
Dalam hutan yang rimbun, aku bersama Akira meninggalkan tiga anggota tim dan berlarian menuju sumber suara yang terdengar mengkhawatirkan.
"Tolong!!" Suara masih terus berlanjut, aku dan Akira mempercepat berlari.
Sesampainya di lokasi kejadian, kami melihat suatu yang mengejutkan, sekelompok teman sekelas kami sedang dikejar oleh monster yang mengerikan, itu adalah kelompoknya ketua kelas, ketika ketua kelas dan temanya sedang berlarian salah satu dari mereka sedang dicabik-cabik oleh monster itu.
"Itu."
Kami melihat monster berbadan besar menyerupai manusia namun dengan kepala banteng, Munster itu di tangan kanannya membawa palu dan di tangan satunya memegangi seorang gadis yang terluka parah.
Tanpa pikir panjang aku mengeluarkan pedang baruku, menerjang menuju monster dan memotong tangan kanannya sampai tangan dan gadis yang ia bawa jatuh.
"Graaaaa!!!" Auman monster terdengar cukup keras.
Dengan cepat aku membopong gadis itu dan menjauhkannya dari monster sebelum serangan dari monster mengenaiku.
"Huuh, untung gerakku cepat."
Si monster banteng berdiri terdiam karena terkejut, sedangkan aku lega karena sudah bisa mengamankan target.
Aku mencoba mengecek keadaan gadis yang kubopong, "Untung saja dia masih bisa diselamatkan."
"Akira! kamu tangani monster itu, aku mau mengobatinya sebelum terlambat." Aku berteriak ketika Akira sampai di tempat tujuan.
"Dia terlalu kuat, mana munkin aku bisa." Akira dengan wajah takut ketika melihat monster dari beberapa meter.
"Kamu pasti bisa, keluarkan murasame, asal kamu bisa melukainya meskipun sedikit saja kamu pasti bisa membunuhnya." Lanjutku.
Akira teringat pedang yang pernah kuberikan padanya, karena melihat keadaan gadis yang kubawa Akira tidak pikir panjang langsung mengeluarkan murasame dari kantong penyimpanannya.
"Baiklah akan kucoba." Akira bersiap dalam penyerangan.
'Huuh, gitu dong, xixixi, akan kulihat bagaimana kamu mengalahkanya.' Aku bangga melihat tekat dari adik kesayanganku.
Aku kembali fokus pada gadis yang terluka parah.
'Uiih mengerikan, danging di pundak dan di tanganya robek, dan darah juga mengalir dari hidung dan matanya, untung saja aku bukan vampir yang rakus, apakah potion masih bisa menyembuhkannya.'
Aku mengeluarkan banyak obat dan potion dari toko sistem dan mencoba menyembuhkanya.
Sedangkan di sisi lain, Akira sedang gemetaran sambil memegang murasame.
'Hanya sedikit luka sudah cukup kan.' pikirnya.
Akira adalah yang paling dekat dengan monster, karena monster itu menargetkan Akira, Akira tidak punya pilihan lain selain menyerang.
'Mana munkin bodoh, dia terlalu mengerikan.' Akira yang gemetar melihat monster di hadapannya.
Akira dengan tangan satunya mengeluarkan bola api yang lumayan besar baginya, ketika monster semakin mendekat Akira menembakkan bola api.
"Dwuuar."
"Apa, seranganku tidak cukup."
Monster masih terus mendekat, Akira masih takut untuk maju langsung, jadi dia memutuskan untuk kembali menyerang dengan sihir jarak jauhnya.
Namun kembali sihir itu tidak terlalu berguna.
Monster semakin mendekat, karena panik Akira mencoba mengambil jarak, namun pergerakannya lebih lambat dari monster, membuatnya memiliki celah yang lebar.
Kepanikan membuat Akira melupakan tekhnik pedang yang telah ia pelajari.
Dengan palunya monster itu memukul Akira, dan Akira menangkis dengan pedang, namun karena kekuatan fisiknya kurang, palu monster masih terus berlanjut menuju perut akira hingga terpental jauh.
"Cough cough." Akira mengeluarkan darah dari mulutnya.
'Bagaimana aku bisa menyerangnya, dia sangat cepat dan juga kuat, aku dengan mudahnya dikalahkan.' Pikir Akira.
"Bodoh!! kamu tidak perlu jago untuk mengalahkanya, kamu beri dia goresan sedikit saja sudah cukup membunuhnya." Aku khawatir melihat Akira yang wajahnya panik.
"Kamu yang bodoh!! kamu sebenarnya bisa dengan mudah mengalahkanya tapi kamu cari alasan!!" Teriak Akira dengan kesal.
Akira dengan mata berapi-api kembali menatap si monster banteng, untung saja monster ini kecerdasannya masih rendah, yang ia tau cuma makan, jadi Akira bisa mengambil keuntungan darinya.
Sebelum monster kembali beraksi, Akira mencoba menyerangnya, dengan kedua tangan yang erat Akira mengayunkan murasame untuk menyerang tubuh monster.
"Whus."
Namun karena perbedaan ukuran tubuh dan senjata mereka, serangan dari Akira tidak mencapai tubuh monster, jika melangkah lebih maju Akira takut akan terbunuh dulu sebelum bisa membunuh monster di hadapannya.
Banteng tidak tinggal diam.
"Graaaa!!" Palu banteng berayun menuju Akira.
Jika Akira mengincar tanganya munkin akan membunuh itu monster, tapi Akira masih takut jika palu itu juga akan mendarat di kepalanya, jadi Akira memilih menangkis palu itu.
"Tingg!!" Dengan cepat Akira dapat menangkis serangan itu, tapi palu masih juga berlanjut menuju perutnya hingga ia terpental.
"Cough." Pukulan monster terlalu kuat sampai Akira kembali memuntahkan darah.
"Apa kamu mau membiarkan aku mati, dasar bodoh!!" Akira mengeluarkan air mata sambil merintih.
Akira bukanlah akame yang memiliki pergerakan cepat, Akira masihlah gadis kecil yang pengalamanya belum cukup untuk mengimbangi kemampuan murasame.
Aku terkejut dengan teriakanya, merasa bersalah melihat Akira yang mau menangis.
Aku pikir meskipun Akira baru masuk rank B itu sudah cukup untuk mengalahkan monster itu, munkin hanya kebodohanku yang menyuruh Akira sampai bertindak berlebihan.
Untung saja gadis yang kubawa kini keadaanya sudah lebih membaik, lukanya sudah tertutup semua dan nafasnya juga sudah lebih teratur meskipun dia belum sadar.
Dengan cepat sebelum si monster banteng kembali menyerang Akira, aku sudah lebih dahulu menendangnya hingga tersungkur.
"Bug." Suara keras dari badan besarnya.
Sebelum ia terbangun, aku yang dari tadi membawa pedang menyerang tepat di leher banteng.
"Slsshhhh."
Dengan mudahnya kepala banteng terpenggal hingga darahnya muncrat.
[Level up 98] [Koin + 4000]
'Uuh, setelah sekian lama.'
"Cough, uhuk uhuk." Akira kembali memuntahkan darah.
Dengan panik aku melihat keadaan Akira, Akira terlihat pucat dan lemas seperti tidak lama lagi.
"Wah aku benar-benar kelewatan."
Secepatnya aku mengeluarkan dua macam potion, potion penyembuh dan penambah stamina, dan meminumkannya pada Akira.
Karena dia tidak cukup aku mengeluarkan banyak, sampai Akira kembali pulih.
'Huuh, untung saja luka Akira tidak terlalu parah.' Aku lega melihat keadaanya yang membaik.
"Hehe, maafkan aku, aku tidak tau kalau monsternya sekuat itu." Aku dengan senyum canggung.
"..."
Akira hanya diam tanpa ekspresi, dia menyenderkan tubuhnya ke pohon terdekat.
Tidak sampai lama datang orang beramai, munkin semua peserta datang mendekat, tidak lupa juga taiga dan Yun Xia.
"Kalian terlambat, Yah meskipun aku tidak berhak mengatakannya."
Semua yang datang terkejut dengan apa yang terlihat, salah satu temanya pingsan, ada monster yang terpenggal kepalanya, dan juga Akira yang diam tanpa ekspresi.
"Apa kalian baik-baik saja?"
"Bagaimana keadaan kalian?"
Pertanyaan terus dilontarkan dari mereka, Naum seperti yang terlihat semua sudah teratasi.
"Maafkan aku, ini pasti kesalahan akademi sampai ada monster yang terlalu kuat di sini."
Suasana menjadi sunyi.
Aku kembali melihat Akira yang termenung dengan perasaan rumit.
"Semuanya, mari kita pulang."
"Ke mana pak."
"Nanti langsung ke asrama masing-masing saja."
"Oke."
'Haah, apa guna kalian kemari."
Akhirnya kami semua pulang dengan keadaan yang selamat dan sehat.
Hanya mental yang kena.
.
.
Semua berjalan kembali pulang, hanya aku yang masih diam karena memiliki portal, Akira dan taiga juga sepertinya menungguku.
"Yun Xia sensei, anda pergi duru bersama yang lain, aku menyusul."
"Hmm iya"
.
.
"Bagaimana dengan kalian?" Tanya taiga yang melihat kami masih berdiam.
"Kami mau langsung saja, lagian bisa lebih cepat." Ucapku.
"Oo baiklah, tapi kalian benar tidak apa-apa kan?" Lanjut taiga.
"Mmm." Angguk dengan senyumku.
.
.
.
.
Bersambung.......