
Matahari masih di atas, cuaca lumayan panas, disaat jam murid baru akademi sudah berakhir, di antara mereka ada yang masih di akademi untuk berkeliling mengenal akademi, ada juga yang langsung berlatih, dan ada juga yang langsung pulang.
Terdapat dua gadis cantik yang sedang pulang dengan suasana gembira, karena mereka akan menyaksikan pernikahan dari kedua orang tua mereka, siapakah dua gadis cantik dan imut ini, ya, itu Akira dan aku Lilias, tentunya lebih cantik aku kan? Ya kan? Pastinya iya, kalau kamu bilang tidak maka ceritaku berakhir sampai di sini.
"Ini masih siang, kita mau langsung pulang apa jalan-jalan dulu, Akira." Ucap tanyaku.
"Aku ingin membeli hadiah untuk mereka, bagaimana denganmu Lilias?" Ucap Akira.
"Ooh, ide yang bagus, ayo." Anggukku.
Kami memutuskan untuk membeli hadiah di kota kami, meskipun kota kami paling dekat dengan akademi lienan namun dari akademi menuju kota masih lumayan jauh, karena akademi memiliki wilayah sendiri agar jauh dari konflik penduduk.
"Apa perlu aku menggunakan portal."
"Tidak usah, kita lari saja supaya tau arah."
"Oh oke."
Dari akademi kami berlari menuju kota melewati jalan yang panjang, di sekitar jalan hanya ada ladang penduduk dan sedikit pemukiman pedesaan, kami terus berlarian melewati jarangnya pemukiman sampai kita di kota.
Setelah masuk kota, kami berjalan santai dan melihat-lihat bermacam toko, memikirkan apa yang akan diberikan sebagai hadiah.
"Apa yang akan kita berikan ya." Ucapku.
"Aku juga bingung, hmm apa yang biasanya disukai mamau, Lilias." Lanjut Akira.
Setelah dipikir pikir, memang lebih baik dipikir, aku mencoba mengorek kenangan selama ini bersama mama, mulai dari aku lahir sampai saat ini.
"Yang mamaku suka itu aku, dia sangat gembira ketika sedang bersama anaknya, terus papamu gimana." Ucapku.
"Eeeeh." Akira menghadap langit.
"Kalau papaku itu suka sama perempuan dewasa, aku tidak tau namanya, karena sering berganti." Lanjut Akira.
"..."
"Kenapa kamu berkata seperti itu." Tanyaku.
"Yaa kamu tidak menyebutkan barang sii."
Percakapan tidak berfaedah ini sedikit takut kita lanjutkan, karena masalah yang berlalu harus ditutup segera.
Kami masih berjalan mengelilingi perkotaan, mencari barang yang munkin cocok untuk hadiah.
"Eh itu, Akira, aku mau ke toko itu, pasti memiliki barang yang cocok." Ucapku yang melihat toko dengan sepanduk pria berotot dan juga wanita bergunung besar.
"Eh, itu.......... Terserah lah, aku ikut kamu saja."
"Oke."
Kami setuju untuk masuk ke toko itu, di dalam toko kami terlihat berbeda, karena hanya kami anak kecil yang masuk toko ini, membuat para pengunjung terheran, tapi kami tidak peduli, kami membeli barang yang kami inginkan kemudian pulang secepatnya.
'Sekalian beli ini ah, untuk bermain sendiri.' Pikirku.
***
Kami dengan gembiranya pulang ke rumah, karena ingin segera memberikan hadiah yang masih di simpan di penyimpanan sistem.
"Kami pulang." Aku dan Akira membuka pintu.
"Selamat datang, kenapa pulangnya cepat sekali." Ucap mama menyambut kami.
Aku masuk rumah dan melihat mama sedang memasak, sudah ada makanan di meja tapi masih juga memasak, entah apa yang dia buat.
"Iya karena baru pengenalan." Ucapku.
"Papaku di mana Tante?" Tanya Akira.
"Oo, dia sedang mengundang kerabat dan teman-temannya, hari ini pernikahannya akan dilakukan di rumah, dan mengadakan pesta kecil-kecilan." Jelas mama.
"Woo asik, aku tidak sabar."
"Kalian, bantu aku menyiapkan acara ya." Lanjut mama.
"Oke."
Baru saja pulang tanpa melakukan hal lain kami langsung membantu mama, mulai dari memasak hidangan sampai membenahi rumah.
Yang paling utama adalah membersihkan rumah, karena memang mama cuma mengandalkan kami sejak pagi, setelah selesai membersihkan rumah, lanjut mendekor ruangan, tidak perlu berlebihan, cukup yang penting berbunga, aku mengambil beberapa hiasan di penyimpanan sistem bekas rumah lama dan meletakkannya di sini, daripada terbengkalai di penyimpanan.
Kami dengan senang melakukanya sampai sore dan paman juga pulang, paman terkejut melihat persiapan kami yang sudah bagus, memang tidak sebagus para bangsawan namun sebagai seorang rakyat biasa ini sudah sangat bagus.
Makanan tertata rapi di meja, mulai dari makanan ringan makanan berat dan buah-buahan, ruangan lebih bersih dari biasanya, yang tersisa tinggal penghuninya, kami berempat belum ada yang mandi dan berdandan, jadi kami semua mandi bergantian dan berpakaian yang tentunya bikin suasana semakin tersenyum.
Waktu menunjukkan pukul 5 sore.
"Apakah kalian sudah siap menyambut tamu." Ucap sandi.
"Siap."
Pintu terbuka lebar, dan tidak sampai menunggu lama, para tamu undangan pun hadir, di kerajaan ini penduduknya suka tepat waktu, tidak seperti di negaraku sebelumnya.
Para tamu undangan berdatangan secara berurutan, mereka tidak sampai dua puluh orang karena yang di undang cuma teman dekat dan kerabat dekat.
"Eh Yuli-san, ternyata anda datang juga ya." Ucapku ketika melihat Yuli yang merupakan responsis guild datang kemari.
"Ooh tentu Lilias Chan, karena aku adalah teman sandi." Ucap Yuli.
'Teman? semoga memang cuma teman.' Batinku mengingat perkataan Akira.
"Dan bangsawan yang akan mengurus pernikahan juga teman kami, namanya gojo Rolexa, dulu kami membuat parti ketika berpetualang bersama." Jelas Yuli.
"Oooh, begitu ya." Anggukku.
Memang seharusnya begitu, tamu yang diundang hanya orang dekat, meskipun sudah tidak khawatir dengan kerajaan Sambac, namun kami masih meminimalisir kemungkinan.
Setelah semuanya berkumpul, paman memberi sedikit kata sambutan untuk tamu, meskipun hanya orang dekat, namun kami melakukanya sedikit formal, dan para tamu menanggapi kata sambutan dari paman dengan sangat antusias.
Para tamu duduk sambil makan makan enak.
Melanjutkan acara, waktunya pengikatan mempelai, seorang pria berpakaian mewah maju di antara hadirin, dan menarik perhatian.
"Selamat sore, namaku gojo Rolexa, aku yang akan menjadi pengikat dari kedua mempelai." Ucapnya.
Acara berlangsung tanpa hambatan, pernikahan di sini tidak seperti kebanyakan di bumi, karena di dunia ini tidak ada agama kepercayaan, hanya ada adat turun temurun.
Puncak acara yaitu ciuman dan pemotongan kue, para hadirin bersorak memberi selamat pada kedua mempelai.
"Selamat selamat, semoga langgeng."
"Terimakasih terimakasih." Begitulah katanya.
Setelah acara puncak selesai, kini acara tinggal makan makan lagi, kedua mempelai juga ikut makan, dan kami....tentu saja aku dan Akira sudah makan sejak tadi.
.
.
.
Acara berlangsung sampai petang, dan para tamu bergantian mulai pulang ke rumah masing-masing, sampai di rumah kami tinggal empat orang lagi.
{Munkin pernikahanya kurang berkesan, jadi kalian bayangkan sendiri saja oke.}
"Aaaah, sudah sepi ya."
"Akira Akira." Aku menarik baju Akira, dan Akira merespon dengan anggukan.
Aku dan Akira berenjak dari meja makan, dan menuju ke mama dan paman yang sedang berdiri di depan pintu mengantar kepergian tamu.
"Mama paman.... Eghm, maksudku mama dan ayah, aku punya sesuatu untuk kalian." Ucapku sambil menggoyangkan badan kanan kiri.
"Aku juga, papa dan.....ibu." Akira mengikutiku.
Kedua pengantin baru terkejut menerima panggilan dari kami, wajah mereka terlihat seperti ingin berteriak gembira.
"A apa itu." Ucap mereka.
"Ini, terimalah." Aku dan Akira memberikan kado untuk masing-masing dari mereka.
"Waaah, apa ini, boleh aku buka." Ucap ayah.
"Silahkan, hehe."
Ayah membuka kado dengan gembiranya, dan surprise dariku sangat membuatnya terkejut, munkin jantungnya akan lari.
"..." Ayah emot batu.
"I i ini." Pertama ayah membuka sebuah kado dariku, dan melihat barang yang hebat.
Sebuah botol berisi pil, botolnya bertulis 'Pria sejati, taklukkan istri sampai pagi.'
"..." Mama emot batu.
"Liliaaaas!?.........." Ucap mama dengan wajah gelap.
"Hebat kan ma." Ucapku dengan senyuman.
.
.
.
.
.
Bersambung......