
Terlihat dua orang yang berhadapan, tiada di antara mereka yang mengawali untuk memalingkan wajah.
"Kamu, kamu kenal aku?" Ucap pria yang sedang memegang pedang.
Namun pertanyaanya sungguh sangat terlambat, karena pedang yang dipegangnya menusuk perut gadis yang tepat berada di depannya.
Pedang besar menancap di tubuh seorang gadis yang bertubuh kecil, menjadikan luka yang terbentuk begitu mengerikan.
"Cough." Gadis yang kebingungan itu memuntahkan banyak darah dari mulutnya.
Darah meluber ke sebuah sabit besar yang kini mulai hilang entah kemana, dilanjutkan dengan gadis kecil yang terlihat tidak berdaya, jatuh ke tanah.
Pemandangan hening terlihat cukup lama, sampai datang pera kesatria yang tadinya kabur keluar.
"Pahlawan menang, hidup pahlawan." Berisik kesatria yang cuma beban.
POV Taiga.
Taiga tidak mempedulikan suara yang datang dari belakang, dia hanya terfokus pada apa yang di depannya.
'Dia tau namaku, dan bela dirinya sama sepertiku, apa dia temanku di bumi'
Hanya orang dari Indonesia yang mengetahui gerakan itu, dan gadis yang didepannya mengetahui nama taiga, membuat taiga berfikir sejenak kehidupan bumi.
'Tidak tidak, aku kan tidak punya teman cewek, apalagi vampir, ada apa ini?' Pikir taiga dengan keras.
Taiga menatap gadis yang matanya terlelap dengan perasaan yang kacau, bagaimana dia bisa menghunuskan pedang pada gadis yang sebenarnya tidak melakukan kejahatan apapun, hanya dengan sebuah ramalan dia begitu saja melawan Gadis di depannya.
"Ayo kita bawa dia, kita pasti akan mendapatkan hadiah besar dari raja." Ucap salah satu kesatria.
Tanpa memperdulikan taiga yang sedang diam berdiri, para kesatria membawa seorang gadis ke sebuah kereta kuda yang tadinya mereka kendarai.
Sebagai penjelajah yang jauh, kereta kuda kadang di gunakan untuk membuat perkemahan, jadi kelompok pahlawan membawa dua kereta.
"Tuan pahlawan, apa kita akan meneruskan menjelajah dungeon." Ucap kesatria yang bingung melihat taiga diam berdiri.
"Ah tidak, kita sebaiknya secepatnya keluar dari sini, sebelum ada orang yang datang." Ucap taiga berbalik menghadap keluar dungeon.
Pertempuran tadi berlangsung di tempat bertarung dulu, yaitu baru beberapa meter dari pintu masuk, tentunya sedikit mencolok dari luar, untuk menghindari hal merepotkan, mereka secepatnya berenjak pergi dari medan pertempuran.
Taiga dengan rasa penasarannya, dia memasuki gerbong yang didalamnya terdapat orang yang telah ia kalahkan, untuk sekalian memastikan identitasnya.
"Ayo kita berangkat." Perintah Taiga.
"Baik tuan." Ucap sopir yang berada di kereta yang sama.
Kereta Taiga berjalan, kemudian di ikuti kereta lainya.
Di depan Taiga kini terdapat seorang gadis yang berlumuran darah di badanya, taiga mengamati dan menelitinya dengan seksama.
'Dia memiliki telinga runcing, taringnya sedikit lebih panjang, rambutnya berwarna perak, matanya merah, gunungnya belum tumbuh, dia sangat cantik...... eh, maksudnya dia seperti vampir dalam cerita di bumi.'
"Kalian, aku mau tanya."
"Kamu na, Silahkan tuan."
"Apa di dunia ini ada ras vampir?"
"Vampir? itu hanya ada dalam legenda tuan, saya tidak mengetahui secara pasti, tapi katanya dulu mereka menguasai dunia ini." Jawab kesatria dengan wajah seriusnya.
"Kenapa tuan tiba-tiba menanyakan tentang vampir?" Ucap kesatria yang lain.
"Ah, tidak apa." Ucap taiga yang kemudian menoleh gadis di depannya.
'Jadi mereka tidak tau ya, tapi aku yakin dia ini adalah seorang vampir.' Benak taiga ketika mengamati gadis di depannya.
Setelah taiga sedikit lebih lama mengamati, taiga menyadari ada yang tidak beres, luka besar yang dibuatnya kini perlahan mulai membaik, lubang besar mulai menutup kembali.
'Apa! apakah dia belum mati.'
"Kalian, lihatlah luka ini." Ucap taiga menunjuk luka di perut gadis di depannya.
"Tu, tuan, dia masih hidup, lukanya menghilang." Kesatria dengan wajah kagetnya.
"Ikat dia sebelum bangun." Ucap salah satu kesatria.
Kesatria menoleh kanan kirinya, tetapi tidak ada tali yang bisa digunakan untuk mengikat, kepanikan terjadi cukup lama sampai gadis yang berbaring itu membuka matanya.
POV aku Lilias.
Setelah melewati beberapa tekanan, aku tersadar karena goncangan dan suara berisik di sekitarku, aku mengetahui kalau sekarang aku sedang di bawa oleh kelompok pahlawan.
Agar tidak terjadi kecelakaan, sebelum aku membuka mata, aku bersiap dahulu, menyiapkan skill barierku.
Aku membuka mata dengan cepat, melihat sekeliling, aku melihat taiga dan empat orang di sekitar.
Semua yang ada di gerbong ini terlihat sangat terkejut, para kesatria sontak berdiri dan bersiap untuk penyerangan, mengeluarkan pedang yang dimilikinya, kecuali pahlawan yang hanya melihat dengan terkejut.
Tanpa ada suatu pergerakan, kami hanya saling menatap cukup lama.
"Selamat pagi." Ucap taiga dengan wajah seringai.
Mendengar perkataannya, sepertinya dia tidak berniat untuk menyerang, aku sedikit mengendorkan kewaspadaanku.
"Sore." Ucapku dengan mata sipit.
"Apa ada air minum?" Lanjutku sok kenal.
Dengan hilangnya kewaspadaanku, taiga di sampingku pun ikut melepas kewaspadaannya.
"Aah, ini, tapi tidak ada rokok." Ucap taiga sambil memberikan botol air minum.
Tanpa memperdulikan perkataanya, aku mengambil sikap duduk seorang peseni beladiri, karena sikap ini bisa mengurangi rasa lelah.
Aku menerima botol yang cukup besar yang terisi penuh darinya dengan enteng, kemudian aku meminum sedikit air di dalamnya.
"glug glug glug." Suara air yang diminum oleh gadis cantik ini terlihat seperti dalam iklan, membuat orang di sekitarnya terpana, hanya saja darah ini cukup mengganggu pemandangan.
'Ini akan gawat kalau mama melihatnya.' aku menyiram banyak darah di tubuhku, menggunakan air dalam botol Sampai tidak tersisa.
Setelah tubuhku bersih dari darah, kini dibalik baju yang bolong, terlihat kulit putih dibawah tanktop pendek berwarna pink, sontak aku menutupinya.
Untuk memastikan, aku menoleh ke taiga yang tepat di sampingku, dia menoleh ke arah lain dengan wajah yang tersipu.
'Hmm, si jomblo ini.' Aku memasang wajah emot batu, dan melemparinya dengan botol yang kupegang.
"Tuk." Suara renyah terdengar dari sebuah kepala.
"Hey, apa yang kamu lakukan." Protes si taiga.
Para kesatria yang melihatnya, hanya bisa bingung dengan apa yang mereka lihat, sehingga kewapadaanya mulai hilang.
'Sukurlah, ternyata aku belum membunuhnya.' Batin taiga yang entah kenapa merasa lega.
"Kamu, jadi boleh aku tau siapa kamu." Lanjut taiga ngeyel.
Kini aku tau, kalau orang yang di sampingku adalah taiga, teman lamaku, tapi saat ini aku sadar siapa aku sekarang, apalagi hubungan kami yang sudah begini.
Tanpa ada jawaban apapun, kini di gerbong hanya tinggal keheningan, tiada kata terucap, tiada kentut meletus.
'Aku ingin segera pergi, tapi staminaku masih belum cukup untuk melakukanya, aku butuh darah.' Pikirku kacau.
Saat ini aku tidak bisa untuk tiba-tiba menyerang manusia di sekitarku, jadi lebih baik aku menenagkan pikiran dengan hal lain.
Aku mengeluarkan gitar dari penyimpanan sistem, gitar akustik dengan cangklongan putih bergambar kucing.
Orang sekitar yang melihatnya tidak tau apa yang mereka lihat, kecuali taiga yang terkejut melihat benda yang sangat akrap baginya, taiga yang melihatnya ingin mengatakan sesuatu, tapi dipotong oleh suara keras pertama dari gitar ini.
"Jreeng."
Aku membuka suara gitar dengan cord intro
Am C Dm E
Am C Dm E
F G Am
Lalu dengan suara imutku, aku mulai menyanyi.
"masih membasah luka,
yang dulu pernah kau cipta,
kau sayat kembali,
diatas derita lama."
Orang sekitar yang mendengarnya, terlihat di wajahnya kagum yang sangat, tanpa memperdulikanya, aku terus bernyanyi sampai pada bait....
"Benar kata pujangga selasih ku sangka mayang-mayang ku sangkakan daun selada,
orang benci ku sangka sayang namun diri tak merasa tetapi apakan daya."
Sekian benci kusangka sayang dari Sonia.
Satu lagu cukup untuk menenangkanku, aku merasa staminaku sudah cukup, jadi aku memasukkan gitarku kembali ke Inventori.
"Selamat tinggal, taiga." Aku yang sambil berdiri, kemudian langsung pergi tanpa memperdulikan taiga yang ingin menghentikanku.
Dengan cepat, aku melesat pergi meninggalkan gerbong kereta yang habis kutempati.
***
Sampai rumah, hari sudah gelap, melebihi jam yang ditetapkan oleh mama.
Aku masuk rumah, terlihat orang yang sedang mondar mandir seperti banyak pikiran, dia langsung terkejut melihat kedatanganku.
"Lilias, kenapa kamu baru pulang, mama sangat khawatir kamu tau." Ucap mama menghampiriku.
"Maaf ma, ada sedikit masalah di jalan." Ucapku dengan santainya.
"Kamu, kenapa pakaianmu bisa sobek seperti ini, dan ada bekas darah di bajumu." Lanjut mama melihat pakaianku.
"Ini, tidak apa apa kok ma, aku mau mandi dulu." Lanjutku dengan santainya.
"Lilias! mama sedang bicara sama kamu." Ucap mama dengan nada tingginya karena tanggapanku yang terlihat tidak peduli.
Hari ini aku mengalami kejadian yang menyakitkan, seorang yang telah menyerang keluargaku, bahkan hampir membunuhku, bahkan dia akan membuatku menjadi tawanan, ternyata dia adalah taiga seorang yang kuanggap sahabat.
Kebetulan ini sangat membuat pikiranku kacau, aku sangat membencinya, tapi dia adalah taiga, bagaimana aku bisa membunuhnya.
Ini hampir membuatku gila, aku sangat ingin tertawa dengan plot ini, tapi air mengalir dari mataku.
"Kenapa kamu diam saja." Lanjut mama.
"Apaan si ma, aku bukan anak kecil lagi, aku bisa mengatasi masalahku, jadi berhentilah menekanku!"
"Lilias!!"
.
.
.
.
.
Bersambung......
Hey guys, bentar lagi aku (Lilias) akan pubertas, kejadian apa yang harus kuceritakan ya, komen aja.