Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut

Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut
Chapter 31 Kemenangan.


Di dalam hutan yang banyak pepohonan, seharusnya menjadi tempat yang nyaman, tapi tidak terlihat begitu karena sering terjadi pertempuran, seperti kali ini.


Terlihat dua orang yang sedang heran dengan tingkah laku temanya, temanya itu sedang menggila dengan monster yang dibunuhnya.


Ya, itu aku, si imut yang sebenarnya tidak gila.


'Ops, perempuan harus anggun.' Aku yang tersadar setelah selesai dengan slime yang kucabik-cabik.


"Eghm eghm." Aku yang mencoba mengubah mode ketika melihat dua orang yang heran.


"Akira, berapa monster lagi untukmu naik Rank?" Ucapku.


"Tinggal lima monster rank C atau satu rank B lagi." Jelas Akira.


"Oke, ini minumlah penambah stamina dan mana." Aku membeli potion dari toko sistem.


Sudah beberapa hari aku tidak membuka toko sistem, koinku juga banyak, tapi belum ada barang yang menarik perhatianku, memang ada skill yang menarik, tapi dengan skillku sekarang saja aku sudah kuat.


"Terimakasih." Akira menerimanya dan segera meminumnya.


"Wah aku jadi semangat lagi." Ucap Akira dengan gembira.


Aku memikirkan hal lain agar Akira bisa lebih cepat dalam misinya, dan tentunya agar Akira lebih kuat.


Aku mengambil sabit gutemalaku.


"Akira coba ini, aku pinjamkan."


"Eh, a, aku coba." Akira hendak menerima sabit besar dariku dan ketika aku melepasnya.


"Aaaah!!!" Kaget Akira.


"Buuk!!." Sabit besar jatuh ke tanah.


"Ini berat sekali Lilias, bisa-bisanya kamu mengayunkan sabit seberat ini." Protes Akira.


"Eh."


"Seberat itu ya." Bingungku yang telah terbiasa dengan gutemala.


Aku mencari solusi lain, mengingat kembali item di toko sistem, seperti ada item senjata yang aku lewatkan.


'Mmm di sini ada banyak senjata, tapi yang sekarang menarik perhatianku, ada enma, samehada, murasame, venuzdonoa, elucidator, keris mpu Gandring dan Toyaku bokuto yang sudah tidak tersedia, sebenarnya dari mana papaku mendapatkan pedang itu.' Aku mengingat pedang kayu pemberian papa.


{Toyaku bokuto / pedang kayu Danau Toya}.


'Terkuat di toko adalah pedang venuzdonoa, pemilik asli anis voldigod, tapi itu mahal sekali.' Pikirku.


'Baiklah.'


[Membeli pedang murasame, pemilik asli Akame, harga 1juta koin, apakah anda ingin melanjutkan?]


'Koinku sekarang hampir 3juta jadi........Ya.'


Setelah membeli, aku langsung mengeluarkanya, dan muncul pedang katana di tanganku.


"Akira, jika kamu bisa menggunakan pedang ini, aku akan memberikanya padamu." Ucapku menunjukkan katana pada Akira.


"Eh, pedang apa ini, bentuknya aneh." Ucap Akira.


Sedikit asing bagi Akira, karena kebanyakan di dunia ini pedangnya lurus bermata dua.


"Pedang ini bernama Murasame, ini dilumuri racun yang sangat mematikan, racunnya dapat menghentikan detak jantung sehingga bisa membunuh hanya dengan goresan, dan harganya 1000 emas." Jelasku.


"A apa, 1000 emas!!, itu seharga pusaka kerajaan, bagaimana aku bisa menerimanya." Akira dengan wajah panik.


Taiga yang mendengar penjelasannya pun ikut terkaget, dia sedikit tau senjata yang kupegang, karena di kehidupan dulu taiga sering kusuruh menemaniku nonton anime.


"Anggap saja ini hadiah dariku, kamu harus menerima ini jika mampu, atau aku akan ngambek terus." Ucapku dengan wajah serius.


"Ba baiklah." Akira yang berkeringat di wajahnya.


'Lilias mengerikan kalau ngambek, aku harus menghindarinya.' Pikir Akira.


Aku menancapkan murasame ke tanah, dan membiarkan Akira yang mengambilnya, setelah itu Akira mencoba mengayunkan murasame.


"Ini ringan."


"Hati-hati dengan racunya." Aku mengingatkan Akira agar tidak ceroboh.


"Iya."


Pedang ini sangat mematikan bagi makhluk hidup, jadi untuk mencobanya aku membawa Akira ke tempat monster rank B dengan deteksi.


.


.


"Li Lilias, monster itu sepertinya terlalu kuat buatku." Ucap Akira ketika melihat ogre besar rank B.


"Aman, ada aku di sini, lebih baik kamu coba pedang itu, jangan banyak pikir, cepatlah." Desakku.


"Lilias Chan, kamu kejam." Ucap taiga menyipit.


"Haaa, coba ulangi perkataanmu." Ucapku dengan mata sinis.


"Tidak kok tidak." Lanjut taiga.


"..."


Setelah sedikit berdebat, Akira memberanikan diri untuk membunuh monster di depannya, Akira percaya padaku, jadi dia lebih mantap untuk manju menyerangnya.


Monster yang melihat Akira sedikit meremehkanya, karena Akira terlihat lemah, dan.....


"Cring." Pedang mengenai ogre.


Dengan skill Akira, dia bisa menggapai ogre, dalamnya luka tak sesuai dengan jarak pedang, dan lagi monster itu seketika mati pucat karena racun.


"Selamat, murasame kuberikan padamu." Ucap dengan senyumku.


"Terimakasih, aku akan menggunakannya dengan hati-hati." Ucap Akira dengan wajah yang masih resah mengingat pedang yang tidak munkin untuk ia usahakan sendiri.


"Hebat sekali, terimakasih Lilias, kamu dulu tidak menggunakan itu untuk membunuhku." Ucap taiga terkagum.


"Aku siap membantu jika kamu ingin bertemu dengan tuhan." Aku dengan senyum nakal.


"Tidak tidak, aku masih ingin hidup." Lanjut taiga.


Setelah terbunuhnya monster ogre, kini Akira sudah mencapai syarat untuk naik rank B, jadi perburuan kali ini cukup sampai di sini.


Aku menyuruh Akira untuk membungkus murasame, setelah selesai berbenah dengan barang kami, aku membuka portal langsung menuju depan kerajaan.


.


.


Yuli tidak terlalu peduli dengan kemampuan aneh kami, karena dia tau kami sdikit tidak biasa, setelah itu Akira segera menaikkan ranknya karena waktu masih mencukupi.


"Akhirnya." Sorak Akira memegang plat rank B.


"Mm, baiklah kalau sudah kita pulang yok." Ajakku.


"Iya..... sampai jumpa paman." Ucap akira menoleh ke taiga.


'Aku harus tau rumahnya.' Pikir taiga.


"Sampai jumpa PAMAN, PAMAN, tidak akan mengikuti kami kan." Laranganku dengan senyum manis.


"A apa, ti tidak munkin laah.....sampai jumpa."


Dan itulah yang terjadi, setelahnya aku dan Akira pulang meninggalkan taiga yang masih di guild.



{Akira Chan}


Berjalan santai dan sampai rumah pada waktu sore hari.


Ketika kami sampai di rumah, terlihat sepertinya paman dan mamaku belum ada yang pulang, jadi kami mandi lebih dulu.


"Akira, ayok mandi bareng." Ajakku.


"Eh, tumben kamu yang ngajak, biasanya aku ajak kamu tidak mau, baiklah ayo." Ucap Akira.


'Mwehehe.' Pikir nakalku.


Kami bersama masuk ke kamar mandi, dan bersama melucuti pakaian masing masing.


"Lilias Chan, kamu berdarah, apa kamu baik baik saja." Ucap bingung Akira.


'Ah, Karena kehilangan ibunya ketika kecil jadi Akira belum tau ya, apalagi dia jarang berteman, kasianya.' Pikirku.


"Tidak apa apa kok, setiap perempan akan mengalaminya, sebentar lagi kamu juga iya." Jelasku.


"Apa, benarkah, aku takut." Nyinyir Akira.


"Tak apa kok, ada onee-chan di sini." Ucapku memeluk Akira dari depan dengan senyum nakal.


Akira terlihat kesal dengan perlakuanku.


"Onee-chan?? sejak kapan kamu jadi kakaku?" Lanjut Akira.


"Bukanya kamu juga menganggapku sebagai saudara?" Lanjutku.


"Iya, tapi apa benar kamu yang jadi kakak?" Akira menyipitkan mata.


"Hmm~." Aku tersenyum nakal.


Tanpa jawaban dari mulut, hanya saja aku menekankan gunungku yang menjulang ke gunung Akira.


"Nuut." Empuk, karena punyaku lumayan besar.


"..."


Mendapat perlakuanku, Akira menoleh ke bawah, mengamati gunungku dan gunungnya dengan bergantian.


Wajah Akira semakin kesal, matanya semakin menyipit, senyumnya semakin menghilang.


"Hoo~."


"Nyoot." Akira memeras gunungku dengan keras.


"Kyaaa." Terkejutku dibuatnya.


.


.


.


"..."


Peperangan sedikit memanas di kamar mandi, namun dengan cepat padam mengingat waktu sudah sore.


Kami segera menyelesaikan mandi dengan cepat, kemudian berpakaian.


Setelah itu kami memasak bersama, dengan Akira yang masih kesal.


'Hehe, sepertinya Akira kena mental, S cup nih bos, senggol dong.' Batinku.


Aku sangat berterima kasih pada sistem yang telah memberi misi pijatan, karena kini punyaku sangat sempurna, tentu bukan S cup, tidak ada ukuran S.


Saat kami memasak dengan panas, tiba-tiba mama dan paman pulang di waktu yang sama.


"Aku pulang." Ucap mama, paman juga.


'Apa ini kebetulan? mereka sepertinya menyembunyikan sesuatu.' Pikirku.


"Selamat datang."


Setelah selesai memasak, kami menyiapkan makanan sambil menunggu mama dan paman bergantian mandi, dan ketika mereka sudah mandi semua, makanan pun sudah siap di meja.


Kami semua berkumpul mengintari meja makan.


"..."


Namun hanya ada kesunyian, tidak ada gerakan maupun suara dari pihak manapun.


"Anoo, ada yang ingin kami bicarakan kepada kalian." Ucap paman membuka suasana.


"Kami?..... Kalian?" Bingung Akira.


'Yah aku tau ini arah kemana.' Pikirku.


Mamaku terlihat sedang mempertemukan kedua jari telunjuknya dengan wajah tersipu.


"Aku dan Solaya, punya sesuatu untuk dibicarakan pada kalian berdua, Akira..... Lilias...." Lanjut paman sandi.


.


.


.


.


.


Bersambung......