Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut

Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut
Chapter 50 Mama pulang.


Ruangan terasa sepi, dua orang duduk dalam diam setelah selesai dengan urusan perut masing-masing, si rambut merah sedang melamun sedangkan si rambut perak mengelus perutnya yang terisi cukup banyak.


Meskipun dia seorang vampir yang tidak perlu makan nasi untuk hidup namun dia tetap banyak makan, dan meskipun dia banyak makan namun tidak menghilangkan pesona kecantikanya, siapakah dia, ya, itu aku, Lilias Coksumbar.


'Lilias memang mengatakan cuma berteman dengan paman, tapi tingkahnya tidak mencerminkan perkataanya, apa sebenarnya Lilias memang menginginkan paman.' Pikir si rambut merah yang diam dalam lamunanya, ya, itu dia, si sesat Akira, cinta pertamanya adalah seorang om-om.


"Akira??" Aku mencoba memecah keheningan.


"Mmm." Akira yang tanpa ekspresi.


'Akira diam mulu, jangan-jangan dia eek.'


Suasana hening gagal terpecah, kedua gadis ini masih diam dalam pikirannya masing-masing, sampai datang sang pemecah suasana yang sesungguhnya.


"Tok...tok...tok." Suara ketokan pintu depan terdengar.


"Kami pulang." Ucap sang pemecah suasana sambil membuka pintu.


Saat terdengar suara, aku dan Akira melihat ke sumber suara, dan kami melihat dua orang yang sedang masuk ke rumah.


"Mamaa, uwaaah kalian sudah pulang." Dengan gembiranya aku berlari ke arah mama, dan memeluk eratnya.


"Ara ara, kamu seperti anak kecil saja." Mama mengelus kepalaku dengan senyumnya.


"Selamat datang kembali, papa, Bu."


Akira dengan senyumnya juga menyambut kedatangan kedua orang tua.


"Kalian baik-baik saja kan kami tinggal." Ucap sandi melihat kami.


"Iya, santai saja, xixi, kalian duduklah dulu, aku buatkan teh." Aku berenjak menuju dapur.


Setelah teh siap, aku membawanya ke meja dan akhirnya kami bisa duduk berkumpul bersama lagi.


"Kalian pergi terlalu lama, sebenarnya apa saja yang kalian lakukan, dan apa oleh-oleh untuk kami?" Aku yang meminta.


"Mmm banyak, kami melakukan banyak hal di berbagai tempat, dan membawa banyak jajan pula." Sandi mengeluarkan banyak jajanan dari kantong penyimpanan.


"Terus, aku juga membawa sesuatu yang bagus untuk kalian." Lanjut sandi mengeluarkan dua pedang yang terlihat istimewa.


"Ini untuk Lilias." Sandi menyerahkan pedang dengan gagang dan sarungnya yang berwarna merah kepadaku.


"Dan ini untuk Akira." Dia juga menyerahkan pedang dengan gagang dan sarungnya yang berwarna putih untuk Akira.


Aku dan Akira merasa sangat senang, namun sedikit merasa aneh dengan pemberianya.


"Lho ini apa tida kebalik pa." Akira mengamati pedangnya.


"Mmm tidak, itu cocok untuk kalian sebagai saudara."


"Mmm."


'Hadiah dariku masih berupa bahan, lebih baik aku berikan ketika sudah jadi saja agar menjadi kejutan, hehe.' Solaya yang memikirkan baju kembar.


"Dan ada hadiah paling istimewa dari kami." Sandi dengan ucapannya yang serius.


Aku dan Akira mengamati wajah sandi dengan seksama, kami sesaat terdiam, bersiap-siap akan kejutan dari sandi sambil menelan ludah.


"Tidak lama lagi kalian akan punya adik baru." Sandi dengan gembiranya sambil mengelus perut Solaya.


"Waaah, aku tidak sabar ingin punya adik." Akira akhirnya akan punya adik, munkin Akira berpikir akan melakukan seperti apa yang telah aku lakukan padanya.


"Hehee, hadiah pernikahan dariku hebat kan." Aku dengan bangganya.


Sandi tanpa jawaban hanya tersenyum sambil mengacungkan jempol.


'Iya aku baru ingat itu, pantas saja sandi mainya sangat kuat, anak nakal ini.' Mama memandangiku dengan wajah seram, aku jadi merinding.


"Hehe." Aku cukup menggaruk kepala, agar masalah selesai.


***


Beberapa bulan kemudian, di dungeon cebretan.


"Sring...sring....sring." Suara sabit membelah target.


"Huuh, untung saja monster di sini tidak cepat habis, jadi aku bisa membantai cukup puas, hanya saja aku kasihan jika membunuh naga di bawah."


Selagi masih ada waktu luang aku sesekali pergi ke dungeon untuk menaikkan level, sebentar lagi misi untuk level 100 akan tercapai, sekarang sudah mencapai level 97.


Dan untuk poin sistem hanya menumpuk tidak terpakai, memangnya apa yang akan aku beli, aku sudah punya banyak uang dari misi berburu monster, dan untuk skill kekuatan aku tidak membutuhkannya, aku sudah sangat kuat.


"Huuuh, setelah cukup lama membantai monster aku jadi haus, tapi kantong darahku sudah habis."


Aku diam berpikir sambil menghadap langit.


"Hihi, kenapa aku tidak memburu makhluk jahat itu saja."


Aku memasukkan sabitku kembali, kemudian membuka portal, setelah terbuka aku masuk dan sampailah aku di sekitar mansion lama sambil bersembunyi.


Dari sekitar mansion aku mengaktifkan skill deteksi, dan menemukan beberapa kesatria yang berjaga, kekuatan mereka munkin setara petualang rank C.


'Itu dia, makhluk lemah tapi jahat yang suka mengawasi rumahku, bodohnya.'


Aku berubah menjadi kelelawar dan mengaktifkan skill langkah bayang, membuat pergerakanku cepat dan senyap, dan tanpa disadari oleh orang lain, aku bisa menangkap kesatria yang terpisah dengan temanya dan menariknya kedalam portal.


"Xixixi." Membawa satu sudah cukup bagiku, aku menangkap satu den membawanya ke dungeon.


"di dimana ini." Kesatria yang tertangkap kaget karena tiba-tiba terbawa ke tempat lain, den ketika dia menoleh sekeliling dia melihatku yang sedang tersenyum, kesatria ini matanya hampir copot, namun sebelum dia berteriak aku sudah terlebih dahulu menghisap darahnya sampai kering.


"Aaah." Seharusnya aku lakukan ini dari dulu.


***


Di sebuah tempat pertemuan, terdapat beberapa orang penting yang sedang berkumpul, satu mengenakan armor dan lainya mengenakan seragam kantor, pertemuan ini yang tidak lain dipimpin oleh kepala akademi dan didampingi oleh kesatria kerajaan.


"Jadi bagaimana informasi tentang siapa gadis yang di curigai itu." Ucap kepala akademi.


"Saat ini intel dari kerajaan Sambac diperbolehkan memasuki kerajaan kita, dan setelah bekerja sama, kami menemukan gadis yang diduga iblis itu, dia adalah si anak jenius dari akademi ini dengan nama yang juga sama, yaitu Lilias." Ucap kesatria.


Beberapa peserta terkejut mendengarnya, karena dari pihak warga kerajaan Tanjun informasi ini masih baru, hanya beberapa orang yang mengetahui permasalahanya secara detail.


"Tapi kenapa dari pihak kerajaan Sambac tidak ada pergerakan?" Kepala akademi bertanya.


"Sepertinya mereka paham dengan kekuatanya, jadi mereka belum bertindak, dan beberapa bulan ini mereka sedang mengumpulkan banyak kekuatan." Lanjut jelas kesatria.


"Kita tidak boleh menelan informasi mentah-mentah dari orang lain, kita harus mengetes anak ini dulu, jangan sampai kita salah membunuh orang, karena sebenarnya kejeniusan anak ini bisa menjadi aset yang bagus bagi kerajaan kita." Ucap salah satu dari perkumpulan.


"Ya, dan karena kerajaan Sambac saja sampai waspada tentu kita juga jangan sampai bertindak ceroboh, kita harus mengetesnya dari kejauhan, jika memang dia berbahaya kita harus bekerja sama dengan kerajaan lain." Ucap seseorang di perkumpulan.


"Minggu ini akademi akan ada praktek pertempuran, cari monster yang kuat dan pertemukan itu dengan Lilias, kita lihat jati dirinya." Lanjut kepala akademi.


"Tapi tuan, itu sangat membahayakan bagi peserta lain." Seorang di perkumpulan mencoba menyanggah.


"Tidak masalah, ini juga berarti ujian bagi peserta lain, dari pada kita sendiri yang terbunuh jika terjun langsung, lakukanlah tugas kalian." Perintah sang kepala.


"Baik tuan."


Kepala akademi memikirkan masa depan dengan wajah suram.


"Mari kita lihat, apakah dia memang musuh umat manusia, atau hanya propaganda kerajaan Sambac untuk menghancurkan kita."