Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut

Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut
Chapter 13 Misi guild pertama.


Dalam guild, terdapat dua orang kaget, karena mereka mengetahui apa yang terjadi, ditambah respon seorang resepsionis yang biasa saja terhadap bola di depannya.


"Nona kecil, kamu juga hebat, kamu bisa menjadi penyihir yang mensuport kesatria dari jarak jauh." Ucap responsis menanggapi statusku.


"Ehh." Eh Nandayo , seorang bapak dan anak.


Responsis segera menulis statusku di sebuah kertas, dia memberi cap pada kedua kertas dan menyerahkanya kepada kami.


"Silahkan ini di bawa ke bagian pendataan dan mintalah plat, sebelumnya perkenalkan nama saya Yuli." Ucap responsis, Yuli.


"Terimakasih kak, mohon kerjasama kedepanya." Ucap kami menerima kertas.


Aku menunjukkan kertas pendaftaran itu kepada dua orang yang terkejut, supaya nanti malam tidur nyenyak, dan apa yang mereka lihat sekarang tidak seperti apa yang terlihat di bola sebelumnya.


Nama : Lilias.


Ras : Manusia.


Level : 5


Hp : 500


SP : 2000


MP : 3000


Skill : Manipulasi element.


Deteksi.


Skill berpedang.


Element : Air.


"Eh kenapa bisa begitu Lilias Chan?" Tanya paman sandi heran.


"Kita bicarakan nanti saja setelah urusan di sini selesai." jawabku.


Mengikuti instruksi Yuli, kami pun menuju tempat pendataan, menyerahkan kertas pendaftaran yang berisi status itu.


Bagian pendataan yang menerimanya juga terkejut, seorang anak berumur 10 tahun ternyata sudah banyak berlatih daripada bermain.


"Silahkan, ini plat kalian." Ucap si pendata memberikan sebuah plat bertulis sebuah nama pemilik, yang terbuat dari tembaga.


Di dunia ini, secara tertulis peringkat anggota guild dibagi menjadi D,C,B,A dan tertinggi adalah S, munkin di atasnya menjadi legenda.


Setiap peringkat diberi plat dengan bahan yang berbeda, mulai dari tembaga,besi,perak,emas, dan platinum, dan mereka hanya bisa mengambil misi sesuai peringkat mereka, kecuali terdapat orang peringkat lebih tinggi di partynya.


"Cantik juga, lebih cantik jika dari platinum." Ucapku melihat plat tembaga bertulis Lilias.


"Peringkat anda akan meningkat sesuai jumlah misi yang di kerjakan." Ucap si pendata.


"Baik, terimakasih."


Setelah paman sandi membayarkan pendaftaran kami, kami bertiga berniat membentuk parti untuk sementara, karena sandi ingin melihat Anak didikya dalam misi.


Paman sandi adalah petualang peringkat B, jadi kami mengambil misi level B juga, karena aku yang meminta, aku memilih yang tujuannya ke hutan bisma, sekalian misi dari sistem yakan.


Misi yang kupilih adalah membunuh ogre monster rank B, lebih kuat dari goblin dan Roger yang level C.


Setelah mengambil misi, kami pergi meninggalkan kota, dan menuju Hutan Bisma yang menjadi pembatas antara kerajaan Tanjun dan Sambac.


Di perjalanan kami sedikit mengobrol.


"Jadi tadi itu apa yang terjadi Lilias?." Tanya Akira penasaran.


"Ah, tadi di guild, aku menggunakan skill greed milikku, aku bisa mengendalikan nafsu dan pikiran, jadi tadi aku memanipulasi Yuli." Ucapku dengan biasa.


"Pantas saja aku kalah sama kamu Lilias Chan, meskipun levelku menang, tapi skill dan elemenmu mengerikan." Ucap paman setelah melihat sekitar.


"Apa maksudnya paman." Aku memiringkan kepala sambil berjalan.


"senjata terkuat ras iblis adalah skill 7 dosa besar, milik manusia adalah skill 7 kebajikan, elf memiliki kendali 5 elment, dan humanoid memiliki fisik yang hebat, kamu tau ?" Ucap sandi mejelaskan.


"ya ya." Anggukku.


"Sedangkan kamu memiliki 3 skill dosa besar, 1 kebajikan, meskipun kamu hanya punya 2 elment tapi itu sudah hebat, karena selain elf harus menggunakan metode khusus agar bisa menggunakan dobel elment, jika tidak maka tubuh tidak akan kuat, juga elemenmu kegelapan hanya dimiliki iblis." Lanjut paman.


Mendengarkan penjelasan paman, aku sedikit mendapat pencerahan, mengingat kejadian penyerangan oleh penyihir hitam di rumahku dulu, aku bisa membuatnya kewalahan hanya karena skill gluttony.


"Hehe, tidak paman, sebentar lagi elmentku akan bertambah, tidak hanya 5, tetapi 7 sekaligus, bahkan cahaya yang munkin hanya dimiliki oleh manusia berbakat." Ucapku dengan percaya diri.


"Be benarkah, tapi kamu tidak akan membantai manusia kan." Ucap paman dengan kedut di ujung mulutnya.


Mendengar perkataanya, membuat punggungku nyeri dan wajah kesal.


"Haha, apa apaan itu paman, daripada membantai manusia lebih baik hancurkan planetnya sekalian kan." Candaku.


Mendengar kataku, tiba tiba kedua orang di sebelahku berhenti berjalan.


"Eeeeee!!!." Teriak dua orang, bahkan Akira yang dari tadi cuma mendengarkan.


"Kenapa kalian terkejut seperti itu, kalian tidak menganggap serius candaku kan." Ucapku heran.


"Ahaha, tentu saja tidak, kita kan sudah hidup bersama cukup lama, aku yaki kamu adalah orang baik." ucap paman yang telah tenang.


"Iya iya." Lanjut Akira.


"Ayolah kita segera ke hutan, aku tak sabar." Ucapku menuntun jalan dua orang yang terdiam.


Dengan banyak obrolan di jalan, akhirnya kami sampai di pinggiran hutan, baru saja masuk hutan kami telah di hadang oleh goblin lemah.


Tanpa peduli rekanku, aku langsung lari melompat membawa pedang Danau toya, dan membunuh goblin dengan cepat, tentunya dengan skill bela diri kemudian gluttony.


'Lumayan Exp, meskipun belum cukup untuk naik level.' Gumamku.


"Mo~ Lilias tidak memberiku kesempatan." Ucap gadis Akira dengan cemberut.


"Ehe." Aku senyum menjulurkan lidah dan mengetuk kepala dengan ringan.


"Ehe te nandayo." Emot batu.


Kami melanjutkan masuk lebih dalam hutan bisma ini, hanya monster lemah yang kami temui di jalan.


"Paman, apa hutan ini sebenarnya tidak bahaya?" Tanyaku yang mulai bosan.


"Rank B seperti ogre munkin sudah tertinggi, untuk hutan kecil yang menjadi pembatas antar kerajaan, yang ditakutkan bukan monster tapi bandit." Paman menjelaskan.


"Ooh, jadi dimana para Rank B ke atas ber petualang?" Lanjut tanyaku.


"Terdapat hutan di antara benua selatan dan benua tengah, hutan ini memiliki dungeon, disana tempat para petualang rank B ke atas."


"Apa kami boleh kesana pa?" Tanya Akira.


"Setelah kalian mencapai rank B boleh kok, tapi jangan sekali kali kalian masuk benua tengah, hutan disana sangat mencekam, bahkan untuk petualang rank S saja masih sedikit takut." Peringat sandi.


.


.


"Ting." Tiba-tiba rambut ahogeku berdiri.


Karena banyak ngobrol, kami tersadar sudah nyampai bagian dalam, karena skill deteksiku yang sejak masuk hutan terus menyala, aku mengetahui ada monster yang kekuatanya lebih tinggi dari lainya.


Aku membuat isyarat berhenti, di ikuti kedua lainya.


"Disana." Ucapku menunjuk arah.


"M." Angguk keduanya.


Dengan bergerak senyap, aku menuju tempat yang tandai.


Benar saja, dari jarak beberapa meter aku melihat makhluk seperti goblin, hanya saja dia berotot, dan bertanduk, tubuhnya pun lebih tinggi dari paman.


"Paman, biar aku sama Akira saja yang urus, paman untuk sekarang cukup melihatnya saja."


"Kalian tetap hati-hati, oke." Angguk sandi.


Aku dan Akira saling berhadapan, dan saling mengangguk, kemudian mengeluarkan pedang kami.


Dia menyadari serangan, dan menghadap ke arah kami, tapi itu sudah terlambat, karena kedua pedang telah sampai ke tubuhnya, dan...


"Tak..." Suara tabrakan dari pedang dan kulit keras.


"Ittaasakiiiiit." Mulut kami yang bunyi bersama, setelah pedang kami hanya memberi getaran keras.


"Mundur dulu saja." Ajakku sambil mundur cepat.


"Iya, pedang kita gak guna."


Ogre tersebut hanya menatap kami dengan wajah seringai.


'Makhluk sialan ini.'


"Akira, kamu serang dia dengan sihir api jarak jauhmu untuk membuatnya sibuk, aku yang akan maju." Ucapku sambil mengeluarkan sabit yang belum pernah ku keluarkan selama 3 tahun sejak ku dapatkan.



Ilustrasi sementara.


Sabit gutemala, memiliki sedikit aura kegelapan, membuat orang di sekitarnya bergidik, sabit ini cukup besar, gagangnya memiliki panjang 2 m dan bagian tajamnya sepanjang 1 m.


Terlalu besar untuk anak kecil seperti Lilias yang imut ini.


"Waa, dari mana kamu dapat senjata itu." Cletu Akira terkejut.


"Aah ini pusaka kebanggaan vampir, hehe." Ucapku bingung menjelaskan yang sebenarnya.


Akira yang melihatku pun bingung, bagaimana dia mengatakan senjata kebanggaan vampir, padahal dia hanya anak rumahan yang terlahir di lingkungan manusia, bahkan tidak pernah melihat vampir lain.


'Aku tak perlu apa yang kamu sembunyikan, selama kamu terus bersamaku.' Batin Akira menyerah.


Kami segera menjalankan rencana kami, Akira menembakkan bola api untuk menyibukanya, aku maju dengan sabit besarku.


Ketika Akira menjeda seranganya, aku mengayunkan sabitku dengan keras, ogre itu terkejut dengan apa yang terjadi, dadanya sobek panjang.


"Gwrooowww."


Dia marah, badanya membesar, lukanya menutup dan memiliki aura kemarahan berwarna merah, di menyerangku dengan cepat, aku masih bisa menghindarinya.


Setiap aku mengambil jarak, Akira akan menyerang ogre dengan apinya, serangan kami terus bergiliran.


Ogre yang semakin marah, terlihat mengumpulkan sihir dalam satu tanganya, auranya sampai terlihat jelas.


"Hati-hati, serangan ini kuat." Peringat paman dari kejauhan.


Mendengar peringatanya, aku menyiapkan barierku, salah satu manfaat dari skill kesucian (sharity).


Hantaman ogre yang sangat keras menabrak barier yang terlihat seperti puzzle kaca, dan suara dentuman terlihat keras.


Ogre yang merasakannya terkejut dengan apa yang terjadi.


"Lilias!!" Teriak gadis Akira memastikan.


"Aman!!." Jawabku dengan senyuman.


"Gluttonyyy."


Mempersingkat waktu, aku mengeluarkan skill gluttony, ogre yang takut seperti mau kabur, karena ogre panik, aku dengan mudah memotong lehernya, dan cruut, darah mencurat dari lehernya.


[Level 20 up 23 koin + 1500]


Kedua orang yang bersamaku matanya melek, melihat berakhirnya pertempuran.


"Yeyy berhasil, bibib horee." Akira yang kecil meloncat, di ikuti paman mendekat.


Sebelum memusnahkan ogre, kami memotong telinganya untuk dijadikan bukti penyelesaian misi.


Setelah itu, menjadikanya exp tentunya.


"Gluttonyyy." Hilangnya tubuh ogre dengan satu kata.


[Level 23 up 25 koin + 1000]


'Asik notif yang membahagiakan.'


Aku memasukkan kembali sabit besarku di penyimpanan, orang yang melihatnya akan takjub, benda besar tiba tiba datang dan tiba tiba pergi itu.


"Kamu harus menyembunyikan banyak kemampuan dari orang orang Lilias." Ucap paman mengingatkan.


"Iya, bisa bisa aku diburu kalau ketahuan, ayo kita pulang." Ajakku.


"iya ni."


'Bahkan dengan levelnya saat ini, kekuatanya setara petualang rank A, Bahakan munkin S karena skillnya, untung saja dia ada di pihakku.' Batin sandi dibarengi hela nafas panjang.


Kemudian kami segera berenjak pulang, kami berjalan santai terus sampai keluar dari hutan, untuk monster kecil di perjalanan Akira yang meladeninya, dan aku membantu sedikit dan juga mendapatkan 1 level darinya, sekarang aku level 26.


[Ding, Misi utama selesai, mendapatkan skill pasif resistensi suhu berlebih], [Sistem level 3 tercapai].


'Wah, bahkan sistem naik level, apa fitur terbarunya?.' Tanyaku pada sistem.


'Dengan berhasilya misi guild pertama, sistem saat ini memiliki fitur penukaran koin dengan uang, 10 koin \= 1 Perunggu, 100 koin \= 1 perak /10 perunggu, 1000 koin \= 1 emas /10 perak / 100 perunggu, dan ada beberapa yang baru di shop.'


'Woo, sangat bermanfaat, coba aku lihat lihat.'


Aku membuka shop, dan melihat banyak sekali skill dan item yang ada, mulai dari yang gak guna sampai yang mengerikan, terdapat juga item dari dunia lain.


'Eh ada barang kesukaanku, hanya 1000 koin, aku harus beli dan memainkannya sekarang, sambil istirahat di pinggiran hutan.' Batinku semangat.


Aku mengeluarkan sebuah benda yang berbentuk seperti wanita dewasa, tapi itu memiliki empat senar, ya gitar akustik.


Aku mengeluarkanya dari penyimpanan sistem, didepan kedua orang tertegun.


"Apa itu Lilias Chan." Tanya Akira.


"Ini, mainan, lihat saja."


Aku duduk di bawah pohon sambil memandangi kota yang masih jauh, di ikuti kedua orang di sebelahku.


"Jreeeng", Suara pertama yang menyihir dua orang melihatnya, mereka melongo.


Sepertinya dunia ini seni,nya buruk.


Aku melanjutkan mainku, dengan intro am f e am, am f g c, Dm e...am.


Dengan suara imutku, aku mencocokkan dengan suara gitarku, sampai tiba pada bait reff.


Ku berlayar di lautan, tidak bertepian.


Sesekali disedarkan, ombak yang mendatang.


Aku seperti, hilang, puncak arah dan tujuan.


A ku puisikan namamu, di dalam hati.


Sekian, berlayar tak bertepi dari Ella.


.


Kedua orang yang menikmatinya, tidak bisa banyak berkata, dengan wajah yang tertegun aneh, Akira bertanya dulu.


"Lilias Chan, sebenarnya kamu ini siapa?." Tanya bocil terheran, karena Lilias yang sering memperlihatkan sesuatu yang tidak ada di dunia ini.


"Aku ? kamu nanya ? kamu bertanya tanya ?kamu nanya siapa aku ? ni Ku kasih tau ya aku ini...."


.


.


.


.


bersambung......