
Matahari tepat berada di atas, suara keramaian para murid yang pulang menambah panasnya suasana, meskipun diluar habis hujan.
Setelah beberapa murid baru pulang, para guru pun kembali menuju kantornya.
"Guru taiga, anda juga cepat dalam membubarkan murid ya." Sapa salah satu guru.
"Iya, murid baru cuma butuh pengenalan di hari pertama, mereka pasti akan kesal jika langsung belajar serius." Ucap taiga.
"Haha, iya iya."
Taiga duduk di kursinya, meletakkan dokumen yang barusan dia bawa, kemudian menghela nafas untuk menghilangkan lelah.
Saat sedang bersantai, tiba-tiba datang seorang gadis berambut merah mesuk kantor dan menuju taiga.
"Paman, hari ini, jadi kan." Dia yang menyembunyikan kedua tanganya ke belakang.
"Akira? oke ayo kita pergi." Angguk taiga.
"Yeyy."
'Kamu dan Lilias sangat dekat, aku merasa tidak enak jika tidak membelikan untukmu juga, mengingat hubunganku dengan Lilias jika dilihat dari pandangan orang lain kami baru saja kenal.' Taiga yang lega setelah memikirkanya, ia memutuskan untuk pergi.
"Di mana Lilias?" Ucap taiga.
"Lilias ada urusan, jadi dia tidak ikut." Akira yang memasang senyum bahagia.
"Eeh, apa tidak jadi masalah jika kita hanya berdua." Taiga mengira mereka akan pergi bertiga, taiga pikir dimana ada Akira di situ ada Lilias.
"Memangnya kenapa paman?" Akira memiringkan kepalanya tanpa ekspresi.
"Guru taiga, apa dia keponakanmu?" Salah satu guru yang melihat mereka berdua, bertanya.
"A, I iya dia keponakanku." Taiga dengan senyum ragu.
Dilihat dari manapun, badan Akira masih datar seperti papan cucian, jika mereka berdua berjalan munkin orang lain hanya mengira mereka anak dan orang tua, atau keponakan dan pamannya.
"Ayo kita pergi." Taiga berdiri dari kursinya.
"Goo." Semangat Akira terlihat di wajah dan tanganya.
Setelah itu, mereka bersama pergi keluar dari akademi, kali ini tidak bisa pergi dengan cepat karena tidak bisa mengandalkan skill dimensi dari Lilias, tapi ternyata taiga mempunyai seekor kuda, jadi mereka tidak jadi berjalan.
Taiga mengeluarkan kudanya dari parkiran, seekor kuda gagah berwarna coklat tua dengan rambut berwarna merah.
"Woo wooo, paman punya kuda yang cantik, aku mau duduk di depan." Akira dengan gembiranya melompat-lompat sambil memegangi kuda.
"Akira Chan, kamu duduk di belakang dong."
"Tidak, di belakang tidak bisa melihat jalan."
"Akira Chan, kamu kan sudah besar, masa tidak malu duduk di depan."
Akira yang merasa pengalaman hidupnya baru sedikit, dia tidak merasa bahwa dirinya sudah besar, bahkan dia kalah jauh dari lilias, namun taiga tetap mengajarinya bagaimana untuk tumbuh dewasa.
"Baiklah." Akira pasrah.
'Setelah melihat tingkah Akira ini, aku pikir Lilias memang sudah dewasa, yah dia memang memiliki pengalaman hidup seumuranku, hanya saja dia menjadi gadis menjengkelkan.' Pikir taiga mengingat Lilias.
"Paman, kuda ini terlalu tinggi, aku tidak bisa melompat." Akira yang masih berusaha untuk menaiki kuda sendiri.
'Ya, Akira memang baru saja akan keluar dari masa kanak-kanaknya.'
Setelah taiga sedikit bertarung dengan egonya, taiga kini hanya melihat seorang anak kecil di depannya, taiga mengangkat Akira membantu naik ke kuda.
Mereka berdua akhirnya pergi, taiga duduk di depan menyetir, dan Akira duduk di belakang taiga, benar saja Akira tidak bisa melihat ke depan karena terhalang badan taiga.
Akademi dan asrama memang memiliki toko sendiri, namun pergi ke kota pasti akan lebih banyak pilihan.
Kuda berlari kencang, kuda bisa sampai di kota sebelum penunggangnya bosan.
Setelah sampai di kota, taiga memakirkan kudanya ke tempat khusus kuda, dan keduanya pergi menuju apa yang di inginkan oleh Akira, mereka berjalan menelusuri berbagai toko.
***
Perpustakaan.
Terlihat seorang gadis yang sedang santai membaca buku, ia membolak balikkan buku tanpa ada gangguan suatu apapun, ia membaca buku dengan cepat Karena bahkan buku tebal yang ia baca terlalu ringan bagi otak gadis ini, siapa lagi gadis cerdas yang di maksud kalau bukan aku, ya, itu aku, Lilias.
'Eh, aku lupa memantau Akira, aku harus mengaktifkan skill deteksiku.' Tersadar setelah beberapa saat.
'Deteksi aktifkan.'
Tidak hanya peta bergambar, namun jika aku memejamkan mata, aku bisa melihat tempat yang ingin kulihat.
Skill deteksiku mampu menjangkau 1KM, itu cukup untuk melihat semua yang ada di akademi, pertama aku melihat isi kelas.
'Kelas sudah kosong ya.'
Kemudian pengelihatanku berpindah menelusuri lapangan.
'Eh, tidak ada juga, kemana dia pergi.'
Melalui deteksi, pengelihatanku menelusuri berbagai tempat, kelas, lapangan, ruang guru, gedung olah raga, bahkan sampai toilet wanita tidak menunjukkan tanda-tanda adanya Akira.
'Cuma satu yang belum kulihat, tapi apa munkin Akira yang seorang gadis masuk ke sana.'
'Aku harus melihatnya, untuk berjaga-jaga jika ternyata Akira diculik oleh orang nakal.' Aku memikirkanya sambil menelan ludah.
Pandanganku bergeser ke tempat yang belum kujamah, tapi yang kulihat cuma beberapa anak laki-laki, ada yang sedang jongkok, ada yang merokok, dan aku juga melihat Kazuya yang sedang buang air kecil, ya buang air kecil, aku mencoba zoom, semakin zoom.
'Besar!!.' Terkejut dengan apa yang kulihat.
Seketika aku mematikan skill deteksiku, pipiku merah setelah melihat sebuah belalai gajah yang sedang dipegang oleh pemiliknya.
'Itu, itu, kenapa aku malu.' Aku tersipu sambil memegang pipi yang semakin merah.
'Yah, aku sudah tidak pernah melihat benda itu, bahkan aku sudah lama melupakannya, hanya saja akhir-akhir ini aku kadang membayangkannya ketika melakukan misi harian.' Tanganku turun melindungi bagian bawah.
'Apa aku menginginkannya, gawat sepertinya akan ada yang basah.'
Aku segera menepuk pipiku, menghentikan pikiran yang merasuki otakku, kemudian menarik nafas panjang.
'Lebih baik aku jalan-jalan ke kota.'
Aku beranjak pergi dari kursi, menata kembali buku ke tempatnya, kemudian pergi meninggalkan perpustakaan.
Tidak seperti biasanya, karena hari masih siang aku sedikit khawatir jika menggunakan portal menuju kota, jadi aku menggunakan maraton, lari cepat dan skill bayang agar aku bisa lari tanpa membuat kehebohan.
Jarak akademi sampai kota yang seharusnya jika ditempuh dengan kuda bisa sampai 1 jam, aku hanya membutuhkan beberapa menit, meskipun itu sedikit menguras energi ku.
Sesampainya di kota, hal pertama yang ingin kulakukan adalah membeli eskrim, aku memang memiliki resistensi suhu berlebih, namun untuk suhu normal aku masih merasakan seperti makhluk pada umumnya, tentu aku jadi berkeringat.
Aku berjalan menuju tempat penjual es krim yang pernah kubeli waktu bersama taiga, aku masih mengingat tempatnya.
"Itu dia.......eh, itu." Aku melihat penjual es krim dari kejauhan, tidak hanya itu, aku juga melihat Akira dan taiga sedang membeli es krim.
"Kenapa mereka bisa bersama, dasar, mereka diam-diam bermain di belakangku." Ucapku ketika melihat Akira dan taiga bersama.
Mereka tiba-tiba pergi dari penjual es krim, aku mengikuti arah mereka pergi, ternyata mereka menuju toko pakaian.
Aku tidak bisa mengikuti mereka ke dalam, jadi aku memantau dari kejauhan menggunakan skill deteksi, sambil berdiri disamping tiang lampu jalan.
Terlihat Akira sedang memilih pakaian dengan gembiranya, dan juga taiga yang sedang di sampingnya.
'Apa mereka sedang belanja.' Pikirku kesal.
Aku masih mengamati mereka, kini Akira menuju ruang ganti, sepertinya dia sedang mencoba pakaian.
Benar saja, setelah itu dia keluar dengan pakaian yang berbeda, dia menghadap ke taiga sambil menunjukkan pakaian yang ia coba.
"Paman, apakah ini cocok untukku." Ucap Akira yang terdengar melalui skill deteksi.
"Iya, cantik kok." Angguk taiga.
"Duar!!" tiba-tiba tiang lampu yang kupegang hancur.
"Hmm tanganku gatal sekali." Aku dengan wajah yang gelap.
"Kenapa aku merasa kesal sekali melihat dua monyet yang sedang membeli baju."
.
.
.
.
.
Bersambung.....