
Sekarang adalah waktu untuk matahari muncul, namun dia masih terlalu malu menunjukkan sinarnya, karena kemunculannya sedang ditunggu oleh seorang gadis vampir yang cantik dan imut.
Vampir ini setelah mengikuti festival semalaman, dia memutuskan untuk tidak tidur sampai pagi, saat ini dia sedang berdiri di atas atap rumah menghadap ke arah matahari terbit.
"Terimakasih Lilias, kamu telah ......." Ucap Aqua yang masih menggema di kepalaku.
"Waktu itu Aqua sifatnya berbeda dengan pertama kali aku melihatnya, dan kenapa aku terus memikirkanya." Pikirku termenung.
Suara terdengar di kepalaku.
"Oh sistem, kau tau banyak ya." Ucapku.
"Sejak kapan dia seperti itu?" Lanjutku bertanya.
"Kapan?"
"Tapi kan ada tahunya."
<...>
"Tapi apa itu? kenapa sikapnya ditunjukkan kepadaku?" Lanjutku bertanya.
<...>
"Haaaah."
Gadis ini hanya menghela nafas panjang, dia masih menatap arah matahari terbit, namun matahari belum juga terbit.
'Oy sistem.'
'Namamu siapa?'
.
.
.
.
.
.
"Aaah ternyata hari ini mendung, pantas saja matahari tidak muncul." Ucap sang gadis ketika menghadap timur dengan perasaan rumit.
"Lebih baik aku bersiap untuk akademi." Dan gadis ini masuk ke rumah membawa perasaan yang rumit, perasaan itu terlukis di wajahnya.
***
Aku masuk ke rumah menggunakan skill dimensiku, aku masuk langsung ke kamar agar tidak mengagetkan orang.
'Sialan si Aqua, bukanya pulang ke kamar, tapi aku dipindahkan ke atap rumah.'
Aku masuk ke kamar, dan melihat Akira yang sedang membuka matanya dia menggosok matanya dengan bingung.
"Lilias, kamu sudah bangun, padahal masih petang." Ucap Akira malas.
"Bangunlah, tidak usah menunggu terang, Langit sedang bersedih." Ucapku sambil menggoyangkan Akira.
"A iya, sepertinya mau hujan."
"Eh pakaianmu, pakaian apa itu, cantik sekali." Lanjut Akira terkejut melihatku.
Melihat Akira terkejut aku pun ikut terkejut, aku mengecek pakaian yang kukenakan, dan melihat yukata putih hitam bermotif bunga merah sakura.
"Pakaianku."
'Aku lupa menggantinya, sebenarnya dia pura-pura bodoh atau semalam pura-pura pintar si....ah tidak, dia memang tidak terlihat pintar.'
"Aah ini namanya yukata, ayok lah bangun, kita harus berangkat ke akademi." Lanjutku.
"Iya."
Akira bangun, dan aku membawanya kebawah menuju ruang makan, di bawah kami telah disambut mama yang sedang menyiapkan makanan, dan pam....ayah yang sedang senyum-senyum sendiri di meja makan.
"Semua akan bodoh pada waktunya." Ucapku dengan wajah emot batu.
"Apa yang kamu katakan, Lilias." Bingung Akira.
"Ah tidak tidak, sana kamu cuci muka aja." Lanjutku.
"Eh Lilias, baju apa itu, kamu dapat dari mana, baru pertama kali ini mama melihatnya, cantik sekali." Ucap mama sang desainer pakaian terheran dengan apa yang kukenakan.
"Aah ini, aku diberi oleh teman dari jauh, jauh sekali, mama tidak akan tau." Jelasku.
"Mmm." Mama menghadap langit, kemudian melanjutkan kegiatannya.
.
.
Mama selesai menyiapkan makanan, dan semua sudah bersiap untuk sarapan, kami semua akhirnya bisa menyantap hidangan sang istri baru dengan nyaman.
"Nee Akira, Lilias, untuk beberapa hari ke depan kalian jaga rumah ya, aku dan Solaya akan berlibur sebentar." Ucap pam...ayah ketika makan.
"Eeeeh, mau kemana, kenapa kami ditinggal." Ucap Akira, Akira kemudian menolehku.
"Tak apa, kita berdua tidak akan kesepian, mereka pasti akan membawa oleh-oleh." Ucapku, kemudia menoleh sandi dengan senyuman.
"Haha, iya, pulang nanti akan kami bawakan oleh-oleh." Lanjut sandi.
"Mmm." Angguk mama.
"Iya dah." Angguk Akira.
Sarapan kami pun selesai tanpa halangan suatu apapun, dan setelah sarapan kami semua bersiap untuk akitivitas masing-masing.
'Sepeetinya aku akan mengenakan ini saja, tentu ditambah mandana.' Pikirku saat memegangi yukata.
Setelah Akira selesai bersiap, kami berpamitan dengan mama dan ayah yang belum selesai dengan persiapannya, setelah berpamitan aku membuka portal di depan orang tua kami, kami memasukinya dan menghilang dari pandangan orang tua.
***
Sampainya di ujung portal, kami sampai di tempat sepi di sekitaran akademi, dan keluar dari portal.
"Eh." Kagetku.
"Eh." Kaget Akira.
"Kenapa di sini hujan, bangsul." Ucapku.
Aku mengaktifkan langkah bayang, sambil membawa Akira, aku berlari masuk ke akademi.
Sesampainya di gerbang, kami sedikit mencolok karena dari sudut pandang orang lain, kami datang secara tiba-tiba.
Aku tidak memperdulikanya, jadi kami terus berjalan menuju kelas, Akira yang berjalan di sisiku juga merasa tidak enak ketika banyak orang yang memperhatikannya, bukan hanya karena di sisiku sih, tapi Akira juga memang cantik, dia juga menjadi incaran beberapa pria munkin.
Sebelum kami sampai ke kelas, kami dihadang oleh taiga, dia berdiri di depanku dengan wajahnya yang merah, taiga membawa sebuah kantong berisi pakaian.
"A, Lilias, kamu sangat cantik memakai yukata dari Jepang, tapi sebaiknya kamu harus ganti segera dah." Ucap taiga dengan wajah tersipu.
"Mmm." 'Dia memujiku, taiga menyebutku cantik.'
Mendengar perkataanya, Akira menoleh ke arahku, dan dia memasang wajah terkejut.
"Li Li Lilias, pakaianmu." Ucap Akira terbata.
Dengan bingung aku melihat pakaianku, entah apa yang membuat orang ini begitu heboh, aku jadi penasaran, dan ketika aku menunduk mengamati.
"Eeh." Kagetku dengan wajah tersipu, aku segera menutupi dadaku dengan kedua tangan.
'Kenapa bisa sampai basah begini, garis-garis braku sampai kelihatan.'
Dengan wajah yang masih merah merona, aku menengok ke arah taiga, dan taiga hanya garuk-garuk kepala dengan wajah merah juga, aku sampai kesal melihatnya.
"Apa yang kamu lihat, ha!" Dengan cepat aku menonjok wajah bodoh taiga.
"Hah, dasar."
Aku melihat sekeliling, dan masih ada beberapa yang melihat ke arahku, aku sedikit mengeluarkan aura membunuhku, membuat mereka berhenti menatap.
"Anu, maaf aku tidak sengaja, ini untukmu, di dalamnya ada pakaian, jadi pakailah segera." Taiga memberikan kantong pakaian kepadaku.
"Hmm." Aku menerimanya kemudian menoleh ke Akira, ternyata Akira tidak terlalu basah, karena ketampung aku.
Aku membopong kantong dan menggunakannya untuk menutupi bagian depanku, aku segera menuju ke ruang ganti untuk mengganti pakaian yang basah.
Di perjalanan ke ruang ganti, aku melewati banyak orang yang melihatku, memang pakaian basahku sudah kututupi, namun motif dan model pakaian yang kukenakan sengat berbeda, apalagi yang memakainya adalah gadis berambut perak yang imut dan cantik ini.
'Jangan peduli jangan peduliiii.' Pikirku.
Aku tetap menuju ruang ganti, dan segera mengganti pakaian yang diberi oleh taiga.
'Eh aku mengenakannya, padahal aku masih punya banyak pakaian di penyimpanan sistem.' Lanjut pikirku.
"Tidak apa-apa lah, nanti aku akan berterimakasih padanya."
***
Di depan kelas dari kejauhan, terlihat seorang laki-laki yang sedang berdiri termenung, dia menatap arah ruang ganti wanita.
'Gadis tadi, namanya Lilias si anak baru yang populer itu kan, kenapa dia memakai yukata? apa dia juga dari Jepang sepertiku.' Pikir si laki-laki yang masih termenung.
"Oy Kazuya, bengong aja nih, apa kamu mulai tertarik sama wanita." Ucap seseorang di sampingnya.
"Dia sangat cantik, tapi kamu akan memiliki banyak saingan." Lanjutnya.
"Ah, tidak kok." Ucap Kazuya.
'Aku harus cari tau sendiri.' Pikir Kazuya.
.
.
.
.
.
Bersambung.........