
Akira setelah membaca surat di tanganya segera pergi dari rumah, tidak lupa membawa dua baju yang tergeletak bersamanya.
"Aku harus mencari Lilias, munkin dia masih di toko." Ucap Akira sambil berlarian.
Meskipun sebenarnya masih lelah setelah berjalan beberapa kilo, namun masalah kakinya tidak seberapa jika dibandingkan dengan keluarganya.
Akira tidak memiliki skill khusus berlari, hanya kemampuan dari latihannya yang bisa membuat pergerakannya lebih cepat.
Jangka langkah kakinya mencapai beberapa meter, Akira bahkan tidak merasakan apa yang ia injak.
"Bruk."
Tidak sadar Akira tersandung batu yang menancap di tanah, Akira terjatuh hingga barang bawaannya berserakan.
"Jangan, jangan sampai kotor." Sambil meneteskan air mata, Akira kembali mengambil dua baju yang terjatuh.
Setelah kembali mengambilnya, Akira kembali berlari tanpa memperdulikan hal lain.
"Haah haah haah."
Akira akhirnya sampai di depan toko dan berdiri sambil menarik nafas panjang, namun apa yang ia lihat sangat mengecewakan, toko yang ia lihat ternyata sudah tertutup rapat.
"Apa Lilias sudah pulang, apa dia sudah pulang dengan portalnya." Ucap Akira yang gelisah.
Akira diam bingung memikirkan apa yang harus ia lakukan, surat penunjuk yang ada sudah ia bawa, jika Lilias pulang pasti tidak mengetahui apa yang terjadi.
"Apa sebaiknya aku langsung mengejar papa, tapi aku tidak munkin bisa mengatasinya, Lilias di mana kamu, hiks."
Akira semakin kacau dengan keadaannya, hanya duduk di depan toko dan menangis sambil memegangi kedua baju di tanganya.
"Akira, ada apa denganmu, kenapa kamu seperti ini?" Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang menyapanya.
Akira dengan wajah kacaunya menoleh ke orang di depannya.
"Lilias! kamu di sini, ayo, kita harus pergi segera." Akira langsung berdiri dan menarik orang di depannya untuk membawa pergi.
"Eh, aku bukan Lilias Akira Chan, aku yuli." Dia yang mencoba menghentikan Akira.
"Eh? Akira bingung dibuatnya, orang yang memiliki rambut perak dan mata merah hanyalah Lilias yang ia tau, namun dia mengatakan dia Yuli, dia sama sekali berbeda.
Namun setelah mengamati wajahnya, Akira sadar bahwa orang di depannya bukanlah Lilias yang ia kenal, Akira kembali kehilangan harapan.
"Maafkan aku, munkin Lilias belum menceritakannya padamu, tapi aku memang Yuli, dan sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kamu tergesa-gesa begitu." Ucap Yuli yang khawatir melihat sikap Akira.
"Hiks, sebenarnya, rumah kami deserang, orang tua kami dibawa oleh mereka, aku harus mencari Lilias." Akira semakin lemas setelah menceritakan keadaannya.
'Sepertinya taiga tidak membawa Lilias pulang, tapi bagaimana jika Akira tau kalau Lilias sedang tidak sadarkan diri karena mabuk.' Pikir Yuli dengan wajah rumit.
"Yuli-san, kamu tau Lilias ada di mana." Lanjut Akira yang matanya berkaca sambil mengalir air darinya.
'Ini masalah penting, semoga saja mereka baik-baik saja.'
"Sepertinya dia bersama taiga, munkin dia pergi ke rumah taiga, ayo aku ikut." Lanjut Yuli.
"Ayo."
Akira dengan semangat mengikuti Yuli, meskipun Yuli paham dengan perutnya, namun dia masih tetap berusaha untuk berlari kencang karena keadaan.
'Ya, ada paman juga, aku harusnya tidak menganggu hubungan Lilias, nanti aku harus meminta maaf pada Lilias atas apa yang pernah ku ucapkan sebelumnya.'
Setelah mereka berlarian, mereka akhirnya berhenti di depan rumah taiga.
"Ini rumahnya, haah haah." Ucap Yuli yang ngos-ngosan.
"Mmm." Angguk Akira.
"Dok dok dok, paman, apa kamu di dalam, haah haah." Akira cukup keras dalam mengetuknya, mengingat waktu yang dimiliki cukup mepet.
"Dok dok dok." Setelah ketokan kedua dari Akira, pintu rumah terbuka dengan sendirinya.
"Ah, tidak terkunci."
Akira bersama Yuli masuk ke dalam rumah, mereka berjalan hati-hati Sambil terus memanggil taiga.
"Paman, apa kamu di dalam."
"Haah haah." Suara nafas mereka masih terdengar jelas.
Karena masih belum ada jawaban, Akira mencoba menelusuri ruangan yang ada, hingga sampai di depan pintu yang bertulis kamar.
"Tak tak tak tak." Suara yang keluar dari dalam kamar.
"Eh Yuli san, sepertinya mereka sedang bermain lato-lato." Ucap Akira yang hendak membuka pintu, namun dicegah oleh Yuli.
"Tunggu dulu Akira-chan." Yuli dengan wajah cemas.
"Aaah." Suara lato-lato terganti dengan suara Lilias yang cukup keras.
"Eh." Kedua orang di luar kamar semakin bingung, dan Yuli semakin cemas dengan apa yang ia tau.
Akira masih kekeh ingin membuka pintu, dan Yuli juga masih kekeh mencegah Akira.
"Lilias." Ucap Akira dari luar kamar.
Namun karena Akira semakin kuat, Yuli tidak bisa mencegah Akira, dan akhirnya Akira bisa membuka pintu dengan cepat.
"Brak." Pintu terbuka dengan kerasnya.
Setelah pintu terbuka, Akira melihat taiga yang sedang berbaring dengan selimutnya, dan juga Lilias yang tanpa busana, wajahnya juga merah.
"Akira." Ucap Lilias dengan wajah panik.
Akira menatap Lilias, terlihat tubuh Lilias yang tidak tertutup apapun, ketika Akira melirik kebawah, terlihat air putih mengalir dari rawa Lilias.
"Haah." Akira dengan wajah terkejut.
"Haha, apa yang sedang kalian lakukan." Tawa Akira keluar namun hanya kemarahan yang terlukis di wajahnya.
"Ini...aku...." Lilias bingung dengan ucapannya.
"Dasar brengsek! kenapa kalian melakukan hal tidak senonoh! apa yang ada di kepalamu Lilias brengsek!" Akira tidak bisa menahan ucapnya.
Mendengar ucapan Akira, Lilias yang wajahnya merah karena efek alkohol tidak bisa menahan emosinya, dan menderitkan giginya.
"Kamu! kenapa kamu mencampuri urusanku ha! memangnya apa salahku." Lilias dengan fisiknya mendorong Akira, membuat Akira tersungkur, barang yang dibawa juga berjatuhan.
Yuli dan taiga yang melihatnya tidak berani ikut campur, mereka menyadari kesalahannya masing-masing, mereka tidak menyangka kalau kedua bersaudara ini hubungannya akan sepanas ini.
Melihat kedua baju yang tergeletak di lantai, Akira kembali teringat keadaan sebenarnya.
"Hiks, dasar kelelawar mesum, disaat orang tua kita mempertaruhkan nyawanya demi kamu, tapi hal bodoh apa yang kamu lakukan ini, hiks, lebih baik kamu mati daripada menyusahkan orang tua!" Ucapan dan tangisan Akira semakin kencang.
Semua yang ada ada di ruangan terkejut dengan ucapan Akira, begitu pula dengan taiga yang cepat-cepat merapikan pakaiannya kembali.
Lilias berharap kalau apa yang ia dengar hanya kesalahan saja, bagaimana munkin membawa nyawa dalam candaan.
"Apa, apa yang kamu bicarakan, ada apa dengan mereka." Lilias dengan wajah panik.
Menanggapi ucapanya, Akira melemparkan sebuah surat yang ia bawa kepada Lilias, Lilias menangkap dan kemudian membacanya.
'Heh iblis jahat, jika kamu ingin orang tuamu selamat, datanglah ke rumah lamamu dan serahkan dirimu.'
"Apaa?" Lilias semakin terkejut setelah membaca isi surat.
Lilias masih lupa mengaktifkan skillnya, kepalanya yang semakin panas dan jantungnya yang berdetak kencang membuatnya pingsan.
"Bruk."
"Hoy, kenapa kamu tidur, kamu harus menyelamatkan mereka." Amarah Akira semakin memuncak, Akira tidak bisa mengontrol tubuhnya dan menendang Lilias yang terjatuh di lantai.
"Tunggu dulu Akira, Lilias tidak akan mendengarnya." Yuli mencoba menarik Akira.
"Tidak, kelelawar bodoh ini harus bangun, hiks." Lanjut Akira yang masih menangis.
"Sebenarnya Lilias sedang terpengaruh alkohol, munkin dia pingsan karena tidak kuat menahanya." Lanjut Yuli dengan cemas.
"Hiks, hal bodoh apalagi yang sebenarnya dia lakukan, dan aku harus bagaimana."
"Guyur dia dengan air dingin, mungkin akan bangun." Lanjut Yuli.
"Taiga, di mana kamar mandinya." Ucap Akira dengan suara dalam dan menatap taiga dengan mata sinis.
"Kesana, dan belok kiri saja." Ucap taiga.
Akira menarik tangan Lilias, dan menyeretnya ke kamar mandi, terbentuk sebuah garis dari air putih yang mengalir dari rawa Lilias yang belum mengenakan pakaian.
.
.
.
.
.
Bersambung.....