Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut

Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut
Chapter 59 Rumah dan Baju Baru.


Di dalam rumah yang sederhana, sinar matahari sore menyinari dua orang yang sedang bahagia, satunya sedang menjahit dan satunya sedang menonton.


Yang sedang menjahit dengan anggunnya adalah seorang ibu dari dua anak, namun penampilannya tidak seperti yang terlihat, dia masih terlihat seperti anak 18 tahun di umurnya yang sekarang, siapakah ibu yang cantik ini, ya itu aku, Solaya.


"Yey, akhirnya jadi juga, nanti tinggal aku berikan pada mereka, hihi." Ucap Solaya sambil melebarkan kedua baju yang baru selesai dijahitnya.


"Padahal cuma dua set baju, tapi kamu membuatnya sampai berbulan-bulan." Sandi yang sedang menatap Solaya dari seberang meja.


"Tentu saja, agar kasih sayang dariku terpenuhi, hihihi." Solaya dengan bangganya.


"Helleeh, bilang saja kamu males karena sedang hamil." Lanjut sandi.


"Te he~"


Kedua set baju yang ada di tangan Solaya memiliki rok yang berwarna hitam, untuk bajunya satunya hitam putih bermotif merah, dan satunya lagi hitam merah bermotif putih, membuat kedua pemakainya terlihat kembar.


"Aaah, aku ingin segera memberikan ini, tapi kenapa mereka belum pulang juga, ini kan hampir gelap." Solaya menatap keluar jendela dengan gelisah.


"Mereka sudah besar, sudah tau apa yang mereka lakukan." Sandi mencoba menenangkan.


"Tapi kalau mereka diculik bagaimana, apalagi yang menculik itu pria mesum, dan mereka di anu anu."


"He, kenapa kamu berpikir aneh tentang anakmu."


"Dok dok dok." Suara gedoran pintu terdengar.


"Aah, mereka sudah pulang." Solaya dengan cepat berdiri dari kursinya, bahagia akan segera terukir di wajahnya, namun pupus karena yang mereka lihat bukan yang diharapkan.


Setelah terdengar gedoran pintu, yang masuk bukanlah Lilias maupun Akira, namun seorang kesatria dengan seragam lengkap.


"Eh, siapa kalian." Solaya terkejut dengan kedatanganya.


"Mereka...." Sandi juga keringat dingin.


"Kalian, ikut kami, atau mati." Ucap kesatria itu.


"Dasar brengsek, memangnya siapa kalian ha! mau mengacau di rumahku." Sandi bersiap untuk pertemuan, ia mengeluarkan pedangnya yang tersimpan di kantong penyimpanannya.


"Baiklah, kami akan membawa kalian secara paksa."


Tiba-tiba bermunculan beberapa kesatria yang masuk rumah, dengan cepat mereka menyerang sandi.


Ayunan pedang kesatria ditangkis oleh sandi.


"Hey, apa kalian akan merusak rumahku."


"Aku tidak peduli."


Para kesatria bergantian menyerang sandi, serangan dari berbagai arah membuat sandi kewalahan, goresan demi goresan ia dapat.


'Kumohon, Lilias, cepatlah pulang.' Solaya semakin takut akan keadaan.


Karena sandi tidak kuat dengan serangan pedang, ia terpaksa menggunakan sihirnya, meskipun akan merusak rumah.


Bola paling dikeluarkan, sambil mengayunkan pedang, ia menembakkan api ke kesatria.


Namun itu tidak mempan, dari rombongan kesatria juga terdapat beberapa penyihir yang memiliki elmentnya masing-masing, serangan sandi dengan mudahnya ditangkis.


Tabrakan sihir membuat ledakan yang menghancurkan benda-benda di rumah.


"Kamu sangat keras kepala, kamu tidak akan bisa menang dari kami." Ucap beberapa kesatria.


Pertarungan terus berlanjut, ledakan demi ledakan terbuat, dan membuat rumah kacau.


'Gawat, istriku masih di sini.'


"Sayang, kamu pergilah dulu lewat belakang." Ucap sandi dengan lirih.


"Iya, Lilias pasti akan segerap kembali." Solaya dengan tubuhnya yang berat tidak bisa berlari, hanya berjalan cepat untuk keluar.


"Hehe." Kesatria dengan seringai.


Sandi tidak menanggapinya, mereka terus adu mekanik di dalam rumah.


Karena sandi pikir sangat susah mengalahkan mereka, ia kini tidak lagi peduli dengan rumahnya, sekarang sandi mengeluarkan kekuatan besar, bola api yang dibuatnya menjadi besar, setelah memastikan Solaya ada di luar, sandi menembakkan api kepada kesatria.


"Duar!!" Ledakan besar membuat rumah hampir roboh, namun serangan itu masih bisa mereka tangkis oleh para penyihir.


"Oe oe oe, kamu pikir kami akan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya."


Para penyihir juga mengeluarkan banyak kekuatan, dan menyerang sandi secara bersamaan.


Sandi yang kelelahan tidak bisa menangkis serangan itu, membuatnya terluka parah.


"Asal kamu tau, rumah ini telah kamu kepung, dan istrimu pasti sudah di tangkap." Ucap kesatria dengan senyum jahatnya.


"Apa!!" Wajah sandi semakin jelek, namun dia tidak bisa membalikkan keadaan.


"Jika kamu menurut, kalian tidak akan mati."


Sandi lesu, pasrah akan keadaan, karena tidak ingin keluarganya dibunuh dia hanya bisa menurut.


"Baguslah."


Sandi diikat kencang, namun sebelum membawanya, dia dihajar lagi, tendangan dan pukulan sandi terima.


"Cough." Darah keluar dari mulut sandi.


Para kesatria membawa sandi keluar, dan ketika di luar sandi melihat Solaya yang juga terikat, namun Solaya bukan petarung yang bisa melawan, Solaya hanya menangis melihat suaminya disiksa.


"Kalian biadap, apa yang kalian lakukan padanya." Teriak Solaya dengan air yang mengalir deras.


"Jangan salahkan kami, salahkan saja anakmu, hahaha." Ucap salah satu kesatria.


"Hah." Solaya sangat syok mendengar perkataanya.


'Setelah lama bersembunyi dari kerajaan Sambac, jadi mereka juga kemari ya, Lilias semoga kamu baik-baik saja.'


Sandi yang sudah tidak bisa berbicara, dan Solaya yang nangis kelelahan, mereka dibawa para kesatria ke tempat lain.


***


POV Akira.


Akira setelah berlari meninggalkan Lilias di toko, Akira berjalan sendirian pulang kerumah.


Karena melelahkan, Akira akan sampai di rumah pada sore hari.


'Haah, andai saja ada sihir lilias.' Wajah Akira yang penuh arti.


'Biasanya kami berjalan bersama, melakukan kegiatan bersama, dan tertawa bersama, dasar Lilias bodoh.'


Akira mengenang apa yang telah mereka berdua lakukan, membandingkanya dengan keadaan sekarang membuat hati Akira terpukul.


'Ah bukan, munkin aku yang bodoh, harusnya aku membiarkan mereka saja.'


Akira masih terus berjalan dan sampailah dia di desanya, desa sepi yang rumahnya jarang, dari kejauhan Akira bisa melihat rumahnya.


Rumah tempat kami tertawa bersama, makan bersama, dan bahagia bersama, dan itulah rumah indah kami.


"Eh kenapa dengan rumahku." Akira terkejut melihat keadaan rumahnya yang memprihatinkan, banyak lubang yang terbentuk di rumahnya, Akira segera berlari menuju rumah.


Sesampainya di rumah, tangisan pecah dari Akira, Akira tidak bisa membendung air mata yang mengalir.


"Siapa yang melakukan ini, papa dan ibu di mana."


Akira menelusuri rumah, ruangan demi ruangan ia telusuri, namun tiada siapapun yang dapat ia temui.


"Ini pakaian siapa, ini pakaian baru, ini pasti buatan ibu untuk kami." Akira mengambilnya dan menciumnya.


"Hiks hiks, kalian ada dimana, apa kalian baik-baik saja." Tangisan semakin pecah dari Akira.


"Ini." Di balik baju yang Akira pegang, terdapat sebuah surat, Akira mengambilnya, dan membukanya.


"Apa!?" Akira sangat syok setelah melihat isi dari surat.


"Aku, aku harus kembali pada Lilias, aku tidak boleh memusuhinya terus."


Akira yang wajahnya masih kacau segera berlari mencari Lilias.


Dengan dua baju di tanganya dan sebuah surat, Akira berlari kencang tanpa memperdulikan kelelahannya.


.


.


.


.


.


Bersambung......