
Hari ini kami membeli banyak makanan, sebenarnya cuma Akira yang membelinya, dia minta banyak traktiran dariku, tapi aku senang melakukanya, karena dia jadi tertawa kembali.
"Mwehehe." Senyum Akira dengan banyak makanan yang dia bawa.
'Lilias sangat baik, dia bisa menghilangkan rasa iriku.'
Akira setiap mampir toko pasti makan-makan kemudian beli untuk dibungkus dibawa pulang, itu banyak mengeluarkan uangku.
'Entah kenapa aku jadi kesal sendiri.' Heranku dibuatnya.
"Udah, ayo pulang." Mengingat matahari sudah turun.
"Mmm."
Untuk mempercepat waktu, aku mengajak akira pergi ke tempat yang sepi, dan menggunakan skill dimensiku untuk langsung menuju depan rumah.
***
Di sebuah gudang rumah terbengkalai, terdapat beberapa pria berbadan kekar dengan pedang di punggungnya, dan juga beberapa gadis terikat yang sedang menangis
"Hee hee, papa tolong aku." Tangis seorang gadis.
"Berisik!!" Teriak pria sambil memukul gadis di hadapannya.
"Iyaah, lepaskan aku." Teriak gadis kesakitan.
"Kalian akan kami lepas setelah orang tua kalian memberikan uang." Lanjut pria itu.
.
Saat pria ini sedang berulah, masuklah orang baru dari luar.
"Bos, bangsawan yang kita incar telah mengirim uang." Ucap pria bawahan yang baru masuk.
"Bagus, kalian kembalikan gadis yang sudah tidak berguna ini." Printah bos.
"Dan aku punya informasi bos, katanya ada gadis yang sangat cantik mendaftar di akademi, dia menjadi pusat perhatian di hari pendaftaranya, tapi dia bukan bangsawan." Ucap salah satu bawahan.
"Hmm, jika dia memang cantik, aku bisa menggunakannya sebagai budakku, hahaha." Ucap bos yang badanya lebih besar dari yang lain.
"Besok cari dia, cari kesempatan untuk menculiknya, pasti besok dia akan masuk akademi." Lanjut bos.
"Iya bos."
***
"Kami pulang." Dua gadis berkicau bersama sambil membuka pintu.
Kami masuk rumah, dan terlihat paman sedang duduk di kursi, dan mama sedang menyiapkan makanan.
"Selamat datang, kok baru pulang, apa daftarnya lancar." Ucap mama yang menyambut kami.
"Iya, tapi kami jalan-jalan dulu." Ucapku.
"Tidak, padahal harus bayar 10 emas, tapi papa tidak memberikan uang, papa jahat." Ucap kesal Akira.
"Eh iya papa lupa, maaf, nanti papa ganti dah, haha." Ucap sandi.
"Tidak usah paman, aman kok sudah pakai uangku." Lanjutku dengan wajah ketenangan.
"Eeh maaf Lilias Chan, jadi merepotkanmu, nanti aku ganti." Lanjut paman.
"Tidak usah, bener dah, aku sudah kaya, lagian ini kulakukan untuk adikku, hehe." Ucap dengan senyumku.
"E." Kaget Akira.
"Haha, begitu kah, terimakasih kalau begitu." Lanjut sandi.
Aku memang masih sangat muda, tapi paman tau kalau aku merupakan petualang yang kuat, dan telah melewati banyak misi berat, paman sadar jika uangnya pasti lebih sedikit dari punyaku.
'Kakak ?...kaaah.' Pikir Akira sedikit tersipu.
Meskipun setelah di reinkrnasikan mentalku menjadi labil seperti anak kecil pada umumnya, namun dengan ingatan masa lalu mentalku bisa dewasa lebih cepat, bisa terlihat perbedaan dari sikapku dan Akira.
"Kalian mandilah dulu, kami tunggu di sini ya." Ucap mama setelah Selesai menyiapkan makanan.
"Iya."
Aku berjalan menuju kamar untuk mengambil handuk dan daleman dulu, diikuti Akira di belakangku, sesampainya di depan kamar.
"Barenga ya." Ucap Akira yang menarik bajuku.
Aku menoleh belakang, terheran melihat Akira yang mengikutiku ke kamarku, apalagi dia mengajak mandi bareng lagi, seperti ada yang beda.
'Anak kecil memang hatinya mudah bolak balik ya.'
"Iya, ambil handuk dulu." Ucapku.
Sejak kemenangan waktu itu, Akira selalu memasang wajah lelah kepadaku, aku jadi merasa bersalah, padahal Akira sendiri yang memulainya.
Dan dia cepat berubah ketika siang tadi, memang kekuatan uang dan traktiran bisa mengubah hatinya.
Melepas semua pakaian tanpa tersisa sehelai kain pun, mengisi bak air panas kemudian menyiram badan dulu, kami membasuh badan dan kemudian pake sabun.
Sambil sabunan, Akira mengangkat gunungnya yang belum menjulang dengan tanganya sendiri, memperhatikan dengan seksama.
'Mu munkin sesekali aku bisa memanggilnya onee-chan.' Pikir Akira.
Kemudian dia berpindah melihat gunungku dengan wajah tersipu.
"Ada apa?" Tanyaku.
'Apa dia masih kurang puas, sampai membandingkanya dengan punyaku.'
"Nee Lili..... onee-chan, beri tahu aku, bagimana supaya punyaku bisa besar sepertimu." Ucapnya yang masing memegang gunung.
"..."
"Onegaii." Lanjut Akira.
"Ada apa denganmu tiba-tiba, apa kamu masih Akira." Ucapku heran ketika masih bersabun.
"Jangan mengejekku, padahal aku sudah berusaha untuk mengatakannya." Ucapnya dengan pipi mengembung.
"..."
'Imutnyaaa, dia memanggilku onee-chan ya, hehehe.'
"Pengen lebih besar ya, oke." anguk anggukku.
Sebelum memulainya, aku membilas badan terlebih dahulu, den menyuruh Akira melakukanya juga.
Setelah itu kami berendam di bak air panas, kami duduk berhadapan, lumayan besar untuk kami berdua.
"Kamu diam dulu ya, sini aku ajarin." Ucapku dengan senyum manis.
Aku meluruskan kedua kaki Akira, dengan posisi Akira yang bersandar nyaman di bak mandi.
"Eh, ada apa ini kok aku jadi takut." Ucap Akira yang melihatku sedang menuju arahnya.
"Tidak apa kok." Aku yang menduduki paha Akira.
Kini posisi kami berhadapan sangat dekat, Akira yang duduk dengan kakinya lurus kedepan, dan aku yang duduk di pahanya dengan kaki menekuk kebelakang, membuat posisi wajahku diatas wajah akira.
"..."
'Sebenarnya apa yang akan dia lakukan.'
Setelah mengambil nafas, aku memulai aksiku.
*..SKIP...scene ini udah kupotong)*
"Lilias Chan! Akira Chan! kenapa lama sekali, makananya keburu dingin lho." Ucap mama di belakang pintu.
Suara dari luar membuat kami terkejut bersama, sampai kami seketika menghentikan aksi nakal ini.
"Iyaa!! ini mau keluar." Ucapku dari dalam.
Aku segera berdiri dari pangkuan Akira, keluar dari bak untuk memakai handuk.
"Lakukan itu setiap hari, pasti akan tumbuh lebih cepat." Ucapku menolehnya yang masih duduk.
"Ayo lah, kita sudah ditunggu." Lanjutku mengakhiri kegiatan di kamar mandi.
***
Setelah kami selesai berpakaian, kami segera ke ruang makan karena sudah ditunggu, mama dan paman masih setia duduk di kursinya.
Kami mengikuti mereka dan duduk bersama, menyantap makanan yang sudah disajikan mama dengan penuh kasih sayang.
Diselang-selang makan kami, sesekali Akira melirikku dengan wajahnya yang tersipu, aku sedikit mengetahui pikiranya, munkin dia masih malu.
'aaaa adikku yang maniis.' senyuman tanpa sadar keluar di wajahku.
[Ding, misi sampingan baru, buru dan habisi penculik di kota, hadiah 10.000 poin]
'10.000 kah, berarti mereka cukup kuat bagi kebanyakan manusia, sebaiknya kulakukan nanti malam ketika yang lain sudah tidur.' Pikirku saat masih menyantap makanan.
.
.
.
.
.
Bersambung....