
Di malam hari, aku bersama taiga makan es krim di pinggir jalan, tentu kami duduk di kursi.
"Dah lah taiga, aku mau pulang." Ucapku.
"Oo, tunggu dulu di sini sebentar." Ucap taiga.
"Mmm."
Taiga tiba-tiba pergi meninggalkanku yang masih duduk, aku melihat arah taiga pergi, dia berjalan menuju toko pakaian yang ada di seberang.
Aku tidak tau apa yang akan dia lakukan, tapi aku tetap menuruti perkataannya dengan santai.
.
.
Dengan cepat taiga keluar dari toko, dia kembali lagi ke arahku.
"Lilias, pakailah ini, besok kamu akan masuk akademi kan, kalau kamu banyak gerak tanpa penutup pasti telingamu akan kelihatan." Taiga memberikan sebuah bandana padaku.
"Eh, bandana? kamu baru beli?" Ucapku.
"Iya."
"Tapi kenapa kamu tau kalau besok aku akan masuk akademi." Tanyaku yang tidak pernah tau apa yang biasanya taiga lakukan.
"Aaah itu, munkin besoknya kamu akan mengetahuinya." Taiga menoleh arah lain dengan menggaruk pipinya.
"Hmm, baiklah, terimakasih." Tanpa memikirkan panjang, aku menerima bandana dari taiga.
Bandana berwarna hitam bermotif bunga berwarna merah, aku langsung mengenakannya di kepalaku, bandana memutari kepalaku, dan menutupi telingaku.
"Woo, keren." Taiga memberikan jempol.
"Iya kah." Ucapku dengan senyum.
"Yaudah ini sudah terlalu malam, aku pulang ya." Lanjutku.
"Iya."
Aku berenjak meninggalkan taiga, aku pergi menuju tempat yang gelap dan sepi seperti biasa.
Menggunakan skill dimensiku, membuka portal dan menuju kamarku langsung.
Sesampainya di kamar, aku dikejutkan oleh Akira yang belum juga tidur, Akira juga terkejut melihatku yang tiba-tiba datang.
"Jam berapa ini, kenapa kamu baru pulang? apa yang baru saja kamu lakukan?" Ucap Akira dengan kesalnya.
Akira pikir kepergianku cuma sebentar, di tengah malam yang gelap, dia susah tidur sendirian, hanya boneka beruang yang menemani.
"Hehe, aku baru saja memburu penculik yang berkeliaran di kota, jadi sedikit lama."
"Benarkah, tapi kamu terlihat seperti habis jalan-jalan, kamu memakai sesuatu yang baru di kepalamu, dan tanganmu membawa es krim, mana untukku." Ucap Akira setelah mengamatiku.
'Ah, aku lupa membawa oleh-oleh untuk Akira, dan es krim ku belum habis.' Pikirku.
"Ehehehe, kan habis berburu jadi lelah, jadi aku pergi bermain dulu.....dari pada itu, kenapa kamu belum tidur?" lanjutku.
"Aku menunggumu tau, susah tidur sendiri."
"Maaf maaf, yaudah kita tidur, besok hari pertama masuk akademi, harus bangun pagi."
Aku menelan es krim terakhirku, dan kemudian menuju kasur tempat Akira berbaring dan tidur.
***
Hari berganti, aku merasa tubuhku berat, perlahan aku membuka mata, kamar yang tadinya gelap kini lebih terang, aku melihat Akira yang masih tidur merangkulku.
'Brutal sekali tidurnya.'
"Akira, bangun, sudah pagi." Aku menggoyangkan badan Akira dengan brutal.
"Aaaammmm." Akira mulai membuka mata.
"Yok bangun, sepertinya mama sudah selesai masak." Ucapku.
"Iyaaa."
Berdua kamu bangun, berenjak dari tempat tidur pergi keluar kamar untuk bersiap.
Kami mandi sebentar, kemudian berganti pakaian, tak lupa aku memakai bandana yang diberi oleh taiga, tapi kali ini aku tidak memakai masker, karena asal aku tidak melongo pasti taringku tidak terlihat jelas, dan setelah berpakaian kami sarapan.
"Kalian hari ini masuk akademi kan, jangan banyak bermain ya." Ucap mama setelah sarapan.
"Iya ma." Anggukku.
"Terus nanti setelah selesai, langsung pulang ya, karena pernikahan kami akan dilakukan nanti sore." Lanjut mama.
"O, nanti, baiklah ma."
"Oke Tante, kami nanti segera pulang" Akira semangat menjawabnya.
"Kami berangkat." Ucapku membuka portal.
"Itterasai." Mama melongo melihat portalku.
Motorku memang Ra Ono, tapi portalku bikin mama melongo, karena mama masih heran dengan kemampuanku yang langka.
Saat ini paman sandi tidak di rumah, sepertinya sedang mempersiapkan untuk acara nanti, jadi kami hanya berpamitan dengan mama, kami masuk portal, dan sampailah di sekitar akademi.
Akademi ini jaraknya lumayan jauh dari kota, jika berjalan maka pasti akan terlambat, dan akademi ini berskala nasional, banyak murid dari berbagai kota datang kemari, biasanya para murid akademi akan memilih tinggal di asrama, tapi untuk kami itu tidak perlu karena punya skill dimensi, mama yang tau itu jadi membiarkan kami berangkat dari rumah.
Memastikan tidak ada orang yang melihat, kemudian kami berjalan masuk akademi melalui gerbang depan.
Di dalam akademi, aku melihat keramaian, murid yang terlihat lebih senior berjalan langsung menuju kelas, sedangkan murid baru bergerombol mengelilingi sebuah papan pengumuman.
"Sepertinya papan di sana ada pengumuman pembagian kelas." Ucap Akira menunjuk kerumunan.
"Iya, ayo kesana."
Kami berjalan menuju kerumunan, mereka secara bergantian melihat papan informasi pembagian kelas, banyak dari mereka membicarakan kelas dengan temanya, begitu ramai sampai kedatangan kami.
'Hmm, aku suka pujian, tapi tatapan para anak laki-laki ini sangat menggangguku, semoga saja aku tidak masuk dalam imajinasi mereka ketika mereka olah raga lima jari.
Aku yang mendengar pujian dari mereka, tidak terlalu menggubris, cuma diam pura-pura tidak dengar.
Dari sini kami melihat papan yang lumayan besar, di sana tertera pembagian kelas, dan informasi mengenai kelas.
Di akademi ini, setiap angkatan memiliki hampir ribuan murid, jadi itu terbagi menjadi banyak kelas, setiap kelas tidak ada bedanya kecuali kelas khusus atau kelas S, untuk kelas khusus akan diberi perhatian lebih karena berisi anak jenius.
Aku melihat papan informasi, dengan percaya diri aku langsung melihat ke bagian kelas S.
"Tentu saja kita kelas S ya Akira." Ucapku dengan senyum menoleh Akira.
"Hmm iya." Angguk Akira dengan bangga.
"Baiklah, ayo kita cari kelas kita." Ajakku.
Melalui denah yang kami miliki, kami membacanya dan pergi ke arah yang kami tentukan.
Kami berjalan sesuai denah dan sampai pada kelas yang terlihat lebih megah dari kelas yang lain, di atas pintu terdapat plang "1 S" maksudnya tahun pertama kelas khusus.
"Uwaaa." Akira melongo.
Kami masuk kelas, dan melihat sudah ada beberapa anak di dalam, dari pakaian yang mereka kenakan, terlihat seperti bangsawan.
Mereka memperhatikan kami yang baru masuk, namun aku tidak terlalu peduli, kami duduk di tempat yang masih kosong, dan menunggu guru datang.
Tidak lama kami menunggu, para murid sepertinya sudah masuk semua, dan datang juga guru perempuan yang itunya besar.
"Selamat pagi anak-anak." Ucap guru dengan senyuman.
"Pagi Bu guruu." Ucap murid serentak.
"Namaku Yun Xia wali kelas ini, hari ini kita akan saling berkenalan, dan aku akan memperkenalkan tentang akademi ini."
"Aku akan panggil nama kalian, dan kalian memperkenalkan diri oke." Lanjut guru Yun xia.
"Akira."
Akira yang dipanggil pertama langsung berdiri dan memperkenalkan diri.
"Namaku Akira, rumahku tidak dibawa, dan ini kakaku." Akira menunjukku.
"oke kemudian, Tukiman A." Yun Xia terus melanjutkan panggilanya.
"Tukiman B" Lanjut guru.
"Samidi."
"Reyhan."
"Megawati."
"Hiruzen."
.
.
.
.
Penggilan terus berlanjut, sampai pada giliranku.
"Lilias."
"Baik, namaku Lilias, aku dari selatan." Aku berdiri dan memperkenalkan diri.
"Woooo." Para murid laki-laki heboh mendengar namaku.
"Harap tenang semua." Tegur guru Yun Xia.
Setelah kami saling berkenalan, guru pun melanjutkan rencananya, guru menjelaskan banyak hal tentang akademi, yang paling penting yaitu tentang pembelajaran kami.
Pelajaran utama yang kami dapat yaitu teknik pedang, sihir, sejarah dan ekonomi, untuk besok yaitu pelajaran teknik pedang.
Untuk kegiatan hari ini cukup untuk pengenalan, jadi kami bisa pulang lebih cepat.
***
Kami ingin segera pulang ke rumah, namun ketika masih di halaman akademi, Akira terhenti karena mendengar percakapan gadis di depan kami.
"Lihat, itu kan guru baru di sini, dia sangat tampan." Ucap gadis di depan ketika melihat guru yang sedang mengajar teknik pedang.
Akira menoleh arah kiri, dan di kejauhan akira melihat beberapa murid yang sedang belajar tekhnik pedang dengan seorang guru pria.
"Eh itu? Lilias, itu kan paman." Ucap Akira.
"Ha!?" Dengan kaget aku menoleh ke arah yang dilihat Akira.
"Dia? kenapa dia selalu muncul, apalagi sekarang jadi guru pedang, bukanya itu pelajaran kita besok?" Ucapku.
"Iya, semoga besok paman jadi guru kita ya." Ucap Akira.
"..." Emot batu.
.
.
.
.
Bersambung.....
Gimana gys, alur ceritanya jelas gak, atau berbelit atau sembelit atau apa,, kalau ada yang janggal tinggal komen ya, aku gak tau kesalahanku sendiri.