Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut

Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut
Chapter 53 Menyadari rasa cinta


Kami bertiga yang masih di hutan, berdiri menunggu rombongan Yun Xia hilang dari pandangan.


"Oo baiklah, tapi kalian benar tidak apa-apa kan?" Lanjut taiga.


"Mmm." Angguk dengan senyumku.


'Aiyyaaa, kenapa kamu masih di sini, pergilah ,hush hush.' Pikirku karena taiga masih berdiri didepanku.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya rombongan murid bersama guru Yun Xia sudah hilang dari pandangan, aku segera membuka portal.


"Dah, kami pergi dulu ya, kami masih ada urusan di kota." Ucapku sambil membuka portal.


Kami masih mengingat tugas dari mama, selagi masih siang.


"Aku ikut." Ucap taiga.


"Eh ?"


"Sekalian, rumahku kan di kota."


"Aaa, baiklah."


Taiga senang dengan tanggapanku, dia tersenyum manis mengarah padaku.


"Bdumm." Seketika pipiku merah.


'Bo bodoh, sejak kapan kamu punya wajah yang seperti itu.' Aku yang terkejut melihat muka taiga, karena sebenarnya aku masih malu bertemu taiga karena terpikir ucapan Akira yang lalu.


"Lilias? ada apa denganmu" Taiga bingung melihat tingkahku.


"Ti tidak ada, ayo Akira."


Kami menuju tempat favoritku yang biasanya kugunakan untuk mendarat, tempat di gang sempit yang jarang ada orang.


Begitulah yang kupikirkan, tapi aku lupa kalau aku mendarat di gang kota biasanya pada malam hari, bukan tengah siang seperti sekarang.


Sesampainya di gang, aku dikejutkan oleh dua orang pria yang sedang menggoda seorang gadis cantik.


'Eh eh, bagaimana ini, apa aku ketahuan.' Aku yang selama ini menyembunyikan kemampuanku dibuat khawatir oleh mereka.


"Hah, dari mana mereka datang." Ucap salah satu dari mereka.


"Hihk." Karena panik, aku reflek mundur satu langkah, tidak tau jika aku menginjak potongan bambu sampai tergelincir.


Aku akan terjatuh ke belakang, namun sebelum mencapai tanah aku sudah lebih dulu ditangkap oleh orang di belakangku.


'Huuh, kukira aku akan terjatuh.'


"Eh?"


Aku melihat wajah taiga tepat di atasku, wajahnya dekat, sebentar aku mengamati wajahnya membuat jentungku semakin terasa mau copot.


'Dekat, sangat dekat.' Aku merasa sangat malu sampai pipiku terasa matang.


"Kamu tidak apa-apa." Ucap taiga.


"Ti ti tidak apa apa." Detak jantungku sangat keras membuatku sulit untuk berdiri, apalagi taiga yang masih membiarkanku di pelukannya.


Entah apa yang dia pikirkan, taiga hanya memandangi wajahku yang memerah.


"Anoo, taiga?" Aku memalingkan mukaku.


"Eh, maaf maaf." Akhirnya taiga membantuku berdiri kembali.


Aku tersadar kembali, kalau ketiga orang yang baru kutemui masih melihat ke arah kami, semoga saja mereka tidak menganggapku aneh.


"Ayo Akira." Aku menarik tangan Akira dan pergi dari gang sempit.


"Sampai jumpa lagi taiga." Akira kepada taiga.


"Sebenarnya kalian mau kemana." Taiga bertanya kembali.


"Kami mau ke toko." Jawab Akira.


Aku kembali menarik Akira, kami pergi meninggalkan taiga dan menuju toko.


'Aaah, kacau sekali, jantungku masih berdetak keras.' Aku yang masih merasa bergetar.


'Tapi itu, aku merasa diriku aneh, kenapa aku sampai segitunya melihat taiga, kenapa dia terlihat sangat ganteng.' Aku yang kembali tersipu mengingat wajah taiga.


'Sepertinya ucapan Akira benar, kalau perasaanku sudah menjadi cinta, meskipun aku masih baru-baru ini menyadarinya.'


"Huuh."


'Padahal dulu kami berteman, tapi sepertinya sekarang tidak masalah kan jika aku mencintainya.' Aku tersenyum dengan pipi yang masih merah.


Dari gang sempit tempatku mendarat tidak jauh dari toko, jadi kami bisa cepat sampai.


Sesampainya di depan toko aku mengeluarkan kunci dan membuka toko, membuka lebar, tanda kalau memang kami siap menerima pelanggan.


Namun sebelum ada pelanggan aku terlebih dahulu menyapu lantai, dan membersihkan tempat yang perlu di bersihkan, sedangkan Akira duduk di depan kasir.


Aku adalah orang yang cekatan, setelah menyapu aku menyambut pelanggan yang datang.


"Eeh beda orang?" Munkin itu yang mereka katakan ketika melihat aku bertugas.


"Iya, monggo atuh, dipilih dulu, mau cari yang seperti apa mas." Dan munkin seperti itu yang kukatakan, karena pelanggan pertama yang datang adalah seorang laki-laki.


Tidak hanya satu orang, ternyata toko kami memang ramai, baru dibuka saja masih ada lagi yang datang, dari anak muda sampai ibu-ibu.


Tidak seperti mama, karena kali ini aku yang menjaga aku tidak menerima ibu-ibu yang menawar, apalagi sudah ada label harga di sana.


"Ini dek, tolong ya." Dia yang memberikan pakaian pilihannya.


Aku membawa baju ke kasir dan menatanya, kemudian memberikan pada dia yang membeli.


Tugas itu kulakukan berulang kali, meskipun tidak terlalu padat namun pelanggan tidak sampai membiarkanku istirahat.


Dalam pekerjaanku, aku bisa melakukanya dengan baik meskipun dari tadi aku selalu terpikir tentang taiga.


Pelanggan demi pelanggan aku atasi sampai sore, dan mentalku sudah terasa lelah, cukup bosan melakukan hal yang sama berulang-ulang.


Karena dirasa pelanggan sudah reda, aku bisa sejenak istirahat, aku duduk sambil bernafas panjang.


"Haaah."


Namun baru saja aku duduk, datang kembali seorang pelanggan.


"Selamat da.......eh." Aku yang melihat pelanggan tapi ternyata adalah taiga.


"Hehe, maaf aku bukan pelanggan, aku cuma mau membawakan kalian jajan." Taiga yang membawa jajan dan minuman.


'Nih orang apa dia sengaja, kenapa dia suka tiba-tiba datang, apalagi membawa minuman ketika aku membutuhkan.'


"Ni." Taiga memberikan jajanan padaku, kemudian dia juga memberikan untuk Akira yang sedang duduk di kasir.


'Aaah, aku masih malu bertemu denganya.'


"Ini sudah sore, kalian mau buka sampai jam berapa?" Tanya taiga.


"Aku ikut Lilias." Jawab Akira.


"Eh, aaa, munkin sebentar lagi." Ucapku.


"Betul kah, kalau begitu kita makan di luar yok, aku yang traktir, itung-itung minta maaf untuk yang tadi." Lanjut taiga.


"Eh, tidak usah kok, lagian kan masalah sudah teratasi." Lanjutku.


"Tidak apa, ayolaah, ne, Lilias."


'Bodoh, kenapa kamu tersenyum lagi.' Aku kembali tersipu melihat taiga.


Taiga bingung, karena aku yang terdiam tanpa jawaban.


"Sejak tadi aku perhatikan wajahmu merah, apa kamu sedang demam." Taiga mendekatiku dan menempelkan tanganya di dahiku.


"Blush." Kepalaku seperti keluar asap.


"Benar, kamu panas sekali." Ucap taiga.


Tangan taiga masih bolak-balik di dahiku.


"Tidak kok tidak, aku baik-baik saja." Aku menjauhkan tangan taiga.


"Eghm!!" Akira dengan suara kerasnya memecah suasana.


Aku berdiri dari tempat dudukku dan membuang wajah Maluku.


'Aah aku hampir lupa kalau Akira masih di sini.'


"Ada apa denganmu Lilias, bukanya kamu dulu itu laki-laki seperti taiga, kenapa tingkahmu seperti itu, menjijikan." Ucap Akira tanpa ekspresi.


'Eh, kenapa Akira berkata seperti itu, aku tau di dunia ini pada usia kami memang sudah banyak gadis yang menikah, Akira juga paham itu karena dia tumbuh dengan cepat, tapi kenapa sampai segitunya mengataiku, bukanya kami sudah lama hidup sebagai sesama perempuan.' Aku sangat memikirkan apa yang dikatakan oleh Akira.


"Hehe, apa yang kamu katakan, adikku sayang." Aku dengan senyum canggung.


"Dih!!"


"Bdum." Hatiku tersentak mendengar ucapan Akira.


Akira berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan meninggalkan kasir.


"Nikmatilah waktu kalian, aku mau pulang dulu."


"Eh, tunggu aku Akira, aku belum menutup toko." Ucapku panik.


Aku ingin menghentikan Akira namun dia dengan cepat pergi meninggalkanku.


[Ding, Misi utama baru, kalahkan monster yang menyerang di desa kancar, hadiah misi pil penguat badan, gagal misi akan mendapat hukuman 1 hari di ruang hukuman]


'Itu kan tempat tinggal Yuli-San, Sial, kenapa di saat seperti ini.' Aku ingat jelas ketika dulu aku pernah mampir ke tempat Yuli.


'Dan lagi kenapa misi utama, pasti ada yang tidak beres.'


Aku terpaksa untuk sementara membiarkan Akira pulang sendiri, karena ada hal yang lebih penting untuk kulakukan.


"Taiga, kamu pulanglah saja, maaf aku tidak bisa pergi denganmu." Aku dengan wajah serius.


"Iya, cepat kejar Akira." Ucap taiga.


Tanpa peduli dengan ucapan taiga, aku segera menutup toko dan pergi menuju desa kancar yang dulu pernah kukunjungi.


.


.


.


.


.


Bersambung.....