira, aku telah membuatmu kelelahan, kamu berteman dengan seorang vampir sepertiku jadi aku menyusahkanmu." Ucapku ikut nesu.


"Tidak apa apa Lilias Chan, aku sangat senang bisa berteman denganmu, aku sudah menganggapmu sebagai saudara, aku cuma butuh istirahat sebentar kok nanti baikan." Wajah Akira beralih tersenyum.


Aku sedikit merasa bersalah telah mengurangi darahnya, mendengar perkataanya aku sangat senang, karena ada orang yang sangat baik terhadapku, aku merangkul Akira.


"Terimakasih Akira Chan, kamu telah menerimaku yang seperti ini, kamu istirahatlah, aku akan menemanimu." Ucapku.


"Bukankah kamu akan menjalankan misi? aku tak apa kok sendiri."


"Tidak, aku bisa melakukanya besok kok." Ucapku dengan senyuman.


Aku telah lama hidup bersama Akira, meskipun tidak banyak yang kami lakukan, tapi apa yang kami lakukan selalu bersama, kami terlihat seperti saudara.


Aku akhir akhir ini tidak terlalu memperhatikan Akira, padahal tidak bagi Akira, karena rasa bersalah, aku tidak bisa meninggalkannya yang sedang sakit sendirian dirumah.


Jangan sampai ketika paman dan mama pulang Akira masih sakit, aku tidak mau mereka ikut khawatir.


Aku menemaninya tidur di sebelahnya, sebagai saudara, ditemani ketika sakit adalah sebuah obat, sampai siang menjelang.


Tanpa drama berlebih, aku menuju ke dapur meninggalkan Akira untuk membuat makanan, dan begitulah yang terjadi.


Aku membuat bubur, karena katanya bubur baik untuk orang sakit, aku membawa makanan ke kamar Akira.


"Waktu makan siang Akira, waktunya bangun." Ucapku yang melihat Akira masih tertidur.


"Mmm, terimakasih."


Akira bangun, dan duduk di tempat tidurnya, dan makan sebentar, aku juga memberinya obat yang kupunya.


Setelah itu aku menemaninya tidur kembali, aku juga ikut tertidur pulas, ternyata tidur siang lebih enak sebagai vampir.


.


.


Aku membuka mata, dan membuka mata, aku melihat Akira tersenyum diaampingku.


"mm jadi yang sakit sebenarnya siapa, kamu tertidur dari kemarin siang, dan ini sudah pagi loo." Ucap Akira tersenyum nakal.


"Apaa!!" Tersadar kaget segera bangun.


"Seharusnya kamu bangunin aku Akira." Ucapku kesal.


"hehe maaf maaf, kamu sangat imut si saat tidur." Lanjut Akira.


"Mo~, Kamu sudah sembuh ya."


"Iya makasih, jadi ayo kita lanjutkan per uruan kita." Lanjut Akira.


"Gass." Semangatku mengingat waktu yang telah terbuang.


Tinggal 2 hari batas waktu misiku.


.


.


.


.


Bersambung....capek dah cukup lah 2000 kata