Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut

Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut
Chapter 5 Vampir.


Aku membuka mata, dengan batinku yang masih lemas, aku melihat seorang seorang duduk dikursi sebelah kasurku, dia tertidur.


"Kruwuuuuk." Panggilan dari perutku membuatnya terbangun.


"Lilias, kamu sudah bangun, apa merasa tidak enak badan?" Ucap mamaku dengan khawatir.


"Aku tidak apa apa ma, cuma lelah." Ucapku yang panik mengingat kejadian semalam.


"Kamu lapar kan, ayo kita makan dulu." Ucapnya dengan senyuman.


Kemudian kita pun turun untuk makan bersama.


Aku masih bingung apa yang mau ku katakan, aku takut nanti kalau dimarahi, aku cuma bisa makan dengan wajah muram.


Setelah makan, tiba tiba datang ayahku yang tergesa gesa, dia langsung memelukku.


"Maafkan papa nak, papa tau kamu sangat ingin berpetualang, tapi papa tidak bisa melatih kamu dengan benar."


"Apakah papa sama mama tidak marah." Ucapku yang khawatir.


"Tentu saja kami tidak marah, wajar jika kamu bersemangat, tapi kamu masih belum punya bekal berpetualang, kalau kamu sudah baikan, papa akan panggil seseorang untuk melatihku." Ucapnya dengan senyuman.


Mengingat keluargaku bukan dari keluarga kesatria, meskipun bisa berlatih pedang tapi bukan ahlinya.


"Terimakasih." Sedikit kataku yang bisa ku ucapkan sambil meneteskan air mata.


Mamaku pun memelukku, "Kami itu sayang sama kamu, jadi jangan membuat kami khawatir."


"Iya ma, maafkan Aku." Ucapku dengan memeluk eratnya.


Melihatku yang terlihat tertekan, mamaku pun membawaku untuk bersantai menemui angin.


Dia menggendongku, mengajakku berkeliling halaman.


Aku merasa sangat nyaman berada di pundaknya, sudah lama aku tak merasakan pundaknya, di iringin angin silir dan harumnya rambut mamaku, membuatku mengantuk.


Katanya sekarang papa sedang mencari seorang pelatih, aku sangat menantikan ya, sekarang aku ingin tidur sebentar.


Hari menjelang siang, udara semakin panas, aku terbangun karena keringat.


"Araa, sudah bangun, hihi, mama jadi ingat ketika kamu masih bayi." Ucap mamaku dengan tersenyum.


"Aku memang masih kecil, jadi biarkan aku begini dulu ma." Ucapku yang nyaman di gendongnya.


Tiba-tiba datang papaku membawa dua orang yang tidak kukenal, yang satu orang laki-laki seumuran papaku, badan dia sepertinya sudah terlatih untuk betempur,pakaiannya juga seperti seorang petualang fantasy, dan wajahnya membuatku sulit untuk memalingkan pandangan.


"Waa gantenya." Ucapku lirihku yang tidak bisa mengontrol mulutku.


"Eeeeh ,Lilas sudah bisa menilai seorang pria." Ucap mamaku yang tersenyum nakal.


Mendengar ucapannya, jantungku seperti ingin kabur.


"Ti, tidak lah, aku kan masih kecil." Ucapku yang terbata-bata.


'Apa apaan ini, apa karena aku sudah bisa berpikir dewasa, tapi kenapa ke arah situ, sepertinya aku terlalu semangat mengerjakan misi harian.' batinku penasaran.


'Status'


___________________________________


Nama : Lilias Coksumbar.


Ras : vampir.


Level : 3.


HP : 240/240 [80%]


MP : 480/480 [80%]


SP : 480/480 [80%]


Skill :


-kesucian (sharity) [80%]


membuat absolute barier


-kemalasan (sloth) [80%]


double EXP


-kerakusan (gluttony) [80%]


melahap apapun dan menjadikanya EXP


-nafsu (lust) [80%]


mencuci otak.


-Manipulasi darah. [80%]


-Manipulasi elmen. [80%]


-Atlit bumi. [80%]


Element:


air,kegelapan.


koin : 8000


[Status] [Quest] [Shop]


___________________________________


'Sepertinya aku membuat kemajuan, dalam berbagai hal.' Ucap batinku.


Setelah kembali menjernihkan pikiranku, aku melihat orang yang bersama pria tersebut, aku melihat gadis loli seumuranku.


Dia menatapku yang sedang digendong dengan heran.


"Eeeeh, maa, turunkan aku." Ucapku dengan wajah memerah.


Mama yang melihatnya menatapku, dia paham apa yang kupikirkan.


"Eeeeh kenapa, katanya Lilias masih kecil."


"Turunkan aku maaa." Ucapku sedikit memberontak.


"Aiyya, baiklah." Ucapnya sambil menurunkan aku.


Setelah aku turun, papa pun mempertemukan kami, dia memperkenalkan mereka.


"Lilias, seperti yang papa janjikan, papa bawakan pelatih untukmu, dia adalah teman seperjuangan papa, dan anaknya yang semumuran dengan kamu ,jadi bertemanlah."


"Aku Lilias Coksumbar, salam kenal." Ucapku yang sedang memegang baju mamaku karena malu.


"Eeeeh ,mana tangannya, jangan sembunyi seperti itu dong." Ucap mamaku sambil memegang pundakku.


Aku pun maju dan memberikan tanganku tanpa sepatah katapun.


"Kami orang tua mau ngobrol ngobrol dulu, kalian yang akur yaa." Ucap papaku tersenyum melihat kami.


"Eeeeh paa." Ucapku tidak yang tidak mereka tanggapi.


Mereka pun pergi meninggalkan kami berdua.


"Eee, kamu sudah besar masih digendong yaa, Lilias Chan, xixixi." Ucap Akira mengejekku.


"E, kumohon jangan ingat itu." Sautku sambil menggaruk kepala dan wajah merah.


'Sial, aku yang memiliki akal dewasa bisa diejek anak kecil, aku digendong juga karena lelah kan.' Batinku yang kesal.


"Hehe maaf maaf,,,nee nee, jadi, apa yang akan kita lakukan." Ucapnya sambil memegang tanganku.


"Ummm ,tak tau, baru kali ini aku mendapatkan teman, jadi biasanya nganggur." Ucapku bingung.


"Yeyy, kita teman, kalau begitu ajak aku keliling dong, halaman rumahmu memiliki banyak bunga yang cantik." Ucapnya yang kegirangan.


"Aaa, ayo."


Kami bermain ditaman sambil menunggu pelatihku keluar, aku melihatnya sangat suka dengan bunga bunga, aku pun mengikutinya.


'Ternyata memiliki teman tidak buruk juga.' Batinku tersenyum.


.


Kami bermain cukup lama, hingga ayah Akira keluar.


"Lilias Chan, apa kamu sudah siap untuk berlatih."


"Iya paman." Ucapku dengan semangat.


"Akira Chan,apa kamu mau menonton." Ucapku menoleh ke Akira.


"Tentu Lilias Chan." Ucapnya mengangguk.


Aku pun menyiapkan pedang kayu Danau Toyaku, dan mencoba berlatih dengan paman Sandi.


"Lilias Chan,coba kamu serang paman dulu, aku mau melihat kemampuanmu." Ucapnya yang sedikit meremehkanku.


Aku pun menyerangnya menggunakan skill bela diri yang telah ku pelajari, teknik yang kugunakan berbeda dengan kebanyakan yang ada di dunia ini, yang membuatnya terpojok, dia pun terkejut.


"Eeeeh, kamu hebat juga Lilias Chan, maaf paman meremehkanmu." Ucapnya dengan wajah kagum.


Di putaran selanjutnya, paman pun mulai serius untuk mengimbangi skillku.


Kami bertukar banyak pukulan dengan cepat, sampai semua orang yang melihatnya terkejut, apalagi papaku yang sering berlatih bersama.


Aku melihat paman sepertinya belum serius, aku memaksimalkan kemampuanku dengan tiba-tiba, sehingga dia tergores sampai mengeluarkan darah, aku yang sedang kelelahan terkejut milihatnya.


Aku menghentikan pukulanku, diapun mengikutinya.


Aku menatap darah itu dengan perasaan yang aneh, aku tiba-tiba merasa kedua mataku panas, aku mengeluarkan suara seperti orang habis lari maraton, telingaku terasa seperti ditarik.


aku hampir kehilangan kendaliku, akupun berlutut memegangi tanah, tiba tiba ada yang memanggilku.


"Lilias Chan !!." Teriak mamaku yang membuatku tersadar.


Aku pun menoleh sekeliling.


"Apa kamu tida apa apa Lilias Chan." Tanya mamaku yang melihatku dengan wajah terkejut.


"Ah, tidak apa apa ma, hehe." Aku memasang wajah seperti tidak ada yang terjadi.


'Syatem, itu tadi apa.' Tanya batinku kepada system.


'Jawab, saat ini master masih dalam kondisi lelah karena pertarungan kemarin, dan master sebagai vampir belum pernah meminum darah, sehingga tubuh master akan hilang kendali sebagai vampir.'


'Jadi apa yang harus kulakukan.'


'Jika anda tidak meminum darah, anda akan hilang kendali ketika kelelahan, tapi setelah anda meminum darah, anda akan sepenuhnya menjadi vampir, mulai dari penampilan anda.'


'Aa, apa !! eh tunggu, sebelum itu aku ingat tadi aku hilang kendali.' Batinku tersentak.


Aku menoleh ke arah paman, aku melihat wajah terkejutnya yang membuat perasaanku tak karuan, antara takut, sedih, khawatir, malu.


'Bagaimana ini, apa dia melihatnya.' Batinku yang khawatir.


Aku memalingkan wajahku sambil menunduk, tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan menyentuh kepalaku.


"Tidak apa apa kok Lilias Chan, kamu kan teman Akira, semoga kita tetap rukun apapun keadaanya, percayakan saja kepada paman." Kata orang yang sedang memegang kepalaku.


Aku menoleh ke sumber suara, aku melihat paman tersenyum ramah, yang membuatku nyaman.


"Terimakasih paman." Ucapku dengan mata berkaca.


Semua orang yang melihatnya cuma bisa bingung dengan apa yang terjadi.


Dari kejauhan, mereka cuma melihat dua orang yang sedang berhenti dari pertarungan.


***


Di suatu tempat yang memiliki kegelapan tanpa batas, tiada yang bisa dilihat kecuali seorang yang duduk sendirian, yang seperti melihat sebuah kaca dengan tersenyum.


"Akhirnya, debut anda akan segera dimulai......MASTERKU."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


bersambung...............