Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut

Reinkarnasi Menjadi Vampir Imut
Chapter 25 Makam Papa dan Jebakan.


Portal bagai pusaran hitam muncul di ruang yang sepi, dan dari itu keluar seorang gadis berambut perak, ya gadis vampir yang imut ini sudah pulang.


Aku menuju ke kamarku, dan mengeluarkan semua barang yang telah kubeli.


"Mm ini cukup bagus, aku ingin membuat pakaian darinya." Ucapku memegangi kain bahan.


"Tapi sekarang....."


Aku mengambil barang utama dari belanja kali ini, aku membawa kain terbungkus kecil ke kamar mandi.


Meskipun baru pertama kali ini, namun bagi seorang yang memiliki ingatan kehidupan lalu, aku mengetahui apa yang harus kulakukan sebagai betina yang lagi bocor, Yah, cuma membersihkan dan mengganti pembalut yang baru.


Kain yang bekas ini kucuci dulu, karena itu berisi darah yang aslinya bukan darah, mumpung belum ada orang lain yang pulang, aku membawa kain itu keluar rumah untuk membakar dan menguburnya, haha.


Kegiatan singkat ini berakhir siang, waktu yang cocok bagiku tidur, tidak seharusnya aku beraktifitas siang hari, meskipun ketika malam aku tidur juga.


Aku pergi ke kamar, dan tidur tanpa beban.


.


.


.


Hari mulai petang, Kini rumah kembali ramai karena sang penghuni telah kembali.


"Dok Dok Dok." Suara gedoran pintu kamar.


"Lilias Chan, bangunlah waktunya makan malam." Suara imut dibalik pintu.


Aku mendengar suara berisik dari luar, dengan berat aku membuka mataku.


"Dok dok dok." Suara semakin keras.


"Brisik!!" Ucapku dari dalam.


"Lilias Chan, turunlah, sudah ditunggu lho." Lanjut Akira.


"Iya iya."


Aku melihat jendela, di luar terlihat sudah gelap, 'Sudah malam ni, waktunya tidur.' Dan aku melanjutkan menuju alam mimpi.


'Raihlah mimpi setinggi langit, karena kadang mimpi lebih baik dari kenyataan.'


Aku berniat menarik selimut kembali, tapi terhenti karena seseorang yang masuk ke kamarku.


"Lilias, kenapa tidur lagi." Ucap akira.


Melihat Akira yang masuk mengganggu tidurku, aku sedikit kesal dibuatnya, aku bangun dan berjalan ke arah Akira dengan mata tajam.


"Iyaaa, bawel banget si." Ucapku memeras kepala Akira.


"Sakiit, Lilias!!"


Tanpa memperdulikanya, aku menuju ruang makan dan di ikuti akira.


Sesampainya, aku melihat dua orang yang sudah mulai makan mendahuluiku, jadi aku cuma mengikuti mereka dan duduk bersama.


"Haaaah, cuma untuk ini aku sampai bangun dari tidur nyenyakku." Aku yang kesal melihat makanan sama seperti kemarin.


"Lilias sayang, kan masakanmu kemarin belum habis." Ucap mama sambil makan.


"Kenapa tidak dikasih ke kuda saja, apa kita kekurangan makanan." Lanjutku.


"Eh, jangan begitu, tidak baik lho." Lanjut mama.


Aku merasa malas untuk negosiasi, jadi aku menyerah untuk tidak makan, hanya saja air minum di gelasku masih tidak menarik.


Aku mengambil darah dari penyimpanan sistem, mengambil gelas baru, menuangkan darah ke gelas, dan membuang botol plastik yang digunakan untuk menyimpan darah ke belakang.


"Gluk gluk gluk, unyaaah." Aku minum di depan orang yang melihatku.


Tanpa memperdulikanya, aku melanjutkan makan.


'Entah kenapa aku merasa paman sedang memperhatikanku.'


Aku memang melihat semua melihatku untuk sementara, tapi untuk pandangan dari paman terlihat berbeda.


"Ada apa paman." Ucapku.


"Aaa, ti tidak ada apa apa." Ucapnya.


"Mmm baiklah."


Aku melanjutkan makananku, Menyusul mereka yang sudah selesai duluan, kini aku juga sudah selesai dengan makananku.


'Hmm, apa pesonaku sekuat itu.' Batinku ketika merasa selalu tatap oleh paman.


"Apa perlu kucongkel matamu." Ucapku dengan mata tajam menghadap ke paman.


Mendengar perkataanku tidak ada di antara mereka yang wajahnya tidak terkejut.


"Lilias, sopanlah." Tanggap mama.


"Haa kenapa mama membela paman, dahlah aku mau tidur." Ucapku berenjak berdiri dari kursi.


"Kresek." Suara botol terinjak.


"Waaa!!! Siapa lagi ini yang membuang botol bekas sembarangan." Kagetku dengan botol plastik yang tergeletak di lantai, dan menendangnya dengan kesal.


Dengan perasaan yang kubawa, aku berniat meredamnya dengan tidur, aku meninggalkan ketiga orang yang masih duduk di kursi dengan heran di wajahnya.


'Eeeh, kenapa Lilias hari ini aneh sekali, dia marah marah sendiri.' Batin Akira.


'Semoga masih ada pria yang mau menikah dengan anakku.' Batin mama Sri.


'Imutnyaa, ketika dia marah wajahnya terlihat lebih imut.' Batin paman.


'Eh!!'


***


Di suatu tempat, terdapat sebuah rumah besar yang kosong, karena rumah ini telah di tinggalkan oleh pemiliknya.


"Apa pemasangannya sudah selesai." Ucap pemimpin menanggapi pekerjaan bawahanya.


"Sudah tuan, jika monster itu kembali, sudah dipastikan dia tidak akan dapat menggunakan kekuatanya." Ucap salah satu bawahan.


"Bagus, dengan bantuan pahlawan, kita pasti bisa membunuhnya."


***


Hari berganti, kini di sebuah ruangan terlihat wanita dewasa yang bangun dari tidurnya.


"Lilias Chan, bangunlah." Ucapnya menggoyangkan badanku.


"Mmmm, ini masih gelap ma." Aku yang baru membuka mata.


'Ah iya.'


Hari ini adalah bertepatan dengan hari kematian papa, setiap setahun sekali, meskipun berbahaya kami menyempatkan waktu untuk pulang kerumah kami.


'Tapi sekarang kan aku punya skill dimensi, jadi ini lebih mudah.'


"Tenang saja ma, sekarang aku bisa pergi kesana dalam sekejap, jadi tidak perlu buru buru." Ucapku meyakinkan.


"Apa maksudmu." Bingung mama Sri.


"Yaaa, aku seperti punya skill ruang, jadi bisa berpindah tempat dalam sekejap."


Setelah banyak bercakap, kini aku bisa meyakinkan mamaku, jadi dia lebih santai.


Sampai tiba waktu matahari mulai naik, baru kami bersiap siap untuk pergi, tidak lupa juga mengganti popok, tidak seperti biasanya yang dibantu paman, sekarang kami hanya pergi berdua.


Di depan mamaku, aku membuka portal untuk menuju rumah, mama yang melihatnya memasang wajah aneh.


"Aman kok, ayok." Ajakku masuk kemudian di ikuti oleh mama.


Kami sampai di halaman rumah, tepat berada disamping makam bapak.


"Aku pulang." Kami melihat makam didepan Dengan senyuman.


Pertama tama, membersihkan makam, mencabut rumput berserakan, dan berbuat sesuai kepercayaan masing masing.


"Lilias, aku mau melihat rumah dulu." Ucapnya melihat rumah yang ada beberapa langkah di depan.


"Iya sana." Aku yang masih berada di makam.


Mama pergi meninggalkanku yang masih mencabuti rumput, karena hanya beberapa langkah di depan, aku tidak mempermasalahkannya.


.


.


.


"Kyaaa." Teriak seseorang di dalam rumah menggema.


"Ma!! mama!!" Kagetku.


Dengan rasa khawatir aku langsung lari mengejar arah sumber suara.


"Brak." Dobrakan pintu dariku.


Ketika masuk, aku melihat mama yang sedang ditawan oleh beberapa prajurit atau kesatria, dengan banyaknya jumlah, mereka mengepung mama.


"Yoo, datang juga kamu." Ucap pemimpin barisan.


"Bajingan siapa lagi ini, apa kalian ingin mati." Ucapku dengan tatapan menusuk.


Melihat kepungan, aku berniat menggunakan langkah bayang, agar pergerakanku tidak bisa mereka sadari.


'Eh kenapa ini.' Batinku dengan wajah kaget.


"Haha apa kamu sudah sadar, di sini sudah kami pasang anti sihir, jadi menyerahlah atau ibumu kami bunuh." Ucap dengan sombongnya.


"Cepat panggil pahlawan, meskipun tanpa sihir tapi kita belum bisa membunuhnya." Ucap pemimpin barisan.


"Jangan kau bunuh anakku!!" Teriak mama.


Mendengar aba aba dari pemimpin, salah satu bawahanya mengabarkan temanya yang ada di luar melalui jendela.


"Kirimkan sinyal!!" Teriak si bawahan dari jendela.


Menanggapi suara, terlihat orang yang berada di blakang rumah menembakkan sihir ke atas langit beberapa kali, karena di blakang rumah jadi dia tidak terkena efek anti sihir.


"Kalian sadar kalau kalian tidak bisa membunuhku, tapi kalian berani menantang ku, bodohnya." Ucapku.


"Hah, jika kamu bergerak sedikit saja, ibumu akan kami bunuh."


Sedikit menganalisa, aku tau kalau sebenarnya aku masih bisa menggunakan sihirku jika aku memperkuatnya, karena level alat anti sihir yang mereka pasang levelnya ada di bawahku.


'Hehe, bodohnya kalian berpikir bisa menekanku.'


Aku menarik nafas dalam dalam, bersiap menggunakan langkah bayang.


"Whusss."


Ketika aku menghilang, tiba-tiba udara terasa berat bagi semua orang, dan dari kebingungan mereka, mereka melihat ke arah mama Sri.


Terlihat orang yang memegangi mama Sri kepalanya telah hancur, dan di belakangnya muncul gadis imut dengan aura yang mematikan, itu hanya berjarak beberapa senti dari para kesatria, namun karena kejutan, mereka tidak bisa berbuat apa apa.


"A apa!! Bagaimana bisa!?" Teriak beberapa kesatria bodoh.


"Ma, mama pulanglah dulu, biar ini aku yang urus."


Tanpa menunggu jawaban, aku membuka portal dimensi, den meminta mama untuk pergi, mama percaya padaku dan mengikuti permintaanku.


Sebenarnya aku bisa membunuh mereka semua dalam sekejap, tapi aku tidak ingin mamaku melihat pemandangan dariku yang mengerikan, karena aku ingin meminum darah mereka.


Setelah mama pergi dari sini, kini aku merasa lebih bebas, dengan uji coba pertama aku menarik salah satu kesatria di kepalanya.


"Kalian berani memprovokasiku, bersiaplah kalian semua untuk mati."


"Ja jangan!" Teriak dia yang kupegang.


Teriakannya hanya membuatku jengkel, bagaimana tidak, setelah mereka berniat menyakiti mamaku dan mereka mau pergi begitu saja setelah mereka kutangkap.


Aku menggigit leher orang yang kutangkap, menyedot darahnya dengan perlahan, darah mengalir melalui tenggorokanku, rasanya tidak menahan.


"Dorrkk." Suara pintu.


Semua orang yang melihatnya ketakutan, sampai datang orang yang dianggap mereka penyelamat untuk mereka.


"Tuan pahlawan, anda datang." Dia yang melihat pahlawan masuk dari pintu depan dengan tergesa.


Pahlawan masuk dan dia kaget melihatku yang sedang membuat salah satu bawahanya mengering, karena darahnya habis.


"Taiga !?"


.


.


.


.


.


Bersambung......