
Aku bangun pagi, meskipun kemarin tidurnya sore hari, aku anak baik kan?
Di sisiku ada Akira yang senyum senyum sendiri, semoga dia memang sudah sehat.
"Lilias Chan, Akira Chan, mau sampai kapan kalian tidur." Suara orang dari balik pintu.
Dia membuka pintu kamar Akira yang kami tiduri, terlihat seorang ibu ibu dengan ekspresi seperti orang lagi menawar barang dagangan.
"Aya ya, kemarin aku pulang kalian sudah tidur, dan sekarang belum bangun juga, bangun gih, aku udah siapin sarapan." Ucap mama Sri.
"A iya ma." Ucapku.
'Aduh aku bangun telat, sampai mama masak sendiri.' Batinku.
Kami turun disambut makanan dan paman yang sudah lagi sarapan, tanpa cuci muka langsung makan saja, karena mengingat waktu sudah mepet.
"Nyam nyam, terimakasih makananya, Ayo Akira." Ucapku tergesa.
"A iya." Jawabnya.
'Dia tergesa sekali, gara gara kemarin waktunya buat menemaniku ya.'
"Kenapa kalian buru buru sekali, apa matahari akan terbit dari barat." Ucap paman melihat kami.
"Tidak, kami hanya semangat."
Kami berkemas dengan cepat, sebenarnya Akira cuma ikut ikutan, sebelum paman dan mama selesai berbenah, kami sudah selesai dulu.
"Kami berangkat!" Ucap kami.
"Iya hati-hati."
Kami pergi ke guild untuk memberitahukan bahwa kami akan mengambil misi seperti kemarin, misi berburu monster adalah misi permanen, jadi siapapun pasti sudah ada yang mengambil pula.
Kami menuju ke hutan, dan berburu tanpa kendala sedikitpun, berkat darah Akira juga staminaku sangat semangat.
"Ting, sreng Ting sre." Suara pembantaian dari hutan.
Matahari mulai turun di arah timur.
Saat ini seranganku masih singel target semua, melum memiliki area target, jadi meskipun kami membunuh monster dengan cepat, sampai sore kami hanya bisa membunuh sekitar 400.
'Aduh, harusnya besok sudah rank B dan tinggal menuju labirin, tapi hari ini saja masih kurang sekitar 250.' Batinku kacau.
"Lilias Chan, sudah sore ni mari pulang." Ajak Akira.
Aku diam termenung memikirkan jawaban.
'Apa besok masih bisa, jika aku tidak pulang pasti mama khawatir.' Hmm.
"Ayo." Sautku.
Kami menyelesaikan perburuan hari ini, dan pulang untuk menyerahkan hasil perburuan kami, tentunya barlari dengan langkah bayang agar cepat sampai pinggiran kerajaan.
"Huruf haaah huruf." Wajah Akira yang terlihat kacau, hanya saja kali ini dia tidak sampai mual.
Kami menuju guild.
"Wah, kalian memiliki rekor baru." Ucap Yuli menerima bukti sekitar 400 bagian monster, "Ini uang kalian." Yuli menyerahkan 4 emas ditambah beberapa perak.
"Terimakasih." Ucap Akira.
Setelah di pikir pikir, jadi kepikiran.
'Sistem, berapa waktu yang harus ku tempuh untuk sampai dungeon.' Batinku pada sistem.
'Jika dengan level anda saat ini, menggunakan langkah bayang dan maraton, anda akan sampai dungeon sekitar 5 jam, tapi anda akan merasa sangat lelah.'
'Uwaduh, level kah, seharusnya levelku sudah meningkat banyak, mengingat sudah memburu 700an monster.'
"Maaf Akira Chan, sampaikan pada mamaku, hari ini aku akan pulang telat." Ucapku pada Akira.
"Ehh, kenapa." Akira bingung dengan sikapku yang tidak biasa.
"Yuli san, aku akan melanjutkan misi ini sendiri, mumpung baru menjelang sore." Ucapku menghadap Yuli.
"Aah, Lilias Chan, malam malam ke hutan sendirian akan bahaya lho, iblis atau bandit bisa datang tiba." Ucap Yuli khawatir.
"Tidak apa apa, aku yakin dengan kemampuanku."
"Tolong ya Akira." Lanjutku, yang kemudia langsung kabur tanpa jawaban dari Akira.
"Eeeeh.!!" Bingung Akira ,dengan apa yang akan dia lakukan.
Aku segera menuju hutan, selagi malam belum datang, keluar dari kerajaan dengan terbirit birit.
Dilihat dari sudut pandang orang lain, hanya sekali Ar bayangan hitam yang menyambar, dengan aura hantu mengerikan.
"Whuusss."
Dengan skill detektif, aku menuju tempat yang belum dijamah sebelumnya, dan membunuh banyak monster dengan cepat.
Kali ini aku membunuhnya sangat cepat hanya saja, monster di hutan tidak menggerombol, itu membutuhkan waktu, da
n aku harus mengambil barang bukti sendiri, jadi masih sedikit lama.
Sampai jam menunjukkan pukul 8 malam, harusnya sinetron Indosial sudah mulai, perburuanku juga sudah selesai, karena aku menyimpannya di penyimpanan sistem, aku mengetahui jumlah pastinya.
Seperti orang yang kebelet boker, aku terbirit menuju kerajaan kembali.
Keringat mengalir deras di tubuhku, MP tinggal sedikit, masih batas wajar untuk agar tidak hilang kendali.
'Masker ini sangat mengganggu, aku harus cepat pulang untuk melepasnya.'
Aku menuju guild untuk menyerahkan hasil buruanku.
Malam hari , guild juga terlihat ramai, banyak pemuda minum minum.
'Semoga saja mereka tidak mengganggu.'
"Aku menyerahkan hasil buruanku hari ini." Aku menyerahkan bukti kepada responsis.
Seorang resepsionis melihat anak kecil, meskipun mulutnya ditutupi oleh masker, tapi dia terlihat begitu berantakan, seperti anak tanpa orang tua yang bekerja sendiri.
Sebagai orang yang telah terdaftar di guild, tentu orang itu sudah mendapat persetujuan pihak guild, membuat responsis tidak ragu dengan kemampuanya.
"A iya." Ucap responsis sift malam dengan kagum." dan menyerahkan uang juga.
"Aku telah menyelesaikan 1000 misi rank C, bolehkah aku naik rank sekarang." Ucapku.
"A, apa, menuju Rank B." Kaget responsis dibuatnya.
'Munkin dia terlihat anak kecil, apa sebenarnya dia bukan anak kecil, aku memang meremehkanya, tapi bukan berarti aku menghinanya.'
"Maaf nona, bagian yang bertugas untuk prosedur naik rank sekarang sudah pulang, anda hanya bisa kembali besok." Ucapnya.
Mendengarnya, aku melebarkan mataku.
'Bangsuuuul.' Batinku kesal.
.
"Baiklah, aku akan kemari besok pagi." Ucapku dengan wajah datar, dan mata tanpa cahaya.
Dengan berat hati, aku menuju pintu keluar.
"Hay anak kecil, kenapa kamu malam malam sendirian, sini main sama om." Datang seorang laki laki badan besar, dia memegangi botol minuman dengan wajah bodohnya.
"Menyingkir dari mukaku." Tanganku mengepal keras.
"Wah nona, kamu sangat mena....Waaa." Sebelum dia selesai bicara, aku menginjak kakinya dengan semangat.
Segera meninggalkan pria bodo yang lagi mabuk itu.
Menuju rumah dengan maraton biasa.
.
.
"Aku pulang." Aku membuka pintu, terlihat mama yang masih duduk di kursi makan.
"Ah mama, maaf membuatmu menunggu."
"Kenapa kamu terlihat seperti habis dikejar monster apa kamu baik baik saja." Ucapnya.
"Tak apa ma, kan monsternya aku, hehe, aku mandi dulu ya." Aku berenjak ke kamarandi meninggalkan mamaku.
Terlihat, mama yang tidak banyak berkata,emang apa lagi yang mau dikatakan oyy, dia menunggu Lilias di meja makan, karena makananya belum dimakan.
Sampai aku keluar dan makan ditemani oleh mama, mama yang baik, kekhawatiranya hilang setelah melihatku bersih kembali tanpa luka sedikitpun.
Terlihat mama sudah mengantuk, pasti lelah menunggu duduk di kursi, jadinya aku menyelesaikan makanku dengan cepat kemudia tidur.
.
Pagi datang, sebelum matahari terbit, Dengan semangat aku membuka mataku.
'Yosh hari ini aku akan naik rank B, untuk penaikan rank, membutuhkan prosedur yang juga memakan waktu, jadi aku harus ijin dulu dengan mama, karena perjalanan kali munkin aku pulang telat lagi.'
Seperti biasa, pagi pagi aku membuat sarapan untuk menang orang, dan menyiapkanya di atas meja, dibantu Akira aku menyelesaikan ya dengan cepat.
Setelah semua hadir memutari meja makan, kami menikmatinya bersama.
"Ma, maaf hari ini munkin aku akan pulang telat lagi." Ucapku memecahkan suasana.
"A apa, tidak, tidak boleh, kamu harusnya tau kalau mama sangat khawatir padamu." Ucap mama seketika berhenti bermain sendok.
"Tapi ma, aku kan sangat kuat." Ujarku.
"Tidak, hanya kamu kuat bukan berarti aku bisa kamu tinggal meskipun cuma sehari, karena kamu belum cukup umur untuk pergi seenaknya." Ucap mama menatapku.
"A aku tidak akan meninggalkan mama, aku cuma..."
"Jam 6 Harus sudah di rumah." Lanjut mama menatapku.
"Ba baik ma." Aku yang menundukkan kepala.
Melihat kami yang bertukar sapa, sandi dan Akira yang melihatnya tidak bisa ikut campur dalam urusan.
'Tentu solaya sangat khawatir pada Lilias, mengingat dia yang pernah hampir mati.' Batin sandi melihat kami.
.
Makan berlalu, jam 6 pagi kami semua pergi ke untuk urusan masing masing, aku yang akan menuju untuk prosedur peningkatan rank B, di temani Akira aku yang berangkat sangat pagi akhirnya bisa menyelesaikan prosedur kenaikan pada jam 7.
Aku dan Akira berbisah di guild, karena aku yang akan menuju dungeon dan Akira yang masih di kerajaan Tanjun seperti biasa.
Tempat yang kutuju adalah ujung Utara benua selatan, Aku berlari di pinggiran kerajaan yang kulewati agar tidak mencolok, dari kerajaan Tanjun aku melewati beberapa kerajaan dan sampai tujuan pukul 12.
.
.
.
.
Bersambung..